
Di sisi lain, Magical City!
Setiap tahun, Pekan Peragaan Busana setiap musimnya diadakan seperti biasa, dan para Perancang Busana dari seluruh dunia datang untuk memamerkan karya mereka satu demi satu.
Veronica mengenakan celana lebar dengan kemeja sifon sebagai atasannya. Perpaduannya sangat serasi dan sesuai gaya berpakaian yang sedang digemari. Dia memandang model di atas panggung dengan acuh tak acuh dan mencatat penilaiannya untuk setiap karya.
"Nona Veronica, senang bertemu dengan Anda. Karya Anda sungguh memesona seperti bintang yang menyilaukan mata. Ini kartu nama saya!"
Pada saat ini, seorang pria dengan baju setelan bergaris vertikal berjalan mendatangi dan memberikan kartu namanya dengan sopan.
Veronica pun menerima dan melihatnya. Ia mendapati bahwa itu berasal dari suatu Perusahaan Mode asing yang terkenal. Dia berkata dengan sopan, "Halo, Tuan Galy, apakah Anda memiliki karya sendiri?"
"Hehe, Apakah tidak bisa berkenalan dengan gadis cantik tanpa sebuah karya? Sebenarnya, saya sangat tertarik dengan karya Nona Veronica dan ingin tahu apakah kita bisa menjalin kerja sama, tentu saja, saya juga merasa sangat terhormat bisa mengenal Nona Veronica!"
Pria bernama Galy itu tertawa, dengan pancaran cahaya yang aneh dari kedalaman matanya.
Perusahaan Modenya juga menempati peringkat teratas dunia. Para Perancang Busana dari seluruh dunia pun ingin bekerja sama dengannya.
Kali ini, dia mengambil inisiatif untuk mengajak Veronica. Tidak hanya bergegas datang untuk karya Veronica, tetapi juga demi bertemu Veronica sendiri.
Setelah memutuskan bekerja sama dan menandatangani kontrak, kebebasan tidak bisa diperoleh Veronica kembali. Itulah aturan tak tertulisnya, sangat sederhana.
"Terima kasih. Aku tidak berencana untuk bekerja sama dengan perusahaan lain untuk saat ini. Aku hanya ingin membuat merek aku sendiri!"
Veronica menggelengkan kepalanya dan menolak. Dia telah berada di industri selama bertahun-tahun sehingga dia pun paham betul dengan beberapa aturan tertentu.
"Nona Veronica, perusahaan kita sangat kuat. Kami akan diundang ke Fashion Week global. Selama perusahaan bersama kamu yang menjalankannya, kamu akan jauh lebih terkenal dari sekarang!" Galy sedikit terkejut.
Veronica tertawa dan berkata, "Aku merancang busana bukan untuk menjadi terkenal. Itu hanyalah hobi semata!"
Galy menggerutu, sebagai Perancang Busana, siapakah yang tidak mengejar ketenaran? Kamu pasti bercanda kan!
"Nona Veronica, aku pikir kamu harus mempertimbangkannya baik-baik!" kata Galy dengan nada yang kurang sopan.
Veronica masih tersenyum, "Tuan Galy, aku sedikit banyak juga tahu tentang reputasi perusahaan kamu. Jadi, singkirkan trik-trik picikmu itu!"
Galy tidak menyangka Veronica memiliki banyak pengetahuan. Dia menjadi marah karena malu dan berkata, "Sepertinya aku telah meremehkan Nona Veronica. Tapi, dengan reputasi Nona Veronica di industri mode, aku rasa tidak akan ada perusahaan yang mendukung. Pada akhirnya, kamu tidak akan menjadi terkenal!"
"Kamu tidak perlu khawatir tentang hal ini. Suamiku akan membantuku!"
Veronica langsung teringat pada Jansen.
Suaminya bukan orang biasa. Jika dia benar-benar ingin membantunya, untuk menjadi yang nomor satu di dunia mungkin tidak akan bisa, tetapi pasti tidak akan sulit untuk menjadi yang nomor satu di Huaxia.
Namun, dia tidak ingin merepotkan suaminya dengan hal yang sepele.
"Suami kamu!"
__ADS_1
Galy mengerutkan kening dan dia melihat raut kebahagiaan di wajah Veronica.
Bah!
Siapa suamimu, siapa yang berani menyombongkan diri di industri mode?
"Tuan Galy, Nona Veronica sudah ada yang punya. Tolong jangan ganggu dia lagi!"
Pada saat ini, suara dingin terdengar, dan tampak seorang pria berjas putih berjalan mendekat.
"Owen Williams?"
Melihat pria itu, wajah Galy pun sedikit berubah. Pria itu adalah Kepala Perancang Busana Richemont Group. Statusnya di industri mode lebih tinggi darinya!
Owen Williams berkata lagi, "Kamu boleh menyerang siapa pun, tetapi Nona Veronica bukanlah orang yang bisa kamu ganggu. Pergi sekarang!"
Galy tetap tenang tapi mau tidak mau pergi meninggalkan mereka.
Begitu dia pergi, Owen Williams langsung mengubah keangkuhannya yang tadi menjadi rasa hormat yang sepenuhnya sambil melihat Veronica dan berkata, "Halo, Nona Veronica!"
"Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya?"
Veronica mengerutkan kening dan menatap Owen.
"Aku ini anak buah tuan ku. Nona Veronica seperti nyonya bagiku!" Owen tertawa.
"nyonya?"
"Ya, Tuan ku adalah Tuan Jansen!"
Wajah Owen penuh dengan rasa kagum dan hormat.
Veronica tiba-tiba merasa kemampuan Jansen terlalu hebat. Bahkan orang-orang asing juga mengenalinya sebagai bos.
Peragaan busana berakhir dengan cepat dan Veronica kembali ke hotel untuk beristirahat.
"Nona Veronica, seseorang memintaku untuk mengirimkan surat kepadamu!"
Saat itu, pelayan mengetuk pintu dan mengantarkan sepucuk surat.
Veronica mengangguk dan memberi tip dua ratus dolar. Kemudian, dia menutup pintu dan duduk di ranjang untuk membuka amplop surat itu.
"Nona Veronica, aku mengetahui keberadaan Alastor. Kalau kamu tertarik, silakan datang ke Baile Street No.83!"
Veronica merasa terkejut. Pikiran pertamanya adalah penipu, tetapi dia tiba-tiba merasa itu salah. Penipu tidak akan mungkin mengetahui tentang Alastor. Dia mungkin seseorang yang ada di Industri ini.
Ia segera menelepon Jansen.
__ADS_1
"Hati-hati berurusan dengan masalah ini. Kamu abaikan saja!"
Jansen mengkhawatirkan Veronica setelah mengetahui hal itu.
"Akan tetapi bagaimana jika orang yang mengirimkan surat itu benar-benar tahu tentang Alastor? Coba pikirkan. Kak Elena sedang hamil, dan Alastor sedang mengincar mereka. Kalau tidak menemukan dia, maka semua orang tidak akan menjalani kehidupan dengan baik!" Veronica dengan keras kepala berkata, "Mengapa aku tidak pergi saja untuk memastikannya? Jika pihak lain benar-benar ingin mencelakai ku, bisa langsung saja datang menangkap ku. Mengapa perlu mengirimkan surat seperti ini?"
Apa yang didengar Jansen memang masuk akal, tapi dia tetap tidak ingin Veronica berada dalam bahaya. "Jangan tergesa-gesa dalam bertindak. Tunggu sampai aku di sana baru kita bicarakan lagi."
"Baiklah!"
Veronica berpura-pura setuju. Setelah menutup telepon, dia pertama-tama bertemu dengan Owen, meninggalkan pesan padanya, dan kemudian pergi.
Saat ini, hari juga sudah malam. Di luar sedang hujan deras. Veronica memanggil taksi online dan meminta untuk pergi ke Baile Street No.83.
Sopir itu melambaikan tangannya berulang kali. "Nona, apa yang mau kamu lakukan ke sana malam-malam begini?"
Melihat penampilannya, Veronica bertanya dengan curiga, "Apakah tempat itu tidak boleh dimasuki?"
"Boleh sih diperbolehkan, tapi tempat itu adalah Jalan tua. Sudah lama tidak ada orang ke sana. Aku mendengar kabar bahwa tempat itu berhantu. Terjadi pembunuhan beberapa tahun yang lalu. Jangankan di malam hari, siang saja tidak ada yang pergi!" kata sopir itu dengan gelisah.
Veronica mengerutkan kening dan berkata, "Begini sajalah. Kalau kamu membawa aku ke sana, aku akan membayar kamu dengan harga dua kali lipat!"
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai di persimpangan, jadi aku tidak akan masuk. Bagaimana menurut kamu?" kata Sopir itu.
Veronica pun menyetujuinya, lalu masuk ke dalam mobil, dan pergi menuju Baile Street. Ketika sampai di persimpangan, Sopir menurunkannya dan pergi meninggalkannya.
Langit masih hujan deras. Veronica memegang payung dan melihat ke depan.
Dia melihat jalan ini sangat sepi, dan ada semacam bangunan kecil bergaya barat yang kuno di kedua sisi jalan, gelap gulita, benar-benar seperti suasana jalan tua.
Ada lampu jalan di kedua sisi jalan, cahayanya redup, dan satu tampaknya terhubung aliran listrik yang buruk sehingga berkedip-kedip tanpa henti.
Jalanan tua semacam ini, jangankan di malam hari, siang bolong pun juga terasa agak suram.
Veronica mengencangkan pakaiannya sedikit karena merasa sedikit dingin. Dia memegang payungnya dengan erat dan berjalan maju di sepanjang jalanan tua itu.
Dinding setinggi kurang dari satu meter di kedua sisinya memiliki nomor rumah. Veronica menghitungnya dengan cermat dan segera tiba di No.83.
Melihat ke atas, ini adalah bangunan kecil bergaya barat di negara Huaxia pada suatu era. Bangunannya memiliki tiga lantai tinggi. Saat ini, lantai tiga memiliki lampu yang redup, tetapi di dalamnya sangat sunyi.
Veronica sampai di depan pintu dan mengetuk dengan pelan. Lima menit kemudian, suara langkah kaki dari dalam terdengar mendekati.
"Siapa kamu?"
Suara di seberang agak rendah dan berat tapi juga terdengar agak familier.
Veronica tiba-tiba teringat, sepertinya ini suara Galy.
__ADS_1
"Aku Veronica, datang dengan janji temu!"
Kata Veronica dengan hati-hati.