
"Suami dari Irene yang aku sebutkan terakhir kali dan juga Paman Kedua Leimin. Beberapa hari lalu mereka bertengkar dengan Jessica!" Martha mengatakan semuanya.
"Aku mengerti. Pulanglah dan awasi apa yang dilakukan Jessica!"
Jansen menyuruh Martha pulang. Tentu saja, dia juga tidak memercayai Martha. Dia menelpon Panah dan setelah menggabungkan semua informasi akhirnya dia yakin akan informasi itu.
"Lebih baik aku mengurus Klinik Qinsi dulu!"
Kemudian, Jansen meninggalkan Aula Xinglin. Dalam keterampilan medis Aula Qinsi kalah dari Aula Xinglin. Tapi cara yang mereka lakukan mempermalukan kedokteran. Jika hari ini Jansen tidak memberi mereka pelajaran, sama saja dengan Jansen tidak layak menjadi seorang dokter!
...
"Pergi kau, hutangmu ke kami sudah jatuh tempo, sekarang rumah itu milik kami!"
Saat di dalam taksi, Jansen tiba-tiba melihat sekelompok orang di pinggir jalan memberi pelajaran kepada dua orang ini. Yang terpenting adalah dia mengenal kedua orang ini. 'Bukankah itu Chris dan adik seperguruannya?'
"Tuan berhenti!"
Jansen berteriak dan berjalan ke tempat kejadian itu.
Tempat ini tampak agak familier!
Jansen berpikir dua kali, itu adalah tempat Keisha mengajaknya makan camilan malam terakhir kali!
Lingkungan ini penuh dengan penduduk dari luar Ibu kota, jadi kawasan ini sedikit kacau.
"Bos, tolong beri kami kelonggaran lagi!"
Saat ini, Chris, mengenakan kemeja dan celana panjang dan memapah adik perempuannya, menatap sekelompok manusia jahat di depannya.
"Kelonggaran apa lagi. Kamu sudah meminjam 3 juta dari kami dan masih belum membayarnya selama tiga bulan. Kamu masih ingin kami memberimu kelonggaran?"
Jumlah mereka cukup banyak dengan berpakaian mewah, kelihatannya mereka preman.
Melihatnya Jansen agak terkejut. Bukankah Chris orang dari dunia Jianghu dan memiliki keterampilan seni bela diri yang luar biasa, kenapa dia bisa takut dengan beberapa preman?
Selain itu, bukankah dia Karyawan di Akademi Ilmu Pengetahuan?
"Saat itu, kerabatku sedang sakit dan aku tidak ada cara lain selain meminjam uang!"
Kata Chris panik, "Bagaimana jika kamu memberiku tiga bulan lagi, setelah tiga bulan aku pasti akan mengembalikan uangnya. Jika kamu mengambil rumah ini, kami akan tinggal dimana!"
"Tidak sekalian memberimu tiga tahun? Brengsek, kamu pikir aku bodoh? Kami akan mengambil rumahmu sebagai bunga. Jika kamu tidak membayar kembali uangnya dalam tiga bulan, aku akan mematahkan kakimu. Aku tidak peduli kalian mau tinggal di mana, di kolong jembatan, tempat sampah, itu terserah kalian!"
Kata pria berkacamata itu sambil meludah.
Wajah Chris menjadi muram, tangannya yang membawa pedang gemetar dan dia hampir menyerangnya!
"Eh, pedang ini kelihatannya bagus juga!"
Tiba-tiba, pria berkacamata itu menatap pedang Chris. Dia mengira itu adalah barang antik, lalu dia berkata dengan dingin, "Pedang ini milik kami!"
"Rumah itu boleh menjadi milikmu, tapi aku tidak akan menyerahkan pedang ini!" Chris menolak dengan suara dingin.
__ADS_1
Pedang miliknya dan adiknya berasal dari perguruannya. Pemberian dari guru mereka, mana bisa begitu saja diberikan ke orang lain!
"Sudah jangan banyak omong, pedang ini berasal dari rumah ini, tentu saja menjadi milik kami. Anggap saja untuk mengecilkan bungamu!"
Tentu saja, pria berkacamata itu menolaknya. Dia melambaikan tangannya dan segera ingin merampas pedang itu dari tangan Chris.
"Menindas ada batasnya!"
Tidak tahan lagi akhirnya Chris berteriak.
Melihat Chris mengeluarkan pedangnya, pria berkacamata itu pun tersenyum. 'Apa dia pikir dirinya pahlawan? Bahkan dia bermain dengan pedangnya!'
Pria itu baru saja ingin menamparnya!
"Tunggu!"
Tapi saat ini, terdengar sebuah suara menyela dan melihat Jansen perlahan muncul!
Semua orang di sekitar terkaget. Apalagi pria berkacamata hitam itu yang dipanggil Si Musso. Dia adalah preman di daerah situ. Dan bos besar di belakangnya tidaklah kecil. Siapa pun yang berani ikut campur dalam urusan Si Musso, akan mati!
"Kamu!"
Chris dan adiknya menatap Jansen, wajah menjadi terlihat kaget dan bingung. Mereka semua tidak menyangka Jansen akan berani ikut campur!
"Anak muda, kamu berani ikut campur dalam bisnisku, apa kamu tahu siapa aku?"
Pria berkacamata itu memandang Jansen dengan jijik. Dia tidak menganggapnya. Musso berkata dengan dingin, "Pergi kau dari sini atau aku akan mematahkan kakimu!"
"Mereka adalah teman-temanku, mereka masih kurang uang berapa? Aku akan membayarnya untuk mereka!" kata Jansen pelan.
"Dia berhutang pada kami lima juta!"
Pria berkacamata itu menyipitkan matanya.
"Omong kosong, jelas-jelas hanya 3,5 juta!" kata Chris menyela dengan marah.
"Apa pinjam uang tidak ada bunganya. Kalau kami menaruh 3 juta itu di bank, selama lima tahun, bunganya itu 150 ribu setahun!" kata Pria berkacamata itu mencibir.
"Hanya 5 juta, aku akan membayarnya untuk mereka!"
Jansen langsung menangguk.
"Jansen, kamu!"
Wajah Chris terlihat ragu-ragu. Terakhir kali saat mereka pergi untuk membunuh Jansen, mereka dikalahkan oleh Jansen. Jansen juga tidak membunuh mereka, mereka sudah merasa berhutang budi pada Jansen.
"Kak, jika kita tidak mengembalikan uangnya, kita hanya bisa tinggal di kolong jembatan dan kita juga butuh uang untuk mengobati guru!" kata adik seperguruannya dengan panik.
Wajah Chris terlihat sedih, hanya uang yang bisa membuat seorang pahlawan menjadi tertekan!
Tapi tak lama kemudian, Chris menolak lagi, "Tidak, sejak kecil guru mengajari kita untuk tidak sembarangan menerima bantuan orang lain. Selain itu, dia tidak berhubungan dengan kita, kenapa dia mau memberikan kita 5 juta?"
Jansen melirik ke Chris dan menggelengkan kepalanya. Orang ini tidak hanya berprinsip, tetapi juga keras kepala!
__ADS_1
"Untuk apa kamu bicara tidak jelas, lagi pula itu juga bukan uangmu, sana pergi!"
Pada saat ini, pria berkacamata itu memaki Chris dan menatap Jansen, "Ayo, mau transfer atau uang tunai?"
"Transfer saja, minta nomor rekeningnya!"
Jansen mengeluarkan ponselnya, lalu setelah mendengar nomor rekeningnya, dia mentransfer uangnya secara langsung!
Pria berkacamata itu menatap Jansen dengan saksama. Setelah menerima informasi di ponselnya, dia pun tercengang!
Dia langsung mentransfernya?"
Keren sekali!'
"Karena uangnya sudah diberikan, kalian bisa pergi!"
kata Jansen.
"Tentu saja, ayo anak-anak, kita berpesta!" Pria berkacamata itu sangat senang.
"Tunggu sebentar, kami sudah melunasi uangnya, tapi bagaimana dengan sertifikat rumah yang kami gadaikan?"
Chris tiba-tiba berteriak.
"Bodoh, uang ini hanya untuk membayar bunganya saja. Setelah kamu membayar kembali 3 juta itu, sertifikat rumahmu baru akan kukembalikan kepada kalian!"
Pria berkacamata itu menatap Chris tatapan mata bodoh, lalu juga menatap Jansen.
Orang bodoh itu uangnya banyak juga. Jika dia dengan mudahnya memberi mereka uang, tentu mereka tidak akan menurunkan bunganya. Bahkan mungkin mereka akan meminta lebih banyak uang.
"Kamu mengingkari janjimu dan mengabaikan moralitas dunia Jianghu!"
Chris sangat marah dan menggenggam pedangnya lagi. Jansen sudah cukup baik membantunya. Akhirnya sudah uangnya hilang, dia juga harus bertanggung jawab atas hal ini.
"Sih Konyol, kami ini preman, bagaimana bisa berkata jujur?" Pria berkacamata itu tertawa dan berkata, "Selain itu, ini adalah uang yang aku dapat karena kemampuanku menipunya, jangan pikir untuk mengambilnya kembali!"
Lalu dia melihat Chris mengeluarkan pedangnya dan dia berkata dengan jijik, "Kenapa? Kamu berani menyentuhku? Coba saja, aku jamin kamu tidak akan bisa lagi tinggal di sini!"
"Aku, aku melaporkanmu ke polisi!"
Chris tersedak saat mengucapkan kalimat ini, sangat memalukan.
Seorang praktisi seni bela diri seharusnya tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan bergantung pada polisi!
Mempermalukan para praktisi seni bela diri!
Terus terang, ini bukan berarti dia menghormati dan mematuhi hukum!
"Kamu yakin tidak mau mengembalikannya?"
Saat ini, Jansen tiba-tiba berkata.
"Huh, Sih Konyol, kamu masih belum menyerah ya!"
__ADS_1
Pria berkacamata ini baru saja melihat Jansen, tatapan matanya seperti melihat orang bodoh.
Tentu saja, bukan hanya dia yang menganggap Jansen bodoh, bahkan orang yang lewat pun juga. Dia memberi 5 juta yuan seperti yang dia minta, seperti seorang mahasiswa yang belum pernah hidup bermasyarakat!