
"Apa mereka akhirnya tahu?"
Jansen tersenyum, "Jalankan sesuai rencana mereka!"
"Baik!"
Telepon ditutup.
"Menarik, tak disangka dia meminta orang-orangku untuk membunuhku. Hakim Denis ini masih memperlakukanku sebagai Jansen yang dulu!"
Cibiran di bibir Jansen bahkan makin kuat. Sebenarnya walaupun Hakim Denis tahu kalau tungku pil ada padanya, dia tidak takut sama sekali.
Alasan kenapa dia menyembunyikan namanya di pelelangan, terutama karena mengikuti keinginan pemilik hotel.
Mungkin Ibu Bos dan yang lainnya merasa kalau mereka tidak mau memprovokasi Hakim Denis dan ingin melindungi diri mereka.
"Jansen, bagaimana dengan pakaian ini?"
"Menurutmu apa aku terlihat cantik memakai rok?"
Natasha keluar dengan beberapa setel pakaian setelah merias wajahnya.
"Kak Natasha pakai apa pun terlihat cantik!"
Pujian Jansen membuat Natasha memelototinya dengan galak dan akhirnya dia memilih satu set gaun off-shoulder berwarna biru.
Keduanya meninggalkan rumah komunitas dan tiba di restoran barat.
Jansen sudah memesan makan lebih awal. Pelayan membawa anggur merah dan memainkan biola, suasananya cukup romantis.
Sebenarnya Jansen tidak menyukai makanan barat, tapi dia tahu kalau wanita menyukainya jadi dia melakukan apa yang mereka sukai.
"Kak Natasha, tutup matamu!"
Setelah meminum anggur 1982 Chateau Lafite bersama Natasha, Jansen berkata dengan lembut.
"Untuk apa? Apa begitu misterius!"
Natasha melengkungkan bibirnya, tapi dia tetap memejamkan matanya.
Jansen mengeluarkan kotak perhiasan dan menatap kalung berlian tiga warna. Akhirnya dia memilih kalung berlian biru itu, dia merasa warna biru paling cocok untuk Natasha. Dia berdiri di belakang Natasha, sambil melihat lehernya yang putih dia memasangkan kalung itu untuknya.
Jansen berbisik di telinga Natasha.
"Sudah!"
Natasha membuka matanya, pertama dia melihat berlian biru yang indah di lehernya!
Dia terdiam membeku di sana!
Ini, bukankah ini Angel Heart?
Matanya perlahan-lahan menjadi berair dan dia kembali menatap Jansen, pria ini!
Hatinya benar-benar tersentuh!
__ADS_1
Tidak ada wanita yang tidak suka berlian. Selama pelelangan, dia hampir tidak bisa menahan untuk mengulurkan tangannya. Alasan kenapa dia ragu-ragu adalah karena dia berpikir kalau kariernya baru akan mencapai titik balik. Setiap peser uang sangat penting, jadi dia menahannya!
Pada akhirnya, Angel Heart ini dimenangkan dengan harga yang tinggi. Di dalam hati dia pun merasa sedih, tapi dia tidak menyesal!
Meskipun Angel Heart sangat penting, bahkan dia ingin Elena dan Veronica juga memakainya. Tapi dia tahu dengan jelas kalau uang harus disimpan untuk membantu suaminya pada saat paling kritis dalam kariernya!
Hanya saja dia tidak menyangka kalau prianya benar-benar mendapatkan Angel Heart itu di belakangnya!
"Jansen!"
Akhirnya air matanya mengalir tak terkendali.
Sejak di Kota Asmenia dia mengikuti Jansen sampai ke Ibu kota, dia sudah membantu Jansen untuk mengurus bisnis tanpa mengeluh ataupun menyesal. Bahkan saat dia merindukan Jansen, dia tidak bisa melihatnya selama beberapa bulan. Hanya dia sendiri yang paling tahu penderitaannya.
Tapi sekarang, dia merasa semuanya sepadan!
"Kak Natasha, kenapa kamu menangis?"
Jansen merasa sedih dan dengan cepat menghapus air mata Natasha.
"Aku terharu, aku bahagia!"
Natasha sedikit bersemangat. Dia ingin berdiri dan mencium Jansen tapi ada banyak orang di sini, jadi dia merasa malu.
"Bodoh, kamu adalah wanitaku. Jangankan Angel Heart, bahkan kalau kamu menyukai bulan aku akan mengambilkannya untukmu!"
Jansen berkata dengan lembut, "Dan setelah besok, karier kita akan memasuki sepuluh industri teratas di Huaxia. Kamu juga istri dari sepuluh besar orang terkaya di Huaxia!"
"Semua ini tidak penting. Yang terutama kamu, Elena dan Veronica berada di sisiku selamanya. Bahkan kalau kamu menyuruhku menjadi ibu rumah tangga, aku bersedia!" kata Natasha merasa terharu.
Jansen tersenyum, "Elena dan Veronica juga!"
Kalimat ini juga merupakan sumpahnya pada dirinya sendiri.
Justru karena dia tidak bisa melindungi Elena, dia ingin menjadi lebih kuat. Dia melepaskan impiannya untuk menjadi dokter kecil dan lebih memilih menjadi pria yang ambisius.
Saat itu suara getar datang dari ponsel di tangannya.
Wajah Jansen menjadi marah, dia tahu kalau Hakim Denis sudah mulai bergerak!
Pria ini sangat berbahaya. Untuk mencegah insiden Aidan terjadi lagi, sudah waktunya untuk menghabisinya.
Dring, ring, ring!
Telepon berdering dan getaran yang sebelumnya itu adalah SMS dari Dragon Hall.
Dan suara di telepon itu jelas adalah suara Hakim Denis.
Jansen mengangkatnya dan hanya mendengar Hakim Denis berkata dengan dingin, "Dokter Jansen, aku dengar kamu adalah menantu Keluarga Miller. Istrimu sudah menyelingkuhimu dan bukannya menyalahkan istrimu, kebalikannya kamu tetap membantu Keluarga Miller tanpa mengeluh ataupun menyesal. Bagaimana kalau suatu hari, semua orang di Keluarga Miller meninggal?"
Prak!
Jansen menutup telepon dan tersenyum pada Natasha, "Kak Natasha, kamu makan saja duluan. Aku akan kembali mencarimu dalam waktu satu jam, oke?"
Meski senyum Jansen terlihat sangat lembut, tapi Natasha tetap merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu pergi saja, aku akan menunggumu!"
"Satu jam, aku pasti akan kembali!"
Jansen mengecup kening Natasha dan pergi meninggalkan restoran barat itu.
Tapi saat dia berbalik, kelembutan di wajahnya menghilang dan berubah menjadi kekesalan yang luar biasa.
Di sisi lain di rumah jagal yang terbengkalai di pinggiran Ibu kota.
"Tak disangka Jansen benar-benar menutup teleponku, apa dia tidak takut kalau semua orang di Keluarga Miller akan mati!"
Hakim Denis memegang ponsel dan terdiam di sana.
Niat awalnya adalah menggunakan Keluarga Miller untuk memaksa agar Jansen datang dan semuanya juga mengarah ke arah yang dipikirkannya. Jansen tidak hanya memercayai perkataannya, tapi juga ingin bekerja sama!
Hanya saja dia belum mengatakan alamatnya!
"Telepon saja lagi!"
Kata Master Kelelawar di sampingnya.
Mau tidak mau Hakim Denis itu harus menelepon lagi, tapi Jansen mematikan ponselnya!
"Sial, apa orang ini tidak akan datang?"
Hakim Denis merasa geram dan berkata pada Master Kelelawar, "Kalau dalam waktu setengah jam, Jansen belum juga datang. Ledakan kediaman Keluarga Miller untukku. Orang-orang dari Dragon Hall sudah mengatur bomnya, 'kan?"
Master kelelawar mengangguk, "Sudah diatur, aku membawa bom dari Pulau Hongkong. Itu cukup untuk menghancurkan Keluarga Miller sampai rata dengan tanah!"
"Aku rasa Jansen pasti takut, tapi takut juga tidak ada gunanya. Kalau aku tidak menunjukkan kepadanya apa yang bisa ku perbuat, dia tidak tahu kemampuanku!"
Wajah Hakim Denis terlihat ganas dan ada sebuah panggilan telepon masuk saat ini, itu dari Dragon Hall.
"Tuan, Jansen sudah berangkat dan akan datang ke arahmu!"
"Apa dia sudah datang? Bagus, biarkan dia datang tanpa bisa kembali lagi!"
Hakim Denis menutup telepon dengan gembira, tapi tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Dia tidak mengatakan alamatnya, bagaimana Jansen tahu dia berada di sini?
Namun, Hakim Denis tidak terlalu memikirkannya dan berkata dengan puas, "Dragon Hall memang sangat hebat, mereka bisa mengetahui keberadaan Jansen dengan sangat jelas!"
"Dengan adanya bantuan dari Dragon Hall kali ini, Jansen akan mati meski kemampuan bela dirinya hebat. Kalau dia mematahkan lenganku, aku akan melumpuhkan anggota tubuhnya!"
Pria tua yang lengannya dipatahkan oleh Jansen juga terlihat penuh harap.
Mereka menunggu selama sepuluh menit, tetapi akhirnya mereka tidak tahan dan keluar dari rumah jagal itu.
Ketika mereka baru saja tiba di luar. Di depan mereka ada kembang api yang menyala dalam kegelapan, itu menarik perhatian mereka seperti kunang-kunang.
Kemudian sinar api datang dan melintasi pipi Hakim Denis, itu membuatnya merasa pipinya agak panas. Itu adalah puntung rokok!
Mereka menatap kegelapan dan melihat sesosok orang yang duduk di kursi yang terbengkalai.
"Aku sudah menunggu selama dua menit, kalian sangat lambat!"
__ADS_1
Tepatnya Jansen!