
setelah acara sungkem..
Salsa dan Azka menghampiri pengantin baru itu, karena tadi salsa melupakan sesuatu.
" selamat ya kak, dan ini cincin pernikahan kalian maaf tadi aku lupa ngasihnya," ucap Salsa cengengesan.
Sandi mengambil cincin tersebut dan memakaikannya pada Wulan.
meski sandi belum bisa mencintai Wulan, setidaknya dia memperlakukan Wulan dengan baik di depan semua orang.
" terima kasih kak Salsa," kata Wulan.
" no bukan kakak tapi adik ipar," bantah Salsa.
"tapi kak Salsa, lebih tua dari ku," jawab Wulan lagi.
" hei.. suamimu yang tua kakak ipar, bukan aku," jawab Salsa sambil memanyunkan bibirnya.
"maafkan aku," ucap Wulan tertunduk.
Sandi yang melihat kelakuan adiknya pun buka suara.
"Salsa sudahlah, jangan goda kakak ipar mu terus," kata Sandi.
Bu Mala yang melihat Sandi mulai peduli pada Wulan pun sedikit merasa lega.
Ali dan Lia menghampiri pengantin baru tersebut.
"Wulan sayang, selamat atas pernikahanmu," ucap Lia memeluk Wulan.
"terima kasih," jawab Wulan.
"selamat atas pernikahan kalian, dan tolong jaga sepupuku, kalau aku melihat dia menangis akan ku bawa pergi jauh darimu," kata Ali datar menatap Sandi.
"cih.. dasar anak ingusan, emang kau pikir aku sudah jatuh cinta sama dia gitu,"batin Sandi.
"Ali... jangan bicara seperti itu," sanggah Wulan.
tak terasa acara pun telah selesai, Sandi menginap di rumah Wulan, karena ini malam terakhir Wulan sebelum ikut Sandi ke Surabaya.
sedang Bu Mala dan kedua putrinya, menginap di salah satu hotel di kota itu.
sedang ken langsung kembali ke Surabaya karna ada sesuatu yang harus di urus.
__ADS_1
Wulan dan Sandi tengah berada di kamar milik istrinya yang sederhana, Sandi pun melepas jas yang ia kenakan.
" aku ingin mandi, dan di mana kamar mandinya?"tanya Sandi datar.
" kamar mandinya diluar, ini handuk dan pakaian ganti mas Sandi," ucap Wulan seraya menyodorkan handuk dan baju ganti.
" baiklah," ucap Sandi langsung berlalu ke kamar mandi.
Wulan hanya menghela nafas melihat sikap dingin suaminya itu, tapi Wulan harus kuat menghadapi takdirnya.
saat melewati kamar pak Nawi, Sandi tak sengaja mendengar percakapan pak Nawi dan istri.
" pak ibu belum bisa merelakan Wulan menikah, bapak ingat satu bulan lalu dia begitu bersemangat, saat memberi tahu tentang beasiswanya tapi sekarang," ucap Bu Nawi menangis.
"sabar Bu, mungkin ini sudah takdir putri kita, karna kesalahan kakaknya sekarang putri kita yang jadi korban,"tambah pak Nawi.
"apa benar dia mengorbankan semuanya, hanya ingin menyelamatkan ayahnya padahal yang salah adalah kakaknya, apa dia memang sebaik itu," batin Sandi.
sandi akhirnya pergi mandi dan menyimpan rasa penasaran pada gadis itu, setelah selesai mandi, Sandi kembali ke kamar dan melihat Wulan yang tengah menatap sebuah kertas dengan sedih.
"khemm... aku sudah selesai, dan bisakah kau membuatkan ku nasi goreng, karena aku lapar," ucap Sandi sambil merebahkan tubuhnya.
" iya mas sebentar, sekalian aku juga mau mandi," jawab Wulan seraya mengambil handuk dan pakaian gantinya.
Sandi yang ingat baterai ponselnya drop langsung mencari charger ponsel dan mengunakannya, mata Sandi tertuju pada sebuah kertas bertuliskan UNIVERSITAS Bina Sakti itu adalah universitas milik keluarga Shiddiq.
Sandi terkejut karena di situ tertera nama Wulan yang mendapat biaya full, untuk kuliah jurusan akutansi bisnis.
Sandi ingat beasiswa itu diberikan kepada murid dengan nilai seleksi sempurna dan minimal menguasai 3 bahasa asing.
"sebenarnya seperti apa dirimu, kau penuh kejutan istri kecilku," batin Sandi.
setelah menunggu hampir satu jam, Wulan datang dengan membawa dua piring nasi goreng, dan sudah berganti pakaian tidur serba panjang, dan jilbab kaos instan yang menutupi dada.
Sandi pun berhenti dari kegiatannya dan menatap Wulan yang memakai pakaian panjang serta jilbab.
"apa kamu tidak gerah pakai baju begitu?" tanya Sandi heran.
"tidak mas sudah biasa," jawab Wulan tersenyum, Wulan pun mengambil meja kecil yang biasanya dia gunakan untuk alas laptop, tapi sekarang buat alas makan bersama Sandi.
Sandi yang melihat nasi goreng di hadapan ya pun langsung memakannya, saat pertama menyuapkan nasi goreng itu Sandi terkejut karena nasi goreng itu terasa sangat enak dan pas di lidahnya, hingga tanpa Sandi memakannya sampai habis.
setelah selesai Wulan membereskan piring kotor yang selesai mereka gunakan, sedang Sandi masih sibuk membalas email dari client, dan juga email dari sekertaris Ken.
__ADS_1
saat Wulan kembali dari dapur dia membawa kopi untuk Sandi dan di letakkan di meja rias.
"mas ini kopi buat mas, semoga rasanya tak mengecewakan mas, dan sekarang saya ingin tidur terlebih dahulu," kata Wulan seraya mengambil bantal dan selimut.
" kau mau keman dengan bantal itu?" tanya Sandi menatap tajam Wulan.
" maaf mas, saya akan tidur di bawah, karena saya tak ingin membuat mas tak nyaman," jawab Wulan tertunduk.
"tak masalah kau tidur disini, aku tak akan menyentuhmu, tenang sebelum aku bisa mencintaimu," perintah Sandi.
Wulan pun merasa sedih, mendengar kata-kata suaminya, tapi ia tak ada hak karna ini pernikahan yang tak berlandaskan cinta.
" umurmu berapa? dan apa alasanmu mau menikah dengan ku? apa demi harta," kata Sandi menatap tajam pada Wulan.
"umur saya 18 tahun ini, dan saya mau menikah dengan mas, karena tak ingin melihat orang tua saya menderita," jawab Wulan jujur.
" berarti kamu baru lulus sekolah SMA?" tanya Sandi.
"iya saya baru selesai melakukan UN dua hari yang lalu," jawab Wulan.
" cih... bisa bisanya ibu membuat gadis kecil ini jadi istriku, dan ya tuhan aku dan dia jarak umur kami 15 tahun," batin Sandi.
" ya sudah kau tidur saja," perintah Sandi.
Wulan pun mulai memejamkan mata dan pergi ke dalam mimpi, sedang Sandi mengirim email pada sekertaris Ken, untuk mengurus semua data-data Wulan yang baru, serta mengurus beasiswanya di UBS surabaya.
saat dia melihat kopi yang di buat Wulan, Sandi pun meminumnya, dan dia juga terkejut kopi buatan Wulan sangat pas di lidahnya.
Sandi melakukan semua ini karena dia tak ingin menjadi penghalang cita cita Wulan, meski dia tak tau bisa menerimanya atau tidak.
akhirnya Sandi pun ikut tertidur di samping Wulan karena lelah, entah mengapa tidur di samping istri kecilnya membuat Sandi tenang.
.
.
.
.
.
**mohon dukungannya ya like. vote dan komen..
__ADS_1
terima kasih...😉😉😉**