Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
bonus chapter.


__ADS_3

pagi itu Chintya berlari ke kamar mandi karena dia merasa begitu mual, sedang Julian yang merasa Chintya bangun.


Julian pun bangun dan melihat keadaan dari istrinya itu, Julian kaget melihat Chintya yang sudah lemah.


"sayang kenapa?" tanya Julian panik.


"perutku mual dan sakit, mungkin semalam kebanyakan makan jeruk asam, jadi maag ku kambuh mas," jawab Chintya lemah.


Julian langsung mengendong Chintya untuk membawa istrinya itu ke rumah sakit. Julian lupa tak menelpon Alvin.


sesampainya di rumah sakit, Chintya di periksa oleh dokter, sedang para suster tersenyum melihat Julian.


Julian pun melihat dirinya, dia menepuk dahinya, dia tak menyadari jika dia mengunakan piyama keropi sama seperti Chintya.


bahkan dia juga hanya mengenakan sandal rumah, tak lama suster memanggil Julian untuk masuk ke dalam.


dokter pun terkejut melihat seorang pengusaha terkenal berpenampilan seperti ini, dokter pun menahan tawanya.


"bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Julian.


"tenang tuan, istri anda hanya mengalami morning sicknees, dan itu normal pada wanita yang sedang hamil muda," jawab dokter tersebut.


"apa dia hamil,"kata Julian tak percaya.


"iya tuan, dan saya mohon untuk menjaga keadaan nya dan juga emosinya, karena tak bagus saat wanita yang sedang hamil stress," jawab dokter.


"baik dokter, saya mengerti, saya akan menjaga nya dengan baik," jawab Julian.


Julian dan Chintya pun sedang menunggu obat dan vitamin, tapi karena Julian tak membawa pengawal.


dia tak sadar sedang diikuti oleh seorang wartawan berita, bahkan wartawan itu pun mengambil foto keduanya.


Julian dan Chintya sedang menuju ke apartemen tapi Chintya merasa dirinya begitu lapar.


"mas mau makan?" kata Chintya.


"mau beli sarapan apa dek?" tanya Julian.


"aku ingin makan jajan pasar, kita ke pasar ya please," mohon Chintya.

__ADS_1


"baiklah," jawab Julian.


mereka pun sampai, Chintya memberikan masker pada Julian, kemudian mereka langsung mencari penjual jajanan pasar.


Chintya membeli semua kue yang dia inginkan, setelah itu merka juga membeli iga dan daging.


tapi Chintya tergoda saat melihat penjual nasi jagung, Julian mengajaknya berhenti.


"Bu nasi jagung nya dua porsi ya," kata Julian.


"iya tuan," jawab si penjual.


akhirnya mereka pun pulang setelah puas jajan di psar tradisional itu. sesampainya di penthouse ternyata Chintya merasa mual saat masuk ke dalam.


Chintya pun memilih berdiri di depan pintu, Julian binggung melihat tingkah istrinya.


"kenapa tidak masuk?" tanya Julian.


"aku merasa mual saat masuk kedalam, aku ingin pulang ke rumah," kata Chintya.


"tapi rumah kita belum selesai di renovasi sayang," jawab Julian.


"sayang, aku tak enak dengan orang tuamu, seperti aku tak bisa memberikan rumah untuk putri mereka," kata Julian mencoba membujuk Chintya.


"pokonya aku gak mau masuk," kata Chintya sudah dengan mata berkaca-kaca.


"baiklah kamu menang sayang, kita pulang ke rumah orang tuamu," jawab Julian mengalah.


Julian hanya bisa mengikuti semua. keinginan istrinya, bukan apa Julian hanya ingin menjaga Chintya agar tetap baik.


para pelayan pun membantu Julian berkemas, setelah itu Julian membawa beberapa barangnya untuk ke rumah mertuanya.


Alvin pun mengantar kedua bos-nya itu, bahkan di mobil Chintya terus bermanja dengan Julian, bahkan seakan tak ingin lepas.


sesampainya di rumah Hutomo, pak Hutomo menyambut putrinya dan menantunya itu.


Chintya langsung memeluk sang mama, sedang Julian hanya menyapa keduanya.


mereka pun masuk, ternyata Tyson juga sudah bebas, Tyson mendekati Chintya dan memeluk adiknya itu.

__ADS_1


Julian pun memisahkan mereka, "maaf tolong jangan lama-lama, ini milik ku, kamu cari saja yang lain," kata Julian merangkul Chintya.


sedang semua orang tak menyangka Julian seposesif itu pada Chintya, Julian dan Chintya pun masuk ke dalam kamar.


Julian terkejut melihat kamar Chintya yang cenderung berwarna grey, bahkan lebih ke arah modern yang simpel.


"dek, kamarmu kenapa seperti kmar cowok gini?" tanya Julian.


"asal mas tau, meski aku perempuan,aku tak menyukai warna pink atau berbau princess seperti sahabat ku yang lain," jawab Chintya.


"kamu memang wanita yang berkualitas dan baik," kata Julian memeluk Chintya.


sedang di rumah besar as Shiddiq, Kirana sedang mencoba mengetuk pintu kamar putranya itu.


pasalnya siang itu Altaf dan Icha harus pergi ke Manado untuk proyek sekaligus bulan madu.


"Altaf, Icha kalian kenapa belum keluar, nanti kalian telat," kata Kirana.


pintu pun terbuka, ternyata Altaf yang membuka pintu sambil menggaruk lehernya. Kirana menatap aneh pada putranya.


"bunda, kami berangkat nanti sore, aku sudah konfirmasi masalah tiket semalam," jawab Altaf tersenyum.


"baiklah, kalau begitu turun, Daddy dan kakak mu akan kembali ke Jakarta," kata Altaf.


"baiklah, kasih kami tiga puluh menit lagi, Icha lagi di kamar mandi," kata Altaf.


"baiklah, dan pakai bajumu yang benar, lihat kismark di tubuhmu membut bunda geli, kalian mainnya terlalu panas ya," goda Kirana.


"bunda..." rengek Altaf yang berhasil membuat Kirana tertawa.


Kirana mengusap pipi Altaf, Kirana tak menyangka jik putranya akhirnya sembuh dari penyakitnya.


Kirana pun turun dan km memberikan hadiah yang memang dia sudah siapkan untuk menantunya itu.


sedang dua sahabat Kirana juga akan datang, sekalian membahas rencana resepsi dari Altaf dan Icha.


"oh ya Altaf, ingat nanti mama mu akan datang, dan pastikan kamu tak membut mereka kesal ya," kata Kirana yang akan turun.


"tenang bunda, aku akan mengusir keduanya," jawab Altaf.

__ADS_1


__ADS_2