Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
pengajian dan kejutan


__ADS_3

hari ini rumah Jacob begitu ramai karena akan diadakan pengajian untuk Aisyah dan bayi mereka.


bahkan Rissa juga mengundang beberapa yayasan panti asuhan. tak hanya itu Jacob pun juga mendonasikan uang yang cukup besar pada beberapa yayasan.


bahkan keluarga mereka begitu bahagia menanti kehadiran dari anak Jacob dan Aisyah.


pengajian di adakan dalam tiga sesi, pagi bersama panti asuhan milik Rissa, siang panti asuhan milik keluarga as Shiddiq, dan malam adalah pengajian semua keluarga inti.


Aisyah duduk bersebelahan dengan Jacob saat acara, mereka pun khusyuk. begitupun yang lain.


sedang Jessica masih di pesawat menuju ke Surabaya, bukan hanya itu, mereka juga bersama pasangan baru.


acara pertama dan kedua sudah selesai, mereka pun sedang beristirahat untuk acara yang ketiga.


"lelah ya dek, minum dulu," kata Jacob.


"tidak mas, aku malah begitu senang begitu banyak doa untuk bayi kita," jawab Aisyah.


"untuk ibunya juga, oh ya apa masih sering sakit?" tanya Jacob.


"hanya sesekali,kalau mereka gerak terlalu aktif," jawab Aisyah.


"ya Alloh, kalian jangan buat bunda sakit ya nak, ayah akan temenin kalian, karena ayah gak bisa hidup tanpa bunda dan kalian," bisik Jacob di perut Aisyah.


Aisyah pun mengusap kepala Jacob sambil tersenyum, Jacob pun mencium perut Aisyah.


keduanya pun memilih beristirahat di kamar, Aisyah tidur sedang Jacob memilih bekerja di samping isterinya itu.


pada malam hari rombongan Jasper dan Julian baru sampai di rumah, mereka pun langsung menuju ke rumah Jacob.


mereka juga sudah berganti pakaian agar lebih sopan, Chintya juga terus berada di dekat Julian.


ternyata acara sudah di mulai, semua orang khusyuk dalam bacaan ayat suci, Jessica dan Cinthya pun bergabung di barisan wanita.


begitupun Jasper dan Julian yang juga berada di barisan pria, Chintya juga bisa melihat kedua sahabatnya yang juga hadir.


sebenarnya mereka cukup lama berada di Perancis karena Julian mengajak keluarga nya untuk liburan bersama.


tak lama ada seorang ustad yang memberikan semua nasihat untuk calon orang tua yang tengah berbahagia itu.


Keyla tak sengaja melihat kehadiran dari Chintya, Kayla langsung melambaikan tangan.


Chintya pun tersenyum, sedang Icha fokus pada isi ceramah. pasalnya gadis itu akan fokus pada sesuatu yang menarik.


acara pun usai, sekarang semua sedang makan malam bersama, Kayla dan Icha langsung memeluk sahabatnya Chintya.

__ADS_1


"lemot kangen," kata Icha.


"aku juga, kangen sama mulut emak-emak mu," jawab Chintya.


"tunggu kalau pulang dari luar negri haris bawa oleh-oleh," kata Kayla.


"tenang aku bawa, cuma tadi langsung di bawa pulang, dan aku turun di sini," kata Chintya.


"baiklah ayo kita ke Bu Aisyah, dia juga mencarimu loh," ajak Kayla.


"oke," jawab Chintya.


mereka pun menghampiri Aisyah yang bersama Rissa, Kirana dan juga Syafa.


"assalamualaikum Bu, lihat siapa yang datang," kata Kayla.


Aisyah pun menoleh dan melihat Chintya, Aisyah langsung memeluk siswinya itu, apalagi Aisyah begitu prihatin.


"apa kamu sehat Chintya," tanya Aisyah.


"iya Bu, dan lihat aku makin berisi karena terlalu banyak makan enak di sana," jawab Chintya tertawa.


"ya apalagi di sana banyak bule ganteng kan, kaku itu bisa sekalian cuci mata tau," jawab Icha.


"aku sudah punya seseorang, dan dia adalah segalanya untukku," kata Chintya.


"kami juga dong, malah kamu udah tunangan," kata Kayla.


"kalian teman apa preman sih, suka sekali malak," kata Chintya tertawa.


Julian hanya mengawasinya dari kejauhan, dia hanya tak ingin menganggu kebersamaan antara sahabat itu.


sedang Jacob sedang berusaha untuk membahas sesuatu dengan Alvin, dia hanya tak ingin keluarganya ada yang terluka.


Jacob masih mencari waktu, karena dia tak bisa pergi krena terus mendapatkan selamat dari semua keluarga yang datang.


Jacob pun menghampiri Julian dan Alvin, "apa boleh kita bicara di luar?" tanya Jacob.


"tentu. kebetulan kami juga ada yang ingin di bicarakan," jawab Julian.


mereka menuju ke taman samping rumah, mereka berhenti disisi kolam, "aku minta tolong bisakah kau melepaskan Stevani," kata Jacob tanpa basa basi.


"itu mustahil tuan Jacobson, nyawa harus di bayar dengan nyawa," jawab Julian.


Alvin menjaga pintu agar tak ada seseorang yang menganggu. "tapi itu di luar kendali, dan bukan Chintya yang menjadi sasaran utamanya," kata Jacob.

__ADS_1


"berarti anda setuju jika Stevani membunuh Anastasya, tanpa tau kesalahannya, anda terlalu bodoh karena mencampur adukkan segalanya," jawab Jacob.


"Stevani sudah seperti saudara ku, dan dia hanya di butakan oleh cintanya, lagi pula bayi itu belum lahir," tambah Jacob.


Julian menatap marah Jacob, pasalnya itu ucapan dari seorang calon ayah.


"kalau begitu, bagaimana jika aku membunuh anakmu yang masih di kandungan istrimu,sebagai ganti nyawa Stevani, dia bahkan belum lahirkan," jawab Julian.


"aku akan membunuhmu, bayi itu hidupku," sarkas Jacob.


"ya itulah yang aku rasakan, bagaimana kau harus melihat anakmu mati sebelum melihat dunia, dan semoga kau tak mengalami nya, jadi jangan pernah ikut campur urusanku," kata Julian pergi meninggalkan Jacob.


Jacob pun terdiam, dia tak mengira jika Julian belum berubah, dan Stevani sudah tak bisa di selamatkan lagi.


Tyson sedang berusaha untuk melindungi Stevani,bahkan mereka sampai berpindah ke beberapa tempat.


Tyson salah jika Julian melepaskan mereka begitu saja, pasalnya sekarang Stevani adalah orang yang sangat di cari oleh anak buah Julian.


"kita harus ke Indonesia, hanya di sana kau bisa aman," kata Tyson.


"apa maksudmu, mereka di sana, aku seperti akan masuk ke dalam kandang singa," jawab Stevani.


"tidak, ada Jacob dan orang tua mu, dia tak mungkin bisa melukaimu," kata Tyson.


"baiklah aku akan pergi, tapi sebelum itu aku mencintaimu," kata Stevani memeluk Tyson.


"aku juga, sekarang berkemas dan berangkat, jikalau masih di sini sampai besok sore,ini berbahaya," kata Tyson.


Stevani pun menurut dan menuju ke Bandara, bukan apa sudah tiga gari ini, mereka terus di teror oleh anak buah Julian.


saat berada di dalam pesawat, Stevani tak tau jika dia satu penerbangan dengan Anastasya. sedang Anastasya tersenyum melihat Stevani.


"wah hebatnya, Tyson menyuruh gadis ini untuk mengantarkan nyawanya," kata Anastasya.


Anastasya sudah menikmati perjalanan nya, bahkan dia terus tersenyum sambil menonton film pembunuhan.


Anastasya sudah bertekad harus berubah dan membuat semua orang yang melukai dirinya menyesal.


pesawat mereka sampai di Indonesia sudah dini hari, bahkan Anastasya sendiri sudah di jemput oleh Alvin.


"kau akan bahagia saat melihat seseorang," kata Anastasya yang memeluk Alvin.


"siapa?" tanya Alvin.


"gadis bodoh yang berani datang ke mari," tunjuk Anastasya pada sosok Stevani yang baru keluar.

__ADS_1


"kita makin mudah membalas segalanya Anastasya, di datang sendiri," kata Alvin menyeringai.


__ADS_2