Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
ketiduran..


__ADS_3

Wulan meminum soda yang di ambilnya, Wulan merasa mengantuk dan akhirnya tertidur di sofa.


di ruang rapat Sandi sudah memasang wajah kejamnya, Ken memberikan data-data kepala keuangan.


" jadi siapa yang membuat laporan keuangan ini, dan siapa yang menyuruhmu?" tanya Sandi dingin.


"itu di buat oleh karyawan baru pak," kata kepala keuangan.


" kenapa bukan kau yang mengerjakannya, dan saat kemarin di adakan audit, ternyata ada ke bocoran dana dengan nilai yang tak sedikit," sarkas Sandi sambil memasang wajah dingin.


semua orang yang di ruang rapat di buat ketakutan dengan aura yang di keluarkan oleh Sandi.


"maaf akan kecerobohan pegawai di divisi kami," kata kepala keuangan ketakutan.


"Ken, Eko, bereskan mereka yang berkhianat, pastikan mereka menderita, dan biar mereka di jadikan contoh oleh pegawai lain saat ingin menghianati Sandiaga Putra As Shiddiq,"kata Sandi sambil meninggalkan ruang rapat.


Eko dan Ken menyeret kepala divisi, dan salah satu manager lapangan, semua orang terkejut mengetahui yang berani berkhianat pada Sandi.


semua orang tau Sandi tak segan-segan menghancurkan orang yang menghianati nya.


semua karyawan lembur untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, semua terkena getah dari perbuatan para pengkhianat itu.


saat selesai Sandi kembali ke kamar pribadi yang ada di kantornya, dia melihat Wulan tengah terlelap di sofa dan tv masih menyala.


"mungkin kamu bosan menunggu ku ya sayang, sampai ketiduran begitu lelap seperti ini," kata Sandi sambil mencium kening Wulan.


Sandiaga menemui Surya.


"Surya, aku mau pulang bersama Wulan," kata Sandi.


" aku juga lah kak, biar aku yang menyetir kau bawa saja istrimu, sepertinya dia lelah karena ospek tadi," kata Surya.


Sandiaga kembali ke kamarnya dan membereskan barang-barang Wulan dan meminta Surya membawanya.


sedang Sandi mengendong Wulan ala bridel style, semua karyawan yang melihat Sandi mengendong Wulan pun tercengang.


pasalnya, meski Sandi suka bermain dengan banyak wanita, tapi tak ada yang pernah melihat Sandi penuh perhatian, seperti saat ini mengendong Wulan.


"hei bukankah itu gadis yang bersama pak Surya tadi, tapi kenapa sekarang malah di gendong pak Sandi," bisik salah satu sekertaris Sandi.


"diamlah, mungkin itu keponakannya, kau tak lihat dia sangat muda," jawab sekertaris yang lain.


Sandi tak memperdulikan omongan orang, dia terus mengendong Wulan hingga di lobi.

__ADS_1


mobil telah siap, Surya membukakan pintu untuk Sandi, setelah itu dia berputar dan masuk ke dalam mobil, dan mulai meninggalkan gedung Shiddiq Grub.


butuh 45 menit untuk sampai di rumah, Sandi dan Surya sudah di sambut oleh Bu Mala yang khawatir.


"jadi Wulan sama kamu Sandi?" tanya Bu Mala melihat Sandi mengendong Wulan yang masih lelap dalam tidurnya.


"iya Bu, tadi Surya yang membawanya ke kantor, biar bang Sandi ada yang menenangkan saat marah," jawab Surya.


"owh begitu, baiklah Sandi bawa ke kamar, dan cepat buat cucu untuk ibu, karena kamu sudah tua," ledek Bu Mala.


"tenang bu, pasti Sandi akan buat dengan senang hati, kalau Wulan sudah sadar, sandi gak mau nanti di bilang memperkosa istri sendiri," kata Sandi sambil berlalu menuju kamarnya.


Bu Mala dan Surya hanya tersenyum geli mendengar kata-kata Sandi yang cukup vulgar.


Sandi sampai di kamar dan meletakkan Wulan di kasur dengan hati hati, Sandi mencium kening Wulan dan meninggalkannya untuk mandi.


Sandi mandi air dingin untuk meredakan hasrat yang sudah di tahan selama mengendong Wulan, entah mengapa tubuh Sandi hanya bereaksi pada istri kecilnya.


Wulan pun bangun dari tidurnya dia merasa tak asing dengan kamar ini.


"hem... ini di mana kok kayak di kamar," kata Wulan linglung karna baru bangun.


Wulan pun menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri, sedang Sandi masih berendam, lagi lagi Wulan nyelonong masuk ke kamar mandi, karena Sandi lupa tak menguncinya.


saat melihat ke cermin dia melihat tanda merah di lehernya, Wulan pun malu menginggat kejadian di kantor Sandi tadi.


tanpa di sadari Sandi memperhatikan tingkah istri kecilnya, Sandi merasa kejolaknya datang lagi saat melihat Wulan tersenyum.


Sandi meraih handuk dan melilitkannya pada bagian pinggang, dan berjalan menghampiri Wulan.


Sandi pun memeluk Wulan dari belakang, Wulan terkejut melihat Sandi yang hanya menggunakan handuk di pinggang pun langsung malu.


"mas... pakai pakaian dulu," kata Wulan gugup.


"nanti saja, aku mau menagih janjimu tadi," kata Sandi menyeringai.


Wulan belum sempat menjawab, tapi Sandi sudah menciumnya dengan lembut dan membuat Wulan terbuai oleh ciuman Sandi.


Sandi terus melakukan aksinya, sampai mereka kehabisan nafas, Sandi menempelkan keningnya pada kening Wulan.


"boleh aku minta hak ku?" tanya Sandi lembut, Wulan hanya mengangguk mengiyakan.


tapi saat Sandi kembali mencium bibir Wulan.. terdengar suara perut Wulan, Sandi pun mengakhiri ciumannya.

__ADS_1


" kamu lapar? biar pak Joko mengantar makanan kita ke kamar, kamu mandi dulu dan ku tunggu di kamar, cepat ya sayang," kata Sandi meninggalkan Wulan dan memberi ciuman di keningnya.


Wulan hanya mengangguk dia merasa malu dengan semua sikap Sandi.


Sandi tengah menunggu Wulan menyelesaikan mandinya,Sandi juga sudah meminta pak Joko mengantar makanan mereka.


Wulan keluar dari ruang ganti mengunakan gaun tidur satin yang ada di lemari, rambutnya tergerai indah, wajah cantik yang teduh membuat Sandi terpesona.


"mas jangan melihat ku seperti itu," kata Wulan menunduk malu.


" maaf aku terpesona melihatmu dalam balutan gaun tidur itu, dan mari makan dulu, sebelum aku memakanmu," kata Sandi menepuk sofa di sampingnya.


mereka pun makan malam berdua di kamar, Sandi yang terus terusan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit diartikan.


setelah selesai Sandi membawa bekas makan malam mereka ke dapur, kemudian kembali ke dalam kamar.


Sandi masuk dan mengunci pintu, tanpa aba aba Sandi mengendong Wulan ke ranjang, dan Sandi melepas jubah satin yang di gunakan Wulan, ternyata Wulan mengunakan lingerie yang pernah di temukan di lemarinya.


Sandi pun mulai mencium bibir Wulan dengan rakus dan penuh hasrat, Wulan hanya bisa menikmati semua yang Sandi lakukan.


malam panjang keduanya terjadi, penyatuan yang di tunggu, kesabaran akan datangnya cinta, kini berbuah manis dengan penyatuan keduanya.


Sandi yang memimpin sang istri, entah mengapa Sandi merasa bahagia bisa bersatu dengan istri yang menjaga tubuh hanya untuknya.


malam semakin larut, Sandi yang sudah membuat istrinya kelelahan, karena dia begitu berhasrat dan bergairah, setelah mencapai kepuasan Sandi tidur di samping istrinya.


"terima kasih sayang, telah menjaga diri dan mahkotamu demi diriku," kata Sandi sambil memeluk Wulan yang sudah terlelap.


Sandi mencium kening istrinya itu, tanpa sadar Sandi sudah jatuh hati pada gadis kecil yang berhasil merubah dunianya.


.


.


.


.


.


.


mohon dukungannya ya...

__ADS_1


terima kasih...😉😉😉


__ADS_2