
Angie menghampiri twin yang sedang berbincang dengan Wulan.
"maaf ... apa anak saya menganggu anda?" tanya Angie lembut.
"tidak mbak, mereka tadi habis lari lari saja," jawab Wulan tersenyum.
" owh.. baiklah maafkan kedua anakku, twins ayo kita ke resto karna daddy sudah menunggu," kata Angie pada kedua anak itu.
"yes omy..." jawab si kembar.
"dadah aunty antik," lambai twins.
mereka pun kembali melanjutkan kegiatan karna tinggal beli pita untuk di potong besok pagi.
" kita mau makan apa nih, aku sudah lapar sekali," kata Nina.
"berhubung tadi Ali tak membelikan somay, jadi kita makan di resto jepang aja ya," kata Wulan memberikan usul.
" huh.. mahal tau," kata Lia.
" ahh dasar kamu Lia, emang uang endore kamu kemana?" tanya Wulan.
"habis buat beli make up, he-he-he," jawab Lia cengengesan.
"huh ya udah, hari ini anggap mas Sandi yang mentraktir kalian, oke." kata Wulan yang sudah mengandeng Nina dan Lia menuju resto jepang.
saat baru masuk mereka di sapa oleh seorang pelayan dengan sangat ramah.
"untuk berapa orang?" tanya pelayan tersebut.
" lima mbak, bisa minta yang di pojok gak," tanya Wulan.
"boleh.. mari saya antar," ucap pelayan itu menuntun mereka ke kursi paling pojok.
mereka pun memesan berbagai macam makanan dan juga cemilan.
"apa kalian yakin mau makan di sini?" tanya kak Nina.
"iya kak gak papa, nanti biar Wulan yang bayar sekali-kali," kata Wulan tersenyum.
saat makanan datang mereka menikmati makanan tersebut, tak lama Lia menangkap sosok suami Wulan.
" Wulan itu suami mu kok sama cewek," kata Lia sambil menatap kearah Sandi.
" uhuk..uhuk... " Wulan terbatuk mendengar kata-kata Lia.
Wulan pun melihat kearah Sandi, dan benar dia bersama seorang wanita dan juga sekertaris Ken.
" itu mungkin sekertarisnya, kenapa heran ya buk, ha-ha-ha" tawa Wulan meledek Lia.
Wulan tak ingin suudzon dengan suaminya, sedang Ali menangkap kesedihan di mata Wulan.
"aku ke toilet sebentar ya," pamit Wulan seraya bangkit dan menuju toilet.
di toilet Wulan membasuh wajahnya yang sudah memerah karena menangis.
"Wulan jangan suudzon dengan suamimu, tak baik, berbaik sangka lah, mungkin itu sekertarisnya, di sana juga ada sekertaris Ken," guman Wulan menguatkan dirinya.
Wulan pun kembali ke meja, saat melewati kursi yang di duduki Sandi dan client ya, dia mendengar ada yang memanggilnya.
__ADS_1
" aunty antik!" teriak Vina sambil melambai, sedang Vino langsung berlari menarik narik gamis Wulan.
"aunty, kenapa angis? ada yang akal ya? " tanya Vino dengan cadelnya.
" tidak sayang, aunty hanya kelilipan," jawab Wulan tersenyum sambil mengelus pipi Vino.
semua yang di meja pun terkejut melihat kedekatan antara Wulan dan kedua anak kembar super aktif itu.
Dev melihat Angie, seakan bertanya tentang semua ini.
"tadi mereka tak sengaja menabrak gadis itu, dan sepertinya dia gadis yang baik, bahkan dia menghawatirkan twins," jelas Angie kepada semua.
" aunty ayo, Ina kenalkan ke addy Ina..." kata Vina sudah menyeret Wulan mendekat ke meja mereka.
" addy ini aunty yang ina tablak adi ... " ucap Vina.
"Dev ... "sambil mengulurkan tangannya.
"Wulan," jawab nya sambil menangkup tanganya di depan dada.
"Angie" seraya mengulurkan tangan pada Wulan,
"Wulan," sambil menjabat tangan Angie sambil tersenyum.
"maaf kan putra dan putri ku yang tadi menabrak mu ya Wulan," kata Dev.
sedang Ardi yang terpesona mendapat sikutan maut dari Dev cukup keras.
"aww.." ringis Adri kesakitan merasakan perutnya yang mendapat sikutan dari Dev.
" iya tuan tak apa-apa, yg penting mereka tak terluka, dan mereka anak yang begitu manis," jawab Wulan tersenyum.
" tidak usah nyonya, saya sudah selesai bersama teman teman saya, dan saya permisi sudah di tunggu mereka," ucap Wulan seraya membelai puncak kepala twins.
sedang Sandi hanya diam melihat interaksi antara mereka begitu juga Ken, sedang Lisa menatap tak suka pada Wulan.
" Angie apa aku mimpi, baru saja ada bidadari di depan ku, dan kau tak meminta no telponnya!" teriak Adri saat melihat Wulan pergi.
" hei... kau minta sendiri sana, kejar kalau perlu," jawab Angie jengah dengan tingkah Adri.
Sandi yang mendengar omongan Adri tiba-tiba mengepalkan tangannya, karena tak menyukai ucapan Adri.
" pak Adri jangan terkecoh dengan penampilan alim, karena mereka aslinya juga sama wanita yang n****l"ucap lisa manajer perencanaan Sandi.
Angie, Dev dan Adri tak menyukai kata-kata yang di lontarkan Lisa, karena sudah bisa di lihat yang murahan adalah dirinya sendiri.
" baiklah pak Sandi kalau begitu lusa kau bisa menyerahkan kontrak kerja sama kita, dan maaf ada insiden kecil dengan kedua putra putriku," kata Dev sambil menyalami Sandi.
" baik lah pak Dev, lusa aku akan ke kantor mu menyerahkan semua kontrak kerja sama kita," jawab Sandi tersenyum.
Sandi pun melihat kepergian dari Dev dan keluarganya, Sandi pun melihat Lisa dengan tatapan tajam.
"sekali lagi kau menghina wanita tadi, ku pastikan kau menyesal Lisa, ingat itu," kata Sandi datar.
sedang di mobil Wulan diam sepanjang jalan, Eko pun mencoba mencairkan suasana agar tak canggung.
" apa nona kepikiran tuan dan wanita tadi?" tanya Eko.
" tidak pak, aku hanya sedang lelah," elak Wulan sekenanya.
__ADS_1
" tenang nona, tuan tak mungkin bermain api dengan wanita itu, karena tuan memiliki standar wanita untuk bermain dengannya, dan wanita ular itu tak pantas," kata Eko.
"maksud pak Eko?" tanya Wulan.
"wanita itu dari dulu mencoba mengoda tuan tapi tak pernah di gubris oleh tuan, dia hanya manajer perencanaan perusahaan Shiddiq Grub nona," jelas pak Eko.
tiba-tiba senyum Wulan terukir di bibirnya, mendengar perkataan Eko barusan, seakan ada kelegaan di hati Wulan.
Eko pun menyadari bahwa nona mudanya tengah cemburu, karena sang suami yang dekat dengan wanita lain.
"nona kau begitu polos seperti ini, dan semoga tuan segera membuka hatinya untuk nona, dan semoga kalian tetap bahagia bersama," do'a pak Eko dalam hati.
mereka sudah sampai di rumah, pak Joko telah menyambut nona mudanya.
"pak hari ini mau masak apa buat makan malam?" tanya Wulan dengan Semangat.
" terserah nona mau masak apa? dan para pelayan sudah menunggu nona," jawab pak Joko.
" oke dan tolong belanjaannya di taruh di kamar ya pak, dan terima kasih," kata Wulan tersenyum seraya masuk ke dapur.
pak Joko membawa belanjaan Wulan ke dalam kamar, sedang wulan dengan cekatan memasak makanan untuk sang suami dan mertuanya.
setelah selesai memasak Wulan pun bergegas untuk mandi, dan menunggu sang suami pulang.
Wulan memilih baju yang cocok yang akan dia kenakan menyambut Sandi.
saat Wulan tengah menunggu sang suami sambil membaca Al-Qur'an di ruang tamu, Bu Mala yang baru datang dari restoran miliknya.
"assalamualaikum.." salam Bu Mala menghampiri sang menantu.
"waalaikum salam Bu.." jawab Wulan, sambil menciun tangan sang mertua.
" kenapa kamu di sini? apa sedang menunggu sandi?" tanya Bu Mala.
" iya Bu, saya sedang menunggu mas Sandi pulang," jawab Wulan tersenyum.
" baiklah, semoga Sandi tak lembur, kalau begitu ibu masuk dulu ya," jawab Bu Mala yang di angguki Wulan.
terdengar suara adzan magrib berkumandang, saat Wulan akan pergi ke kamar terdengar deru suara mobil.
Wulan pun mengurungkan niatnya, dan kembali untuk menyambut Sandi yang baru pulang kerja, Sandi yang turun dari mobil sudah di sambut oleh istri kecilnya dengan senyum lebar.
Sandi memberikan tas, dan Wulan membantu melepas jaz yang di gunakan Sandi, kemudian dia meletakkan di sofa.
Sandi pun terduduk di sofa ruang tamu, Wulan pun berjongkok dan melepas sepatu Sandi, pak Joko sudah membawa sandal rumah yang di taruh di samping kaki Sandi.
Wulan pun membawa semua barang sandi ke kamar, dan tanpa sadar sandi tersenyum melihat semua itu.
.
.
.
.
mohon dukungannya ya...
terima kasih😉😉😉
__ADS_1