Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
kisah Qia


__ADS_3

Ardan pun memilih meninggalkan Qia, sedang Qia terduduk sambil menangis, bukan apa dia merasa menyesal.


dia kembali ingat bagaimana dia bisa bertemu dengan Ardan, seorang pengusaha terkemuka di Jerman.


istri Ardan adalah seorang wanita yang memiliki usaha toko kue, dan Qia sempat bekerja paruh waktu di sana.


"Qia, apa kamu tidak kuliah?" tanya Salwa istri Ardan.


"nanti sore nyonya, ih ya apa kondisi nyonya baik-baik saja?" tanya Qia.


"tenang Qia, aku baik saja jangan terlalu khawatir, karena kematian dan kehidupan itu rahasia," kata Salwa.


tak lama supir mengantar Violla dan Yusuf yang baru pulang sekolah, Yusuf langsung menghampiri Qia dan tersenyum melihatnya.


"halo tampan, kenapa kamu melihat kakak seperti itu?" tanya Qia.


"aku hanya menyukai kakak," jawab Yusuf.


Salwa begitu senang melihat kedekatan antara Yusuf dan Qia, sedang Violla memang cenderung seperti Ardan, cuek dan tak banyak bicara.


tanpa ada yang tau, sebenarnya Salwa sudah menderita kanker rahim stadium awal, bahkan Salwa menyembunyikan nya dari Ardan.


Salwa tau jika pernikahan mereka adalah berkat Arka dan almarhumah Wina, mereka bertemu bersama dulu.


dan saat itu Salwa begitu menyukai Ardan, dan tak di duga Ardan pun meminta Salwa untuk menikah dengannya.


apalagi Sandi juga terus menanyakan kapan menikah, Salwa memang tak terlalu kenal dengan sosok suaminya itu.


Ardan selaku sibuk bekerja, sedang pendidikan anak-anak Salwa yang menjaga, dan saat ini Qia juga ikut membantu menjaga keduanya.


Qia sudah pamit untuk pergi kuliah saat dan di situlah semua berawal, Qia sedang naik bus menuju ke universitas.


hingga tiba-tiba dia melihat dua mobil saling bertabrakan, Qia melihat seorang pria keluar. tapi pemilik mobil hitam tidak.


Qia pun membantu pria itu, dan tak lama polisi dan ambulance datang. untuk sesaat Qia bisa melihat pria tampan yang sedang terbaring lemah itu.


saat di universitas Qia pun melihat sebuah pencarian bakat modeling, dia pun berniat ikut di dalamnya.


keesokan paginya Qia sudah pamit pada Salwa untuk berhenti karena ingin fokus dengan dunia modeling.


Salwa pun sedih dan meminta Qia untuk sering datang mengunjunginya, Qia pun menyanggupinya.


bulan berganti, Qia sudah menjadi model yang sukses, sedang kondisi kesehatan Salwa makin menurun.


Ardan bahkan mengutuk dirinya yang tidak mengetahui jika istrinya sudah sekarat, tapi Salwa tetap tersenyum pada Ardan.


"jangan sedih, aku titip keempat anak kita," kata Salwa.

__ADS_1


"apa maksudmu, kau harus tetap sehat bagaimana pun mereka membutuhkan mu sebagai ibunya, dan maafkan aku yang tak berguna selama ini, aku terlalu sibuk untuk bersaing dengan kakakku. dan malah mengorbankan mu," kata Ardan.


"tidak seperti itu, aku ikhlas dan bahagia bisa menjadi istrimu," kata Salwa.


karir Qia makin menanjak dan begitu sukses menjadi model, sedang Ardan masih berusaha menyembuhkan istrinya.


tapi Tuhan berkehendak lain, Salwa menyusul sahabatnya Wina yang meninggal terlebih dahulu.


Ardan terpuruk dan juga keempat anak mereka, bahkan Arta dan Arga menjadi penguat Ardan, sedang Violla dan Yusuf masih membutuhkan kasih sayang darinya.


Qia yang mengetahui tentang kematian Salwa pun memilih berziarah ke kuburnya, dan di sana Qia menaruh bunga mawar kesukaan dari Salwa.


"maaf nyonya, aku tak bisa menjengguk mu kemarin, aku terlalu sibuk dan maaf baru datang," kata Qia.


"dia akan memaafkan mu, dia wanita yang baik," kata Ardan yang kebetulan juga sedang berkunjung.


Qia sejenak terpesona dengan pria di depannya itu, pria dengan tubuh tegap dan kulit putih begitu terlihat sempurna.


"maaf tuan, aku turut berduka atas kepergian nyonya," kata Qia.


"panggil Ardan, dia sering bercerita padaku tentang mu, dan jika tak keberatan bisa kau menemui Yusuf dia begitu sedih," kata Ardan.


"tentu, aku akan mengunjunginya," jawab Qia sebelum pergi meninggalkan Ardan.


waktu pun berjalan, Qia begitu dekat dengan Yusuf karena Qia mengisi sosok ibu yang hilang.


sedang berbeda dengan ketiga saudara laki-laki nya, Violla merasa jika Qia ingin merebut semua miliknya.


bahkan sekarang Ardan juga sering bersama Qia, Violla tak menyukai itu karena dia tidak ingin Ardan menemukan pengganti dari Salwa.


Qia pun makin dekat dengan Ardan, bahkan hubungan mereka juga berjalan baik dan mendapatkan dukungan dari ketiga putra Ardan.


Violla makin membenci Qia, saat itulah gadis satu SMA itu merencanakan sesuatu yang sudah begitu kejam.


Qia menyewa beberapa orang untuk menghancurkan hidup Qia, agar Ardan membenci wanita itu.


Violla mulai mengirimkan foto Ardan yang bersama dengan wanita-wanita seksi, meski itu hanya editan.


tak hanya itu, mulai dari teror berdarah setiap hari yang di antar ke apartemen milik Qia, bahkan yang paling parah Qia mendapat kan pengancaman dan perusakan mobil.


tapi semua itu tak berhenti di sana, Violla makin menjadi saat tau Ardan ingin menjadikan Qia ibu sambung untuk mereka semua.


di situlah Violla mempunyai ide untuk membuat hidup Qia hancur sehancur-hancurnya. malam itu Qia sedang melakukan pemotretan.


saat selesai Qia sudah di bius oleh seseorang dan di bawa ke sebuah hotel, setelah itu seorang pria tidur di samping Qia yang sudah tak berpakaian.


Violla mengambil foto dan mengirimkan pada Ardan, dan Ardan uang tau langsung mendatangi hotel dan menemukan Qia yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ardan langsung menarik Qia,"Qia apa ini, kenapa kamu bisa melakukan hal menjijikkan ini!" bentak Ardan.


"apa maksud mu? aku- aku kenapa!" kaget Qia melihat dirinya yang telanjang dan di sampingnya tidur seorang pria dengan kondisi sama.


" aku tak melakukan apapun, aku bisa menjelaskan," kata Qia.


"tidak, aku tak ingin memiliki istri yang menjijikkan, kita batalkan saja semuanya, aku tak mengira jika aku salah menempatkan cinta pada wanita seperti mu," kata Ardan yang kemudian pergi.


sejak saat itu Ardan bak hilang di telan bumi, Qia juga begitu sedih karena Ardan tak bisa melihat semuanya.


tiga bulan setelah kejadian itu, Qia sedang bertemu dengan Violla yang terlihat bahagia sekali.


"ada apa kamu ingin menemui ku?" tanya Qia.


"aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dan selamat, Daddy begitu membencimu," kata Violla sambil tertawa.


"apa ini semua ulah mu, apa salahku hingga kau begitu kejam padaku," kata Qia.


"itu karena kamu berusaha menjadi wanita yang sok baik dan ingin menggantikan posisi mama, jadi aku membuat mu membayarnya, dan sekarang Daddy hanya milikku dan ketiga saudaraku, kau wanita asing dan tak layak jadi istri Daddy," kata Violla.


"kamu bisa mengatakan baik-baik, dan tak harus menghancurkan aku," kata Qia.


"apa kau kira aku bodoh, Daddy terlalu mencintaimu jadi jalan satu-satunya adalah dengan membuatmu terlihat kotor, jadi aku permisi dan selamat tinggal Qia, jika perlu kau bisa menyusul mama dan minta maaf di akhirat," kata Violla sebelum pergi.


Qia tak menyangka jika Violla begitu kejam, dia pun memilih untuk pindah ke Belanda untuk menenangkan dirinya.


sebelum itu dia mengirimkan percakapan antara dirinya dan Violla, dan itu menjadi salam perpisahan dari Qia untuk Ardan.


dan di saat itu lah Ardan mengetahui jika putri nya memiliki masalah spikis, dan Ardan memutuskan untuk melakukan konseling untuk Violla.


meski begitu Violla tetap bersikap dingin pada Ardan, karena bagi Violla kematian Salwa ada hubungan dengan Ardan, dan Violla menolak mengakui jika Salwa meninggal karena sakit.


itulah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, bahkan Ardan tak bisa melupakan Qia.


dan itulah mengapa Ardan diam-diam membantu Qia melalui setiap menager yang di kirim Ardan lewat agensi.


Ardan sudah kembali menuju ke rumahnya, besok Arta dan Arga akan pulang dari Mesir, dan akan ikut tinggal menetap di Indonesia.


Ardan pun melihat putra terkecilnya Yusuf yang terlihat nyenyak dalam tidurnya, Ardan bahkan begitu menyesal karena tak mendengarkan penjelasan Qia.


Ardan juga tak mungkin menghakimi putrinya Violla, dan itu juga kesalahan nya sendiri karena terlalu memanjakan Violla kecil.


Ardan pun merebahkan dirinya di atas ranjang dan dia menatap langit-langit kamarnya.


"seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin meminta maaf dan mendidik putri kita dengan


baik Salwa," gumam Ardan.

__ADS_1


__ADS_2