Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
bonus chapter.


__ADS_3

sore hari, Aisyah, Jacob dan Justin datang ke rumah Ardan, Aisyah juga membawa serta kedua anaknya.


Ardan menyambut mereka, Justin bahkan membawa bunga mawar untuk Violla. sedang Violla masih bersama Qia di dapur.


"Violla. lihat siapa yang datang," panggil Ardan.


Violla pun datang dan langsung berlari ke depan Justin, Violla bahkan memeluk Justin di depan semua orang.


"Vio. lepaskan banyak orang disini," kata Justin.


"maaf, aku terlalu bahagia," jawab Violla.


Justin tak percaya bisa melihat senyum tulus seorang Violla, Justin mengulurkan bunga mawar di tangannya.


"untukmu," kata Justin.


"terima kasih, ini begitu indah dan cantik," jawab Violla.


"Hem... aduh kami di kacangin nih," kata Jacob menahan tawanya.


"selamat datang kak, maaf aku hanya fokus ke kak Justin," jawab Violla yang berpelukan dengan Jacob dan Aisyah.


"Violla ajak mereka masuk, kita ke taman samping," kata Ardan.


ternyata Ardan dan Qia sedang melakukan barbeque, ada Arta, Arga dan Yusuf yang sedang duduk.


Arga dan Arta langsung berpelukan dengan Jacob dan Justin, mereka pun tertawa bersama.


sedang Yusuf melihat Radit dan Ayanna, "aunty, apa aku bisa punya adik seperti ini?" tanya Yusuf.


"tentu, minta ke Daddy mu," jawab Aisyah.


"Daddy, bisa kita punya bayi seperti aunty Aisyah?" tanya Yusuf.


Qia langsung membuang muka karena malu, sedang Ardan binggung menjawabnya, "tentu bisa, tapi minta Daddy menikahi mami Qia dulu," kata Violla yang datang membawa minuman dingin.


"mami dan Daddy harus menikah, aku ingin punya bayi seperti Radit dan Ayanna," mohon Yusuf.


"ya tunggu ya sayang, kita nanti minta izin Oma dulu," jawab Ardan.


"wah aku bayangin Arya dan Arga harus jaga adiknya tapi mirip anaknya," goda Justin.


"tutup mulutmu, aku tentu bahagia karena melihat papi bahagia," jawab Arta.


"ya Arta benar, aku tak masalah punya adik lagi, lagi pula makin seru karena rumah tambah ramai," jawab Arga.

__ADS_1


semuanya pun tertawa bersama, Aisyah pun melihat tatapan tulus dari Vio dan begitu pun Justin.


bahkan Jacob mengatakan jika Justin berubah sejak dekat dengan Violla. Justin berubah ke arah yang lebih baik.


berbeda dengan halnya pengantin baru yang saat ini sedang kesal satu sama lain. bagaimana tidak, desain rumah impian milik Icha di hilangkan Altaf.


"ayolah Icha, berhenti memasang muka masam seperti bebek begitu," kata Altaf membujuk istrinya.


"apa kamu mengatai ku bebek, ya Tuhan kenapa kamu tega sekali," kata Icha kesal.


"habis bibirmu itu membuatku gemas," jawab Altaf.


Icha pun memukuli Altaf dengan bantal, bukan kesakitan Altaf malah tertawa terbahak-bahak.


sebenarnya desain itu di ambil Altaf untuk membuat kejutan di hari ulang tahun Icha nantinya.


"hentikan, kita harus pergi sebentar lagi," kata Altaf membalik tubuh Icha.


sesaat Altaf melihat Icha dengan senyuman, kemudian Altaf mencium bibir Icha dengan lembut.


tanpa sadar Icha pun membalas ciuman itu, bahkan tangan Altaf sudah bergerilya ke seluruh titik sensitif tubuh Icha.


Altaf sedang mempraktekkan cara yang di ajari Dera, tentang hubungan secara normal. Altaf pun melakukannya.


tapi Altaf tak bisa merasakan hasratnya, Altaf pun bangun dan meninggalkan Icha. tapi Icha menahannya.


"hentikan.. kita ada acara sebentar lagi.." kata Altaf yang sudah tak bisa menahan dirinya.


"aku hanya ingin bersama mu, dan tak ingin pergi," jawab Icha sekenanya.


Icha terus merangsang Altaf, akhirnya Altaf pun menarik Icha kepelukannya, dan mengurung Icha.


"kamu memintanya, kita akan melakukannya hari ini," jawab Altaf.


akhirnya petang itu menjadi saksi dari Altaf dan Icha yang melakukan penyatuan, Altaf tak mengira jika dia bisa menikmati waktunya bersama Icha.


bahkan Altaf seperti ketagihan dengan menyentuh tubuh Icha, "kenapa aku serasa tak ingin berhenti," batin Altaf.


"apa aku sembuh," gumam Altaf.


"semoga, tapi kata kak Dera, jika mas menikmati saat kita melakukan nya berarti mas sudah di katakan sembuh, tapi aku harap mas tak berhubungan dengan kekasih mu lagi," jawab Icha yang berada di pelukan Altaf.


"aku sudah memutuskan semuanya sebelum kita menikah, dan sekarang hanya kamu yang ada di sisiku dan hatiku," jawab Altaf.


"pembohong, tak mungkin secepat itu aku ada di hatimu," jawab Icha.

__ADS_1


"tidak, aku mulai menyukaimu saat pertama kali aku mencium mu, dan saat kamu melihatku bersama kekasihku di bar, itu adalah saat aku memutuskan hubungan kami, dan mulai belajar hidup normal," jawab Altaf.


"berarti jika aku bersama lelaki lain?" tanya Icha.


"aku akan membunuh laki-laki itu, dan membuatmu tak bisa berjalan," jawab Altaf mengeratkan pelukannya.


"apa seperti ini yang disebut di cintai, apa ini yang di katakan Chintya tentang hubungan suami istri," kata icha menelusuri dada Altaf.


"jangan menggodaku sayang, atau aku akan memakanmu lagi, dan besok kita tak jadi pergi," kata Altaf.


"buktikan dulu, memang sekuat itu mas," jawab Icha tersenyum.


mereka pun kembali bergulat dengan kebahagiaan yang baru di reguk.


sedang di penthouse mewah, sedang terjadi kekacauan besar karena ulah Julian dan juga Alvin.


pasalnya Julian tak sengaja membuat istri tercintanya itu marah dan ngambek, bahkan Julian saat ini sedang membuat kue kesukaan dari Chintya.


"tuan anda salah memasukan garam bukan gula," panik Alvin.


"bisakah kau diam, kau makin membuatku panik Alvin!" teriak Julian.


Chintya yang terganggu pun turun dan melihat kekacauan di dapur, "ya Tuhan. apa yang kalian lakukan, suamiku kemari dan berhenti melakukannya, kalian merubah dapur seperti kapal pecah," kata Chintya.


"tapi kami sedang membuat kue," jawab Julian.


"hentikan aku bilang, sekarang kemari, dan kalian semua tolong bereskan kekacauan ini," kata Chintya pada para pelayan.


Julian dan Alvin pun menghampiri Chintya, tak lama Anastasya datang dengan kue di tangannya.


"sayang," panggil Julian manja.


"duduk, dan kamu juga," perintah Chintya.


Julian dan Alvin pun duduk dengan patuh, Chintya membawa kue untuk di potong sambil membawa jeruk yang tadi siang ia beli.


"kalian tak usah repot-repot, aku tadi cuma bercanda, lagi pula aku tak mau suamiku ini jadi bapak rumah tangga karena membuat kue," kata Chintya.


Julian pun langsung merangkul Chintya, mereka pun menonton film di rumah, Chintya memakan jeruk dengan lahap.


Julian dan yang lain ikut mengambil jeruk dan memakannya, tapi rasa pertama yang begitu kuat adalah rasa asam di mulut mereka.


"sayang ini terlalu asam," kata Julian memuntahkan jeruk dari mulutnya.


"tidak ini enak, jangan di makan kalau tak mau," kata Chintya yang memakan jeruk dengan lahap.

__ADS_1


bukan hanya Julian, tapi kedua asisten Julian juga merasakan ngilu melihat Chintya yang begitu nikmat.


"aku merasa kasihan dengan gigiku, melihatnya saja sudah membuatku ngilu," kata Anastasya. sedang Alvin mengangguk mengiyakan.


__ADS_2