Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
istri yg tak dianggap


__ADS_3

Sandi telah selesai mengunakan baju santai dan pergi ke ruang kerja nya, ganti Wulan yang mandi dan menunaikan sholat dhuhur.


saat di depan meja rias Wulan terpaksa membuka jilbabnya, karna mau mengeringkan rambut panjangnya.


tak lama pintu terbuka dan Sandi masuk karena ingin membicarakan sesuatu dgn Wulan tapi,


DEG...DEG..DEG..


Sandi terkejut melihat rambut panjang hitam milik Wulan, karena Wulan terlihat makin cantik dengan rambut hitam panjang.


"khem... kita harus bicara," ucap Sandi sambil bersandar di dinding.


Wulan pun terkejut mendengar suara Sandi.


"iya mas," sambil menggelung dan memakai jilbab syar'i nya.


"duduk lah di situ," perintah Sandi sambil menunjuk sofa di depannya.


Wulan pun duduk di depan Sandi, sambil menunduk takut sambil meremas tangannya.


"Wulan dengar, aku menikahimu karna paksaan ibu, jadi aku tak akan menyentuhmu dan meminta hak ku sebagai suami, dan kau harus menyembunyikan status istri dari Sandiaga Putra As Shiddiq," kata Sandi datar.


" tapi kenapa? dan masih kah aku boleh melaksanakan tugasku sebagai istri?" tanya Wulan sudah menahan tangis.


"karna aku tak ingin kau merusak kesenangan ku, dan kau boleh melakukan tugasmu," jawab Sandi datar.


"baik mas aku akan menyembunyikan bahwa mas adalah suamiku, tapi bisakah aku mengakui bahwa aku sudah menikah?" tanya Wulan.


"baik terserah, dan ini ATM dan kredit card buat mu," kata Sandi meletakkan dua kartu di meja.


Wulan berjalan mengambil sebuah kotak dan juga menaruhnya di meja depan Sandi.


"buat apa kedua kartu ini mas?" tanya Wulan masih menahan tangisnya.


" ATM itu adalah mas kawin mu, dan kredit card itu untuk kebutuhanmu sehari hari, seperti membeli baju dan mentraktir temanmu," jawab Sandi santai.


sedang sandi menatap kotak bludru yang selama ini selalu tersimpan rapi di brangkas milik sang ibu.


"iya mas, dan ini adalah gelang yang di berikan ibu kemarin, lebih baik mas yang menyimpannya," tak terasa air mata Wulan sudah jatuh.


"baiklah, dan ingat dalam pernikahan ini tak akan ada PERPISAHAN apa kau mengerti," kata Sandi sambil meninggalkan Wulan dan membawa kotak bludru itu.


"Ya Alloh kenapa hatiku sakit saat suami ku bahkan tak mengakui ku sebagai istri, aku tau pernikahan ini adalah sebuah pembayaran hutang, semoga aku kuat menjalani semu ini," tangis Wulan memeluk kakinya.


Tok...Tok...

__ADS_1


"nona anda di minta nyonya untuk turun," kata pak Joko mengetuk pintu kamar.


"iya pak sebentar," jawab Wulan serak sambil menghapus air matanya, kemudian keluar dari kamarnya.


"mari nona," pak Joko mempersilahkan Wulan untuk turun duluan.


Wulan dan pak Joko turun ke bawah beriringan, di sana ada Bu Mala yang sudah menunggu.


"sayang, hari ini ada makan malam, apa kamu bisa memasak makanan untuk acara nanti, karena ibu ingin menantu ibu menyiapkan sajian untuk para tamu, dan biar nanti kamu di bantu para pelayan ya," kata Bu Mala mengenggam tangan Wulan.


" iya Bu, Wulan bisa tapi mau masak apa?" tanya Wulan.


"terserah kamu sayang," jawab Bu Mala.


Wulan pun menuju ke dapur, dan melihat semua bahan sudah siap di atas meja, dengan cekatan Wulan memulai masak, pelayan hanya di minta untuk memotong dan membersihkan bahan-bahan nya, sedang untuk bumbu dan pengolahan di lakukan oleh Wulan sendiri.


tak terasa masakan sudah selesai di masak, Wulan sedang membuat cemilan mulai dari brownis. pisang goreng. dan bolu gulung, semua di kerjakan sendiri.


"pak Joko semua sudah selesai, dan ini sudah sore saya akan ke atas, nanti pak joko yang akan menata makanan nya kan," kata Wulan.


"iya nona," jawab pak Joko.


saat akan naik ke atas Wulan berpapasan dengan Sandi yang sudah rapi, Wulan pun tak sengaja bertanya karna melihat Sandi akan pergi.


" bukan urusan mu, jangan pernah menganggu ku kau paham!" bentak Sandi seraya menatap tajam Wulan.


" maaf mas aku hanya ingin tau, karena kalau ibu tanya aku punya jawabannya," jawab Wulan sudah menahan tangisnya.


"aku mau berkencan apa kau keberatan!" bentak Sandi.


Wulan hanya diam berjalan mendekati Sandi seraya mengambil dan mencium tangan Sandi.


"hati hati mas, semoga Alloh selalu melindungi mas sandi," seraya memaksa senyumnya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


sesaat Sandi terdiam melihat wajah Wulan yang tersenyum tapi mata yang berkaca-kaca, tapi sandi tetap meninggalkannya, Wulan hanya bisa menangis dan berlari ke dalam kamarnya.


sebenarnya hatinya sakit mendengar kata Sandi yang akan berkencan dengan wanita lain, tapi Wulan sadar bahwa itu bukan hak nya melarang Sandi, dengan kesenangannya meski Wulan istrinya.


Wulan menangis di bawah guyuran shower di kamar mandi.


setelah selesai mandi Wulan lebih memilih mengadu kepada sang Kuasa.


"Ya Alloh ku sandarkan cinta dan takdirku kepada Mu, aku yakin jika mas Sandi jodohku, Engkau akan menyatukan kami, dan jika dia bukan jodohku berikan kami jalan yang terbaik, dan bukalah hatinya beri hidayah Mu pada suamiku, Amien.." do'a Wulan dalam sholatnya.


kemudian Wulan mengaji seperti biasa, entah mengapa hatinya benar benar di buat bimbang dengan sikap Sandi yang terus berbuat sesukanya.

__ADS_1


Di tempat lain sandi tengah berada di apartemen miliknya, sedang minum bersama seorang wanita cantik dan sangat seksi, saat yang wanita mulai mengodanya dengan membelai dan mencium Sandi.


tiba tiba Sandi merasa risih dengan itu semua, bahkan dia biasanya langsung bisa berhasrat dan bercinta, tapi tidak hari ini bahkan tubuhnya tak bereaksi sama sekali.


"sayang kenapa kau diam, ayo kita bercinta," suara seksi model yang di sewa Sandi.


"aku sedang tak ingin melakukannya," kata Sandi sambil menenguk anggur merahnya.


"jika kau lelah, biar aku yang melakukan pemanasan buatmu," ucap model tersebut.


"baiklah lakukan, karna kau biasanya begitu hebat dalam hal ini," ucap Sandi yang menerima semua perlakuan wanita di pangkuanya tersebut.


tubuh Sandi masih tak merespon sentuhan wanita tersebut, hingga Sandi makin merasa risih di buatnya.p


"hentikan! kau keluar dan ini bayaran mu," ucap Sandi sambil melepar segelok uang pada wanita itu.


"kenapa bahkan kita belum bercinta," tanya wanita tersebut.


" aku tak bernafsu dengan mu, jadi kau keluar dari sini!" bentak Sandi sambil mendorong wanita tersebut.


wanita itu pun keluar apartemen setelah mengambil uang yang sandi berikan.


"sialan, kenapa denganku, kenapa tubuhku tak bereaksi dengan sentuhan wanita itu, Damn It," maki Sandi.


kini Sandi telah merebahkan tubuhnya di kasur nya, dan Sandi pun menutup mata saat tiba tiba bayangan Wulan terlintas di benaknya.


saat Wulan tersenyum membantu seorang kakek, melihatnya gugup dan takut melihat Sandi bertelanjang dada, dan saat dia melihat surai hitam panjang milik Wulan yang membuat jantung Sandi berdetak cepat.


sandi pun membuka matanya.


" ada apa dengan ku, kenapa dia ada di pikiranku, dan kenapa aku sudah tak berminat berkencan dengan wanita-wanita seksi ini, brengsek," maki Sandi kembali.


.


.


.


.


.


**mohon dukungannya dengan like vote dan koment...


terima kasih...😉😉😉**

__ADS_1


__ADS_2