
keesokan paginya, Icha bangun dan merasakan berat di perutnya, ternyata Altaf sudah tidur dengan memeluknya.
bahkan Altaf bertelanjang dada, Icha langsung menyingkirkan tangan Altaf dari perutnya, Icha langsung berlari ke kamar mandi.
sedang Altaf terbangun karena ulah Icha, Altaf duduk sambil melihat kamar mandi tertutup.
Altaf meminta pelayan mengantar kopi hangat ke ruang kerja beserta roti isi.
ya Altaf harus menyelesaikan pekerjaannya, Altaf pun masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
sedang Icha masih mandi di bawah guyuran shower, Altaf bahkan hanya melihat tanpa minat sedikitpun.
setelah cuci muka Altaf pun duduk di depan laptop miliknya, tak lama pak Man membawakan minuman milik Altaf.
"tuan ini minuman dan roti isinya," kata pak Man.
"taruh di situ pak, oh ya kalau nona muda selesai mandi, minta dia menyiapkan pakaian ku, dan ajari dia dengan baik," perintah Altaf.
"baik tuan," jawab pak Man keluar dari ruang kerja.
Icha sudah bersiap untuk ke sekolah karena masih harus mengikuti ujian hari terakhir. meski masih begitu pagi Icha sudah bersiap.
tok.. tok..
"permisi nona, apa bisa saya bicara sebentar," kata pak man.
Icha pun membukakan pintu setelah menyelesaikan kunciran rambutnya. "masuk pak," jawab Icha.
pak Man tersenyum saat melihat ranjang dan karena kamar Altaf sudah tertata rapi. "maaf nona muda, tuan muda meminta anda untuk menyiapkan pakaian beliau untuk ke kantor, semua harus seimbang dan serasi," kata pak Man.
"manja sekali, dia tak bisa memilih bajunya sendiri pak," kata Icha dengan bersunggut-sungut kesal.
"bukan tak bisa, tapi tuan Altaf itu orangnya terlalu perfeksionis, dan jika nona tak ingin lemari berantakan. lebih baik nona ikuti permintaan tuan muda, nona," jawab pak Man.
"baiklah, aku siapkan," jawab Icha.
pak Man pun pamit keluar dari kamar, Icha mulai masuk ke walking closed. Icha tak percaya melihat semua koleksi baju milik Altaf.
ternyata semua barangnya juga sudah di taruh rapi oleh pelayan di bagian miliknya.
"ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan!" teriak Icha bingung.
__ADS_1
Icha pun mengambil setelan jaz dan celana berwana grey, dan juga menyiapkan kemeja putih dan dasi berwarna senada.
kemudian Icha memilih ikat pinggang, dan juga jam tangan. tak lupa Icha juga memilih jepitan dasi untuk Altaf.
saat akan keluar ternyata Altaf baru selesai mandi, dan melihat Icha sibuk memilih setelan untuknya.
"aih... pagi pagi sudah menodai mataku, cepat ganti baju mu, atau aku akan telat," kata Icha pergi meninggalkan Altaf.
Altaf pun tertawa melihat Icha pergi dengan kesal, Altaf pun mengakui jika selera Icha cukup bagus.
Altaf sudah memakai semua pilihan baju dari Icha, tinggal dasi yang belum terpasang.
Altaf pun menghampiri Icha, "pakaikan dasi untukku," kata Altaf mengulurkan dasinya.
Icha pun berdiri dan ternyata dia tak bisa mengikat dasi karena Altaf terlalu tinggi.
"bisakah kamu menunduk sedikit, kamu seperti tiang listrik," kata Icha.
"kamu saja yang pendek, dasar gadis semeter tak sampai," jawab Altaf.
"aku tinggi tau, 165 cm kamu saja yang ketinggian, cepatlah kita bisa terlambat!" teriak Icha.
Altaf pun sedikit membungkukkan badannya, sekarang Icha yang gugup karena wajah Altaf tepat di depan wajahnya.
setelah itu Icha memakaikan jepit dasi untuk Altaf, mereka pun turun bersama. ternyata semua sudah siap di meja makan.
Andhara tersenyum kearah Icha, sedang Altaf duduk di samping Ardi. "Daddy, sepertinya aku harus ke luar kota untuk menyelesaikan proyek Minggu depan," pamit Altaf.
"kalau begitu ajak Icha sekalian liburan, dan jangan membuat nya sedih di sana, atau kamu akan tau hukuman Daddy," kata Ardi.
"tapi Altaf kerja Daddy, bukan bermain," jawab Altaf.
"tak ada bantahan Altaf, ini perintah," jawab Ardi.
Icha hanya memilih diam sambil menikmati sarapan miliknya, Altaf hanya meminum jus miliknya.
kemudian Altaf berdiri dan berjalan keluar rumah meninggalkan semua orang. "Icha kenapa masih di sana, ayo berangkat," panggil Altaf.
Icha pun meminum jus miliknya, setelah itu berpamitan pada Kirana dan pergi menyusul Altaf yang sudah di dalam mobil.
Altaf memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, "hei kalau mau mati, jangan ngajak-ngajak dong," panik Icha.
__ADS_1
mereka pun tiba di sekolah Icha, "keluar," kata Altaf.
"tak usah kau suruh pun, aku akan keluar, dasar pria aneh," jawab Icha yang membanting pintu mobil.
Icha langsung menuju ke supermarket di dekat sekolah, Icha terpaksa membeli beberapa potong roti untuk sarapan.
pasalnya dia belum selesai sarapan tapi Altaf sudah memintanya pergi, Icha pun menikmati rotinya sambil masuk ke gerbang sekolah.
tak lama mobil milik Kayla dan Violla memasuki kawasan parkir. Icha pun menghampiri mereka.
Kayla memicingkan matanya melihat Icha yang makan roti pagi-pagi, "woi nona muda kenapa sarapan roti ini, kamu gak sarapan?" tanya Kayla.
"bukan tidak sarapan, aku hanya tak kenyang tadi, jadi aku beli roti saja, kalian kan tau bagaimana porsi ku saat makan," jawab Icha.
"kamu harus terbiasa mulai sekarang, apalagi kalau sedang berkumpul maka semua harus sesuai dengan kesopanan," jawab Violla.
"huh... keluarga kalian seperti keluarga barat saja," jawab Icha.
tak lama mobil yang mengantar Chintya juga berhenti, gadis itu membawa sesuatu untuk ketiga sahabat nya.
"kalian sedang membicarakan apa ini?" tanya Chintya.
"tidak ada, kamu bawa apa itu?" tanya Icha.
"em.. sepatu untuk kalian bertiga, oh ya juga kue," Jawab Chintya.
"wah kau memang terbaik, lebih baik taruh di mobil ku saja, kemudian kita masuk yuk," kata Kayla membukakan pintu mobilnya.
setelah itu mereka pun masuk ke dalam kelas, Chintya meminta roti milik Icha dan memakannya.
"kenapa aku melihat dua gadis ini seperti tak pernah makan beberapa hari," kata Kayla.
"kamu benar, aduh kalian ini itu nyonya muda keluarga besar kenapa kelakuan kalian tak mencerminkan sedikitpun," kata Violla.
"hei kami itu akan sopan saat bersama suami, tapi kalau di sekolah. kamu tetap gadis biasa kan," jawab Chintya yang di angguki Icha.
"itu benar," jawab Icha.
mereka pun kemudian mengikuti ujian negara intuk terakhir kalinya, bukan hanya itu mereka juga ikut Corat coret setelah selesai ujian.
bahkan semua siswa membubuhkan tanda tangan di seragam masing-masing, setelah itu mereka semua menuju ke pantai Kenjeran untuk merayakan.
__ADS_1
anak buah Julian tetap mengikuti Chintya dan geng, meski mengawasi dari jauh, mereka tak akan membiarkan Chintya terluka lagi.