Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
kesedihan Chintya..


__ADS_3

Chintya masih berdiam diri di kamar, dia bahkan sudah mandi berkali-kali untuk menghapus bekas yang di tinggalkan Julian.


pak Din masuk ke kamar dan mengantarkan makanan untuk Chintya, tapi gadis itu bahkan tak mengatakan apapun hanya diam sambil melihat keluar.


"nona makan dulu, sebentar lagi tuan akan pulang, jika nona tidak makan, tuan akan marah padamu," kata pak Din.


"baiklah taruh di situ saja pak," kata Chintya.


Chintya pun menuju ke meja dan mulai mengambil pasta dan mulai memakannya.


Chintya tau dia bahkan tak bisa membuat Julian marah, karena dia hanya alat pertukaran dan Julian bebas melakukan apapun padanya.


Chintya pun turun sambil membawa piring bekas, tapi semua pelayan rumah itu menundukkan kepalanya saat Chintya lewat.


pasalnya kondisi Chintya begitu buruk, begitu banyak bekas kismark dan juga luka di sudut bibir karena tamparan.


"pak Din, lain kali tak perlu mengantar apapun ke kamar, aku akan turun saat membutuhkan sesuatu," kata Chintya.


"baik nona," jawab pak Din.


bahkan gadis cantik itu pun seakan boneka berjalan dengan luka di sekujur tubuhnya, bahkan kulit putih itu masih membekas kejadian pahit yang dialami semalam.


Chintya pun meringkuk di ranjangnya dan meratapi segalanya, kini dia sudah tak memiliki apapun.


bahkan mahkota yang di jaga pun sudah di renggut secara brutal, dia ingin mati tapi teringat oleh keselamatan orang tuanya.


Chintya juga mengabaikan telpon dan pesan dari kedua sahabatnya, Chintya makin sakit saat sadar.


jika Julian hanya menyukai Kayla dan mengejarnya, tapi di sisi lain dia yang mendapatkan luka dalam.


sedang di sekolah Icha dan Kayla binggung karena Chintya seakan hilang begitu saja, bahkan ponselnya pun sekarang tak bisa di hubungi.


"Kayla kita harus mencari Chintya," kata Icha.

__ADS_1


"iya dan aku tau kita harus bertanya kemana," jawab Kayla.


sekolah pun usai, Alex dan Abimana sudah menunggu kedua gadis itu di kantor, Icha dan Kayla pun masuk.


"ayolah mas, tolong kami mencari Chintya, dia sudah bilang bahkan telpon ku pun tak di angkatnya," kata Kayla pada Alex.


"itu tak semudah itu, kalian tau dia tak berada di tempat dimana kalian bisa seenaknya mencarinya," jawab Abimana ambigu.


"kak Abimana tau di mana dia pasti, ayolah kak, tolong kami," kata Icha.


"tak bisa semudah itu, kalian doakan saja semoga dia cepat sekolah," jawab Abimana menghembus kan nafas dalam.


Alex pun sudah tau, bahkan dia tak bisa membantu karena Julian bukan pria sebaik itu.


sedang di perusahaan Julian, Jasper sedang bertamu dan mulai rencana yang sudah di rancang oleh Jacob.


"terima kasih kamu sudah menerima ku kembali," kata Julian memeluk Jasper.


"aku yang berterima kasih telah menjaga ku selama ini, bolehkah aku main ke rumahmu, dan lain kali juga kamu bisa berkunjung dan menemui keponakanmu Ivy," kata Julian.


"baiklah kak, kalau begitu aku pamit, karena harus mengawasi restoran yang lain," kata Jasper.


"baiklah, dan kenapa kamu tidak buka praktek spikolog saja," kata Julian.


"aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga ku," kata Jasper sebelum pergi.


Julian pun kembali bekerja, Alvin sudah mengantar Jasper ke lobi, "Alvin apa kakak ku tak punya gadis yang di sukai?" tanya Jasper.


"ada tuan, putri ketiga dari keluarga Handoyo," jawab Alvin.


Jasper pun kemudian pergi dari perusahaan Julian, sedang Alvin pun kembali bekerja.


chintya sudah mengambil celana jeans dan Hoodie serta masker dan kaca mata hitam, dua pun turun ke bawah.

__ADS_1


pak Din langsung menghadang gadis itu yang ingin pergi, "nona ingin pergi kemana?" tanya pak Din.


"aku ingin pergi sebentar pak Din, dan tolong suruh pak Man menyiapkan mobil ya," kata Chintya.


"baik nona," jawab pak Din.


tak lama mobil siap, Chintya langsung masuk ke dalam mobil dan pergi. dua sedang ingin melihat suasana kota.


saat tiba di depan apotik, Chintya meminta pak Man untuk berhenti. Chintya pun turun dan masuk ke apotik itu.


"pak kita pergi ke pasar buah ya," kata Chintya yang masuk membawa kresek putih cukup besar.


"baik nona," jawab pak Man.


saat sampai, pak Man mengikuti Chintya agar tak bisa kabur, setelah membeli beberapa jenis buah mereka pun pulang.


Chintya masuk membawa semua belanjaannya ke kamar, bahkan pak Din pun tak di perbolehkan untuk membantu dirinya.


Chintya langsung masuk ke dalam kamar, dan mulai mencuci buah yang tadi dia beli, dan juga menata minuman di kulkas.


tak lupa dia juga menyembunyikan sesuatu, setelah itu dia pun akan keluar tapi sudah melihat sosok Julian di depan pintu.


"ada ala tuan?" tanya Chintya.


tanpa bicara Julian langsung menjambak rambut panjang Chintya, "siapa yang memperbolehkan pergi seperti tadi, kau ingin kabur atau apa! jawab!" bentak Julian.


"tidak, aku memang suka membeli buah di pasar di banding di supermarket," jawab Chintya mencoba melepaskan tangan Julian.


"sekarang kamu harus membersihkan diri mu dulu, aku tak mau kau kotor karena pergi ke tempat seperti itu," kata Julian menarik tubuh Chintya ke kamar mandi.


Julian langsung menyalakan shower dan memandikan Chintya, "aku bisa mandi sendiri, tuan tolong, aku mohon, aku bisa mandi sendiri," kata Chintya yang ketakutan dengan sikap Julian.


"kalau begitu mandi yang bersih, dan lain kali jangan ulangi lagi, mengerti," kata Julian.

__ADS_1


Julian pun meninggalkan kamar itu, Chintya hanya bisa menangis di lantai, pasalnya Julian selalu kasar padanya.


bahkan dia tak melakukan kesalahan apapun, "kenapa hidupku seperti ini, apa salahku hingga harus hidup seperti di neraka," gumam Chintya dalam tangisnya.


__ADS_2