
Julian, Jacob dan Jasper sedang menuju ke kantin rumah sakit untuk membeli kopi, sedang Aisyah menunggu Chintya ditemani Alvin.
Aisyah bahkan bercerita banyak hal dengan Chintya, dua wanita ini memang akrab terlebih kalau sudah kumpul dengan dua lagi.
tak lama terdengar suara kedua gadis yang sedang mereka bicarakan, Kayla dan Icha datang membawa kue dan buah.
"selamat siang, wah sudah bangun ternyata," kata Kayla.
"nyonya kalau begitu saya menunggu di luar," pamit Alvin.
"orang gak jelas," kata Icha.
mereka pun langsung mengerumuni Chintya, Kayla bahkan sempat memeluk Aisyah sebentar.
"hayo hari ini libur atau bolos kalian?" tanya Aisyah.
"pulang pagi, gurunya di suruh rapat sama Kayla," kata Icha sambil menahan tawa.
"ya.. jangan bongkar rahasia, habis mas Alex terlalu baik sama guru yang males, ya udah aku buat bukti supaya mereka kena sanksi," jawab Kayla.
"uluh-uluh, kasihan amat mereka yang harus berurusan dengan calon ibu kepsek modelan kayak kamu," kata Chintya.
"aku itu calon ibu kepsek teladan," jawab Kayla sambil tertawa.
"bukan ibu kepsek, tapi nyonya Alexander Ibrahim as Shiddiq, pemilik yayasan Shiddiq yang didirikan oleh Oma," jawab Aisyah.
"tunggu dulu kak Aisyah, memang calon suamiku itu kerjanya apa ya, kok kadang aku heran dengan dia," kata Kayla.
"dia itu wirausaha sukses, dia memiliki beberapa outlet makanan cepat saji, dan juga penyewaan mobil dan showroom mobil," jawab Jacob yang membawakan minuman untuk para wanita.
"eidih ... horang kaya ini mah," jawab Icha.
"kalau calon suami Icha, itu penerus Shiddiq Grub, dan pemilik beberapa hotel di Bali dan Lombok, kalau gak salah sekarang lagi investasi di properti juga," jawab Jacob.
"wah calon suami kalian hebat banget," jawab Chintya.
"kalau nyonya Baskara lebih hebat lagi, baru jadi istri sudah jadi milyarder," kata Jacob.
"karena kekayaan ku juga milik istriku, jadi beberapa properti memang aku pindah tangan untuk Chintya," kata Julian.
"kalian sudah menikah," kaget kedua sahabat itu.
"sudah hampir sebulan, kami menikah di Perancis," jawab Julian enteng.
"wah, kalau begitu kapan pesta?" tanya Icha.
__ADS_1
"tunggu nyonya Baskara lulus," jawab Julian.
"wah... berarti kita harus menyiapkan kado spesial untuk tiga calon pengantin ini mas," kata Aisyah.
"tentu, kalau Julian Anastasya bisa membantu, dan untuk kalian berdua ingin di kasih hadiah apa nantinya?" tanya Jacob.
"jangan bicara seperti itu, kami masih fokus pada pendidikan terlebih dahulu," jawab Icha.
"uh.." kata Aisyah memegangi perutnya.
"kenapa sayang, kita pergi ke poli kandungan saja, untuk mengecek keadaan mu," kata Jacob yang sedikit panik.
"gak kok, mereka hanya bergerak," jawab Aisyah.
"ya Alloh, kamu membuatku jantungan, ku kira ada yang sakit, maaf aku kurang memperhatikan mu belakangan ini," kata Jacob.
"tidak apa-apa, kamu juga harus bekerja untik kami," jawab Aisyah.
"widih... adegan romantis terus, kita semua di kacangin nih," goda Kayla.
"makanya cepet nikah biar bisa berduaan tanpa takut setan loh," jawab Jacob.
"ih... gak mau, bisa gila aku kalau tiap hari harus ketemu pria modelan Altaf gitu," kata Icha tak terima.
"kenapa? katamu kemarin bodynya bagus, cowok yang sempurna," goda Kayla.
Jacob curiga jika Icha susah mengetahui sesuatu, pasalnya dia tak ingin membicarakan meski sudah kesal.
"jangan sepenuhnya percaya pada penglihatan mu," kata Aisyah.
"bukan karena itu tapi dia sudah mengakui semuanya sendiri, terus apa yang harus aku lakukan," kata Icha.
"kau bisa menggoda nya, atau tinggal bilang ke om Ardi biar dia membantumu," usul Kayla.
"masalah nya tak semudah itu, dia bahkan tak akan pernah melihatku, karena dia tak menyukai mahluk yang bernama wanita," batin Icha.
"kami harus lebih bersabar, ajari dia untuk mencintaimu dan aku yakin suatu saat dia akan berubah," kata Jacob.
sedang Julian yang tau tak ingin membahas masalah orang lain, pasalnya Julian pernah memergoki Altaf di bar bersama pria lain.
"baiklah aku keluar dulu," kata Icha.
"ya ngambek," kata Kayla yang mengikuti Icha.
tapi tak di duga, saat keduanya di luar ruangan, mereka malah melihat Altaf yang berduaan bersama seorang wanita.
__ADS_1
"aduh pria ini kenapa selalu bareng wanita sih," geram Kayla.
"berhenti, mungkin dia saudaranya," jawab Icha.
sedang Alvin yang berdiri di samping Icha, "ya itu adalah dokter Dera, dia dokter psikolog di rumah sakit ini," jawab Alvin.
"ya Tuhan, kau mengejutkan kami," kata Icha memegangi jantungnya.
"sepertinya kau sakit," kata Alvin datar.
"dasar pria menyebalkan," jawab Icha sambil memukuli Alvin.
sedang Altaf melihat ke arah Icha dan Alvin, sedang Kayla malah tertawa di samping mereka.
"hai calon sepupu," sapa Dera.
"hai dokter, maaf ya mereka begitu berisik," kata Kayla.
"diamlah," sewot Icha.
"kalian mau ikut ke kantin," kata Dera.
"boleh. lagi pula aku lapar," kata Kayla.
"ya... kami tak tau malu," kata Icha menjitak Kayla.
"malu pun tak akan kenyang," jawab Kayla asal.
"ikut saja, ayo," ajak Altaf.
Kayla pun mengandeng Icha agar mau ikut, saat sampai di kafe pun mereka bahkan memilih makanan yang bertolak belakang.
Icha melihat sekeliling dan tak ada tempat untuk merokok, sedang Kayla mencubit Icha.
"Janan gila ya, kita sudah berjanji gak akan merokok lagi," bisik Kayla.
"kenapa, kita bukannya akan nikah terus hamil kan, kenapa aku tak boleh merokok, sedang dia saja bisa minum-minum sesuka hatinya," kata Icha yang marah.
"ya kok malah marah sih, maaf ya kami pergi dulu," kata Kayla mengikuti Icha.
Altaf hanya terkejut melihat perubahan dari icha yang begitu marah ketik di singgung pernikahan.
"kalian baik-baik saja kan?" tanya Dera.
"gak lah mam, aku tak tau, tapi yang pasti, dia sudah tau jika aku belum bisa normal," kata Altaf.
__ADS_1
"ya di maklumi saja Altaf, dia masih begitu muda, dan emosinya masih naik turun, jadi nanti kamu yang sabar ya," kata Dera.