
Wulan sampai di kamar terlebih dahulu dan menyiapkan pakaian Sandi, tak lama sandi datang dengan fokus pada ponselnya.
" mas lebih baik mandi dulu, dan kita sholat berjamaah," kata Wulan seraya bersiap sholat di kamar.
Sandi pun masuk ke kamar mandi membersihkan kan dirinya dan bersiap menjadi imam sholat istrinya.
"kenapa hatiku panas melihat orang lain memuji kecantikan Wulan," batin Sandi saat Wulan mencium tangannya selesai sholat.
setelah itu Sandi sudah berganti baju santai yang di siapkan, saat keluar dia melihat Wulan masih duduk menunggunya.
" ayo kita turun, mungkin ibu sudah menunggu kita," kata Sandi datar.
" iya mas," sambil tersenyum.
Sandi yang melihat senyum itu pun, hatinya bergetar melihat senyuman di wajah cantik istrinya itu.
" lain kali jangan tersenyum seperti itu pada seorang laki-laki lain, apa kau mengerti, dan kau hanya boleh tersenyum seperti itu padaku," kata Sandi tanpa sadar membelai wajah Wulan lembut.
" iya mas," jawab Wulan menunduk.
mereka pun turun ke bawah, dan benar mereka tunggu di meja makan oleh Bu Mala.
"malam Bu," sapa Sandi sambil mencium tangan sang ibu.
" malam San, tumben gak lembur, biasanya pulang pagi kamu," sindir Bu Mala.
"tidak Bu, mulai hari ini Sandi sebisa mungkin akan pulang ke rumah, saat pekerjaan Sandi selesai," jawab Sandi sambil duduk di meja makan.
sedang Wulan hanya diam mengambil makanan untuk sang suami dan mertua.
"ya sudah kalau begitu, kamu sekarang sudah sadar, karena ada bidadari yang menunggu mu pulang," goda Bu Mala.
Sandi hanya tersenyum, sedang Wulan merasa jantungnya berdetak cepat, setiap melihat senyum Sandi yang menambah ketampanan yang dimiliki sang suami.
mereka pun makan dengan tenang, bahkan hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Sandi lebih memilih berada di ruang kerja saat selesai makan malam, sedang Bu Mala dan Wulan sedang berbincang sambil nonton televisi.
"hallo.. Eko masuk ke ruang kerja ku," perintah Sandi.
tak lama Eko masuk ke dalam ruang kerja Sandi.
TOK..TOK..
"masuk," jawab Sandi dari dalam.
Eko masuk ke dalam ruangan dan memberi hormat pada Sandi.
" bagaimana tugasmu hari ini, dan apa saja yang di lakukan Wulan di luar rumah?" tanya Sandi datar.
__ADS_1
"tuan hari ini nona pergi ke butik yang akan di buka minggu depan bersama sepupunya, tapi sebelum itu nona mampir ke sebuah toko kue, di butik nona membantu beres beres bersama ketiga sepupunya," kata Eko tegas.
" baiklah, dan bagai mana dia bisa bertemu dengan anak kembar di mall tadi?" tanya Sandi.
"tadi setelah sholat dhuhur, kami ke mall dan saat selesai belanja, tak sengaja nona di tabrak oleh anak kembar yang tengah berlari, bukan nya marah nona malah tersenyum pada keduanya, meski dia sempat tertimpa anak kembar itu dan terjatuh cukup keras," kata Eko.
"apa hanya itu?" tanya Sandi lagi seakan belum puas.
"saat kami makan di restoran jepang, tak sengaja sepupu nona melihat tuan dan Lisa terlihat bersama, tapi nona hanya tersenyum, tapi tak lama nona pamit ke kamar mandi, tak lama nona kembali dan mengajak semua orang pulang, tapi saat di mobil nona merasa sedih dan tak tenang, ketika saya menjelaskan siapa Lisa tiba tiba nona sudah tersenyum bahagia," kata pak Eko.
" ya sudah kalau begitu kau boleh keluar," kata Sandi ikut membayangkan Wulan uang tengah cemburu.
di tempat lain Bu Mala sedang berbincang dengan Wulan membahas sesuatu.
" nak kamu masih ingin kuliah?"tanya Bu Mala.
" sebenarnya iya Bu, tapi kalau mas Sandi mengizinkan tapi kalau tidak juga aku tak masalah, karena Wulan akan mematuhi seluruh perintah mas Sandi," jawab Wulan sambil tersenyum.
"apa mau ibu yang bilang ke Sandi, tentang keinginanmu?" kata Bu Mala sambil menatap Wulan.
"tidak usah Bu, biar nanti Wulan sendiri yang berbicara dengan mas Sandi," jawab Wulan mengenggam tangan sang mertua.
Sandi pun berjalan ke arah dua wanita itu, dan Sandi pun duduk di sofa single sebelah Bu Mala.
" Wulan apa kau bisa memijat?" tanya Sandi bersandar di sofa.
" baiklah kalau begitu kau bisa memijat ku, karena aku sangat capek," ucap Sandi sambil berdiri dan berjalan dahulu menuju kamar.
Wulan hanya terdiam mendengar permintaan Sandi, sedang Bu mala sudah tersenyum melihat sang putra, sandi sedikit demi sedikit sudah mulai berubah.
" nak, cepat susul suami mu, sebelum dia marah," kata Bu Mala mengguncang pundak sang mantu.
"eh.. i-iya Bu, dan saya pergi dulu ya Bu," jawab Wulan terkejut sambil meninggalkan sang mertua.
Wulan berjalan menuju kamar dengan hati tak karuan, saat masuk ke dalam kamar dia melihat Sandi sudah melepas kaos dan berbaring tengkurap di kasur king size-nya.
" apa yg kau tunggu, cepat mulai pijatan mu istriku yang manis," kata Sandi menggoda Wulan.
" iya mas..." jawab Wulan sambil mengambil minyak zaitun untuk memijat Sandi dengan gugup.
saat Wulan akan mulai memijat di gemetar, karena tak pernah memegang badan pria selama ini, jantungnya seperti mau copot saat pertama kali menyentuh punggung Sandi.
Wulan akhirnya memulai memijat Sandi, Sandi tersenyum merasakan sentuhan lembut dari tangan Wulan.
"bisa kah sedikit kuat pijatan mu, tak terasa sama sekali, kau seperti tak pernah di ksih makan," kata Sandi datar.
"iya mas, maafkan aku," kata Wulan sambil memijat dengan kuat agar terasa.
setelah memijat punggung Sandi dan sekarang memijat kaki, sedang Sandi sangat menikmati pijatan yang di lakukan oleh Wulan.
__ADS_1
"Wulan.. pijat bagian punggung saja," kata Sandi.
pada saat Wulan akan memijat punggung sandi tiba tiba berbalik menghadap Wulan.
secara tidak langsung pada saat Sandi berbalik, Wulan jatuh pada dada bidang Sandi.
DEG..DEG..DEG..
mata mereka berpandangan dan terkunci reflek Sandi mengelus pipi dan bibir Wulan, tubuh Sandi pun bereaksi melihat bibir tipis Wulan yang menggoda hasratnya.
Wulan yang sadar langsung menarik dirinya menjauh dari Sandi, sedang Sandi yang merasa dirinya bereaksi, malah lari ke dalam kamar mandi, karena harus menenangkan dirinya.
sedang Wulan sedang memegangi dadanya, Wulan memutuskan ganti pakaian tidur dan turun membuatkan wedang jahe hangat untuk Sandi.
saat Sandi keluar dari kamar mandi, dia tak menemukan Wulan di kamar mereka.
"apa dia marah padaku, shit.. kenapa kau tak bisa tahan Sandi, dia mungkin ketakutan," maki Sandi pada dirinya.
tak lama pintu terbuka dan menampakkan Wulan yang sudah memakai piyama panjang dan membawa nampan.
"mas ini wedang jahenya, biar badan mas hangat dan tidak masuk angin," kata Wulan meletakkan cangkir yang di bawa.
"hemm..." jawab Sandi malas.
Sandi masih menenangkan hatinya, sedang Wulan sudah berbaring di kasur, karena jantungnya terus tak beraturan, saat di dekat Sandi dan itu membuatnya tak tenang.
"Ya Alloh kenapa jantung ku terus ber dag dig dug saat berdekatan dengan mas Sandi," gumam lirih Wulan.
sementara wajahnya sudah memerah, membayangkan kejadian tadi, dia menjadi tak tenang dan terus bergerak di atas kasur.
"hei.. kau mau tidur apa mau terus bergerak seperti itu," kata Sandi datar melihat Wulan terus bergerak di balik selimut..
"maaf mas, aku masih belum bisa tidur," jawab Wulan lirih.
"sandi menghampiri Wulan dan menatap wajah cantik istrinya itu, Wulan pun terpaku pada pria yang ada di depannya itu.
.
.
.
.
.
**mohon dukungannya ya...
terima kasih...😉😉😉**
__ADS_1