
Wulan yang sudah keluar mobil, Sandi terkejut melihat nya, saat lampu sudah hijau Sandi menyuruh Ken menepikan mobil, dan Sandi pun turun mencari Wulan.
Sandi pun berjalan di trotoar, dan dari jauh nampak Wulan yang sedang berbincang dengan seorang ibu ibu tua penyapu jalan.
Sandi pun mendekat dan mendengar perbincangan mereka.
"terima kasih non," kata ibu itu.
"iya Bu, sama sama," jawab Wulan lembut.
"semoga kamu mendapat kebahagiaan selalu, dan selalu di limpahi cinta," kata ibu itu.
"amin.. Bu." jawab Wulan seraya pergi.
saat Wulan berbalik dia melihat Sandi sudah berdiri dengan gagah di depannya.
Wulan hanya tersenyum manis pada Sandi, Sandi pun menghampiri Wulan dan mengandeng tangannya, dan berjalan beriringan menuju mobil.
saat sampai Sandi membuka pintu dan menyuruh Wulan masuk terlebih dahulu, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Sandi terus menggenggam tangan Wulan, tak lama mereka sampai di kampus, dan Wulan mencium tangan Sandi, dan berpamitan pada sandi, saat ingin keluar Sandi mencium kening Wulan dan memeluknya sesaat.
setelah selesai Wulan turun dan menghampiri Lia dan Suci yang menunggunya.
"pagi semua,"sapa Wulan.
"pagi nyonya besar," sapa Suci dan Lia.
"ih kalian kok panggilnya gitu sih, nanti orang orang heran lho," kata Wulan manyun.
"ha-ha-ha, ya gak papa lah, kan memang benar kamu nyonya besar keluarga Shiddiq," kata Lia yang keceplosan, hingga mendapat tatapan maut dari Wulan.
"keluar Shiddiq, keluarga konglomerat yang memiliki kekayaan se Asia itu?" tanya Suci kaget.
"tepat sekali, Wulan adalah istri dari Sandiaga putra as Shiddiq," jawab enteng Lia.
Suci semakin terkejut, karena tak menyangka gadis sederhana di depan nya itu adalah istri seorang milyarder.
"diam lah Lia, kau tau kan aku ingin kuliah tanpa embel-embel nama suamiku, jadi jangan sembarangan," kata Wulan sedikit cemberut.
" iya maaf.," ucap Lia sambil menangkupkan tangannya.
"tapi bukankah kamu mendapat beasiswa gold dari kampus," tanya Suci.
"iya aku memang mendapat beasiswa dari kampus, dan itu sebelum aku menikah dengan suamiku," kata Wulan tersenyum menatap Suci.
suci pun hanya mengangguk paham.
__ADS_1
mereka pun sekarang sudah berkumpul di aula, karena ada pengarahan tentang kemah yang akan di lakukan.
dalam kemah mereka satu tenda akan di isi tiga orang, sedang Ali juga sudah berteman dengan Seno dan Ian, mereka juga berteman dengan Wulan, Lia, dan juga Suci.
mereka harus membawa bekal sendiri dari mulai tenda, makanan, selimut, dan yang lainnya.
setelah selesai mereka di izinkan pulang, untuk mencari keperluan untuk kemah.
mereka berenam memutuskan untuk ke sebuah mall yang cukup besar di kota.
Wulan ikut mobil Ali bersama Ian, sedang Suci dan Lia ikut mobil Seno, tak lama mereka sampai di mall terbesar di Surabaya itu.
setelah para gadis turun, tak lama para pria pun datang menghampiri, mereka berpencar mencari kebutuhan yang di perlukan.
"Ali, biar Wulan dan Suci sama aku, buat cari makanan," kata Seno.
"tapi maaf aku bareng Ali saja, karena aku tak ingin ada fitnah," kata Wulan.
"ya elah neng, kita kan teman," kata seno tertawa.
" tapi maaf aku sudah menikah, jadi tak elok jika berjalan bersama pria yang suamiku tak mengenalnya, jadi biar aku, Lia, dan Suci saja yang cari bekal makanan," jelas Wulan.
"kau benar, lebih baik seperti itu," jawab Ali.
sedang Ian dan Seno terkejut mendengar bahwa Wulan sudah menikah, padahal dia menjadi idaman pria pria di kampus mereka.
"baiklah, kalian bertiga beli makanan, perlengkapan dapur dan buat kami beli selimut tenda dan perlengkapan yang lain," saran Ali.
Ali, Seno, dan Ian pun sudah sampai di tempat penjual alat kemah, mereka membeli semua kebutuhan ya, setelah selesai mereka menuju mobil untuk menaruh belanjaan mereka.
Seno yang penasaran pun bertanya pada Ali.
"Al apa benar Wulan sudah menikah?" tanya Seno.
"iya dia sudah menikah, sebelum masuk kuliah, bahkan dia tinggal bersama suaminya di sini," jelas Ali.
"aku tak percaya, belum ada bukti Al," sanggah Ian.
"nie buktinya (menunjukkan foto saat sandi mencium Wulan setelah akad)," kata Ali memperlihatkan ponselnya.
"wah bisa patah hati berjama'ah nih satu kampus, habis sang bidadari sudah ada yang punya," kata Seno tertawa.
"tapi siapa nama suaminya?" tanya Ian.
"namanya Sandi, udah ah ayo jemput para gadis tadi," kata Ali yang sudah berjalan duluan.
mereka bertiga pun menghampiri para gadis yang tengah menenteng bawaan mereka, Ali tak terkejut dengan belanjaan super banyak itu.
__ADS_1
"hei kalian ini belanja apa beli tokonya sih, kok banyak amat," kata Seno mengambil beberapa kantong belanjaan dari Lia.
"ah kalian lupa kami bawa ratu shopping," kata Wulan melirik Lia.
setelah menaruh belanjaan di mobil, mereka kembali masuk ke dalam mall, karena perut mereka sudah keroncongan.
mereka sampai di sebuah restoran Italia, mereka masuk dan duduk di meja pojok, dan pelayan memberikan buku menu pada mereka.
mereka memesan pasta, pizza, hingga macaroni panggang.
saat menunggu pesanan Wulan tak sengaja melihat Sandi dan Ken masuk ke restoran, dan bertemu dengan seorang rektor kampus mereka.
"eh.. tunggu itu bukanya pak Aji ya," kata Ian sambil menunjuk meja di depannya.
"iya mungkin lagi ada bisnis atau apa, gak usah kepo dech, mending ayo makan," kata Ali yang melihat pelayan sudah datang membawa pesanan mereka.
setelah selesai makan Wulan meminta bill dan pelayan menerima black card milik Wulan.
Seno dan Ian terbengong-bengong melihat black card milik Wulan, karena yang mereka tau, kartu itu hanya di miliki oleh orang orang kaya terbatas.
setelah membayar, mereka akan pulang tapi Wulan ingat belum punya jaket tebal, akhirnya dia meminta bantuan Lia dan Suci untuk membeli jaket.
"emm... Ali kalian bertiga bisa pulang dulu, aku ingin membeli jaket buat besok," kata Wulan.
"baiklah tapi kalian pulangnya gimana?" tanya Ali.
"emm.. kami bisa naik mobil online,"jawab Wulan.
Ali pun meninggalkan mereka bertiga untuk pulang duluan.
saat belanja mereka bertemu dengan Vita dan Bu Mala serta si ganteng Syarif.
"bunda!." teriak Syarif saat melihat Wulan bersama teman-temannya.
Wulan pun menoleh dan menemukan Syarif tengah berlari ke arahnya, Syarif pun memeluk kaki Wulan.
"bunda Syarif kangen, bunda dan papi gak pernah main ke rumah Syarif," kata Syarif memanyunkan bibirnya dan makin membuat gemas.
"maafkan bunda dan papi ya, karena papi masih sibuk bekerja," saut Sandi dari arah belakang.
.
.
.
.
__ADS_1
mohon dukungannya.. 😘😘😘😘
terima kasih...