
Aline sudah selesai membuat begitu banyak makanan, mulai dari bakso bakar hingga makan siang sehat untuk suaminya.
sedang di samping kolam renang, Mecha dan Lui masih saja bertengkar, Aline pun menghampiri kedua orang tersebut.
"mas, diem ih itu tangannya jangan ke mana mana," kata Mecha yang risih Lui memainkan rambut Mecha.
bukan takut Lui malah menarik rambut Mecha ,"ah maaf ketarik," kata Lui sambil menahan tawanya.
Aline yang menghampiri keduanya hanya bisa tersenyum, apalagi meliht wajah Mecha yang sudah menahan kesal pada Lui.
"widih makin mesra aja nih kak Lui sama mecha," goda Aline.
"mesra apaan dari tadi di mengganggu ku," kata Mecha yang pergi mencuci tangan.
" habis dari tadi kau pijatnya terlalu kasar," kata Lui yang melihat Mecha nyelonong pergi.
"emang kaki kak Lui bisa merasakan?" tanya Aline sedikit berbisik.
"gak," jawab Lui sambil tergelak.
"ini mah kak Lui aja iseng, Sampek kesal gitu si Mecha," kata Aline
"habis jadi istri kok gak ada manis manis nya, bar bar banget," jawab Lui.
"owh, berarti kak Lui suka istri yang semuanya minta di layani gitu, manja terus semua harus ada, bukan istri yang bisa merawat suami dan rumah," kata Aline.
"ya gak gitu juga sih, setidaknya dia bisa sedikit lembut kan," kata Lui.
"kalau Mecha seperti itu, di jamin dech pasti kak Lui bukan suaminya sekarang, asal kakak tau meski sih Mecha begitu tuh bentukannya, beh di kampungnya dia tuh masuk bunga desa Incaran laki laki tau," kata Aline.
"benarkah?" tanya Lui tak percaya.
"di kasih tau gak percaya, udah ah aku mau ke kantor suamiku, kak Lui mau ikut pa gak?" tanya Aline.
"gak dech, bentar lagi pasti fisioterapis datang," kata Lui.
"oke, dan itu sama istrinya jangn berantem terus seperti kucing dan tikus gitu, nanti cinta baru tau rasa loh," goda Aline.
"itu masih lama," jawab Lui.
Mecha keluar dari dalam rumah sudah berganti pakaian dengan yang lebih anggun karena sebentar lagi terapis Lui akan datang.
"adik ipar aku pamitnya mau ke kantor suami, jaga tuh suaminya baik baik agar makin cinta," kata Aline tersenyum.
"oke hati hati ya," kata Mecha.
Mecha membantu Lui masuk ke dalam rumah sambil menunggu terapis yang akan membantu fisioterapi Lui.
__ADS_1
sedang Aline menghampiri para asisten rumah tangganya.
"bik Ina dan bik Susi makan siangnya udah di masukin mobil?" tanya Aline.
"udah non, itu mang Doni dan totok juga udah siap nganter dan ngawal, kata tuan muda non gak boleh bawa mobil sendiri," kata bik Ina.
"ya udah aku mu ganti baju dulu ya," kata Aline masuk ke kamarnya.
Aline sudah berganti pakaian dengan span hitam selutut dan di atasi kemeja yang sedikit besar tapi terlihat manis di tubuh Aline.
Aline juga membawa tas sesuai warna kemeja yang dia gunakan, Aline pun menghampiri mobil yang sudah menunggunya.
Doni membukakan pintu untuk nona mudanya itu, setelah Aline masuk Doni masuk ke samping totok yang sudah siap di kursi pengemudi.
"pak kenapa kita pakai mobil roll royce ini?" tanya Aline.
"maaf nona, tuan yang memerintah kan akan mengantar nona dengan mobil ini," jawab pak totok.
"baiklah," jawab Aline.
mobil membelah jalanan ibu kota yang memang macet, meski tak separah pagi hari. butuh waktu 30 menit untuk sampai di kantor.
saat mobil di depan perusahaan Doni sigap langsung membuka pintu untuk Aline, setelah itu pak totok memberikan kunci pada satpam dan membantu Doni membawa makanan yang di buat Aline.
Aline menghampiri meja resepsionis,"apa pak Kennard ada di kantor?" tanya Aline lembut.
" owh, baiklah kalau begitu," jawab Aline.
Aline melihat Doni dan pak totok,"ayo pak bantu saya bawa ke ruang sekertaris dan ruangan suami saya ya, karena mas Ken sedang di luar," kata Aline.
"siap non," jawab keduanya.
Aline menuju ke lantai khusus suaminya, pertama Aline masuk ke ruang ruangan suaminya.
Aline menaruh makan siang dan cemilan di kulkas karena nanti tinggal menghangatkan lagi.
kemudian masuk ke ruang sekertaris dan terlihat semua sedang sibuk, Aline meminta pak totok dan Doni membagikan kotak makan siang dan cemilan itu.
"selamat makan siang semuanya," kata Aline kemudian.
semua orang menoleh dan kaget, Feby langsung memeluk Aline, sedang Aryo dan Dimas hanya tersenyum.
"Aline kangen, ruangan ini sepi tanpa mu," kata Feby.
"aku juga kangen kakak, makanya aku kemari sambil bawa makan siang untuk Klin semua," kata Aline.
"kau memang teman terbaik Aline, tapi bos sedang keluar kan," kata Dimas.
__ADS_1
"kami pamit ke bawah nona, nanti kalau butuh apa apa silahkan hubungi saya," kata Doni.
"oke Doni dan pak totok, gak apa apa dong niatnya sih mau ketemu kalian semua," jawab Aline.
"ya udah kamu tunggu di ruangan saya aja, sebentar lagi pasti balik kok bos dan asisten Ozil," kata Bu Sekar.
"oke Bu," jawab Aline.
kini Aline pun memilih menunggu di ruang Bu Sekar, sambil membantu Bu Sekar dengan pekerjaan nya.
tak lama ternyata Ken dan Ozil pun datang bersama sekertaris baru yang mengantikan posisi Aline di kantor, tapi wajah Ken terlihat begitu marah.
Aryo pun mengetuk pintu ruangan Bu Sekar dan mengatakan jika Ken sudah kembali, Aline pun pamit dan menuju ke ruangan suaminya.
"kenapa bisa kau melakukan kesalahan dengan mengganti desain yang sudah di tentukan!" teriak Ken.
Aline menghentikan langkahnya saat mendengar teriakkan Ken karena pintu tak tertutup sempurna.
"maaf bos, aku kira desain yang lama itu tak bagus, apalagi ini adalah resort untuk keluarga konglomerat jadi aku mengganti desain itu," jawab Icha sekertaris baru.
"kau bodoh ya, itu adalah desain pilihan istri dari client kita, untung aku mengenalnya dengan baik, jika tidak kita sudah keholangan ratusan milyar kau tau!" teriakan Ken masih tinggi.
"tapi tuan," jawab Icha.
"tutup mulut mu, Ozil minta HRD untuk memecat sekertaris tak kompeten ini, dan katakan jangan memilih orang bodoh di perusahaan ku," perintah Ken.
"baik tuan," jawab Ozil.
Ken memilih masuk ke ruang pribadinya, Aline pun berani masuk setelah tak mendengar keributan.
"nona, tuan di ruang pribadinya," kata Ozil.
"iya terima kasih," jawab Aline sekilas karena Ozil sudah menyeret Icha keluar dari ruangan Ken.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
mohon dukungannya ya dengan cara vote like dan komen 😘😍😘😍 terima kasih