
malam ini semua pun makan malam bersama, bahkan Kayla ikut bahagia bisa berkumpul dengan semua orang.
setelah itu mereka berbincang bersama yang lain, "Kayla bagaimana sekolah kalian," tanya Aisyah.
"semua berjalan normal, tapi aku sedikit tak mengerti mengenai Chintya yang berubah," jawab Kayla,
"memang Chintya kenapa? memang apa yang terjadi selama aku pergi," tanya Aisyah.
"kami seperti melihat gadis lain, dia berubah apalagi aku baru tau jika Chintya tidak tinggal di rumah keluarga Hutomo," jawab Kayla.
"mungkin dia berada di rumah saudaranya, positif thinking saja," saut Jacob.
"iya om," jawab Kayla.
Jacob melotot mendengar panggilan Kayla padanya, sedang Aisyah malah tertawa, begitupun keluarga yang lain.
semua orang pun pamit pulang, dan Jacob pun beristirahat bersama Aisyah, saat itu Aisyah masih penasaran.
"memang bener Chintya ke rumah saudaranya, yang aku ingat bukannya mas sedang ada proyek dengan perusahaan Hutomo yang hampir bangkrut," kata Aisyah.
"baiklah aku memang tak bisa membohongimu," kata Jacob.
Jacob pun mulai menceritakan tentang perusahaan Hutomo yang hampir bangkrut, dan tak punya pilihan saat itu, saat itu papa dari Chintya menyodorkan putrinya pada Julian.
"apa mereka sejahat itu, apa tidak bisa kita melepaskan gadis itu?" tanya Aisyah.
"tidak bisa, bahkan saat Chintya pulang telat saja, Julian mengerahkan seluruh anak buah hitamnya untuk menjemput Chintya," kata Jacob.
"sebenarnya aku kasihan pada Chintya mas, bukan apa dari ketiga gadis itu, hanya Chintya yang paling kekurangan kasih sayang, apalagi ibunya juga sibuk begitupun sang ayah, itu sebabnya ketiga gadis itu sering main di club dan merokok," kata Aisyah.
"ya sudah, kapan-kapan kamu bisa mengundang mereka ke rumah kita ini, oh ya mulai besok aku akan di rumah menemanimu," kata Jacob.
"terima kasih, maaf kamu harus berkorban begitu banyak," kata Aisyah.
"siapa yang bilang, ini memang kewajiban ku kan, memanjakan istri ku ini," kata Jacob.
mereka pun tidur sambil berpelukan, bahkan Jacob seakan tak ingin melepas istrinya itu.
sedang di rumah Icha sedang ada pembicaraan karena Altaf. Ardi tak ingin putranya itu membatalkan segalanya.
apalagi janji itu sempat batal karena Andhara yang memilih seorang asisten sebagai suaminya.
dan ini adalah kesempatan terakhir. Altaf sedang di suruh bicara berdua dengan Icha, agar mereka makin dekat.
__ADS_1
Icha sedang berdiri di samping kolam renang, sedang Altaf duduk di kursi rotan di samping kolam, seperti biasa mereka tak ada yang membuka kata.
Altaf hanya binggung ingin membicarakan apa, pasalnya dia juga sedikit risih saat hanya berdua dengan Icha.
"bisakah kamu tidak diam membisu saja, katakan sesuatu?" tanya Icha kesal.
"mau tanya apa? jujur saja aku sudah mengetahui semuanya tentang mu, dari sahabatmu dan juga apartemen rahasia kalian," kata Altaf mendekati Icha.
"kau menjijikan, kenapa kau harus menyelidiki diriku, itu semakin membuatku membenci mu," kata Icha.
tak sengaja kaki Icha tergelincir dan tercebur ke kolam renang, awalnya Icha baik-baik saja, hingga tiba-tiba dia seperti tengelam.
Altaf pun langsung menolongnya, saat sudah di angkat ke pinggir kolam, Altaf memberikan pertolongan pertama pada Icha.
tapi Icha tak merespon, akhirnya Altaf pun memberikan nafas bantuan, saat bibir mereka bertemu.
Altaf merasa ada sesuatu dengan dirinya, akhir nya Icha terbatuk dan sadar, Altaf menepuk punggung Icha.
"gadis bodoh, jika tidak bisa berenang jangan main air," kata Altaf yang pergi dengan baju basah.
"pak Edi, ambilkan baju ganti milikku," teriak Altaf.
Ardi dan Prakasa heran melihat Altaf basah, begitupun dengan Icha yang sudah pergi juga dalam keadaan basah.
"oke," jawab Altaf.
Icha pun turun setelah berganti pakaian, kemudian Altaf baru datang dengan celana selutut dengan kaos pas badan.
Icha tak menyangka cowok cupu berkacamata, bisa berubah sekeren itu saat berpakaian santai.
apalagi di tunjang otot tubuh yang sempurna, "kenapa lihat terus, naksir ya," kata Altaf datar.
Icha langsung membuang muka mendengar godaan Altaf, pasalnya dia sedikit terpesona tadi.
"siapa juga, buat apa ganteng tapi gunung es gitu, bisa mati Kedinginan aku, kalau harus tinggal sama modelan manusia seperti mu," jawab Icha.
"gadis ini," kata Altaf kesal.
Ardi pun pamit, Icha juga langsung mengunci kamar tidurnya, dia masih tak habis pikir.
keesokan harinya, Jacob membuka mata dan melihat Aisyah yang masih tertidur di pelukannya.
"ya Alloh ternyata bukan mimpi," gumam Jacob melihat wajah teduh Aisyah.
__ADS_1
"pagi mas, kenapa Hem," kata Aisyah mencium bibir Jacob.
"sayang ayo mandi kita sholat berjamaah, karena aku rindu melaksanakan sholat bersama dengan mu," kata Jacob.
Aisyah pun bangun dan mandi terlebih dahulu kemudian dia menunggu Jacob, mereka pun sholat bersama.
setelah itu Jacob mengajak Aisyah untuk jalan pagi santai di komplek perumahan, tapi Jacob juga meminta anak buahnya membuntuti mereka membawa mobil.
mereka berjalan cukup jauh, bahkan tangan pun tak lepas selalu bergandengan, "mau beli sarapan tidak?" tanya Jacob.
"boleh, tapi aku sedang ingin makan bubur ayam,"jawab Aisyah.
"kebetulan di depan ada bubur ayam yang enak, kita sarapan disana saja," ajak Jacob.
keduanya pun langsung menuju ke kedai bubur ayam itu, karena cukup ramai jadi mereka pun harus sabar menunggu.
setelah itu bubur ayam pun datang beserta teh hangat, Aisyah merasa bahagia bisa kembali bersama Jacob.
mereka pun menuju ke rumah dengan mengunakan mobil, pasalnya Jacob tak mau Aisyah lelah.
"mas kita toko buah dulu yuk, aku ingin beli beberapa buah," kata Aisyah.
"baiklah," jawab Jacob.
saat sampai di pasar buah, Jacob bahkan meminta kedua anak buahnya untuk mengawal.
bukan apa Jacob hanya tak ingin Aisyah berdesakan maupun terluka, Aisyah pun tak bisa berkomentar apapun.
Aisyah memilih semua buah yang dia inginkan, dan juga kesukaan Jacob, bahkan Aisyah juga ingin membuat cookies dan kue.
mereka pun pulang, Aisyah sudah menghubungi ketiga gadis itu untuk main ke rumah.
tapi Chintya tidak bisa karena masih di Perancis, akhirnya Icha dan Kayla yang berjanji akan datang.
Jacob pun menuju ke dapur, "pak Ali, tolong minta para pelayan membuat cookies dan cheese cake, oh ya tolong bawakan bush potong untuk nyonya ya," perintah Jacob.
"baik tuan, kami akan laksanakan," jawab pak Ali.
dapur pun sibuk dengan pembuatan kue, Aisyah sedang duduk santai kemudian pak Ali datang dengan buah potong.
tak lama Jacob pun datang dengan susu ibu hamil untuk Aisyah, "kenapa mas repot-repot sih, aku bisa membuatnya nanti," kata Aisyah.
"tidak repot, hanya susu saja, sekarang ayo minum dan buahnya di makan," kata Jacob yang menyalakan tv.
__ADS_1
Aisyah hanya tak menyangka jika Jacob benar-benar menemaninya di rumah, bahkan Jacob pun sudah tak merokok lagi.