
Tyson pun melihat jasad yang tergeletak itu, dan dia menemukan sebuah kalung. Tyson makin tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Tyson pun mencari keberadaan dari orang yang melukai Anastasya, tapi sayng anak buah Julian juga sudah mendapatkan sebuah nama.
dokter pun menghampiri Julian yang masih begitu khawatir dengan keadaan Chintya, "maaf apa anda suami pasien?" tanya dokter itu.
"iya dokter, kenapa dengan istri saya?" tanya Julian khawatir.
"maaf, kami tak bisa menyelamatkan bayi yang ada di kandungannya, saya turut berduka cita," kata dokter itu sebelum pergi.
"apa, anakku mati, tidak ini tak mungkin," kata Julian yang syok mendengarnya.
Chintya sudah di pindah ke ruang rawat inap, Julian pun menghampiri Chintya yang masih belum sadar.
"apa ini balasan yang aku dapat, hingga aku harus kehilangan bayiku," batin Julian.
Julian pun memilih duduk di samping Chintya, Julian tak menyangka akan sesedih ini mendapat kabar itu.
"kamu membuatku menangis, bangunlah, aku bisa gila jika kamu terus seperti ini," kata Julian pada Chintya yang masih menutup mata.
Alvin bersama Anastasya datang untuk melihat keadaan Chintya. saat masuk Anastasya tak menyangka akan melihat semua ini.
"maafkan aku, karena aku nona jadi terluka," lirih Anastasya.
"tak apa-apa, tolong doakan dia segera sadar, atau aku bisa saja lepas kendali," kata Julian.
"tapi jika kamu tau apa yang terjadi, kamu bisa mengatakan nya," kata Alvin.
"sebenarnya target mereka adalah aku, tapi karena nona juga ada di taman, jadi mereka membawa kami, tapi saat di sana, mereka berencana untuk menodai nona, dan saat itu nona terus memanggil tuan untuk datang," kata Anastasya.
Julian pun makin merasa bersalah telah membuat Chintya seperti ini, Julian pun mengusap pipi Chintya.
"maafkan aku yang telat datang, aku mohon bangunlah, jadi kau bisa menghukum ku jika mau," kata Julian.
"baiklah, tuan Julian biar saya antar Anastasya untuk pulang," pamit Alvin.
saat akan berangkat ke rumah Anastasya, Alvin mendapatkan telpon dari anak buahnya dan memberikan sebuah nama.
__ADS_1
Alvin pun langsung menuju ke alamat yang sudah di ketahui, "Anastasya, maafkan aku tang harus membawamu ikut melihat penculik kalian," kata Alvin.
"baiklah, aku mau karena aku ingin tau pasti siapa itu," kata Anastasya.
mereka pun menuju ke rumah peternakan milik Jhon, saat sampai mobil Alvin hanya mengawasi dari jauh.
dan sebuah mobil Jeep masuk kedalam, Anastasya tau mobil siapa itu, dan yang mengejutkan Tyson dan Stevani ada di sana.
"oh jadi orang kepercayaan dari keluarga Smith yang ingin bermain-main dengan nona kami," kata Alvin.
"incaran dua bukan nona, tapi aku, karena Tyson yang sudah berjanji menikahiku dan wanita itu adalah gadis cinta pertama Tyson, tapi aku tak mengira akan seperti ini. bahkan mereka begitu terlihat bahagia," kata Anastasya.
"berarti kemarin waktu penjualan rumah anggur, itu yang di janjikan Tyson padamu, hingga kamu menjual tempat itu pada Tyson," kata Alvin.
"iya, karena dia berjanji pada kakekku, hingga beliau pun mau menjualnya, tapi aku terlalu bodoh karena menilai semuanya benar," kata Anastasya.
Alvin pun turun, dan juga mengajak Anastasya, mereka mendatangi Tyson dan juga Stevani.
Tyson terkejut melihat Anastasya datang bersama dengan Alvin, begitupun Stevani karena dia kita jika Anastasya sudah mati
"Yo.. tuan Tyson, kenapa ada di sini, bukannya mencari calon istri mu ini, apa kau ingin meninggalkan dia demi wanita seperti itu," kata Alvin.
"kau kira aku tak tau, wanita mu itu sudah membuat tuan Julian kehilangan bayinya, maka aku harus membuatnya membayar, atau kau," kata Alvin dingin.
Anastasya terkejut, begitupun Tyson dan Stevani, dia tak menyangka jika gadis yang bersama Anastasya adalah kekasih Julian.
"aku tak tau, itu bukan salahku," kata Stevani membela diri.
"berarti pria mu itu yang akan membayar nya," kata Alvin yang berlari menuju Tyson.
dan langsung memberikan pukulan tepat di wajahnya, Tyson pun tersungkur. Stevani tak mengira jika Alvin tak main-main.
Alvin langsung mencekik leher Stevani, "maka akui atau dia mati," kata Alvin menodongkan pistol ke arah Tyson.
"baiklah, benar itu aku, aku yang meminta para pria itu menculik Anastasya dan membunuhnya, tapi aku tak tau jika mereka juga membawa gadis lain," kta Stevani.
"kau tau, jika tuan Julian marah maka kau selesai, meski kau adalah anggota keluarga Smith, itu tak berarti apapun," kata Alvin melepas cekikan nya.
__ADS_1
Anastasya jug mendekat kearah Tyson dan Stevani, "aku tak mengira jika kamu melindunginya, aku tak mau jadi wanita yang tak ku perdulikan, jika kau mencintainya, maka lepaskanlah aku, dan jangan mengusikku," kata Anastasya.
"kau tak bisaa pergi, kau tak memiliki apapun," kata Tyson.
"kau bodoh tuan, sekarang dia memilikiku, jadi dia bebas pergi ke manapun, dan untukmu nona Stevani berdo'a supaya nona besar tak menginginkan nyawamu," kata Alvin mengajak Anastasya pergi.
Alvin pun bertekad untuk membantu Anastasya, karena Anastasya juga bisa menguntungkan.
setelah berkemas, Alvin pun mengajak Anastasya pergi ke hotel yang dia tempati. mereka pun kembali ke rumah sakit.
Julian masih sama, duduk di samping ranjang Chintya, "tuan lebih baik ganti baju dulu, takutnya nona akan terkejut melihat anda," kata Alvin.
Julian pun pergi ke kamar mandi, tak lama dia pun kembali dengan segar, Julian melihat Anastasya.
"kenapa kamu mengajaknya?" tanya Julian.
"Anastasya baru saja di buang oleh Tyson tuan, dan aku menawarkan kerjasama dengan bar milik kita," kata Alvin.
"baiklah terserah kau saja," jawab Julian.
tak lama Chintya membuka mata,dan melihat sekeliling, "aku di mana?" tanya Chintya.
"kamu sedang di rumah sakit," jawab Julian.
Chintya pun ingat kejadian terakhir kali, dia pun meraba perutnya. "tuan aku kemarin kesakitan di sini? ada apa dengan ku," tanya Chintya.
Julian pun tak bisa membendung rasa bersalahnya, dia langsung memeluk Chintya erat.
"tidak apa-apa, dia lebih di sayang Tuhan, jadi Tuhan mengambilnya lagi, dan kuta bisa mempunyai lagi nanti," jawab Julian.
"apa maksudmu, aku tak mengerti," tanya Chintya.
"kamu keguguran karena pukulan pria yang menculikmu, dan maaf aku terlambat datang," kata Julian.
"apa keguguran..."lirih Chintya.
Chintya pun menangis mengetahui dia kehilangan bayinya, yang dia sendiri bahkan tak tau.
__ADS_1
"tenanglah, aku selalu bersamamu, aku akan selalu bersama mu," kata Julian.
Chintya terus menangis di pelukan Julian yang juga sama-sama sedih saat ini, hati keras pun hancur dengan cinta yang tulus.