Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
pembukaan butik2


__ADS_3

Wulan masih berkutat melayani pelanggan di bagian kasir, sedang Bu Mala, Vita. dan Salsa tengah memilih gaun yang mereka sukai.


Nina dan Lia tengah melayani pelanggan dengan baik, sedang Ali membantu Wulan di bagian kasir, sambil mengawasi layar CCTV.


jam istirahat pun tiba, Wulan masih melayani beberapa pelanggan.


Bu Mala, Vita, Salsa dan Nina tengah beristirahat sejenak di sofa, yang ada di pojok ruangan.


hingga telpon Bu Mala berdering, Bu Mala melihat nama Sandi yang tertera di layar ponselnya.


" iya Sandi ada apa?"tanya Bu Mala.


"ibu Wulan dimana? kenapa aku telpon tak diangkat, ah.. menyebalkan sekali," ucap Sandi frustrasi.


"hahaha.. dia masih sibuk, dia sedang jadi kasir," kata Bu Mala enteng.


"apa dia lupa, punya suami yang menunggu kabar darinya," kata Sandi dengan nada kesal.


" Sandi sudah jangan seperti anak kecil, dia sedang sibuk, biar nanti ibu menyuruhnya untuk menelpon mu, jadi berhenti mengomel," kata Bu Mala sambil mematikan telpon.


Vita dan Salsa saling pandang melihat sang ibu yang ikut kesal.


"ada apa bu?" tanya Vita.


"ini kakak mu Sandi, sekarang makin menyebalkan," kata Bu Mala datar.


"emang kak Sandi kenapa?" tanya Salsa masih penasaran.


"dia merajuk, karena Wulan tak mengangkat telpon darinya," kata Bu Mala geli, membayangkan wajah Sandi yang kesal dan marah-marah tak jelas.


Vita dan Salsa pun tertawa mendengar perkataan sang ibu, pasalnya wajah sandi pasti terlihat begitu sanggar saat ini.


di kantor Sandi yang baru selesai menelpon ibunya, memutuskan mendatangi butik baru dari Wulan dan saudaranya itu.


"hei kamu mau kemana bang?" tanya Surya yang melihat Sandi akan pergi.


"aku mau menemui istriku, apa kau mau ikut?" tanya Sandi balik.


" baiklah bang, aku ikut tapi kita bawa makan siang juga, pasti mereka belum makan siang, karena kesibukan di butik itu," kata Surya.


"bisa di atur," kata Sandi, mereka berdua menemui sekertaris Ken di ruangannya.


"Ken aku akan keluar kamu ikut, dan batalkan semua rapat setelah makan siang," kata Sandi datar tanpa ingin di bantah.


"baik tuan," jawab asisten Ken.


mereka bertiga berjalan beriringan, dan sekarang mereka menuju butik awan milik empat serangkai itu.


sebelum sampai butik, Sandi meminta Ken membeli makan siang untuk mereka semua.

__ADS_1


Ken membeli 20 bungkus masakan rumah makan padang kesukaan semua orang.


mereka pun sampai di butik tersebut, dan terlihat mulai sepi, mereka bertiga masuk dan mencari semua orang, Sandi melihat wulan dengan ramah melayani pembeli di bagian kasir.


"hei lihat lah Ken, seorang istri Dirut Shiddiq Grub, begitu cantik dan murah senyum, andai saja dia istriku, akan ku kurung di dalam rumah, karena takut orang akan merebutnya," kata Surya memanasi Sandi.


Sandi pun mulai sedikit marah dengan perkataan Surya, dia menghampiri Wulan dan menggendongnya paksa seperti karung beras.


Wulan yang terkejut di gendong seperti itu, hanya bisa berteriak, sedang semua orang yang mendengar teriakan Wulan menghampirinya.


mereka juga tak kalah terkejut melihat Sandi yang sudah mengendong Wulan seperti karung beras.


Surya dan yang lain hanya tertawa, melihat tingkah Sandi yang sangat posesif pada sang istri itu.


"hei.. Ali dimana kantor butik ini?" tanya Sandi sudah mulai geram.


"di lantai atas, di sana ada dua ruangan, ruangan punya Wulan ada keterangan bagian desain," kata Ali sambil menahan tawa.


Sandi terus mengendong Wulan seperti itu, setelah sampai di ruangan tersebut, Sandi tertegun melihat hanya ada hamparan karpet bulu yang luas.


"mas... turunkan aku, aku sudah mual," kata Wulan memelas.


Sandi pun menurunkan Wulan yang sudah cemberut.


"hei jangan cemberut lagi, atau aku akan menciummu di depan semua orang," kata Sandi mengancam.


"baiklah Sandi coba lakukan, ibu ingin melihatnya," goda Bu Mala.


"mari masuk ..." kata Wulan mempersilahkan semua orang untuk masuk, sedang Sandi masih cemberut karena aksinya gagal.


Ken memberikan makan siang pada semua orang, saat Sandi membuka kotak tersebut dia terdiam melihat isi makanan tersebut.


"ada apa mas?" tanya Wulan melihat Sandi yang terdiam.


"ini makanan apa?" tanya Sandi pada Wulan.


"ini nasi padang mas, makanan paling enak lho, gak usah sok gak tau ya,"kata Wulan.


"ah... tapi aku tak ingin makan ini," kata Sandi menaruh kotak makanan itu.


" Sandi sudah makan saja yg ada, jangan cerewet," geram Bu Mala melihat Sandi yang ngambek.


" sini biar aku suapi, mas tinggal buka mulutnya, AAAA... " kata Wulan menyodorkan sendok pada Sandi.


yg lain pun di buat geli dengan tingkah Sandi yang manja, padahal pria itu terkenal kejam dan dingin, malah sekarang bermanja pada istri kecilnya.


Sandi pun memakan nasi yang di berikan oleh Wulan dengan senang hati.


"aduh pasangan pengantin baru ini mesra amat, serasa dunia milik berdua, kami cuma ngontrak, jadi gak usah anggap kami ada," ledek Surya.

__ADS_1


Wulan yang mendengar hanya tertunduk malu, sedang Sandi hanya berdecak kesal.


"cih.. sana cari pacar biar gak jomblo, tu ada Nina dan Lia yang juga masih jomblo, sama sama cantik," kata Sandi yang sudah dapat plototan dari Surya.


"tidak! aku gak suka sama pak Surya," teriak Lia.


"cie Surya udah ditolak duluan," giliran Sandi yang meledek Surya.


"terus kamu suka sama siapa Lia?" tanya Salsa penasaran.


"aku suka sama dia, supir Wulan," kata Lia menunjuk Eko.


" uhuk.. uhuk... " Eko terbatuk mendengar kata-kata Lia.


"hahaha ... wah Eko ada yang menyukai ternyata, padahal pria ini itu super jutek pada wanita loh," goda sekertaris Ken.


" ahh.. sialan," maki Eko menatap Ken.


"apa yang kau suka dari pak Eko Lia? karena setauku kamu suka oppa- oppa Korea yang terlihat romantis," kata Wulan tersenyum.


"ahh.. aku suka saat dia menjadi imam kita waktu itu," kata Lia sudah tersipu malu.


Eko pun salah tingkah dengan pujian yang di berikan oleh Lia.


sedang Nina mencuri pandang pada Surya, Bu Mala yang menangkap kekaguman Nina pun tersenyum.


"kalau Nina sudah punya pacar?" tanya Bu Mala.


"emm... belum Bu," kata Nina tertunduk malu.


"ahh.. kak Nina mah punya cita-cita mau punya suami berseragam loreng, kalau enggak yang coklat juga boleh," kata Ali meledek sang kakak.


"wah cocok dong, kak Surya kan seorang polisi," kata Salsa senang.


"kalian jadian saja, kan kak Surya juga belum punya pacar," kata Vita enteng.


Surya hanya diam tak mengubris kata kata dari Vita maupun Salsa, karena Surya tak tertarik dengan Nina.


mereka pun melanjutkan perbincangan, karena butik sudah di tutup jadi sekarang mereka akan pulang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


mohon dukunganya ya...


terima kasih..😉😉😉


__ADS_2