Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
malam yg dingin..


__ADS_3

sandi tengah melihat tingkah wulan yang terus bergerak di bawah selimut.


"kau mau tidur apa mau terus bergerak seperti itu,"kata Sandi datar.


"emm.. aku tak bisa tidur mas," jawab Wulan lirih.


sandi menghampiri Wulan dan memandang wajah cantik istrinya itu, sedang Wulan terpaku pada pria di depannya itu.


tanpa sadar sandi mencium kening Wulan dan Wulan memejamkan matanya, Sandi sempat membelai bibir Wulan.


Sandi pun meninggalkan Wulan dan masuk ke ruang ganti, dia mengambil jaket nya dan mantel panjang untuk wulan.


"pakai dan ayo ikut aku pergi sebentar," kata Sandi memberikan mantel nya.


" tapi aku mengunakan piyama begini mas," kata Wulan menunjuk bajunya yang bergambar Doraemon.


"makanya pakai mantel itu," kata Sandi sambil menahan tawa, Sandi mengambil kunci mobil kesayangannya.


Wulan memakai mantel yang di berikan oleh Sandi, dan benar mantel itu lumayan panjang hingga seperti Tunik saat di pakai, akhirnya dia mengikuti Sandi dari belakang.


mereka pun menuju garasi dan masuk ke dalam mobil Ferrari warna hitam kesukaan Sandi.


Wulan masuk ke dalam mobil kesayangan suaminya itu, ini pertama kali baginya memasuki mobil sport mewah seperti ini.


Sandi juga masuk ke mobil dan menekan remote garasi, dan pintu garasi otomatis terbuka dan tertutup sendiri.


saat akan keluar satpam pun membuka pintu gerbang tersebut.


Sandi melajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena jalan sedikit sepi karena sudah malam.


mereka pun sampai di sebuah kedai mie yang sederhana, Sandi dan Wulan turun, Sandi mengajak Wulan masuk kedalam.


"duduklah, biar aku pesan dulu," kata Sandi.


Sandi memesan mie ayam dan pentol bakar untuk di bungkus, karena mereka masih akan pergi ke suatu tempat.


Wulan tersenyum tak menyangka, seorang Sandi yang pengusaha sukses ternyata suka makan di kedai kecil.


Sandi yang melihat Wulan yang tengah tersenyum sendiri pun menghampirinya.


" hei... ini sudah malam jangan senyam-senyum sendiri, kau menakuti ku," kata Sandi sambil duduk di depan Wulan.


" ti-tidak mas," jawab Wulan tertunduk malu.


tak lama pesanan Sandi datang, setelah membayar Sandi dan Wulan kembali melanjutkan perjalanan.


" mas kita mau kemana? kok makin sepi mas?" tanya wulan melihat jalanan.


" tenanglah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, dan tak usah takut," jawab Sandi dingin.


tak lama mereka sampai di sebuah gedung pencakar langit yang sudah sepi dan gelap.


"ayo turun," ajak Sandi.

__ADS_1


" nggak!" jawab Wulan sedikit berteriak.


" hei.. aku menyuruhmu turun kenapa kau malah berteriak!" sarkas Sandi.


"maaf... aku takut gelap," jawab Wulan sambil meremas sitbelt.


Sandi yang sudah tak sabar pun keluar mobil dan menutup pintu sedikit keras, kemudian membuka pintu satunya dan melepas sitbelt Wulan, kemudian menarik Wulan keluar dan menutup pintu mobil.


refleks Wulan langsung memeluk tangan kekar Sandi, Sandi yang kaget dengan tingkah Wulan hanya bisa tersenyum.


"simpan mobilku di baseman, dan perketat keamanan, jangan ada orang yang tahu aku kesini bersama seorang gadis," perintah Sandi pada tiga satpam yang tengah bertugas.


Sandi dan Wulan memasuki loby dan naik lift, Sandi menekan tombol roof top.


lift pun mulai berjalan naik tak butuh waktu lama pintu lift pun terbuka, Wulan masih memeluk tangan Sandi dengan erat.


"hei lepaskan kita sudah sampai," kata Sandi sambil menggoyang kan tangannya.


" tidak mas, nanti mas meninggalkan ku sendirian disini," kata Wulan mengeratkan pelukannya di tangan Sandi.


"baiklah istriku yang penakut, pegang ini," kata Sandi sambil menyodorkan makanan pada Wulan, Wulan pun menerimanya.


kemudian Sandi menelpon seseorang,


"nyalakan lampu roof top," perintah Sandi pada orang di sebrang telpon.


blarr....


"wah indahnya, kita di mana mas?" tanya Wulan senang.


" kita di gedung Shiddiq Grub, lebih tepatnya di roof top" kata Sandi tersenyum.


"apa? berarti kita di perusahaan mas?" tanya Wulan terkejut.


"iya, di sini memang khusus untuk ku bersantai dan istirahat ketika lembur, anggap saja ini hadiah kecil untuk mu," kata Sandi enteng sambil duduk lesehan.


"benarkah?" kata Wulan sambil ikut duduk lesehan.


Sandi hanya mengangguk, mereka pun menikmati mie yang mereka bawa, tak terasa mereka semakin akrab dan dekat, Sandi senang melihat Wulan tersenyum bahagia bersama nya.


"kamu mau lihat bintang?" tanya Sandi.


"memang bisa," kata Wulan sambil menatap Sandi tak percaya.


Sandi berdiri dan mematikan lampu, otomatis ada sebuah cahaya di atap seperti titik bintang di langit Malam.


" subhanalloh.. indah ya," kata Wulan sambil melihat bintang buatan yang nampak asli.


"iya indah," kata Sandi tanpa sadar saat melihat Wulan.


Sandi pun menghampiri Wulan dan memeluknya begitu erat, sandi pun mengajak Wulan tidur di samping nya, Wulan pun begitu menikmati suasana yang tercipta, hingga tanpa sadar dia memperhatikan wajah Sandi yang tenang dan tampan saat memejamkan mata.


" Ya Alloh begitu sempurna ciptaan mu," gumam Wulan terus menatap wajah Sandi.

__ADS_1


"sudah puas melihatnya," kata Sandi mengejutkan Wulan dengan menatap nya.


"mas gak tidur?" tanya Wulan dengan wajah sudah merah, karena ketahuan memperhatikan Sandi.


" ayo pulang ini sudah malam, besok aku harus kerja," kata Sandi mengalihkan pembicaraan.


merekapun turun dari roof top, sesaat kemudian mobil Sandi sudah di depan loby.


mereka pun kembali ke rumah, ywulan sangat bahagia telah di ajak Sandi jalan-jalan malam.


sedang Sandi ikut merasa senang saat senyum di wajah Wulan terus mengembang.


"Wulan kau cantik saat tersenyum," gumam Sandi.


" mas bilang apa?" tanya Wulan.


"tidak ada, aku tidak bilang apa-apa," jawab Sandi.


" ow.. baiklah berarti saya salah dengar," jawab Wulan memperhatikan jalan.


tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di garasi rumah, saat Sandi akan turun dari mobil dia melihat Wulan yang sudah tidur.


"huh... pantas dia tak bersuara ternyata sudah tidur," gumam Sandi.


Sandi pun mengendong Wulan ala bridelstyle menuju kamar mereka.


saat tiba di kamar Sandi meletakkan Wulan di atas ranjang, kemudian melepas mantel dan jilbab Wulan.


"kau sangat cantik saat tak berjilbab, dan kau menjaga nya hanya untuk ku, aku beruntung menikahimu, meski aku sering berkata kasar tapi kau mampu membuatku terpukau dengan kelembutan mu," guman Sandi sambil membelai pipi tembem Wulan,


sandi pun mencium kening Wulan dan turun ke bibir indah sang istri, setelah itu dia pun ikut tidur di samping Wulan dengan bertelanjang dada.


saat Sandi memiringkan tubuhnya menghadap Wulan, tak di sangka Wulan mendekatkan dirinya pada dada Sandi.


jantung Sandi berdetak tak karuan saat Wulan mendekat pada dadanya, entah perasaan senang gugup bersatu.


Sandi tak pernah merasakan perasaan seperti ini saat bersama perempuan lain, tak lama Sandi pun ikut larut dalam mimpi bersama Wulan di pelukannya.


.


.


.


.


.


.


mohon dukungannya ya...


terima kasih...😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2