Kesabaran Cinta

Kesabaran Cinta
bonus chapter.


__ADS_3

setelah liburan di Bali, Chintya, Kayla, Icha dan Violla sudah kembali ke sekolah untuk mengikuti ujian negara.


bahkan mereka sudah siap untuk berperang. sedang Julian juga sudah menyiapkan pesta yang dia janjikan pada Chintya.


sedang Icha juga sudah mau menerima Altaf, karena kepergian orang tuanya semakin dekat.


sedang Kayla juga sedang membahas pernikahan dengan dua keluarganya. mereka bertiga akan menikah dengan waktu yang berdekatan.


sedang Violla juga makin dekat dengan Justin, bahkan setiap hari Justin mengantar jemput Violla ke sekolah.


Qia juga sudah sedikit bisa menerima keberadaan Ardan di sekitarnya, apalagi dia kembali dekat dengan Yusuf.


"woi... nanti malam kemana?" tanya Violla.


"emm, kayaknya aku di rumah saja deh, lagi gak mood buat keluar," jawab Icha.


"bohong tuh, nanti malam kan kamu akad nikah," kata Violla yang langsung di bekap oleh Icha.


"oh.. jadi kamu nikah gak bilang kami," kata Kayla.


"ayolah, kalian tau kan alasan ku menikah karena apa, aku ingin tetap di sini tapi orang tuaku harus pindah ke Swiss," jawab Icha.


"kami tau, jadi tenang saja," jawab Chintya tertawa.


sebenarnya nanti malam Violla ingin mengajak ketiga sahabatnya itu untuk ke club milik Justin.


tapi sepertinya itu tak mungkin, mereka berempat mulai mengikuti ujian, bahkan ketiga gadis itu terlihat begitu serius.


ternyata hari ini Altaf menjemput Icha, begitupun Justin yang menjemput Violla karena ingin mencari hadiah.


"ih, kenapa kita sekarang malah tinggal berdua gini sih," kata Kayla kesal.


"ya mau gimana lagi, suamiku dan tunangan mu sama-sama sibuk, bagaimana jika kita ke mall saja," ajak Chintya.


"baiklah, kebetulan kita bisa cari kado untuk Icha," kata Kayla.


mereka pun menuju ke mall, mereka memasuki toko jam tangan. Kayla memberikan jam tangan couple untuk sahabat nya itu.


sedang Chintya masih binggung, mereka pun masuk ke sebuah toko baju, tapi tak ada yang menarik perhatian dari Chintya.


mereka pun berpindah ke toko sepatu, Chintya pun menjatuhkan pilihan pada sepatu couple edisi terbatas.


Kayla kaget melihat harga sepatu itu, tapi Chintya tak mempermasalahkan itu karena untuk Sabahat nya.


"kamu lapar gak?" tanya Kayla.


"lapar sih, kita makan di restoran korea itu yuk, kebetulan aku lagi ingin sekali," jawab Kayla.


"baiklah," jawab Chintya.


mereka akan masuk tapi Chintya dan Kayla malah bertemu dengan Julian yang bersama seorang wanita.


Kayla terperangah tak percaya, sedang Chintya hanya diam tak menunjukkan ekspresi apapun. bahkan ekspresi datar di wajah Chintya.


"kalian menghalangi jalan," kata wanita itu.


Chintya langsung menarik tangan Kayla masuk ke dalam restoran, saat sampai Chintya langsung memesan semua makanan yang mereka sukai.


"kamu baik-baik saja?" tanya Kayla.


"aku baik-baik saja, kau lupa aku siapa," jawab Chintya tersenyum.


"tapi suamimu," jawab Kayla.

__ADS_1


"tak usah di bahas, apa kamu lupa aku menikah dan bersama pria itu karena apa," jawab Chintya.


itulah yang membuat Kayla terdiam, apalagi senyum Chintya tetap begitu tulus. mereka pun menikmati semua makanan saat sudah di sajikan.


setelah itu Kayla mengantarkan Chintya ke apartemen dan dia juga langsung kembali ke rumah.


Chintya langsung masuk dan naik ke lift, Chintya langsung masuk ke apartemen milik mereka.


"minta semua pelayan keluar, aku ingin sendiri," perintah Kayla.


"tapi nyonya," bantah pelayan itu.


"keluar atau aku akan membuat kalian semua mati di sini, pergi!" ancam Chintya.


semua pelayan pun keluar dari apartemen dan menuju ke tempat istirahat mereka, sedang Chintya sudah mengunci pintu apartemen.


dia langsung masuk ke dalam kamarnya utama dan berganti baju, setelah itu dia menuju ke kolam renang sambil membawa anggur dingin.


dia pun minum anggur di siang itu, setelah puas dia langsung menceburkan dirinya ke kolam renang.


Chintya memilih berenang dan menyelam untuk melupakan apa yang dia lihat, setelah itu dia memilih tidur di kursi santai.


Chintya benar-benar menikmati waktu nya, dia juga menikmati buah dan minuman dingin miliknya.


Julian yang mendapatkan laporan dari seorang pelayan pun memutuskan untuk pulang. Julian hanya tak ingin Chintya salah paham.


saat sampai Julian naik lift, Julian berhenti didepan pintu penthouse, Julian pun bersikap biasa sebelum masuk.


saat masuk dia melihat ruangan mewah itu begitu sepi. terdengar suara orang menceburkan diri ke kolam renang.


Julian pun berjalan ke kolam renang, dia melihat tak ada yang berenang tapi dia terkejut saat melihat bekas botol anggur yang sudah kosong.


refleks Julian langsung masuk ke dalam kolam renang dan mencari keberadaan dari Chintya.


Julian menarik dan membawanya ke tepi kolam, setelah itu Julian melepaskan jas miliknya.


Julian pun mencoba membuat Chintya sadar, tapi tak bisa bahkan Julian juga memberikan nafas buatan.


Julian kemudian menekan perut Chintya untuk mengeluarkan air, kemudian kembali memberikan nafas buatan.


Chintya pun terbatuk dan mengeluarkan air yang sudah terminum saat tengelam tadi, Chintya terduduk sambil sedikit mabuk.


"pergilah," kata Chintya mendorong Julian.


"apa maksudmu ingin mati hah, kamu bodoh ya habis minum malah berenang," kata Julian.


"aku ingin melupakan ingatan ku tentang mu, pergi!" teriak Chintya.


Chintya pun masuk kedalam rumah, gadis itu berjalan dengan sempoyongan bahkan beberapa kali menabrak barang.


Julian pun langsung mengendong Chintya seperti karung beras masuk ke dalam kamar utama.


Julian mendudukan Chintya di bathtub dan mulai menyalakan air dingin, "kau gila ingin membuatku membeku, dengan air sedingin ini," kata Chintya.


"biar kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan," jawab Julian tak kalah garang.


"kamu menyebalkan, aku ingin membencimu tapi aku tak bisa, pergilah dari sini, aku tak ingin melihatmu di sini," kata Chintya memukuli Julian.


"diamlah!" bentak Julian.


Chintya pun diam sambil menangis, Julian melepaskan kemeja dan sepatu nya. dia pun ikut masuk ke dalam bathtub.


Julian langsung memeluk tubuh Chintya yang bergetar karena menangis. "kenapa kamu sekesal itu Hem, tanyalah jangan simpan sendiri," kata Julian.

__ADS_1


"kenapa kamu tak bisa berubah, bahkan kamu bisa bermesraan dengan wanita tadi, kamu menganggap ku apa? apa aku hanya barang yang kamu beli saat bosan kamu akan membuangku begitu saja," kata Chintya.


"apa yang kamu pikirkan di otak kecilmu itu, aku begitu mencintaimu, bahkan aku tak bisa hidup jika kau mati. dia hanya seorang teman yang begitu berjasa pada Bisnisku, dia juga sudah menikah dan memiliki anak, aku dan dia terlalu dekat hingga sering di salah artikan. dan ternyata istriku ini juga sedang cemburu pada ku, manis sekali," kata Julian.


"istri mana yang bisa melihat suaminya bersama wanita lain tak cemburu, aku sadar aku bahkan tak setara dengan mu," jawab Chintya.


"hentikan pemikiran bodoh mu itu sayang, kamu adalah wanita sempurna dan kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa melengkapi hidupku," kata Julian.


"kamu tukang gombal," jawab Chintya yang sudah malu.


Julian pun memeluk istrinya itu, Julian menelpon para pelayan untuk membersihkan penthouse itu.


karena akan datang tamu istimewa yang telah membuat istrinya itu cemburu, bahkan Julian tak mengira jika Chintya begitu mencintainya.


mereka pun mandi bersama, sedang Chintya malah tertidur saat berendam bersama Julian.


Julian pun membilas tubuh mereka dan mengendong Chintya keluar dari bathtub.


"turunkan aku, aku bisa berjalan, maaf aku begitu nyaman saat bersama mu," kata Chintya dengan suara serak karena bangun tidur.


Julian pun menurunkan Chintya dan membalutkan handuk ke tubuh Chintya, dan kemudian menggendongnya kembali.


mereka pun memilih untuk beristirahat di ranjang, tapi Julian malah terus mencuri cium pada Chintya.


Alvin membawa semua barang milik Julian yang tertinggal di kantor, Alvin terbiasa dengan bos-nya itu.


Alvin dan Anastasya memutuskan untuk pulang karena pekerjaan mereka selesai.


tapi Alvin mengajak Anastasya untuk mengunjungi warung langganannya dulu saat kuliah.


saat sampai ternyata warung itu tak berubah, sedang Anastasya tak menyangka seorang yang seperti Alvin bisa makan di warung kecil itu.


baru juga masuk, Alvin sudah di kagetkan dengan para teman kuliahnya di yang sering mengatainya miskin.


"wah Alvin si miskin datang, tumben mau apa kesini, maaf ya kalau mau ngemis pergi deh," kata seorang pria berbadan tambun.


"owh.. kamu Firman dan Imron, aku hanya rindu masakan dari Bu Atun kok, sedang kalian kenapa bisa makan di sini, bukankah kalian anak orang kaya," jawab Alvin yang mempersilahkan Anastasya untuk duduk.


kedua pria itu melotot melihat wanita cantik dengan wajah blasteran yang duduk di sebelah Alvin.


"Alvin teman mu menjijikkan, kenapa mereka melotot seperti itu saat melihat ku," bisik Anastasya.


Alvin menahan tawanya, pasalnya Anastasya tak terbiasa di plototi seperti itu, atau lebih tepatnya pandangan orang mesum.


"mau pesan apa? loh alah ini mas Alvin ternyata, lama gak kesini mas, ku kita sudah lupa dengan ibu," kata bu Atun menyapa Alvin ramah.


"tidak Bu, hanya terlalu sibuk, kebetulan baru pulang kerja terus lewat sini jadi mampir, oh ya pesen dua nasi campur dengan ikan empal ya Bu," kata Alvin.


"iya mas, terus minuman ya apa?" tanya Bu Atun.


"aku es teh Bu," saut Anastasya.


Alvin langsung mengacak rambut dari Anastasya gemas karena begitu menyukai es teh.


"eh Alvin, kamu kerja di mana? seperti nya hanya pegawai biasa ya," kata Firman mengejek.


"iya, hanya pegawai biasa di sebuah perusahaan," jawab Alvin sambil membuka krupuk.


sedang Anastasya tak ingin ikut campur dengan masalah Alvin dengan dua teman lamanya.


"kau lihat kan, sekali miskin ya tetap miskin, berbeda dengan kita yang memang kaya, oh ya aku sekarang menjadi rektor di universitas kita dulu, kamu tak percaya kan," kata Imron sombong.


"seorang rektor dan kamu bangga, gajimu saja tak bisa membeli mobil sport keluaran Jerman seperti milik Alvin," jawab Anastasya kesal. dan itupun berhasil membungkam mulut kedua teman Alvin.

__ADS_1


__ADS_2