Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.7


__ADS_3

Melihat mereka berdua datang membuat masalah, Kenzie benar-benar tidak bisa tersenyum. Sasa sebenarnya tidak terlalu berani membully kakaknya, tapi berhubung ada Ayana di sini maka dia memiliki sedikit keberanian. Toh, jika kakaknya sampai menegur, maka dia bisa melemparkan kesalahan kepada Ayana.


"Ya Allah, Kak Kenzie lagi sakit perut ya? Kalau sakit perut lebih baik nggak usah makan, kak. Nanti sembelit nya makin parah loh." Ayana berpura-pura kaget, berbicara seolah dia sangat perhatian kepada kakaknya. Namun apa yang dia katakan justru membuat Kenzie semakin kedinginan.


Tapi bukan gayanya untuk langsung membalas. Dengan enggan dia membiarkan Sasa menyentuh makanannya. Di dalam hati dia menekankan bahwa di rumah dia juga akan memakan masakan istrinya.


"Jika kamu mau makan, ya makan saja. Jangan terlalu banyak bicara." Ucap Kenzie datar.


Di bawah tetapan kagum Ayana dan Sasa, dia menyiapkan piring untuk dirinya sendiri dan mengambil makanan di setiap kotak, lalu dia mulai menyiapkan nasi ke dalam mulutnya. Bersikap seolah tidak melihat mata kekaguman adik-adiknya.


"Ayo makan, Sa. Azira, kamu juga makan. Kita makan sama-sama." Ajak Ayana tanpa malu-malu mengambil piring untuk dirinya sendiri.


Untung saja Azira menyiapkan lebih dari satu piring untuk berjaga-jaga sebelumnya.


"Makan saja, kami tadi sudah makan di rumah." Sasa menolak dan kembali bermain ponsel di atas sofa.


Tiba-tiba dia melihat sebuah notifikasi di dalam ponselnya. Itu adalah notifikasi dari bank. Pemberitahuan bahwa pada jam sekian, sejumlah uang masuk ke dalam rekening. Melihat nominal yang tertera di notifikasi, jantung Sasa langsung berdebar kencang. Dia hampir saja berteriak histeris karena bahagia dan pada saat yang sama terkejut.


Tapi karena mereka sekarang di rumah sakit, dia tidak bisa melakukan itu dan hanya bisa memendam kebahagiaannya di dalam hati.


"Kak, aku keluar sebentar, ya?" Sasa mengambil tasnya dan bersiap-siap ingin keluar.


"Mau ke mana, dek?" Tanya Azira kepadanya.


Sasa tersenyum,"Mau beli air, kak. Kak Azira juga mau air nggak?"


Azira rasa tidak membutuhkannya. Tapi masih menganggukkan kepalanya. Siapa tahu dia ingin minum nanti.


"Nggak perlu beli air." Kata Kenzie kepada istrinya.


Dia lalu menunjuk kulkas mini di samping sofa tempat Sasa beristirahat tadi.


"Di sana ada banyak air yang aku simpan dan makanan juga. Kalau kamu mau air atau makan, tinggal ambil saja." Kata Kenzie kepada istrinya setelah menelan makanannya.


Karena suaminya sudah mengatakan itu, maka Azira secara alami akan mematuhi suaminya.


"Oke, mas."


Ayana menatap Sasa dengan pandangan mencela,"Kamu kok nawarin Azira, aja?"


Sasa langsung memasang senyum manis di depan Ayana. Setiap kali Ayana mendapatkan gaji, dia selalu mendapatkan bagian. Walaupun tidak sebanyak Kenzie, tapi Sasa sangat mensyukurinya karena dia bisa membeli pakaian baru atau kebutuhan yang lainnya.


"Emang Ayana mau apa? Bukannya setiap dokter di rumah sakit ini punya fasilitas yang sama dengan kak Kenzie?" Karena sudah ada minuman dan makanan di ruangannya, lalu kenapa dia masih menginginkan air?


Ayana cuma asal ngomong. Dan dia tidak benar-benar menginginkan Azira membelikannya sesuatu dari luar. Sebenarnya dia sama dengan Kenzie. Suka makan makanan yang ringan-ringan dan lebih mendahulukan air minum putih daripada minuman yang bercampur lainnya.


"Kamu terlalu menganggap tinggi. Okay, aku bercanda. Beli saja apa yang kamu mau dan segera kembali ke sini. Jangan main-main di luar." Nasehat Ayana kepada Sasa.


"Siap, Bu dokter! Kalau begitu aku pergi dulu, ya, assalamualaikum?"


Setelah Sasa pergi, kini di ruangan ini hanya mereka bertiga saja. Azira tidak secanggung sebelumnya. Dia menemukan kalau Ayana orangnya sangat ramah. Senang mengobrol dengannya. Mungkin inilah yang dirasakan oleh anak-anak di rumah sakit ini ketika bertemu dengan Ayana. Soalnya dia orangnya humble banget.


"Jadi kapan kalian pergi berbulan madu?" Ayana tersenyum sangat cerah sekarang.


Dia memandang Kenzie tanpa rasa takut.


"Menunggu waktu yang tepat. Kalau sudah waktunya kami pasti pergi." Jawab Kenzie acuh tak acuh,"Selain itu, kapan kamu kembali ke ruangan mu? Lihat, beberapa menit lagi waktu istirahat akan habis. Kalau kamu nggak segera kembali sekarang, maka kamu akan terlambat bekerja." Kenzie mengingatkan dengan suara datar membosankan.


Ayana masih memiliki senyum yang sama di wajah cantiknya.


"Lihat Azira, apakah kamu masih bisa tahan dengan suami seperti ini?"


Azira ditarik lagi ke dalam pertempuran mereka. Dia melihat suaminya yang berwajah datar. Sepintas, ingatan-ingatan itu langsung membanjiri kepalanya. Apakah dirinya masih tahan?


"Mas Kenzie orangnya baik dan perhatian, um... Dia tidak pernah marah kepadaku." Sejauh yang Azira ingat, dia tidak pernah dimarahi oleh Kenzie.


Padahal saat mereka baru menikah, Azira selalu berpikir kalau Kenzie akan memarahinya dan menyalahkannya atas semua. Tapi ternyata tidak, dan dia menemukan bahwa Kenzie bukanlah orang yang pemarah. Sebenarnya dia lembut, tapi karena sering menggunakan wajah datar, orang-orang jadi mudah salah paham.


"Oh,"


Ayana menatap Kenzie dengan tatapan samar. Dia tahu orang seperti apa sepupunya ini. Saat mendengar jawaban Azira tadi, dia merasa itu sangat sulit dipercaya.


"Maka sepupuku adalah suami yang baik."

__ADS_1


Azira tersenyum malu.


"Mas Kenzie memang orang yang sangat baik." Azira sekali lagi menegaskan.


Kenzie menimpali di samping,"Tentu saja aku adalah suami yang baik." Katanya dengan nada pamer.


Ayana semakin heran melihat sepupunya ini. Bukannya dia meremehkan, tapi sepupunya ini seperti kulkas berjalan. Selalu memasang tampang dingin dan datar di wajahnya, jadi agak heran melihatnya berekspresi.


"Lalu aku senang mendengarnya. Kapan-kapan ayo kita kumpul. Kita pergi piknik bersama-sama, kalau perlu kita camping bersama juga. Hitung-hitung buat refreshing otak." Ayana menguji.


Dia berbicara dengan lembut dan senyum yang sangat lebar. Sikapnya yang ramah membuat orang-orang menjadi nyaman didekatkan. Dan karena keramahtamahan ini, banyak orang yang tertipu olehnya. Mereka berpikir bahwa Ayana adalah orang yang lembut dan tidak berbahaya. Faktanya justru itu sebaliknya. Dia agaknya... Sedikit cerdik?


Azira menatap suaminya. Dia juga ingin pergi liburan bersama. Dan proposal Ayana sangat bagus. Alangkah baiknya mereka pergi liburan sekeluarga. Tapi itu adalah keputusan suaminya. Dia tidak akan berani menjawab.


Kenzie tersenyum, sikapnya ketika berbicara dengan Azira jauh lebih lembut daripada berbicara dengan Ayana.


Melihat ini, Ayana semakin terkejut.


"Apakah kamu mau pergi?"


"Mas Kenzie e sendiri bagaimana?" Suaranya tergantung suara suaminya.


"Oke, aku akan memikirkannya. Saat ini jadwal kerjaku sangat sibuk. Aku tidak bisa membuat keputusan." Kata Kenzie menyayangkan.


Dia tidak berbohong. Jadwalnya benar-benar sibuk akhir-akhir ini.


Azira mengerti kesibukan suaminya. Dan dia tidak mengatakan apa-apa.


"Azira, kebetulan aku ingin minum kopi. Maukah kamu mengambilkan ku kopi di depan kantor staf? Kantor itu berada beberapa meter jaraknya dari ruangan kak Kenzie. Mungkin berjarak 3 ruangan kalau tidak salah dan kamu bisa langsung melihatnya saat keluar dari ruangan ini." Kata Ayana tiba-tiba meminta bantuan kepada Azira.


Kantin dokter dan kantin umum di rumah sakit ini berbeda. Dokter tidak perlu turun, karena mereka sudah memiliki dapur umum di gedung kantor mereka. Kalau makan ataupun minum tinggal keluar untuk mengambil di kantor staf. Jadi mereka tidak perlu susah-susah bercampur dengan keluarga pasien di kantin umum.


"Kamu bisa mengambilnya sendiri." Suara Kenzie dingin.


Ayana masih tersenyum.


"Aku sengaja melakukannya. Niatku baik. Aku ingin Azira terbiasa di sini. Jadi kalau dia butuh apa-apa, dia bisa mengambilnya dari kantor staf." Jelas Ayana setenang mungkin di depan Kenzie.


Azira merasa kalau suasana di antara mereka berdua agak tegang. Dia merasa tidak enak dan langsung berdiri dari duduknya. Toh, maksud Ayana juga baik. Benar yang dia bilang. Terlepas apakah itu memang tujuannya atau tidak, tapi dia tahu kalau dia juga bisa mendapatkan pengalaman.


"Aku akan mengambil kopi. Apakah mas Kenzie ingin minum kopi juga?" Di rumah Kenzie tidak minum kopi.


"Aku tidak suka kopi. Tapi kalau kamu ingin mengambil makanan di sana, ambil saja. Bawa kartuku." Kenzie memberikan Azira sebuah kartu makan berlogo rumah sakit ini.


Jika para pekerja ingin makan, apapun yang mereka ambil, tinggal menyodorkan kartu ini saja. Kartu ini akan mencatat semua tagihan mereka dan memotongnya dari gaji akhir bulan. Ini sangat membantu untuk mereka yang tidak suka membawa uang cash.


"Baik mas." Azira mengambilnya dan langsung keluar dari ruangan Kenzie.


Dia menebak kalau mereka berdua ingin membicarakan sesuatu. Benar saja, melihat punggung Azira menghilang dari pandangan mereka, Ayana tidak lagi memasang senyum manis di wajahnya.


Dia menatap sepupunya datar. Merasa rumit sekaligus tertarik karena dia bisa melihat perubahan sepupunya ketika bersama dengan Azira.


"Jadi dia adalah pilihan kakak?" Tanya Ayana pada Kenzie.


Kenzie menatapnya lurus.


"Kamu sudah melihatnya."


Ayana menghela nafas panjang.


"Mereka adik kakak, tapi tempramen nya jauh lebih tenang daripada wanita manja itu. Dan setelah aku perhatikan baik-baik, dia lebih cantik daripada wanita itu, jadi apakah alasan kakak memilih dia karena wajahnya lebih cantik atau?"


Kenzie tahu kalau sepupunya sedang mengolok-oloknya sekarang.


"Dia lebih dari yang kamu bayangkan. Dia sangat menarik." Jawaban ini sudah cukup meyakinkan Ayana.


Dia lega karena sepupunya mau berbagi kehidupan dengan orang lain. Apalagi orang lain itu berhasil membuatnya berubah. Bisa dimengerti alasan kenapa Sasa dan keluarga yang lainnya tidak keberatan dengan Azira. Bahkan dia sendiri pun bisa merasakan bahwa Azira mampu beradaptasi dengan karakter Kenzie yang sangat menjengkelkan. Jujur saja, ini adalah pertemuan pertama mereka tapi Ayana langsung menyukainya. Ajarkannya tadi untuk berlibur bersama itu tidak bohong. Dia benar-benar ingin pergi bersama dan melihat bagaimana interaksi sepupunya di kehidupan sehari-hari. Dia tertarik. Sungguh sangat tertarik. Bertanya-tanya kelebihan apa yang dimiliki oleh Azira hingga membuat wajah kulkas 2 pintu sepupunya meleleh.


Tersenyum manis,"Kalau begitu pegang saja baik-baik. Aku perhatikan dia memiliki wajah yang cantik, hati-hati... Jika kak Kenzie tidak serius merawatnya, maka aku takut dia akan bertemu dengan orang yang lebih baik dari kakak."


Kenzie mendengus dingin. Tangannya terulur, dan jari panjangnya menunjuk ke arah pintu ruangannya.


"Keluar, sekarang. Percaya atau tidak jika kamu terus berbicara, aku akan meminta suamimu memberikan kamu pelajaran." Ucapkan dengan nada serius.

__ADS_1


Mendengar ancaman sepupunya. Ayana tidak bisa tertawa lagi. Sepupunya ini paling bisa membuat masalah di dalam rumah tangganya. Dan dia tahu bahwa ancaman sepupunya tidak main-main.


"Kak Kenzie, enggak seru, ah!" Dengan misuh-misuh Ayana keluar dari ruangan Kenzie.


Padahal dia masih ingin menggoda sepupunya itu. Tapi sayang sekali sepupunya itu tidak bisa diajak bercanda. Kemanapun dia pergi wajahnya selalu memasang ekspresi serius. Seakan dunia berhutang kepadanya. Sangat menyebalkan.


"Semoga saja Azira tidak gila menghadapi sepupuku." Cela Ayana dengan ekspresi sembelit di wajahnya.


...*****...


"Mbak, tolong kopinya." Azira meminta kopi kepada staf penjaga di depan.


Ayana bilang ini adalah kantor staf, tapi menurut Azira ini lebih mirip disebut sebagai kantin. Ada makanan berat ataupun ringan di mana-mana dia memandang. Ah, bukan kantin sih sebenarnya. Tapi lebih pasti disebut sebagai toko makanan.


"Kopi apa, mbak?" Staf itu menatap Azira dengan rasa ingin tahu.


Azira terlihat asing. Namun dia tidak bertanya kenapa dia ada di sini karena orang-orang yang bisa memasuki kawasan ini adalah keluarga para dokter.


Azira tidak tahu kopi apa yang suka diminum oleh Ayana.


"Kopi yang biasa diminum sama dokter Ayana."


Saat menyebut nama Ayana, staf itu langsung mengerti. Di rumah sakit ini dokter yang bernama Ayana cuma satu, yaitu dokter anak. Jadi staff itu tidak bertanya lagi.


"Baik, tunggu ya, mbak."


Azira mengangguk ringan. Sambil menunggu staf itu membuat kopi, Azira melihat-lihat makanan di etalase. Ada berbagai macam makanan yang sangat menggugah selera. Misalnya seperti lemper, bolu, kue cream, pastel, risol, lumpia, bakwan, berbagai macam bakso dan yang lainnya.


Azira jarang makan makanan ini sewaktu tinggal bersama ibunya. Ibu jarang mau membeli makanan ini. Katanya tidak bisa mengenyangkan. Tapi sesekali Azira akan serakah. Terkadang dia akan membeli beberapa jajanan setelah mendapatkan gajinya di laundry.


Yah, dia tahu bahwa kualitas makanan yang dia beli saat itu lebih rendah daripada makanan yang dijual di sini. Jadi tanpa ragu dia memilih beberapa makanan untuk dia makan nanti. Toh, suaminya sudah mengatakan kalau dia bebas membeli makanan. Saat memilih makanan, dia tidak lupa memikirkan Sasa. Mungkin sebentar lagi Sasa akan kembali ke sini.


"Tunggu sebentar ya, mbak." Setelah menyerahkan makanannya untuk dibungkus, Azira sekali lagi diminta untuk menunggu.


"Lho, mbak Azira?" Seseorang menyapa.


"Eh, mbak Nana." Melihat Nana datang, Azira otomatis tersenyum.


Mereka baru bertemu, namun Azira sudah terkesan dengan sikapnya yang ramah dan santun. Tentunya dia tidak ingin terlalu akrab.


"Mbak Azira belanja juga di sini?" Tanya Nana ramah.


"Iya, Nana juga?"


Nana menggelengkan kepalanya.


"Aku cuma lewat aja, mbak. Karena ngeliat, mbak, jadi datang saja menyapa."


"Mbak ini kopi dan makanannya." Pesanan Azira sudah datang.


"Oh ya." Azira lalu memberikan staf itu kartu Kenzie.


Staf itu kira Azira menggunakan kartu Ayana, karena dia datang ke sini untuk mengambil membelikan Ayana minuman. Tapi saat melihat itu adalah kartu milik Kenzie, staf itu sontak tercengang. Matanya melirik Azira ingin tahu dengan berbagai macam tebakan di dalam kepalanya.


Seingatnya Kenzie hanya memiliki satu adik, namanya Sasa. Tapi wanita ini bukan Sasa. Selain itu dia tidak mirip sama sekali dengan Kenzie. Lalu apa identitas wanita ini, mengapa dia sampai memegang kartu Kenzie?


"Dokter Kenzie minum kopi ya, mbak?" Melihat kopi itu, Nana kembali merasa heran.


Dasarnya dia tahu kalau Kenzie tidak suka minum kopi ataupun teh. Daripada minum minuman itu, Kenzie lebih suka minum air putih yang tidak berasa. Dari mana Nana tahu? Tentu saja dari cerita mulut ke mulut. Katakan saja kalau Kenzie di rumah sakit ini sangat terkenal. Alasannya karena Kenzie memiliki wajah yang tampan, baik, dan pengetahuan ilmu agama yang dalam dibandingkan rekan-rekan yang lain. Jika Kenzie tidak bertunangan dengan Humairah pada saat itu, maka orang-orang pasti akan berlomba-lomba mengejar Kenzie. Ini bukan rahasia lagi. Dan semua orang mengetahuinya dengan baik.


"Enggak, mbak Nana. Mas Kenzie nggak suka minum kopi. Dia sudah terbiasa minum air putih sejak kecil." Jawab Azira sambil tersenyum.


Setelah mengambil kartu suaminya dan pesanan di atas meja, kemudian dia mengucapkan pamit kepada Nana dan kembali ke ruangan suaminya.


"Nana, kamu mengenal wanita barusan?" Staf itu bertanya kepada Nana karena penasaran.


Dia penasaran identitas Azira karena caranya menyebut Kenzie terdengar sangat intim.


"Baru saja mengenalnya. Namanya Azira, istrinya dokter Kenzie. Hari ini dia datang berkunjung bersama Sasa." Kata Nana memperkenalkan Azira.


Selain orangnya cantik dan anggun, namanya juga bagus. Pikir Nana bijaksana.


"Oalah istrinya dokter Kenzie rupanya. Pantes aja dia bawa kartu makan dokter Kenzie, ternyata istrinya. Cantik ya, Na. Kok aku suka ya lihat wajahnya." Staf itu memuji.

__ADS_1


Nana tidak merasa heran. Memang saat pertama kali melihat Azira tadi, dia juga sempat terpesona dengan kecantikan Azira. Apalagi ketika sempat berbicara dengannya, Nana semakin mengerti kenapa dokter Kenzie mau menikahi Azira.


"Memang seharusnya sudah begitu. Dokter Kenzie saja tampan. Udah ya, aku mau kerja dulu."


__ADS_2