
Wajah Azira langsung merah. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa maksud pertanyaan dari paman?
Karena tempat ini rata-rata didatangi oleh orang yang sedang berbulan madu, maka tentu saja berbagai macam fasilitas akan disediakan untuk memperkaya perjalanan bulan madu setiap pasangan yang datang.
Ayana sempat memberikannya kode secara implisit, jadi tentu saja dia tahu.
Tapi suaminya...
Dia melihat ke arah suaminya penasaran. Di bawah godaan paman dan yang lain, suaminya tidak malu ataupun bereaksi apa-apa. Dia masih dengan dirinya yang biasa, lempeng dan tak berminat, seolah-olah apa yang mereka katakan itu tidak lucu ataupun tidak menarik.
Um, Azira langsung yakin kalau suaminya bukanlah tipe seperti itu.
Hanya saja dia tidak menyangka kalau Fathir, orang pendiam juga bisa seperti itu. Cek.. cek, orang memang tidak bisa dinilai dari luarnya saja. Azira mendesah ringan.
"Boleh saja. Bagaimana dengan paman dan bibi? Kurasa Ayana dan Mona membutuhkan anggota baru di dalam keluarga. Jadi bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?" Bukannya malu, Kenzie malah mengolok balik paman.
Dan lagi-lagi mengundang gelak tawa dari mereka. Reaksi Kenzie sudah bisa ditebak. Tapi yang mereka tidak sangka adalah Kenzie akan menyerang balik. Soalnya Kenzie selama ini selalu bersikap sopan dan tidak pernah menyerang balik saat sedang dijadikan bahan bercandaan. Pikir Kenzie itu kekanak-kanakan.
"Kamu, Nak! Kamu sangat pandai membuat orang tersedak!" Balas paman lucu.
Kenzie menggelengkan geli.
"Maafkan aku, paman, aku sungguh tidak berdaya. Jika Paman tidak membuat istriku malu, maka mungkin aku tidak akan memberikan penawaran murah hati kepada paman dan bibi." Ujar Kenzie berpura-pura merasa bersalah.
Paman semakin tidak bisa berkata-kata dibuatnya. Dia menepuk pahanya tertawa terbahak-bahak. Wajah yang sudah menua tampak kian mengkerut karena tertawa.
"Nak, Paman tidak tahu kalau kamu pandai berbicara." Kemudian Paman melihat ke arah Abah,"lihatlah putra yang kakak besarkan. Semenjak menikah dia jadi orang yang berbeda dan mulai bisa membuat lelucon. Hayy, menikah memang keputusan yang baik." Desah Paman dalam suasana hati yang baik.
Sebagai seorang paman, dia telah menyaksikan bagaimana Kenzie tumbuh hingga berada di titik ini. Sempat pernah khawatir bila Kenzie akan terjebak dalam dunianya sendiri hingga lupa mencari kebahagiaan untuk diri sendiri.
Tapi semenjak menikah-ah, akan lebih tepatnya semenjak bertemu dengan Azira, dia berubah menjadi orang yang lebih berwarna. Anggap saja lebih hidup. Dan menurut pandangan paman, mungkin Azira adalah satu-satunya wanita yang berhasil menggerakkan Kenzie, mengubahnya kembali menjadi Kenzie yang semua orang kenal. Ini adalah kabar baik. Dan karena ini pula Paman semakin menyukai Azira. Bahkan Paman membiarkan putrinya, Mona, bergaul bebas dengan Azira.
"Apa yang dikatakan putra ku memang benar. Dia juga bermaksud baik mengajak kalian pergi ke sana. Ayolah, bulan madu ini juga bukan untuk mereka saja tapi untuk kalian semua yang sudah menikah." Secara alami Abah lebih mendukung putranya.
Paman langsung angkat tangan. Dia melambaikan tangannya tak mau bicara lagi.
"Sudah, sudah, sudah jangan membuat keributan. Biarkan mereka berdua pergi. Kita para orang tua tidak usah ikut campur dalam urusan anak muda." Umi mengusir Kenzie dan Azira pergi.
Jika mereka berdua terus melayani guyonan para orang tua, urusan mereka akan tertunda.
Kenzie akhirnya tertawa. Dia menggeleng kepalanya tak berdaya. Setelah mengedipkan mata kepada Umi, dia lantas menarik istrinya melarikan diri sebelum paman atau bibi berbicara.
"Kita pergi begitu saja?" Azira tidak enak hati.
Kenzie mengusap puncak kepala Azira pelan.
"Tentu saja. Memangnya kamu mau melayani mereka berbicara?" Kenzie menganggap istrinya konyol.
Pipi Azira panas. Dia menggelengkan kepalanya malu. Daripada melayani omong kosong para orang tua, dia lebih suka pergi mengikuti suaminya.
"Tidak, mas."
Kenzie mendengus.
"Kamu mau kemana?" Kenzie bertanya.
Azira berpikir sambil melihat lingkungan di sekitarnya. Di sini ada danau jadi mereka bisa naik perahu, tapi siang-siang begini naik perahu rasanya agak tidak tepat. Azira lebih bersedia naik di sore hari biar bisa melihat matahari tenggelam. Kemudian ada juga tempat anak-anak bermain. Tempatnya menarik karena yang bermain bukan hanya anak-anak saja tapi juga orang dewasa.
Azira mau ke sana.
"Main di sini dulu?" Kata Azira sambil melihat suaminya.
Senyum Azira sangat cerah. Untuk sejenak, Kenzie tenggelam dalam pesonanya.
"Okay." Jawabnya tanpa berpikir.
*****
__ADS_1
Di siang hari semua orang kembali ke tenda untuk makan siang dan shalat zuhur, lalu kembali bermain hingga menjelang sore. Awalnya Azira ingin naik perahu, tapi ternyata hujan turun sehingga dia dan suaminya mengurung diri di dalam tenda. Di tenda Azira tidak menganggur. Dia mencoba melakukan apapun yang dia bisa. Mulai dari memijat suaminya hingga 'pijat' balik oleh suaminya.
Azira melaluinya dengan lapang dada.
Lelah saling mengganggu, Azira beralih menghabiskan waktu dengan membaca buku. Dia tidak membawa buku ke sini tetapi Kenzie lah yang membawa buku ke sini. Azira malah tidak tahu. Kebetulan melihatnya sangat bosan, Kenzie mengambil buku dari dalam tas dan meminta Azira untuk memilih buku apa yang ingin dibaca.
Satu hal yang harus diketahui oleh Kenzie. Istrinya tidak suka membaca buku. Makanya dia sengaja membawa buku tipis bergambar, seperti anak kecil, biar Azira suka dan tertarik untuk membaca.
Malam hari hujan berhenti. Tapi masih gerimis kecil-kecil. Jadi mereka tidak bisa melakukan barbeque di malam kedua. Sayang sekali mereka tidak bisa melakukan barbeque malam ini. Faktanya semua orang sudah lama menantikannya. Dan yang lebih mengenaskan adalah bahan-bahan yang mereka bawa. Terutama seafood yang mulai kehilangan kesegarannya meskipun dibawa di dalam kotak mesin pendingin. Mereka tidak bisa menyia-nyiakan makanan jadi malam ini makan malam mereka adalah seafood.
Lalu satu malam hari lagi berlalu dengan membosankan. Tetapi bagi mereka yang memiliki pasangan, malam ini jauh lebih hidup dari malam kemarin.
Jam 8 malam setelah shalat isya, Kenzie menarik Azira pergi ke suatu tempat sambil membawa tas ransel. Azra tidak tahu untuk apa tas itu dan dia juga tidak tahu apa isinya. Dia selalu berpikir positif bahwa mungkin suaminya ingin melakukan sesuatu yang baik.
"Kita ngapain ke pemandian panas, mas?" Azira membaca ucapan selamat datang di depan pintu masuk pemandian.
Memang benar mandi air panas di cuaca dingin seperti ini sangat nyaman dan menyenangkan. Tapi Azira enggak tahu kalau Kenzie juga bisa memikirkan ini. Dia kira Kenzie tidak suka membuang-buang waktu pergi ke sini untuk menghangatkan diri karena di dalam tenda saja sudah hangat.
Kenzie tersenyum penuh makna.
"Kita mau mandi, memangnya apalagi yang bisa kita lakukan di dalam air?"
Azira juga tahu ini. Tapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah. Namun, dimana?
"Ayo masuk. Di sini dingin." Kenzie menggenggam tangan Azira masuk ke dalam.
Di samping pintu masuk ada tempat administrasi. Penjaganya adalah dua wanita paruh baya yang sangat ramah dan suka tersenyum.
"Selamat malam, kami ingin menggunakan ruang VIP untuk satu malam." Ucap Kenzie sambil mengeluarkan kartu dari dalam dompet dan mendorongnya ke salah satu petugas administrasi.
"Halo, selamat malam tamu. Apakah tamu memiliki permintaan yang lain, misalnya ruangannya seperti apa atau membutuhkan fasilitas lain?"
"Tidak perlu. Cukup berikan kamar VIP saja. Kami percaya dengan fasilitas yang kalian siapkan." Kenzie menolak sambil tersenyum.
Sementara itu Azira yang ada di sampingnya masih belum menyadari bahaya. Dia menatap suaminya takjub, jarang sekali melihat suaminya tersenyum kepada orang asing. Tapi tadi suaminya sempat tersenyum yang terlihat sangat tampan.
"Baik, ini nomor ruangan kalian. Silakan ditandatangani."
"Tentu." Kenzie membuat tanda tangan secara singkat, selanjutnya pulpen diberikan kepada Azira.
Setelah selesai tanda tangan. Kenzie mengambil kartu dan kunci ruangan. Kemudian berjalan masuk sesuai arahan petugas administrasi bersama Azira.
"Mas, apakah setiap pemandian air panas seperti ini? Kenapa aku ngerasa kalau di sini sangat mirip dengan hotel?" Tanya Azira aneh.
Setahunnya pemandian air panas tidak seperti ini. Umumnya ada beberapa ruang yang diisi oleh banyak orang. Pemandian air panas laki-laki dan perempuan dipisahkan. Mereka tidak berada di ruangan yang sama. Makanya Azira sempat bingung ketika mendengar suaminya meminta ruangan VIP. Karena dia sama sekali tidak menyangka kalau mandi juga bisa seribet ini.
"Itu karena tempat ini khusus, sayang. Jadi punya sedikit perbedaan dengan yang ada di luar." Jawab Kenzie samar.
Pipi Azira menghangat mendengar panggilan sayang dari suaminya.
Um, akhir-akhir ini Kenzie suka memanggilnya sayang. Azira malu tapi pada saat yang sama suka. Ini sungguh tidak tertahankan.
"Oh... begitu. Namanya juga tempat pariwisata, pasti beda. Tapi ngomong-ngomong, mas, kita kan bisa mandi di tenda daripada mandi di sini. Toh, airnya sama-sama hangat juga dan gratis. Kalau di sini kan kita harus bayar." Azira diam-diam tidak senang dengan gaya boros suaminya di sini.
Di tenda kan juga ada air panas dan suhu tetap terasa hangat di dalam. Jadi kenapa harus susah payah ke sini?
Enggak, enggak , enggak! ini bukan seperti yang dia pikirkan. Suaminya datang ke sini untuk mandi dan bukan melakukan hal-hal yang aneh!
Azira berusaha meyakinkan dirinya untuk berpikiran positif.
Kenzie menatap istrinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Di sini lebih menantang. Yakin deh, kamu nggak akan kecewa datang ke sini sama aku." Janji Kenzie mencurigakan.
Jantung Azira berdebar sangat kencang. Ada berbagai macam pertanyaan dan dugaan di dalam hati. Sepanjang jalan, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Kenzie tidak akan melakukan hal-hal gila di sini.
"Akhirnya sampai." Kenzie meliriknya sebentar.
__ADS_1
Membuka kunci kamar dan,
Clack
Pintu terbuka. Kenzie mendorong Azira masuk ke dalam ruangan duluan. Begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan, suhu hangat segera menyelimuti tubuh Azira. Rasanya nyaman. Namun sedetik kemudian, kenyamanannya berubah menjadi keterkejutan.
"Assalamualaikum-" salam Azira tertahan.
Ini bukan pemandian air panas, tapi ini adalah kamar!
Di dalam ruangan ini ada kolam air panas, tidak terlalu besar dan mungkin cukup ditinggali dua atau tiga orang dewasa. Lalu di samping kolam air panas, ada tempat tidur ganda yang telah ditaburi kelopak bunga mawar merah. Tidak hanya di atas kasur saja, tapi hampir semua permukaan lantai di sini dipenuhi oleh kelopak bunga mawar merah. Warnanya sangat menggoda dan menggairahkan, seolah menyiratkan malam yang akan mereka lalui di tempat ini sangat panas.
Grab
Sebuah tangan kuat melingkari pinggangnya, berhasil menarik Azira dari pikirannya sendiri.
"Bagaimana, apakah kamu suka?"
Azira malu. Badannya yang hangat sekarang jadi panas dingin setelah melihat semua ini. Dia tidak bodoh, mana mungkin dia tidak tahu kenapa mereka datang ke sini. Hanya saja tadi dia sempat tidak percaya karena dia berpikir kalau suaminya bukanlah orang yang seperti itu. Dia kira suaminya tidak suka menjelajahi sampai ke tempat-tempat seperti ini. Ternyata, oh ternyata, suaminya juga memiliki sisi ini.
"Suka," Azira berkedip malu, untung saja Kenzie memeluknya dari belakang sehingga dia tidak tahu betapa merah wajahnya saat ini.
"Aku kira mas Kenzie bukan orang tipe seperti ini." Akui Azira malu-malu.
Di belakang Kenzie terkekeh. Nafas hangatnya menerpa kulit leher Azira, hangat dan gatal pada saat yang sama, lutut Azira tiba-tiba menjadi lemas.
"Kepada orang yang dicintai, menurutku rata-rata kaum memiliki sisi ini. Begitu pula dengan diriku. Azira, ini adalah salah satu cara kita menjalankan bulan madu." Ucap Kenzie serak.
Tangan kanannya bergerak turun ke bawah, perlahan memegang tangan istrinya dan mulai menggenggamnya lembut. Suasananya begitu manis.
"Mas Azira.." badannya gemetar ketika merasakan sebuah usapan lembut di leher kirinya.
"Hem?" Bibir Kenzie ragu-ragu ingin menggigit leher Azira.
"Bukankah kita harus mandi dulu?" Azira berusaha menjaga pikirannya agar tetap jernih.
Gara-gara pertanyaan polosnya, Kenzie langsung tertawa. Dia mengecup pipi Azira singkat sebelum melepaskan pelukan mereka berdua dan membalik tubuh Azira agar berhadapan langsung dengannya.
Saat Azira melihat suaminya. Dia langsung menundukkan kepalanya malu. Dia sungguh tidak berani menatap langsung ke wajah tampan suaminya yang mempesona.
Tetapi Kenzie tidak membiarkan dia pergi. Mengangkat dagu Azira hingga mata mereka berdua kembali bertemu.
Kenzie terpaku memandangi salah satu keindahan yang Allah ciptakan di dunia ini. Wanita ini adalah istrinya, miliknya, orang yang akan mendampingi sisa hidupnya di dunia ini. Azira adalah miliknya, hanya miliknya seorang. Dia tidak akan pernah membiarkan Azira lepas dari tangannya, bahkan walaupun Azira memaksakan diri untuk lepas darinya, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi kecuali Allah sendiri yang memisahkan mereka untuk bertemu kembali di akhirat. Bisa dibilang ini adalah hukuman. Yah, hukuman untuk Azira Humaira karena telah lancang masuk ke dalam kehidupannya.
Sekarang mereka berdua terjerat dan Azira tidak memiliki jalan keluar untuk melarikan diri. Sebab di dunia ini, dan bahkan di akhirat nanti, Azira akan tetap berada di sisinya.
Kenzie berjanji untuk ini. Dia akan memastikan Azira akan selalu berakhir dengannya entah itu di dunia ataupun di akhirat. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan merayu Allah.
Terus-menerus merayu Allah, Sang Pencipta yang Maha Romantis, lagi Maha Pengasih. Dia yakin Allah tidak akan mengecewakan hamba yang berserah diri kepada-Nya.
"Mas?" Azira memanggil ragu.
Soalnya Kenzie hanya melihatnya saja tanpa berbicara. Membuat Azira lebih malu lagi.
"Kamu adalah milikku, mengerti?" Klaim Kenzie serius.
Azira tertegun dengan apa yang suaminya katakan. Tiba-tiba matanya terasa perih dan sakit. Sakit bukan karena kesedihan, tapi lebih karena bahagia, ini aneh, bukan?
"Iya, mas. Aku mengerti. Aku adalah milik mas Kenzie."
Kenzie tersenyum lembut,"Begitu pula dengan dirimu, karena kamu adalah milikku maka aku adalah milikmu. Kita saling memiliki satu sama lain."
Azira tidak tahu menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Di matanya Kenzie bukan orang yang pandai mengungkapkan cinta, terkesan kaku, tapi terasa manis. Namun mendengar apa yang dia katakan kepadanya malam ini, dengan tatapan dan suara yang begitu lembut, Azira seolah telah membuka dunia baru.
Ah... Kenzie juga bisa romantis. Pikirnya konyol.
"Baiklah, aku akan memegang apa yang mas Kenzie katakan. Mas Kenzie adalah milikku dan aku adalah milik mas Kenzie, dengan kata-kata mas ini aku tidak akan membiarkan mas Kenzie bermain dengan wanita lain di belakang ku!" Ancam Azira dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Tapi dia tidak tahu kalau ekspresi seriusnya ini terlihat agak konyol di mata suaminya. Bagaimana mungkin Azira bisa semanis ini?