
"Kami bukanlah kakak kamu lagi! Betapa teganya kamu menghancurkan kehidupan saudara kami! Kamu menghancurkan hidupnya sehancur-hancur nya setelah berhasil mendapatkan hatinya! Padahal saudaraku sangat mempercayai kamu! Dia kira kamu benar-benar tulus mencintainya tapi apa yang dia dapatkan! Kamu....kamu meninggalkannya pergi demi menikah dengan wanita di kota! Dan kamu juga menelantarkannya di luar setelah dia memberanikan diri datang ke kota untuk mencari kamu! Sebenarnya apa kesalahan saudara kami kepada kamu sehingga kamu menghancurkan kehidupan saudara kami? Kamu meminta cintanya, dia memberikan cintanya kepada kamu dengan tulus! Kamu meminta kepercayaannya, bahkan sampai Azira berusia 12 tahun, dia masih percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali ke kampung untuk mencarinya!" Katanya dengan mata melotot.
Informasi yang dituturkan oleh bibi kembali membuka dunia baru lagi untuk para tamu yang menyimak. Sekarang mereka membuat kesimpulan di dalam hati bahwa orang pertama yang lebih dulu menggoda Ibu Azira adalah bukan sebaliknya. Menurut apa yang bibi katakan, selama tinggal di desa Ayah selalu mengikuti kemanapun Ibu Azira pergi. Menempeli nya ke mana-mana agar mangsanya masuk ke dalam jebakan. Dan lihatlah apa yang terjadi setelah mangsanya masuk ke dalam jebakan, dia dikhianati dan disia-siakan, anak yang terlahir dari rahim wanita itu pun tidak diakuinya.
Memang benar bahwa perilaku Ayah sangat keji.
"Tidak, tidak, tidak, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kalian semua pikirkan!" Ayah sangat ketakutan melihat keluarga ibu Azira hadir di sini.
Dia kira Azira sudah terputus dengan keluarga yang ada di kampung, tapi ternyata dia salah besar karena faktanya keluarga Azira sekarang datang.
"Tidak seperti yang kami pikirkan, hah?!" Bibi dengan marah menarik-narik rambut tua ayah sekuat yang Bibi bisa.
Membuat ayah meringis kesakitan sambil memegang kepalanya ditarik oleh bibi.
"Jangan ganggu suamiku!" Mama mengamuk ingin segera menghampiri suaminya.
Tapi sekali lagi dia dihalangi oleh seorang wanita paruh baya yang menahannya. Sama seperti yang lain, wanita paruh baya itu juga melancarkan aksinya kepada Mama. Dia menggaruk wajah mama, menarik jilbabnya hingga terlepas dan mengacaukan penampilannya.
Kebencian yang dia rasakan sungguh tidak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi. Saudara yang mereka cari selama bertahun-tahun di aniaya oleh orang-orang ini. Menjadikan saudara mereka sebagai sebuah mainan!
"Kamu juga ikut andil dalam kehancuran saudara kami!"
Mama berteriak saat merasakan nyeri di wajahnya.
"Lepas! Kamu dan saudara kamu sama saja! Kalian sekeluarga memang dilahirkan tidak tahu malu! Beraninya kalian menjebak suamiku bersama wanita penggoda itu!" Teriak Mama di sela-sela kesakitannya.
Dia tidak mau diam saja dipukuli oleh wanita paruh baya ini. Dia juga berusaha melawan, memukul dan menarik jilbabnya. Keadaan mereka berdua sangat kacau.
"Siapa yang menjebak suami kamu bersama saudara kami?! Yang ada justru kami yang tidak mau melihat saudara kami bersama dengannya! Dari awal kami sudah merasakan ada sesuatu yang salah dengan laki-laki bejat itu, dengan baik-baik kamu meminta suami kamu untuk segera pergi dari saudara kami tapi dia tidak mau mendengarkan dan terus-menerus mengganggu saudara kami! Apakah kamu pikir, kami sudi menyerahkan saudara kami kepada suamimu yang bejat itu?! Kami tidak akan pernah studi sekaya apapun kalian!" Balas wanita paruh baya itu sinis.
Sebelumnya dia dan saudara-saudara yang lain ingin membawa beberapa cangkul juga sabit pergi ke rumah Ayah untuk membalaskan dendam rasa sakit yang diderita oleh Ibu Azira. Tapi saudara mereka yang tertua, yaitu paman segera menghentikan mereka untuk tidak melakukan tindakan itu. Paman meminta mereka untuk menenangkan diri. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk membalas dendam selama mereka tahu selama rumah Ayah. Dan sekarang mereka sama sekali tidak menyangka bisa bertemu di rumah ini, jika mereka tahu akan bertemu dengan keluarga bejat ini maka mereka pasti akan membawa cangkul dan sabit dari rumah tadi.
"Apakah aku percaya dengan apa yang kamu katakan... Kalian orang miskin... Udik desa yang tidak pernah melihat uang banyak... Pasti serakah melihat... Kekayaan suamiku! Itulah... Kenapa kalian menjebak suamiku bersama wanita penggoda tak tahu malu itu!" Teriak Mama tidak mau mempercayai apa yang dikatakan wanita paruh baya ini.
Mama selalu percaya bahwa suaminya tidak pernah selingkuh darinya. Saat itu mereka baru saja bertunangan dan dia sangat yakin bahwa perasaan ayah kepadanya sangat dalam. Adapun insiden pernikahan ayah dan ibu Azira di desa dulu, Mama lebih percaya itu terjadi karena Ibu Azira menggoda ayah!
"Dasar gila! Siapa yang tidak tahu malu! Justru kamu dan suamimu lah yang tidak tahu malu!" Wanita paruh baya itu semakin emosi mendengar perkataan mama.
Di samping mama keadaan Bibi Safa juga tidak jauh lebih baik. Dia ditampar, wajahnya digaruk, jilbabnya telah terbang entah kemana dan kerah baju gamisnya pun sudah robek. Penampilannya sangat kacau, membuat para wanita meringis dan mata para laki-laki terbuka, pasalnya mereka sangat terkejut dengan kekuatan para wanita-wanita ini padahal usia mereka sudah paruh baya dan tidak muda lagi.
__ADS_1
"Kamulah yang menjebak saudara kami ke tempat kotor itu!" Bibi Safa dikelilingi oleh dua wanita paruh baya.
Mereka menarik rambut bibi Safa dan hampir bergulat karena bibi Safa juga membuat perlawanan. Bibi Safa lebih muda daripada Mama, jadi tak mengherankan bila tenaganya jauh lebih besar.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?! Dia masuk ke tempat kotor itu tidak ada sangkut-pautnya denganku! Salahkan saudara kalian sendiri yang pergi ke tempat itu dengan sukarela! Kalian tidak bisa melampiaskan kemarahan kalian kepada orang lain hanya karena saudara kalian sendiri yang melemparkan diri ke kubangan lumpur! Hah... Kalian juga tahu sendiri bahwa dia adalah wanita yang kotor sejak awal. Maka tidak heran bila dia pergi ke tempat seperti itu!" Kata bibi Safa menolak mengakui perbuatannya.
Bibi Safa membalas dengan keras kepala. Seakan dia tidak takut dengan mereka berdua. Nyatanya dia sangat ketakutan. Dia juga merasa bingung dari mana orang-orang ini mengetahui tentang rahasia ini? Bukankah masalah ini hanya diketahui oleh keluarga dalam saja?
Atau mungkinkah ini Azira?
Bibi Safa sangat yakin bila masalah ini disebarkan oleh Azira sendiri. Pasalnya hanya Azira satu-satunya orang luar yang mengetahui tentang rahasia itu!
Padahal faktanya meskipun Azira tahu tentang rahasia ini, dia tidak pernah memberitahu pihak ibunya yang ada di kampung. Bukan karena Azira tidak mau, tapi karena dia tidak tahu bagaimana caranya menghubungi keluarga di kampung. Jika dia tahu maka tidak usah ditanya lagi. Dia pasti sudah menghubungi orang-orang di kampung sejak lama.
"Dasar tak tahu malu! Menganggap orang lain kotor padahal diri sendiri lebih kotor! Apakah kamu tidak takut dengan siksa Allah? Beraninya kamu mempermainkan hidup seseorang! Menjebak saudara kami di tempat yang kotor hingga dia tidak memiliki jalan lain selain melakukan dosa-dosa itu, apakah kamu pikir Allah selama ini tidak melihat apa yang telah kamu lakukan? Apakah kamu pikir Allah akan diam saja melihat kamu terus-menerus melakukan dosa besar ini? Berhati-hatilah, Allah tidak tidur. Allah akan membalas semua perbuatan kamu. Dan hari ini adalah salah satu buktinya, kami sangat yakin ini baru balasan kecil! Mungkin setelah hari ini kamu akan mendapatkan balasan yang lebih berat lagi." Bila mereka sudah menyebut nama Allah maka itu artinya mereka sudah memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta.
Lagi pula melihat cara bicara orang-orang ini, wanita paruh baya ini tahu bahwa mereka tidak akan pernah mengakui kesalahan. Terutama wanita yang sedang berada di tangannya sekarang. Dia adalah wanita yang kejam tapi berpura-pura memiliki hati yang lembut dan baik. Dia adalah wanita yang kotor tapi berpura-pura selalu bersih seolah tidak pernah menyentuh kotoran sebelumnya.
Dia adalah wanita munafik!
"Terserah..." Bibi Safa mengelak dari tatapan wanita itu.
"Kamu pasti merasa bersalah sekarang!" Kedua wanita paruh baya itu tidak menghentikan tangan-tangan mereka untuk mengacaukan bibi Safa sampai-sampai kesulitan bernafas.
Sementara itu di sisi Ayah, Bibi masih bergulat dengan Ayah. Melemparkan berbagai macam kata-kata yang selalu dibantah oleh ayah.
"Sekarang saudara kami telah meninggal dunia gara-gara kamu dan sabar-saudaramu. Dia meninggal dengan cara yang sangat tragis, kamu harus memberikan penjelasan kepada kami untuk masalah ini!" Bibi memaksa ayah untuk mengakui semua kesalahan ini.
Tapi ayah tetap bersikukuh bahwa dia tidak pernah bersalah.
"Semuanya salah paham, kak! Semuanya tidak seperti yang kakak pikirkan!" Kata ayah sambil meringis.
Bibi murka,"Apalagi yang di salah pahami? Bukti-buktinya sudah jelas. Kamu membuat saudara kami menderita di tempat itu dan bahkan tidak bertanggung jawab kepada Azira!"
"Aku bisa menjelaskan semuanya, kak. Semua tuduhan kakak itu tidak benar. Aku tidak tahu bila dia bekerja di sana dan aku juga tidak tahu bila Azira masih di kota, jika aku tahu mereka berdua ada di kota, maka aku tidak akan pernah membiarkan mereka hidup terlantar!" Kata ayah sepenuhnya berbohong.
Dia tahu tapi berpura-pura tidak tahu. Semenjak memiliki Humairah, putrinya yang lain benar-benar tidak dia anggap. Di dalam hatinya waktu itu dia hanya memiliki satu putri, yaitu Humairah.
"Apalagi yang perlu dijelaskan?" Suara tua paman menghentikan gerakan bibi memukul Ayah.
__ADS_1
Perlahan paman berjalan mendekati Ayah. Langkah demi langkah tubuh tuanya yang ringkih terlihat sangat kuat saat ini. Seolah-olah langkah paman tak tergoyahkan sekalipun ada badai yang datang.
Bibi dengan sadar diri menyingkir, memberikan tempat untuk saudaranya 'berdiskusi' dengan ayah.
"Kakak..." Ayah menatap malu paman.
"Aku sudah mendengar apa saja yang telah kamu lakukan kepada saudaraku selama tinggal di kota. Selain menelantarkannya secara tak bertanggung jawab, kamu juga menjebaknya bekerja sebagai wanita malam di sebuah club' malam pinggir kota." Suara paman pelan dan ringan namun dapat didengar oleh jelas oleh semua orang.
Ketika kata-kata paman ini jatuh, semua orang langsung gempar! Para tamu saling memandang, menatap tak percaya pada apa yang baru saja mereka dengar?
Dari tadi mereka masih belum menemukan titik terang tempat kotor apa yang keluarga Ibu Azira bicarakan. Sekarang setelah Paman mengatakannya dengan lantang, barulah mereka mengetahui tempat apa yang dimaksud itu.
Seorang laki-laki tega mengirim istri pertamanya bekerja sebagai wanita malam di club' malam pinggir kota?
Apakah dia masih manusia?
Apakah dia masih pantas di sebut sebagai manusia?
"Apa yang baru saja aku dengar?" Para tamu mulai berbisik-bisik.
"Iya, mungkin aku salah dengar? Aku baru saja..."
"Enggak kok, kamu nggak salah dengar karena aku juga mendengarnya. Laki-laki tua ini sungguh berhati kejam. Dia menolak bertanggung jawab kepada istri pertamanya, memilih untuk pulang ke kota demi menikah dengan wanita lain sementara istri pertamanya sibuk merindu di kampung. Sungguh, jika aku menemukan laki-laki sebejat dia, lebih baik kelaminnya kepotong saja agar menimbulkan efek jera."
"Fokus kamu salah. Hal yang paling kejam dari laki-laki ini adalah dia berani mengirim istrinya menjadi wanita pekerja malam di sebuah club' malam pinggir kota!" Kata seseorang itu berbisik.
"Ah...iya, makanya tadi aku sempat terkejut!"
Pembicaraan orang-orang ini membuat bibi Safa dan mama merasa sangat tidak nyaman. Pasalnya itu adalah rahasia mereka berdua, tidak ada hubungannya dengan Ayah. Mereka mengirim Ibu Azira ke tempat itu atas kesepakatan bersama tanpa sepengetahuan keluarga yang lain. Namun bertahun-tahun menyiksa Ibu Azira di tempat itu, mana mungkin Ayah tidak tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan?
Ayah tahu apa yang mereka lakukan. Awalnya Ayah sangat marah, namun ketika memikirkan Ibu Azira telah dijamah oleh banyak laki-laki hidung belang dan sudah tidak suci lagi, Ayah memutuskan untuk bersikap tidak peduli. Berpura-pura tidak pernah mengetahui masalah ini dan membiarkan istri maupun adiknya melakukan apa yang mereka inginkan.
"Aku... Aku sama sekali tidak tahu apa yang kakak bicarakan." Ayah berpura-pura bodoh.
Tapi Paman sama sekali tidak percaya dengan apa yang dia katakan tadi.
"Apa perlu aku mengulanginya sekali lagi? Rama, kamu adalah laki-laki paling bejat yang pernah aku temui di dunia ini. Istrimu rela pergi ke kota untuk mencari kamu tapi kau balas dengan sebuah penghianatan. Lalu kamu mengirimnya ke tempat yang sangat kotor, memaksanya untuk menandatangani sebuah perjanjian seumur hidup dimana adikku akan menjadi pekerja wanita malam seumur hidupnya. Rama, apakah kamu masih memiliki hati nurani? Sebenci apapun kamu kepada adikku, dia tetaplah istri kamu! Wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Azira! Tapi ini balasannya terhadap semua pengorbanan adikku kepadamu?! Aku tidak pantas menjadi kakaknya jika tidak membalaskan semua rasa sakit adikku hari ini." Tanpa menunggu ayah merespon, paman langsung melayangkan tinjunya ke wajah Ayah.
Sekalipun tubuh paman ringkih tapi tinjunya tidak main-main. Setiap pukulan tepat mengenai sisi wajah ayah, tak memberikan Ayah peluang untuk membela diri ataupun melarikan diri.
__ADS_1