
Azira dan Ayana masuk ke dalam ruangan. Mereka menghabiskan waktu mengobrolkan beberapa topik pembicaraan yang tentunya berkaitan dengan kehidupan Kenzie. Azira sangat ingin tahu. Terutama bagaimana kehidupan Kenzie sebelum bertemu dengannya dan bertanya-tanya apakah dia pernah menjalin kasih sebelumnya dengan wanita lain, kesampingkan dulu masalah Humairah.
Anehnya, Azira merasa kalau Ayana terkesan menutupi sesuatu darinya. Memang setiap pertanyaannya di jawab, tapi untuk beberapa pertanyaan sensitif, Ayana terkesan menjawab seadanya. Azira bingung. Mungkinkah ini hanya perasaan nya saja atau memang kenyataannya begitu, kalau ada sesuatu yang tidak ingin dikatakan oleh Ayana kepadanya.
Termenung dalam diam, dia tidak menyadari jika Ayana sedari tadi terus mengawasi nya. Fatir pernah bilang kepadanya kalau Azira agak mirip dengan wanita itu. Ayana sempat berpikir seperti itu juga. Sekilas, karakteristik wajah Azira mirip dengan wanita itu. Inilah yang membuatnya khawatir. Mungkinkah bayang-bayang wanita itu masih belum lepas dari hati Kenzie?
Takutnya Azira hanya dijadikan sebagai seorang... pengganti.
Tapi ketika melihat wajah Azira dari dekat, tiba-tiba Ayana menyadari kalau mereka tidak mirip sama sekali. Yah, mungkin saja...dari segi tinggi badan dan bentuk tubuh, Azira agak mirip dengannya, tapi selain itu Azira adalah Azira, dia tidak ada hubungannya dengan wanita itu.
Ayana menghela nafas berat di dalam hatinya.
Semoga saja pernikahan ini berjalan harmonis dan damai. Ya Allah, aku sudah sangat lega melihat perubahan sepupuku setelah bertemu dengan Azira. Dan semua kekhawatiran dan ketakutan ku selama ini, semoga itu hanya kegelisahan ku yang tidak masuk akal. Batin Ayana agaknya masih gelisah di dalam hatinya.
__ADS_1
"Azira," panggil Ayana setelah berpikir sejenak.
"Hem?"
Azira sedang makan makanan yang dibawa oleh Ayana. Rasanya enak dan sesuai dengan seleranya, jadi dia tidak dapat melepaskan diri dari makanan ini meskipun dia dilanda perasaan bingung.
"Bagaimana sikap kak Kenzie selama ini kepadamu, kak?"
Azira tersenyum malu-malu. Pipinya seketika mengembangkan sentuhan rona merah di wajah cantiknya.
Ayana tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya pelan. Syukurlah bila Kenzie memiliki sikap yang baik kepada Azira.
"Tidak ada. Aku ikut senang mendengarnya." Ayana ragu-ragu, dia melirik Azira bimbang.
__ADS_1
"Sebenarnya.... kak Kenzie pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita sebelum bertemu dengan Humairah. Namanya Amara. Mereka dulu awalnya bersahabat dari kecil dan setelah masuk sekolah menengah, barulah mereka memutuskan untuk pacaran. Tapi... di tahun terakhir sekolah menengah sebuah kecelakaan terjadi yang mengakibatkan hubungan mereka berdua kandas. Mereka putus dan mulai menjalankan kehidupan masing-masing. Kak Kenzie fokus dengan kuliahnya sementara Amara pergi keluar negeri. Dan belum pernah kembali hingga detik ini." Ruangan itu begitu sunyi hingga semua kata-kata Ayana terdengar sangat jelas di dalam telinganya.
Amara?
Wanita ini lagi. Amara adalah alasan kenapa Kenzie memutuskan untuk sekolah kedokteran. Dulunya dia bertanya-tanya apa hubungan mereka hingga Amara dapat mempengaruhi keputusan hidup Kenzie di masa depan. Ternyata jawabannya ada di sini. Amara adalah mantan kekasih sekaligus suaminya. Dari penjelasan ini saja Azira dapat membayangkan betapa harmonis dan dalam hubungan mereka berdua. Tapi... sebuah kecelakaan, kecelakaan apa yang membuat mereka putus dan memutuskan untuk fokus dengan kehidupan masing-masing?
Azira menurunkan matanya menatap lantai kebingungan. Dia tahu bahwa itu sudah lama dan bagian dari masa lalu, sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi hatinya merasa tidak nyaman. Perasaan ini seperti alarm pengingat untuk dirinya agar segera membangun tembok perlindungan diri.
"Azira, aku menceritakan ini kepadamu bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya...yah, maksudku di kehidupan kak Kenzie, dia hanya terlibat dengan tiga wanita saja. Pertama Amara, kedua adalah Humairah dan yang terakhir kamu. Dari sisi ini kamu bisa melihat bahwa karakter kakak ku sangat baik. Dia adalah orang yang setia hehe.." Ayana tertawa kering mencoba mencairkan kesunyian Azira.
Azira balas tersenyum. Dia mengangkat kepalanya memandangi Ayana. Ekspresi masih tenang. Seolah-olah masa lalu Amara dan Kenzie tidak bisa menciptakan ombak di dalam hatinya.
"Tentu saja. Suamiku adalah laki-laki yang setia. Aku sangat mengenal betapa baik karakter suamiku." Kata Azira santai.
__ADS_1
Dia tersenyum tapi hatinya berombak, jelas tidak tenang. Apalagi ketika mengingat keluhan umum kepadanya. Berkali-kali Umi meminta Kenzie berhenti bekerja sebagai dokter dan kembali mengurusi perusahaan keluarga, tapi Kenzie selalu menolak mendengarkan karena dia masih menyukai pekerjaannya sebagai dokter. Sungguh Azira sangat mengagumi keteguhan hati suaminya. Tapi setelah mendengarkan cerita dari Ayana, tiba-tiba dia kepikiran, bertanya-tanya bagaimana jika alasan Kenzie menolak melepaskan pekerjaannya sebagai dokter bukan karena dia menyukai pekerjaan ini, tapi sebenarnya itu karena Amara. Yah, bagaimana jika?
Hati Azira langsung tenggelam dengan berbagai macam kekhawatiran samar di dalam hati.