Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.1


__ADS_3

Pulang dari toko buku Mona langsung mengubah rencananya. Dia tidak langsung ke rumah Abah tapi langsung balik ke rumah untuk berganti pakaian dan melihat-lihat tugas sosiologi hukum. Dia tidak sabar ingin mengerjakan tugasnya secepat mungkin. Oh, mungkin lebih tepatnya dia tidak sabar ingin mengamankan buku itu. Takutnya buku itu lecet atau bahkan hilang, segala macam pikiran negatif mulai bergerak liar di dalam kepalanya. Maklum saja. Buku ini ada hubungannya dengan Al. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan laki-laki ini tidak akan pernah Mona lewatkan, sebisa mungkin.


"Lho, Mona nggak langsung ke rumah Abah?" Di halaman depan rumah mana bertemu dengan Mama.


Mama lagi membersihkan tanaman bunganya sambil memeriksa pertumbuhan bibit buah-buahan yang Mama ambil dari tempo hari.


Mona tersenyum cerah.


"Iya, ma. Mona ada tugas dari kampus makanya langsung balik ke rumah biar Mona langsung ngerjain. Pergi ke rumah abah nanti aja setelah tugas Mona kelar." Jelas Mona dalam suasana hati yang baik.


Dia mengecup pipi kanan mama dan langsung melarikan diri masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapapun di rumah. Mona tidak tahu ke mana ayah pergi Mona sama sekali tidak peduli kemana adik angkatnya pergi. Berhubung dia dalam suasana hati yang baik, Mona tidak ambil pusing dengan keberadaan orang-orang rumah.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah kakinya menaiki tangga. Masuk ke dalam kamar dan menutup pintu serapat-rapatnya. Lalu dia buru-buru mengeluarkan buku itu dari dalam tasnya. Memegang buku yang baru saja dipegang oleh Al, tangan Mona merabanya dalam perasaan nostalgia. Dia mengangkat buku itu tinggi-tinggi dengan latar belakang cahaya matahari yang mengintip dari balik jendela kamarnya.


"Indah.." bisik Mona kepada siapa.


Puas melihatnya, dia mengecup buku itu berkali-kali sebelum memeluknya erat-erat dan menjatuhkan dirinya di atas. Tenggelam dalam kesunyian, Mona menghirup keras bau khas buku baru yang memancar dari buku di dalam pelukannya. Mengendus-ngendus, dia berharap menemukan jejak tangan yang ditinggalkan oleh pemilik tangan besar itu.


"Enggak mungkin, laki-laki nggak suka pakai lotion!" Bisiknya lucu sambil terkikik tidak jelas.


"Apakah aku harus mengerjakan tugasku sekarang?" Di sela-sela berimajinasi, dia tiba-tiba teringat dengan tugasnya.


Padahal tadi dia sempat berencana ingin segera menyelesaikan tugasnya hari ini juga setelah mendapatkan buku ini. Tapi begitu sampai di rumah dia merasa bahwa tidak apa-apa tidak mengerjakan tugasnya sekarang karena dia masih memiliki banyak waktu.


"Masih banyak waktu... Besok aja lah." Katanya menyepelekan.


"Terus apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia mulai berpikir.


Tersenyum konyol,"Tidur saja!"


Kebiasaan kaum rebahan. Biasanya jam segini adalah waktu-waktu yang paling menyenangkan untuk rebahan ataupun tidur. Mona sering melakukannya apalagi kalau sudah kumpul dengan sepupunya yang aneh itu, bisa-bisa seharian mereka habiskan hanya untuk rebahan di atas kasur.


Benar saja, tidak sampai setengah jam Mona jatuh tertidur memasuki dunia mimpi bersama buku yang ada di dalam pelukan. Mungkin karena sudah lama tidak berbicara sedekat ini dengan orang yang dia sukai membuat hati yang Mona agak kacau. Satu sisi dia merasa bahagia sekali, dan di sisi lainnya dia sangat tersiksa karena setelah pertemuan ini mungkin dia semakin kesulitan melupakan laki-laki itu.


*****


Yana berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan bersama dengan sepupu-sepupu yang lain. Mulanya dia tidak mau pergi, tapi mama memaksanya agar dia bisa mengenali lingkungan ini dan berkenalan dengan beberapa tetangga. Di bawah perintah mama, dan Yana akhirnya mengalah. Dia mengajak beberapa sepupunya yang memiliki hubungan baik dengannya untuk berkeliling kompleks dan meminta mereka mengenalkannya beberapa tetangga.


"Lha, itukan Sasa?" Salah satu sepupu menunjukkan ke depan.


Yana dan yang lainnya sontak mengikuti arah jari telunjuknya menunjuk.


Di depan sana mereka melihat Sasa sedang berbicara dengan laki-laki tampan yang memiliki tubuh tinggi dan penampilan menawan. Wajah laki-laki itu tampak datar saat berbicara dengan Sasa. Dia tidak terlihat tertarik tapi dengan paksa meladeni Sasa berbicara.


"Woah, itu kan dosen duda yang sering orang-orang sini bicarakan?" Sepupu yang lain angkat berbicara.


"Dosen duda?" Mata Yana berkedip samar memandangi wajah tampan tanpa cela milik Al.


"Iya, namanya kalau nggak salah Al. Dia adalah dosen tempat kakak kamu belajar. Kata Sasa, dosen ini ngajar di kelasnya dan Mona. Tapi dia baru-baru ini pindah ke komplek ini dan sering jadi bahan pembicaraan ibu-ibu kurang kerjaan di sini." Kata sepupu yang lain menjelaskan.


Yana tertarik,"dia baru pindah ke sini?"

__ADS_1


"Iya, mungkin satu minggu yang lalu. Dengar-dengar dia baru saja bercerai dengan istrinya dan statusnya sekarang sebagai duda. Cek, gara-gara dia, janda-janda kesepian dan para wanita lajang mulai beraksi. Kalau kamu perhatikan, satu atau dua wanita sering kali bolak-balik di depan rumah Pak Al." Sepupu itu banyak bicara sambil menunjuk beberapa wanita bolak-balik di sekitar rumah Al.


Sekali lihat orang-orang langsung tahu kalau para wanita ini bertujuan mau menarik perhatian Al. Sayang sekali, saat ini Al sedang berbicara dengan Sasa. Entah apa yang mereka bicarakan tapi para wanita itu jelas tidak senang karena Sasa memonopoli perhatian Al.


"Namanya siapa tadi?" Yana bertanya santai.


"Namanya Al."


Dia menganggukkan kepalanya mengerti.


Menyipitkan matanya,"lalu apa hubungan Sasa dengan dia?" Sepertinya tidak sesederhana antara dosen dan mahasiswi.


Dari tingkah laku Sasa, dia menyimpulkan bahwa Sasa tertarik dengan Al. Tapi melihat sikap Al yang terkesan acuh tak acuh dan tidak tertarik, Yana berani menyimpulkan bahwa mungkin... Al tidak tertarik dengan Sasa?


"Yah... Dia masuk ke dalam rumah. Padahal kan kita belum selesai melihatnya."


Setelah mengobrol sebentar dengan Sasa, Al berpamitan masuk ke dalam rumah sementara Sasa diam di tempat mengawasi Al masuk rumah. Barulah setelah Al tidak terlihat lagi, dia berbalik pergi dengan sebuah buku di dalam pelukannya.


"Sasa!" Panggil Yana sembari melambaikan tangannya.


Dia tersenyum manis kepada Sasa. Seharusnya menurut senioritas dia harus memanggil Sasa dengan sebutan kakak, tapi Sasa enggak mau dipanggil kakak, karena dia merasa seumuran dengan Yana.


"Ya Allah, kalian ngapain di sini?" Wajah Sasa memerah malu.


Dia menebak bila Yana dan yang lainnya pasti telah melihatnya tadi dengan Al.


Seorang sepupu bercanda,"kami baru saja mengintip kamu sedang pacaran dengan dosen duda itu!"


Seperti yang mereka duga, wajah Sasa langsung memerah terang seperti kepiting rebus. Dia salah tingkah dan tampak malu-malu kucing.


"Omong kosong apa yang kalian bicarakan! Enggak ada orang pacaran!" Bantah Sasa salah tingkah.


Yana juga penasaran.


Sasa tersenyum malu.


"Yang tadi itu aku ngambil buku dari Pak Al. Kebetulan tadi siang aku nitip dibeliin buku ini sama Pak Al karena aku cari-cari di perpustakaan udah habis dipinjam semua sama yang lain. Untungnya Pak Al menemukan buku ini di toko buku jadi tugas kuliahku aman." Jelas Sasa menjelaskan.


Tadi pagi dia pergi ke kampus untuk mencari buku sosiologi hukum di perpustakaan. Tapi dia sudah terlambat karena semua buku telah dipinjam oleh orang lain. Untungnya dia mendengar pembicaraan Al dengan seorang dosen bahwa setelah selesai mengajar nanti dia akan pergi ke toko buku. Mendengar itu Sasa merasa ada peluang.


Maka dia menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Al. Setelah lama menunggu, dia akhirnya memiliki kesempatan. Awalnya sih dia ingin ikut pergi ke toko buku bersama Al, tapi Al tidak mau karena takut fitnah. Maka dengan berat hati Sasa hanya bisa meminta tolong Al mencarikannya buku sosiologi hukum karya dosen X. Sebelum Al mengiyakan, dia sempat melontarkan sebuah pertanyaan bahwa apakah semua mahasiswa wajib memiliki buku ini?


Sasa jawab iya.


Lalu dia bertanya lagi, apakah semua mahasiswa telah memiliki buku ini?


Sasa jawab sebagian besar belum karena buku ini susah dicari.


Setelah itu Al tidak bertanya lagi dan berkata bahwa dia akan mencoba membantunya mencari buku ini di toko buku.


Meski agak disesalkan karena dia tidak bisa ikut tapi hatinya cukup puas Al masih mau membantunya.


"Oh astaga, kami kirain kamu ada apa-apanya sama dia." Mereka tertawa sengaja menggoda Sasa.


Sasa tidak mau berlama-lama di sini lagi. Dia ingin segera pulang ke rumah dan pamer di depan Mona. Biar sepupunya yang satu itu tahu kalau semuanya nggak ada yang mimpi selama dia berusaha dan mencoba mengejar Al.


Hem, aku nggak tahu ekspresi seperti apa yang akan dimiliki oleh Mona ketika melihat buku ini nanti! Dia pasti cemburu hahaha... Batinnya tidak sabar memamerkan buku ini depan Mona nanti.

__ADS_1


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti kalau ada yang dengar dianggap benar lagi. Udah ah, aku mau pulang ke rumah dulu. Kalian mau ikut nggak?" Tawar Sasa kepada sepupu-sepupu nya itu.


"Kapan-kapan deh, hari ini kami mau temenin Yana keliling komplek biar dia bisa mengenal lingkungannya dan berkenalan dengan beberapa tetangga."


Sasa mengerti. Maklum, Yana baru balik setelah mondok hampir 6 tahun di pondok pesantren. Dia pasti tidak terlalu mengingat komplek perumahan ini dengan jelas. Dulu kalau pun pulang ke sini ketika hari libur, Yana jarang keluar rumah. Biasanya dia jadi putri malu di dalam rumah. Jadi wajar aja dia membutuhkan perkenalan untuk melihat-lihat komplek perumahan ini karena setelah ini dia akan menetap.


"Oh, baiklah. Kalau gitu aku pulang, yah. Assalamualaikum." Salam Sasa pamit kepada mereka semua.


"Waalaikumsalam." Mereka menjawab sambil memperhatikan punggung Sasa semakin menjauh dari pandangan mereka.


"Ya udah yuk, kita lanjutin lagi." Kata salah satu sepupu.


Yana mengangguk kalem.


"Yana maunya ke mana?"


Yana melirik rumah yang baru saja dimasuki oleh Al.


"Lurus saja. Aku ingin tahu situasi rumah di depan." Jawab Yana.


"Oh untunglah kamu ingin pergi ke sana. Di sana ada yang jualan es krim, kita bisa beli nanti saat lewat."


...*****...


Malam harinya di ruang makan. Mona makan malam bersama kedua orang tuanya dan Yana. Sepanjang makan malam mama dan ayah membicarakan beberapa berita yang baru-baru ini viral. Yana sesekali akan nimbrung dan menyampaikan pendapatnya soal berita berita tersebut.


"Ngomong-ngomong besok Yana mau tes di kampus, kan? Gimana persiapannya?" Mama mengalihkan topik pembicaraan.


Mona menyimak pembicaraan mereka. Dia juga tahu kalau pendaftaran mahasiswa baru telah dibuka tahun ini. Dan dari beberapa hari yang lalu kampus mulai agak ramai didatangi oleh calon-calon mahasiswa baru yang sedang melakukan tes evaluasi. Kebetulan besok Yana akan melakukan tes juga. Mana tahu tapi tidak banyak bicara.


"Iya, ma. Alhamdulillah, Yana sudah belajar sebisa mungkin dan sisanya Yana serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Jawab Yana positif dengan suara yang lemah lembut juga sopan.


Mama mengangguk puas. Memang setiap kali dia mengunjungi kamar putrinya dia selalu menemukan bila Yana sedang belajar atau membaca buku pelajaran yang berkaitan dengan pengetahuan medis. Semua buku-buku itu diberikan oleh Ayana untuk membantu Yana memahami tes yang akan diberikan oleh pihak kampus.


Yana sangat berterima kasih dan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk membaca buku-buku itu.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Insya Allah, usaha Yana pasti tidak sia-sia. Mama yakin Yana akan menyusul kak Ayana dan jadi dokter yang berprestasi."


Yana terus menganggukkan kepalanya sambil menatap lawan bicara.


"Dengan doa dan restu mama serta ayah, Yana percaya diri kalau Yana pasti akan lulus." Kata Yana meyakinkan.


"Oke, Mama juga percaya kok. Ngomong-ngomong besok kamu pergi sama siapa?"


Yana segera menjawab,"besok Yana ke kampus sama ayah, ma. Mama tenang aja, Yana pasti aman dan baik-baik saja sama ayah."


Mama menambahkan makanan ke dalam piring Yana.


"Okay, sekarang makan sebanyak mungkin biar kamu besok tambah semangat tesnya." Kata Mama.


Mona melihat setiap makanan yang berpindah ke piring adik angkatnya. Dia cemberut, menarik pandangannya dan kembali fokus menghabiskan makanan di atas piringnya sendiri.


Beberapa menit kemudian dia akhirnya menyelesaikan makanannya. Jujur, dia sebenarnya masih lapar. Tapi ketika melihat interaksi orang tuanya dengan adik angkatnya, Mona merasa bahwa dia sebaiknya tidak di sini. Daripada murung terus, lebih baik dia pergi ke rumah Abah untuk mencari makanan tambahan. Biasanya Azira sering menyediakan stok gorengan di kulkas. Mona ketagihan makan gorengan campur nasi, rasanya enggak kalah enak sama makanan di rumah.


"Mona selesai." Mona bangun berniat pergi.


Tapi mama buru-buru menghentikannya.

__ADS_1


"Mona, Mama minta tolong sama kamu. Malam ini piringnya Mona yang cuci, ya? Yana enggak boleh kerja dulu soalnya besok kan dia ada ujian jadi setelah selesai makan malam Yana harus balik ke kamarnya untuk lanjut belajar. Mama minta tolong sekali, ya, Mona." Beberapa hari ini Yana sering membantu di dapur entah itu membantu memasak atau membantu membersihkan dapur.


l


__ADS_2