Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 15.4


__ADS_3

Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Saat berjalan menuju ruang tempat makan, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia tidak sengaja melihat seseorang. Matanya berkedip ragu. Melangkah beberapa langkah menuju pagar pembatas, dia menyipit ragu menatap ke lantai 1. Soalnya dia melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya tengah mengobrol bersama seseorang.


"Paman?" Azira ingat kalau laki-laki itu adalah pamannya, suami dari Bibi Safa, wanita yang paling dibenci oleh Azira di dunia ini.


Bila itu laki-laki mungkin tidak terlihat aneh tapi masalahnya Paman sedang duduk bersama seorang wanita. Tidak apa-apa jika mereka hanya mengobrol biasa seperti kenalan pada umumnya, mungkin Azira tidak terlalu tertarik melihatnya. Tapi sayang sekali, Paman bertingkah terlalu intim dengan wanita itu. Mereka memiliki sikap ambigu, seolah-olah sedang kasmaran saja.


"Mas Kenzie pernah bilang kepadaku bawa aku tidak bisa menyentuh laki-laki lain selain mahram dan begitu pula mas Kenzie, dia tidak bisa menyentuh wanita lain selain mahram. Dan aku rasa setiap orang yang berilmu pasti mengerti ini, lantas kenapa Paman begitu mudahnya menyentuh tangan wanita lain di saat dia telah memiliki seorang istri di rumah?" Kening Azira semakin berkerut ketika melihat Paman memainkan tangan wanita itu seperti selayaknya pasangan kekasih.


Namun saat mengingat kejahatan yang dilakukan oleh bibi Safa kepada Ibu, Azira akhirnya memutuskan untuk menutup matanya. Dia tersenyum sinis, membayangkan betapa hancurnya kehidupan bibi Safa jika mengetahui kelakuan suaminya di luar rumah.


"Mungkin ini pembalasan dari Allah karena telah menghancurkan kehidupan Ibu. Bibi Safa, kau buat Ibuku melayani banyak laki-laki hidung belang di luar sana dan sekarang suamimu lah yang bermain dengan wanita lain di sini. Hah... Hidup ini begitu adil. Kamu memang pantas mendapatkannya. Semoga setelah kejadian ini bibirmu mulai lupa bagaimana caranya tersenyum." Ucap Azira mencibir.

__ADS_1


Dia sungguh menantikan bagaimana cerita selanjutnya. Mungkinkah mereka akan bercerai, ah.. ini kurang seru. Seharusnya Paman akan semakin menyakitinya, menghancurkan kehidupan bibi Safa dan setelah itu meninggalkan bibi Safa, persis seperti yang Ayah lakukan kepada Ibu dan Azira.


Dia sungguh sangat menantikan hari itu tiba.


"Azira?"


Azira terkejut dan sontak menoleh ke belakang. Saat melihat Kenzie berdiri di belakangnya, Azira langsung menghela nafas lega.


"Iya, mas." Azra berjalan menghampiri suaminya.


Azira tersenyum kecil, dia menggelengkan kepalanya tak berniat menceritakan apa yang baru saja dilihat tadi kepada suaminya. Biarlah keinginan egois ini hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Kenzie tidak perlu tentang keinginan serakah di dalam hatinya, karena dia tidak ingin semakin memper buruk citranya.

__ADS_1


"Aku tadi lihat-lihat orang yang ada di bawah. Cukup ramai dan menyenangkan, lain kali kita datang ke sini bersama yang lain ya, mas? Soalnya tempat ini juga asik dan nyaman untuk kumpul keluarga." Bohong Azira.


Kenzie menganggukkan kepalanya ringan.


"Yah, bisa dicoba. Ayo masuk ke dalam, pesanan kita sudah datang."


"Iya, mas."


Azira melirik ke lantai bawah, tersenyum simpul, dia lalu menyusul suaminya masuk ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan masih ada Nabil. Dia sedang memainkan ponselnya. Entah apa yang dia lihat di dalam ponselnya, tapi ekspresinya terlihat serius dan muram?

__ADS_1


Bersambung...


Bab nya masih panjang, tapi di sebelah. Kalau mau cari sambungannya, tulis aja Mahram Untuk Azira, terima kasih.


__ADS_2