Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 13.4


__ADS_3

"Pak, saya memiliki berita bagus. Apakah saya bisa datang ke tempat Bapak besok?-"


Cklak


Bibi Safa keluar dari kamar mandi dengan wajah bersih serta menyegarkan. Paman melirik ke arahnya singkat lalu kembali fokus menetapkan ponselnya.


"Baik Pak, saya rasa pembicaraan ini bisa kita bicarakan di tempat Bapak besok. Siap, terima kasih." Setelah berpamitan kepada seseorang di seberang sana dia lalu melemparkan ponselnya ke atas nakas dan beralih mengambil beberapa map yang sengaja aja dia taruh di atas kasur.


Bibi Safa bergosok rambut panjangnya dengan handuk, lalu beralih mengambil pengering rambut kepada sang suami.


Paman berdecak,"Kamu kan bisa sendiri."


Bibi Safa tidak perduli.


"Aku bisa, tapi maunya dibantu sama kamu."


Paman menggelengkan kepalanya. Mata dia tetap tertuju pada dokumen di atas paha tanpa memperhatikan perubahan ekspresi di wajah bibi Safa.

__ADS_1


"Kamu enggak liat aku lagi ngapain? Udah, aku lagi sibuk." Masih menolak sambil menatap dokumen.


Bibi Safa kehilangan senyum di wajahnya. Dia menurunkan tangannya dan menaruh alat pengering rambut itu ke atas kasur. Menaruh tangannya di pinggang.


"Aku lihat kamu lagi sibuk tapi kan ngeringin rambut aku juga enggak lama. Mas kok lebay, sih?" Kata bibi Safa menuduh.


Paman memutar bola matanya. Dia lelah menghadapi istrimu yang manja dan keras kepala.


"Aku, lebay? Apa engga salah? Jelas-jelas kamu yang lebay Safa. Suami kamu lagi sibuk kerja tapi kamu malah gangguin untuk hal-hal sepele, coba aku tanya, kalau posisi kita ditukar, apa kamu mau bantu aku nyelesein pekerjaan ini? Enggak mau, kan. Kalau gitu siapa yang lebay-"


"Mas kok bicaranya terlalu jauh. Topik kita kan enggak gitu!" Bibi Safa mengalah.


"Kalau enggak mau bantu ya sudah, aku enggak akan maksa. Lagian aku juga enggak terlalu butuh." Tiba-tiba memikirkan sesuatu.


"Ngomong-ngomong yang nelpon tadi siapa, mas?"


Paman langsung menurunkan matanya berpura-pura melihat dokumen di paha.

__ADS_1


"Kamu kira siapa lagi? Tentu saja klien ku dari luar kota. Besok aku dan dia ada pertemuan tentang proyek yang kami diskusikan sekarang. Memangnya kenapa? Tumben kamu peduli dengan pekerjaan ku."


Bibi Safa percaya apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia juga mendengar suara laki-laki dari telpon suaminya. Namun entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah. Mengapa dia merasa bila... bagaimana menjelaskannya, bibi Safa tidak terlalu paham dimana letak keanehan itu.


"Engga, cuma nanya aja." Ucap bibi Safa tidak terlalu menganggap penting perasaan aneh di dalam hatinya.


"Okay, mas bisa kerja. Aku enggak akan mengganggu."


Paman lega,"Um."


Bibi Safa melirik suaminya yang fokus membaca. Setelah memastikan suaminya sibuk, dia mengambil ponselnya dan melihat belum ada kabar dari nyonya Bara. Bibi Safa semakin kesal. Dia mengetik kata-kata kasar dan mengirimkannya ke nomor nyonya Bara. Pokoknya dia ingin semuanya harus diselesaikan sesegera mungkin.


"Kamu lagi ngapain?"


Bibi Safa terkejut dan hampir saja kehilangan ponselnya.


"Aku...aku lagi kirim pesan ke Sifa. Aku nanya dia kapan ke sini." Bohong bibi Safa.

__ADS_1


Paman,"Oh. Dia bilang apa?"


"Masih belum jawab."


__ADS_2