
Mendengar pengaturan dari Abah, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan patuh. Meskipun agak disayangkan karena dia tidak bisa menemani istrinya di awal-awal kehamilan, tapi dengan jaminan dari Abah dan Umi, dia setidaknya lega dan tidak terlalu cemas. Istrinya dikelilingi oleh orang-orang baik. Dengan adanya keluarga, suasana hati Azira pasti akan semakin membaik dan tidak terlalu stress di rumah.
"Baik, Abah. Aku lega dengan kalian di sini." Kata Kenzie.
Sasa sangat bingung. Dia melihat Abah lalu melihat ke arah kakaknya. Dari konteks pembicaraan Abah dan kakaknya, samar-samar dia menebak sesuatu. Tapi yang dia bingungkan adalah, Kenzie bekerja sebagai seorang dokter dan mana mungkin dia ikut campur dalam perusahaan keluarga?
Tidak hanya Sasa pula yang kebingungan, tapi Umi juga sama bingungnya.
"Tunggu, kakak masih bekerja di rumah sakit, kan?" Sasa menyela pembicaraan mereka.
Kenzie menyapu pandangan menatap Abah. Abah tidak bergeming dan justru balik menatapnya.
"Kakak sudah berhenti bekerja di rumah sakit, kemarin Ayana dan Fathir membantu kakak untuk mengurus surat pengunduran diri di rumah sakit." Kata Kenzie pasti.
Awalnya dia ingin mengajak Azira ke rumah sakit untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi berhubung Azira sedang tidak enak badan, maka dia terpaksa mengundurkan masalah ini karena dia tidak ingin pergi sendirian melainkan ingin datang bersama istrinya.
Namun setelah dipikir-pikir, bolak-balik ke rumah sakit tidak terlalu menyenangkan. Maka dari itu dia menghubungi sepupunya. Meminta bantuan untuk mengurus masalah pengunduran dirinya di rumah sakit. Semuanya berjalan dengan lancar. Meskipun rumah sakit agak enggan melepaskan Kenzie, tapi mereka tidak bisa berkata apa-apa karena Kenzie memiliki surat perjanjian dengan pihak rumah sakit.
"Kamu berhenti bekerja di rumah sakit? Kenapa berhenti? Oh... Apakah kamu ingin pindah kerja ke rumah sakit lain atau beralih mengambil pekerjaan Abah di perusahaan?" Sebelum Sasa bertanya lebih jauh lagi, Umi membuka mulutnya untuk menanyakan berbagai macam hal.
Soalnya dia sudah lama merayu putranya untuk berhenti bekerja di rumah sakit dan beralih mengambil pekerjaan di kantor. Berkali-kali dia mencoba hasilnya tetap mengecewakan. Kenzie selalu bilang bahwa dia menyukai pekerjaan yang sekarang dan tidak memiliki rencana untuk berhenti.
Umi sangat kesal dan pusing setiap kali membicarakan masalah pekerjaan ini dengan putranya. Kenzie tidak pernah mau mendengarkannya. Tapi sekarang dia tiba-tiba berhenti, dia senang dan juga penasaran disaat yang sama. Dia heran apa yang membuat putranya berhenti bekerja di rumah sakit itu.
"Iya, Umi. Aku sudah berhenti bekerja kemarin. Ayana dan Fathir yang membantuku untuk mengurus surat pengunduran diri di rumah sakit. Awalnya aku akan pergi sendiri bersama Azira. Namun Umi melihat sendiri kan kalau keadaan Azira kemarin sedang tidak enak badan, alhasil aku meminta bantuan mereka berdua. Kemudian mengenai pertanyaan Umu apakah aku akan mencari pekerjaan ke rumah sakit lain atau tidak, jawabannya sudah pasti enggak, Umi, karena aku sudah bekerja di perusahaan Abah." Dengan sabar Kenzie menjawab satu persatu pertanyaan Umi.
Sejujurnya dia merasa geli melihat wajah semeringah Umi karena dia tahu bahwa Umi telah lama menunggu dirinya berhenti bekerja sebagai dokter. Selain tidak menyukai pekerjaan dokter yang suka pulang tidak tepat waktu, Umi juga mengkhawatirkan perusahaan Abah.
Bukan tanpa alasan dia mengkhawatirkannya. Perusahaan Abah adalah perusahaan yang Abah bangun dengan susah payah. Umi tidak rela melepaskan keringat Abah kepada orang lain, karena dia tahu betul bagaimana sulitnya Abah mempertahankan perusahaan ini.
"Serius, Nak?" Umi sangat senang mendengarnya.
Kenzie menganggukkan pasti.
"Kalau Umi tidak percaya, tanya saja ke Abah."
Semua orang langsung melihat ke arah Abah.
Abah berdehem ringan,"Apa yang dikatakan oleh Kenzie memang benar. Sebenarnya sebelum mengundurkan diri dari rumah sakit, Kenzie sudah lama bekerja di perusahaan. Tapi statusnya di perusahaan hanyalah sekretarisku. Aku sengaja menempatkannya sebagai sekretaris di sampingku agar bisa melatihnya dan menghandle perusahaan bila sewaktu-waktu aku pensiun. Dan alhamdulillah beberapa bulan yang lalu, tepatnya 1 bulan yang lalu sebelum Kenzie menikah dengan Azira, dia berhasil menggantikan ku sebagai CEO setelah bertahun-tahun magang."
Umi dan yang lainnya terperangah kaget. Bahkan Azira pun tidak menyangka kalau suaminya memiliki dua pekerjaan dalam satu waktu.
"Bagaimana bisa.." Umi bingung harus mengatakan apa.
"Tentu saja bisa. Sebenarnya Kenzie sudah mengundurkan diri dari rumah sakit tempatnya bekerja sebelum dia menggantikan posisiku di perusahaan. Tapi direktur rumah sakit melarang dan meminta Kenzie untuk bertahan. Karena hal inilah dibuat kesepakatan dengan pihak rumah sakit bahwa Kenzie bukan lagi pekerja rumah sakit melainkan seorang 'tamu' yang datang membantu rumah sakit. Dan memang kesepakatan ini hanya bertahan beberapa bulan, tepatnya berakhir bulan ini sehingga Kenzie bisa mengundurkan diri tanpa intervensi dari pihak rumah sakit." Saat menjelaskan hal ini kepada keluarganya, Abah merasa bersalah kepada istrinya.
__ADS_1
Pasalnya Umi selalu merayu Kenzie untuk berhenti bekerja di rumah sakit dan bergegas mengambil alih perusahaan namun selalu ditolak oleh Kenzie. Padahal Kenzie sudah lama bekerja di perusahaan sebagai sekretarisnya dan kini beralih memegang posisinya sebagai CEO. Abah juga tidak mau merahasiakan masalah ini, tapi karena situasi Kenzie yang tidak mendukung, dia terpaksa merahasiakannya.
"Apa?!" Umi kali ini bukan terkejut lagi, tapi marah.
Bisa-bisanya rahasia sebesar ini disembunyikan darinya.
Leher Abah menciut ketakutan,"Abah nggak ada maksud menyembunyikan masalah ini dari Umi. Seperti yang Abah bilang tadi, situasi Kenzie benar-benar tidak mendukung sehingga kami berdua memutuskan untuk merahasiakannya dari semua orang. Tapi lihat hasil akhirnya, Abah akhirnya berhasil menarik Kenzie ke perusahaan kita. Tidak hanya menariknya, tapi Abah juga berhasil melatihnya selama bertahun-tahun sehingga perusahaan tetap berjalan normal sekalipun Abah telah mengundurkan diri."
Biasanya Umi yang takut kepada Abah karena jarang sekali Abah membuat masalah di rumah. Abah memiliki kesan yang sangat luar biasa di dalam keluarga. Bagi keluarga dia adalah panutan, orang yang selalu berpikir bijak dan pandai membuat keputusan. Azira pun berpikir demikian. Tapi baru sekarang dia melihat betapa penakutnya Abah di depan Umi. Pemandangan ini terlalu familiar untuk dirinya. Benar, penampilan Abah begitu mirip dengan Kenzie yang suka memelas meminta maaf. Memikirkannya membuat Azira tanpa sadar tertawa.
"Oh.." Dia membeku ketika tertangkap basah oleh Kenzie.
Kenzie terkekeh.
Azira malu. Dia lalu mengalihkan pandangannya berpura-pura fokus memperhatikan Abah dan Umi. Padahal jantungnya saat ini sedang membuat berpacu cepat gara-gara melihat wajah tampan suaminya sedang tersenyum. Suaminya sudah tampan, apalagi kalau sudah tersenyum, Azira serasa dibawa melayang olehnya. Dia tidak tahan dengan godaan ini.
"Apapun situasi Kenzie, harusnya Abah ngomong dulu sama Umi. Dan kenapa Abah selalu diam melihat Umi berdebat dengan Kenzie membahas tentang masalah pekerjaannya. Kalau Abah mengatakannya lebih dulu kepada Umi, buat apa Umi bersusah payah mendesak Kenzie untuk segera membantu Abah di kantor?! Belum lagi hari-hari yang Umi habiskan untuk memikirkan pekerjaan Kenzie, gara-gara pekerjaan Umi sampai pusing memikirkannya tapi Abah malah asik-asikan menyembunyikan masalah ini dari Umi? Abah tega!" Ucap Umi tidak puas.
Kalau Abah sudah mengatakan sebelumnya, maka mungkin Umi tidak perlu bingung lagi dan merasa pusing sendiri memikirkan cara untuk menarik Kenzie ke kantor. Tapi lihatlah apa yang Abah lakukan untuknya?
Umi murka.
"Abah-"
"Umi nggak mau dengar penjelasan apapun lagi dari Abah. Toh, fakta bahwa Abah menyembunyikan masalah ini bertahun-tahun lamanya adalah bukti valid jika Abah tidak menganggap Umi serius!" Umi memotong ucapan Abah kesal.
Kenzie bukannya tidak mau membantu Abah. Dia takut sama Umi. Karena kalau Umi sudah marah, tak ada satupun orang di rumah ini yang bisa menghadapinya. Bahkan dia sendiri pun tidak bisa. Makanya dia mencari aman dan dengan berat hati meninggalkan Abah di medan perang sendirian.
"Ayo pergi, Abah dan Umi butuh tempat untuk 'berbicara'." Kenzie buru-buru mengambil Azira dan menyeret istrinya pergi ke ruang makan.
Sebelum pergi dia tidak lupa mengambil bubur istrinya. Melihat kakak dan kakak iparnya pergi, Sasa juga tidak mau ketinggalan. Dia mengambil bubur dan kue lupis di dalam kantong kresek berniat segera pergi.
"Umi, Abah, aku pergi ke kampus dulu, ya? Assalamualaikum.." pamitnya sembari mencium punggung tangan Abah dan Umi.
Abah mengangguk lemah membiarkan putrinya pergi, sementara Umi masih sibuk mengoceh dan tidak terlalu memperhatikan putrinya pergi.
"Ayo sarapan sebelum buburnya dingin." Kenzie mengambil mangkuk sama sendok di dapur.
Kembali ke meja dan membantu istrinya menyajikan bubur. Porsi buburnya banyak. Kenzie sengaja beli banyak biar bisa dimakan dua orang. Tujuannya sih semangkuk berdua. Selesai menyajikan bubur, dia mengambil piring biasa untuk menaruh gorengan hangat yang dia beli tadi. Tidak ada pastel kesukaan istrinya karena tidak dijual. Tapi untungnya masih ada risoles dan tahu isi. Jadi dia membeli beberapa untuk dibawa pulang. Selain gorengan dia juga membeli kue lupis dan kue serabi, masih hangat. Cocok untuk sarapan.
"Butuh yang lain?" Suaminya iseng bertanya.
Azira menganggukkan kepalanya serius.
"Aku juga mau makan buah, mas. Abah bilang tadi malam dia membeli beberapa buah yang masih segar. Mas Kenzie tolong ambilin, ya?" Azira mau bermanja-manja.
__ADS_1
Kenzie mengangguk. Buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil buah. Sebelum membawanya ke Azira, pertama-tama dia mencuci buah-buahan itu dan menyiapkan pisau buah, selanjutnya membawa buah-buahan itu ke meja makan.
"Sudah, kamu butuh apa lagi?" Tanya Kenzie siaga.
Azira memandangi makanan di atas meja, menurunnya ini sudah lebih dari cukup.
"Cukup, mas. Ngomong-ngomong terima kasih, ya."
Kenzie tersenyum lembut,"Apapun untuk kamu." Duduk di kursi, dia mendorong mangkuk bubur di hadapan istrinya.
"Ayo sarapan." Katanya.
Azira melihat ke arah ruang tamu. Umi dan Abah masih belum beranjak dari tempat itu. Mereka mungkin belum menyelesaikan pembicaraan.
"Abah sama Umi?"
Kenzie tidak terlalu memikirkan pasangan mesra itu.
"Bila pembicaraan mereka sudah kelar, ujungnya juga bakal ke sini. Udah, kamu makan aja. Umi sama Abah pasti langsung ke sini setelah selesai." Suaminya menghibur.
Azira tidak enak hati. Tapi karena suaminya sudah mengatakan begitu, maka dia tidak akan menunggu lagi. Toh, pertengkaran di dalam rumah tangga itu merupakan hal biasa.
"Okay, mas juga makan, ya." Azira menggeser mangkuk di antara mereka berdua.
Kenzie tersenyum lebar. Justru inilah yang dia harapkan makan bersama.
"Nanti siang kita ke rumah sakit ya untuk cek kandungan sambil ambil barang-barang ku di sana?"
Surat pengunduran sudah di tandatangani, Kenzie tinggal mengambil barang-barangnya yang tertinggal di bekas ruangannya.
Sebenarnya bisa-bisa saja dia meminta sekretarisnya. Tapi karena dia menghormati privasi pasien yang pernah dia tangani, dia ingin membereskan barang-barang itu sendiri dan menyerahkannya langsung ke rumah sakit. Sebab setelah hari ini dia tidak akan pernah kembali menggeluti bidang dokter lagi.
"Iya, mas. Aku penasaran usia kandunganku sudah berapa lama. Mungkin satu atau dua minggu?"
"Atau sudah 1 bulan?" Kenzie benar-benar memikirkannya.
Azira menyipitkan matanya.
"1 bulan?" 1 bulan yang lalu mereka berdua berbulan madu ke puncak bersama keluarga besar.
Dan yah ada banyak kenangan manis mereka berdua selama berbulan madu di sana.
"Ya, aku yakin hari itu aku berhasil." Katanya penuh makna.
Diam, dia mencerna apa yang dimaksud oleh suaminya sampai akhirnya dia teringat dengan kenangan di pemandian hangat. Wajahnya langsung terasa panas!
__ADS_1
Buru-buru dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Padahal percuma saja melakukan itu karena Kenzie masih bisa melihat rona pipi kanan Azira.