Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 20.7


__ADS_3

Nada bicaranya seolah-olah orang yang dia banggakan adalah anaknya sendiri, dan bukan orang lain. Tanpa lelah ataupun memberi jeda mulutnya terus membicarakan kelebihan Amara, kebaikan Amara, dan betapa tinggi moral yang dimiliki oleh Amara. Berbanding terbalik dengan Azira. Di dalam mulut wanita itu, nama Azira sangat kotor. Dari nada bicaranya Azira seperti berhutang banyak uang kepadanya, penuh akan kesalahan dan dosa, tidak berlebihan jika wanita ini menganggap bahwa Azira adalah wanita ular, hatinya kejam dan penuh kelicikan.


"Amara tidak suka menggunakan kekuasaan walaupun dirinya ditindas. Tapi berbeda dengan Azira. Dialah yang mencelakai orang tapi dialah yang merasa dirugikan. Cek..cek, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kenzie mempertahankan wanita seperti itu. Jelas kualitas Amara jauh lebih baik daripada Azira. Amara kami berasal dari keluarga baik-baik, dibesarkan dengan pendidikan yang baik pula, dan memiliki moralitas yang tinggi. Bonus dari semua itu dia memiliki penampilan yang sangat cantik dan murah senyum, dia selalu terbuka kepada siapapun tidak memandang asal ataupun latar belakang. Selain memiliki penampilan yang sangat baik, Amara kami juga sudah bekerja. Dia memiliki karir yang sangat melejit. Sukses di luar negeri tidak membuatnya lupa akan tanah air. Dan seperti yang aku katakan tadi, di akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia dan mulai karir di sini. Berharap dengan berpartisipasi di sini, fashion Indonesia lebih dilirik lagi di luar negeri."


Wanita itu seperti mengobral sebuah barang. Terus menerus mengatakan kelebihannya tanpa mengucapkan kelemahannya. Sebenarnya ini sangat lucu. Saking lucunya, Arian tidak bisa tertawa sama sekali dibuatnya.


"Apakah kamu sudah selesai berbicara?" Kali ini wanita itu berhasil membuatnya lepas kendali.


Dia berbicara tidak lagi dengan nada formal yang resmi.


Wanita itu santai.


"Ahhh... Aku lupa mengatakan sesuatu. Ada satu hal yang membuat posisi Azira lebih rendah dari Amara kami, yaitu Amara kami pernah menyelamatkan nyawa Kenzie saat tenggelam di dalam kolam! Ini adalah bukti nyata bahwa Amara kami selalu menggunakan hati sementara Azira telah kehilangan hatinya sejak lama. Hah, sebagai teman Kenzie, aku sangat berharap dia menikah dengan Amara daripada mempertahankan wanita licin itu." Ucap wanita itu arogan dengan semangat berapi-api.


Dia ingin menunjukkan kepada Arian bahwa Amara adalah wanita berkualitas yang sangat langka sekarang. Selain itu dia juga secara terang-terangan mengatakan bahwa Kenzie lebih pantas bersanding dengan Amara daripada Azira. Membuat ekspresi Arian semakin dingin. Entah kenapa Arian gatal ingin menjambak rambut Tarzan wanita itu karena tidak tahan dengan mulut busuknya.


"Apakah kamu sudah selesai?" Tanya Arian menahan amarah di dalam hatinya.


Dia bersyukur karena bukan Kenzie lah yang berhadapan dengan wanita itu. Kalau tidak, wanita itu mungkin terancam tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


"Tentu saja tidak. Masih banyak kelebihan yang dimiliki oleh Amara kami. Bila kamu ingin tahu tanyakan saja kepada Kenzie. Aku yakin dia tahu banyak tentang Amara kami. Hem, mungkin dia lebih tahu tentang Amara daripada istrinya sendiri, bukankah ini sangat lucu?" Wanita itu tertawa mengejek.


Masih ingin merendahkan Azira. Sejujurnya wanita mana yang tidak cemburu melihat Azira bisa hidup dengan nyaman bersama Kenzie?


Azira adalah wanita yang curang. Dia berasal dari tempat kotor dan merebut Kenzie dengan cara yang curang, namun mengapa setelah semua kecurangan yang dia lakukan, dia masih bisa tertawa dan hidup bahagia di rumah Kenzie. Ini sungguh tidak adil bagi mereka yang berasal dari keluarga baik-baik namun berjuang untuk mendapatkan orang seperti Kenzie.


Sungguh sangat tidak adil.


"Apakah kamu bertanya lucu, maka jawabannya tentu saja tidak." Wanita itu mengangkat bahunya tidak peduli. Dia jauh lebih santai dan nyaman sekarang setelah puas menjelek-jelekkan nama Azira.


"Nyonya, karena kamu menolak bekerja sama, tuanku telah menitipkan sesuatu kepadamu. Menurutku ini lebih lucu dari cerita kamu. Jadi tolong dengarkanlah." Arian mendorong ponselnya ke depan wanita itu.


Wanita itu menatap ponsel Arian dengan rasa ingin tahu. Dia bertanya-tanya apa yang Kenzie ingin tunjukkan kepadanya. Mungkinkah itu rekaman video?


Tapi sepertinya tidak karena layarnya mati. Lalu mungkinkah itu sebuah rekaman?


Tak berselang lama sebuah suara yang tidak asing lagi terdengar dari speaker ponsel, tepat waktu menjawab rasa ingin tahu wanita itu.


"Azira, apakah ada yang bisa ku bantu?" Ini adalah suara Amara ketika memasuki dapur.


Mendengar rekaman suara ini, ekspresi wanita itu langsung berubah. Wajahnya tiba-tiba kehilangan warna, bibirnya memucat seolah-olah kehabisan darah.


Diam membeku, wanita itu menatap terpaku ponsel di depannya yang sedang memutar sebuah rekaman.


"Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu beberapa menu matang saja lalu sisanya bisa segera dihidangkan." Suara lembut dan tegas Azira terdengar dari dalam ponsel.


Azira seperti suaranya, dia adalah wanita yang lembut tapi pada saat yang sama tegas. Dan poin yang paling penting adalah Azira tidak suka mencampuri urusan orang lain, Arian diam-diam mengacungi jempol istri tuannya itu.


"Woah, wanginya sangat harum. Ini pasti rasanya sangat lezat." Suara Amara menyahut.

__ADS_1


Arian tidak terlalu mendengarkannya karena dia telah berkali-kali mendengar rekaman ini. Fokusnya saat ini tertuju pada perubahan setiap ekspresi di wajah wanita itu. Ini sangat menarik. Sama seperti sedang menonton badut di pinggir jalanan, perasaan Arian ketika menatap wanita itu tidak jauh berbeda.


"Apakah aku boleh mencicipinya?"


Nah, ini adalah titik kuncinya. Bahwa Amara sendiri yang ingin mencicipi makanan tersebut dan bukan atas inisiatif Azira, apalagi sampai memaksa Amara untuk memakannya, Azira tidak pernah melakukan itu.


"Boleh, ini baru saja matang. Karena udangnya besar-besar aku memutuskan untuk membuat udang asam manis, jadi tidak terlalu pedas dan cocok untuk orang yang tidak suka pedas." Terdengar suara piring digeser dari rekaman suara.


Dalam diam wanita itu membayangkan kejadian itu di kepalanya. Azira dengan polosnya menggeser piring itu ke depan Amara. Sepanjang Azira melakukan itu, wanita itu hanya diam membisu menonton dari samping. Seolah-olah sedang menunggu lelucon datang.


"Terima kasih, aku akan mencobanya." Amara sendiri yang berinisiatif mencoba makanan itu.


Dia yang bertanya duluan dan dia pula yang mengajukan diri duluan, sungguh permainan yang bagus. Tak butuh 1 menit kemudian, terdengar suara pecahan piring dari dalam rekaman.


Prang!


Dan disusul oleh teriakan nyaring wanita itu.


"Amara!"


Sampai di sini Arian langsung menghentikan rekaman karena dialog selanjutnya akan mengulangi rasa sakit Azira. Kenzie sendiri meminta agar rekaman setelah itu dihapuskan. Sebab dia sangat menyesal telah membentak Azira.


"Bagaimana pendapat nyonya dengan rekaman ini?" Tanya Arian kembali menggunakan nada formal.


Namun wanita itu hanya diam membisu tak berkutik di tempat.


Senyum Arian semakin lebar.


Poin-poin ini Kenzie sendiri yang menulis khusus untuk wanita ini. Selama menulis Kenzie tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata, Arian tahu bila diamnya Kenzie saat itu adalah bentuk kemarahannya yang terpendam.


"Aku.... Dari mana kamu mendapatkan rekaman ini?" Tanya wanita itu berkeringat dingin.


Kedua tangannya bahkan gemetar ketakutan memikirkan konsekuensi apa yang akan didapatkan bila masalah ini dibawa ke meja hijau. Dia tidak mau masuk penjara, dia tidak ingin menjadi narapidana. Namun apa yang harus dia lakukan?


Buktinya sudah ada. Entah dari mana mereka mendapatkannya. Seingat wanita itu, di villa tidak ada CCTV ataupun alat perekam, jadi dari mana Arian mendapatkan rekaman ini?


Mungkinkah Azira yang sengaja merekamnya?


Tidak, itu tidak mungkin dia. Seingat ku selama berada di dalam dapur Azira tidak pernah memainkan ponselnya. Tidak hanya tidak memainkan ponsel, tapi memegang ponselnya saja tidak pernah. Dia selalu fokus memasak dan sesekali ku perhatikan matanya akan memandang ke arah jendela luar untuk melihat Kenzie. Tunggu, kalau bukan Azira yang merekam, lalu dari mana laki-laki ini mendapatkan rekaman itu? Batin wanita itu berputar-putar.


Arian sama sekali tidak peduli dengan kualitas psikologis wanita itu. Yang perlu dia selesaikan sekarang adalah menyelesaikan tugas yang tuannya berikan. Yah, sesekali menggertak wanita itu untuk melampiaskan amarahnya tadi ketika mendengar istri tuannya dijelek-jelekkan.


"Nyonya tidak perlu tahu dari mana kami mendapatkan rekaman ini. Yang perlu nyonya tahu adalah kami memiliki rekaman ini sebagai bukti di tangan kami, jadi mohon kerjasamanya. Bila nyonya tidak mau bekerja sama, maka tidak masalah. tuanku berkata bahwa aku tidak boleh memaksa nyonya untuk bekerja sama. Karena kami masih memiliki opsi lain untuk menyelesaikan kasus ini. Tentu saja opsi itu melibatkan nyonya juga. Tergantung apakah nyonya masih menyayangi keluarga nyonya atau tidak, masalah ini bisa diselesaikan dengan cara apapun." Implikasi dari kata-kata Arian adalah jika wanita itu menolak bekerja sama maka mereka bisa melaporkan masalah ini ke polisi sehingga wanita itu dijebloskan ke dalam penjara. Dengan kata lain mendekam di dalam penjara berarti berpisah dari keluarga. Ini bukan sekedar ancaman, melainkan kesungguhan Kenzie terhadap masalah ini.


Wajah wanita itu cemberut. Dia berkata tidak akan memaksa, tapi apa yang tersirat dari kata-katanya justru memaksanya untuk bekerja sama.


Untuk sejenak wanita itu bimbang. Bertanya-tanya kerjasama apa yang diinginkan oleh pihak Arian.


"Kerja sama apa yang kamu butuhkan dariku." Tanya wanita itu lemah.

__ADS_1


"Kebenarannya, tentu saja, nyonya." Kenzie hanya menginginkan kebenaran.


Saat berbicara Arian mengotak-atik ponselnya sebentar dan kembali meletakkannya di atas meja. Wanita itu sama sekali tidak menyadari gerakannya. Kepalanya sekarang dipenuhi oleh janji-janji Nabil kepadanya dan suami.


Jika mereka berhasil, maka mereka akan mendapatkan suntikan dana dari Nabil.


Meneguk ludahnya kasar. Wanita itu mencoba bernegosiasi untuk menyelamatkan usaha kecil suaminya.


"Bagaimana... Bagaimana jika begini. Aku akan mengatakan semuanya tapi dengan syarat.." menelan ludahnya gugup, dia melanjutkan lagi ucapannya,"Kenzie harus memberikan ku uang...tidak banyak...ini hanya untuk menutupi kurangnya dana di dalam bisnis suamiku. Kenzie... Kamu tahu kan kalau Kenzie adalah orang kaya. Dia pasti memiliki banyak uang. Apalagi kami berteman-"


"Nyonya," Potong Arian lucu,"kamu terlalu menganggap tinggi dirimu sendiri. Memangnya teman mana yang ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga temannya sendiri? Nyonya, Anda bukan siapa-siapa bagi tuanku. Kami tidak akan pernah memberikan uang sepeser pun kepada pihak Anda. Bahkan sekalipun nyonya menolak untuk bekerja sama, kami bisa melakukan opsi lain untuk menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun juga kami memiliki bukti di tangan." Ucap Arian tidak memberikan wajah sedikitpun untuk wanita itu.


Enak saja meminta uang. Tanpa wanita itu mau bekerja sama pun mereka bisa saja menjebloskan wanita ini ke dalam penjara dan dengan begitu masalah selesai. Tapi wanita ini ngelunjak. Padahal faktanya dia berada di posisi yang kalah.


"Aku... Aku sungguh tidak bermaksud begitu. Aku melakukan itu demi kebaikan Kenzie sendiri. Karena kami berteman, pastinya aku berharap bila dia hidup bahagia bersama orang yang tepat." Wanita itu berkilah, membuat alasan untuk menutupi rasa malunya.


Mendengar apa yang dia katakan Arian lantas tertawa.


"Baiklah, jika kamu merasa kalau Amara adalah wanita yang tepat, maka minta saja uang kepadanya. Bukankah dia adalah wanita yang baik? Karirnya gemilang? Dan dia juga wanita yang bermurah hati, jadi minta saja kepadanya. Mungkinkah seorang teman tidak bisa membantu temannya sendiri?" Ucap Arian sarkas.


Sebelumnya wanita itu terus menerus menyanjung Amara. Dari barat ke timur, selatan ke utara, seolah-olah dari segi manapun Amara adalah wanita yang baik. Wanita berkualitas yang langka?


Hehehe....


Arian meragukannya.


"Itu...itu sangat memalukan." Wanita itu malu.


Arian pura-pura terkejut,"Kenapa? Beberapa saat yang lalu kamu mengatakan kalau Amara adalah wanita berkualitas yang sangat langka sekarang, jadi mintalah uang kepadanya, jangan kepada kami. Karena apapun yang kamu katakan, kami tidak akan pernah memberikan kamu yang sepeserpun. Adapun balasan untuk semua kata-katamu yang telah menjelekan nama baik istri tuanku, aku punya cara untuk melakukannya sendiri. Jadi sekarang buatlah pilihan. Bekerja sama atau tidak. Dalam hitungan ketiga, nyonya yang terhormat, kamu harus segera menjawab." Arian berbicara dengan nada acuh tak acuh.


"Aku akan memikirkan-"


"1." Ucap Arian mulai menghitung.


Wajah wanita itu panik. Dia menggigit bibirnya berpikir keras mencoba melobi Arian.


"2 detik telah berlalu." Arian mengingatkan dengan murah hati.


Mengepalkan tangan kuat. Wanita itu menutup mulutnya membuat keputusan.


"3 detik telah berlalu, nyonya-"


Tepat setelah Arian berbicara, wanita itu pun berkata,"Aku akan mengatakan semuanya."


Arian tersenyum lebar. Wajah dinginnya segera menguap digantikan oleh ekspresi ramah dan sopan pasar pertama kali pertama tadi. Dia seperti orang yang berbeda karena sikapnya yang dingin sangat bertolak belakang dengan penampilannya yang ramah ini.


"Kalau begitu masalah selesai." Ucap Arian dalam suasana hati yang baik.


Jari telunjuknya memperbaiki letak kacamata di pangkal hidung.

__ADS_1


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi." Tanyanya memulai obrolan serius.


__ADS_2