
Kenzie mengecup pipi Azira cepat,"Itu karena aku kangen kamu, sayang. Waktu ngeliat kamu di sana tadi maunya sih terbang, tapi sayang banget aku enggak punya sayap jadi mau enggak mau aku usaha dengan kedua kaki fana ini."
Azira memutar bola matanya mendengar gombalan suaminya lagi. Tapi dia suka, pokonya apapun yang suaminya bilang tentang mereka berdua, Azira pasti suka!
Telapak tangan Kenzie tiba-tiba merasakan sesuatu. Dia berseru kaget sambil menatap lurus perut Azira yang agak membuncit karena pertumbuhan anak mereka.
"Allahuakbar, sayang! Anak kita bergerak? Apakah kamu merasakannya? Tuh...tuh.." Telapak tangan Kenzie merasakan pergerakan di dalam.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, wajah Azira langsung memerah karena malu. Tangannya gatal ingin mencubit bibir suaminya. Antara mau nangis atau ketawa, Azira enggak tahu bagaimana mengekspresikan rasa malunya sekarang. Dan dia juga enggak tahu Kenzie sedang bercanda atau tidak karena ekspresi kaget diwajahnya sangat alami.
"Mas...itu bukan bayi kita tapi perut aku yang kelaperan. Lagian usia kandungan aku masih muda, baru 1 bulan. Mana mungkin bayi kita gerak-gerak umur segitu. Mas Kenzie sebenarnya dokter apa bukan, sih?" Tanya Azira gemas.
Pagi-pagi dia udah merasa lapar. Biasanya jam segini dia tidak terlalu lapar atau memikirkan makanan. Tapi hari ini setelah sholat subuh dia tiba-tiba merasa lapar dan sempat makan sesuatu di dapur tadi untuk mengganjal perutnya.
"Oh...itu bukan anak kita, yah." Telinga Kenzie menghangatkan karena malu.
Azira merasa lucu. Apa yang Umi bilang ternyata benar pikirnya. Kenzie biasanya berpikir jernih dan bijak, tapi kalau sudah bersangkutan sama perasaan, Kenzie suka lupa diri dan tanpa sadar bertindak konyol. Contohnya seperti sekarang.
"Iya, mas." Azira ikut tersenyum.
Kenzie mengelus pinggang Azira pelan sambil menariknya berjalan ke arah penjual bubur. Para ibu-ibu sudah berdiri di sana. Mereka mengantri membeli bubur atau kue-kue jadul yang dijual.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa sekarang?"
Biasanya kalau baru hamil bawaannya mual terus sehingga makanan sulit masuk. Makanya Kenzie sempat khawatir kemarin. Tapi syukurlah hari ini Azira belum memiliki fase ini dan masih bisa menerima makanan.
Azira melihat semua makanan dari jauh dan langsung ngiler.
"Makan yang mana saja boleh, mas." Memikirkan sesuatu, dia tiba-tiba menoleh menatap wajah tampan suaminya yang menawan.
"Hem?" Kenzie balik menatapnya istrinya.
Mata istrinya berbintang tampak manis dan imut di matanya.
"Nanti habis sarapan mas Kenzie masakin aku makanan, yah?" Azira memohon.
Hati Kenzie melembut.
"Mau dimasakin apa?" Padahal hari ini dia masuk kerja.
Tapi karena istrinya mau dimasakin, enggak apa-apa telat sebentar saja. Palingan setengah jam, masakannya selesai.
Azira tersenyum manis tampak tidak berbahaya,"Rendang, mas."
__ADS_1
Nafas Kenzie langsung tertahan.
"Rendang?" Tanyanya tak yakin.
Senyum Azira meredup.
"Kenapa? Mas Kenzie enggak mau?"
Kenzie langsung membantah.
"Enggak kok, buat rendang mah gampang. Habis sarapan nanti langsung aku buatin, yah?" Kenzie memaksakan senyum.
Buat rendang berjam-jam lamanya, alamat tak bisa pergi ke kantor. Selain itu membuat rendang tidak main-main sulitnya karena membutuhkan berbagai macam bumbu yang asing untuk Kenzie.
Ah, ada bumbu instan?
Kenzie langsung menolak mentah-mentah. Dia dengan suara bulat menolak karena kurang sehat!
"Mas Kenzie enggak pergi kerja?" Azira ragu-ragu.
Entah sadar atau tidak, saat ini Azira tampak agak manja ketika berbicara dengannya.
__ADS_1
"Aku bosnya, bisa datang kapan saja. Kamu enggak usah khawatir." Tapi di dalam hati Kenzie berdoa agar asistennya tidak marah lagi karena hari ini, untuk yang kesekian kalinya dia mengambil cuti demi Azira.