
"Kau mungkin bisa menginjak-injak ku sekarang, tapi suatu hari nanti..aku akan membalas apa yang telah kau lakukan padaku. Dan aku juga tidak lupa orang yang dengan kejam menyakiti Ibuku selama ini adalah kamu, bibi Safa ku yang terkasih." Gumamnya penuh kebencian bercampur muak.
Lalu ia dengan dingin membawa langkahnya menjauh dari tempat ia berdiri tadi. Tidak langsung masuk ke kamar, ia terlebih dahulu menyempatkan diri untuk mengambil sepiring nasi hangat beserta lauknya yang menggunggah selera. Ia tidak bisa makan satu meja dengan mereka karena Azira tahu, bibi Safa pasti akan mempermalukannya di depan semua orang lagi.
Maka hal terbaik yang ia bisa lakukan adalah menyelamatkan diri sambil berpikir peluang mana yang akan ia lakukan untuk menghancurkan mereka. Ia sudah tidak tahan tinggal di sini dan ingin segera pergi ke luar kota untuk memulai kehidupan baru dan melupakan semua ini.
Ia sudah tidak sabar.
"Non Azira kok udah makan aja, gak mau ikut gabung sama yang lain nantinya?" Tiba-tiba seorang wanita dewasa berpakaian sederhana mendekatinya. Wanita itu tidak sendiri karena ada wanita yang berpenampilan sama juga di sampingnya.
Menggeleng pelan, "Besok malam aja makan barengnya." Jawab Azira singkat sambil membawa piring makanannya kembali ke kamar.
"Dia kan orang kampung jadi gak bisa lihat makanan enak dikit aja diembat, lagian dia juga bukan majikan resmi kita kok. Cuma-"
"Khus! Kamu teh gak boleh bilang gitu. Nanti kalo di dengar sama dia terus kamu dilaporkan ke tuan besar, bagaimana? Mau kamu di usir jadi gelandan-"
Dan seterusnya, Azira tidak ingin lagi mendengarnya.
Bodoh memang, mereka begitu bodoh. Bagaimana bisa ia tidak mendengar percakapan mereka jika suaranya saja bukan lagi disebut bisik-bisik. Apalagi kamarnya dan dapur begitu dekat, bahkan tadi saja Azira masih belum sempat masuk ke kamarnya, dia bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
Namun Azira tidak mau ambil pusing dengan mereka berdua yang bukan siapa-siapa di sini. Ia tidak ingin membuat masalah dan berakhir memutuskan mata pencaharian mereka.
Ia tahu betapa sakitnya mencari makan maka dari itu biarkan saja, toh Azira juga tidak akan perduli.
Setelah mengunci pintu kamarnya, Azira tidak perlu menunggu lama untuk melahap habis makanannya. Dan benar seperti yang mereka bilang makanan ini begitu lezat dan menggunggah selera, Azira menyukainya.
Setelah menghabiskan makanannya, Azira tidak langsung mengantarkan piring bekasnya ke dapur. Ia duduk sebentar termenung menatap jendela yang menampilkan halaman belakang rumah yang tidak begitu gelap.
Sesekali angin yang menderu ringan menerpa pepohonan yang berdiri kokoh. Meniup pohon-pohon itu dengan belaian ringan sehingga pohon-pohon itu bisa mengayun tanpa terganggu.
Begitu terbiasa.
__ADS_1
"Aku ngantuk.." Ia menguap lelah, menandakan bahwa ia sudah mulai mengantuk.
Menjatuhkan dirinya di atas ranjang, perlahan mata persik yang bersinar gelap itu menutup matanya lelah.
Meniadakan sinar apapun yang masuk ke dalam mata dan menggantikannya dengan kegelapan yang tidak berujung.
...🍒🍒🍒...
"Dia sudah makan duluan?" Bibi Safa terlihat begitu geram dengan kelakuan anak haram itu, sangat tidak sopan dan tidak tahu malu.
"Benar nyonya, non Azira sudah makan malam duluan magrib tadi." Lapor salah satu pembantu yang sempat menegur Azira beberapa waktu lalu di dapur.
Berdecak kesal, "Dasar sampah, betapa tidak sopannya ia mendahului kita sebagai pemilik rumah. Sebenarnya pendidikan akhlak apa yang Ibunya pernah ajarkan kepada dia sehingga bisa bertindak seperti ini?" Kesal bibi Safa tidak bosan-bosannya mengumpati Azira.
Dia sangat tidak menyukai anak haram itu dan lebih terganggu lagi setiap kali mengingat bila anak haram itu kini tinggal di rumah ini.
"Benar nyonya, padahal sebelumnya kami sudah mengingatkan non Azira agar menunggu yang lain tapi dia bilang tidak mau dan langsung mengambil makanan yang ada di atas meja semaunya." Lapor pembantu yang lain berbohong. Dia jelas tidak menyukai Azira karena terlahir dari rahim perempuan yang tidak baik.
Sekalipun dia adalah darah daging tuan besar, ia masih berpikir bila Azira tidak pantas masuk dan bergabung dengan keluarga ini, alasannya itu karena ia kotor dan berbau na'jis.
"Hentikan Safa, ia adalah keluarga kita sekarang." Tiba-tiba bibi Sifa muncul dari belakang, memegang pundak kakaknya yang begitu pemarah.
"Dan kalian berdua," Bibi Sifa menatap mereka berdua,"Di masa depan nanti tidak boleh menegur ataupun melarang Azira mengambil apapun di dapur. Azira adalah majikan kalian sekarang dan selayaknya kalian memperlakukannya seperti halnya memperlakukan Humairah, mengerti?" Sorot tajamnya seolah mengatakan bahwa Azira dan mereka berdua adalah dua keberadaan yang berbeda.
Azira adalah majikan dan mereka adalah pembantu, maka seharusnya mereka bertindak sesuai dengan posisi mereka saat ini.
Menunduk takut, "Mengerti, nyonya." Patuh mereka tidak ingin membuat bibi Sifa marah.
Bibi Sifa adalah orang yang berhati lembut dan sulit marah. Namun, sekalinya marah Bibi Sifa akan sangat sulit ditangani. Dan melihatnya semarah ini, kedua pembantu itu jelas ketakutan. Mereka segera menundukkan kepala tidak berani memprovokasi bibi Sifa lagi.
"Ya sudah, kembalilah ke pekerjaan kalian." Perintah bibi Sifa yang langsung di angguki cepat oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Sifa, perhatikan sikap mu!" Marah bibi Safa tidak terima bila dua narasumbernya diperlakukan seperti itu oleh bibi Sifa.
"Aku melakukannya agar mereka tidak meremehkan anggota keluarga kita-"
"Azira bukan-"
"Aku paham, sulit memang bagi kakak menerimanya. Tapi pikirkanlah secara baik-baik bahwa Azira tidak tahu apa-apa tentang masa lalu, ia tidak bersalah."
Bibi Sifa pikir Azira hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu dan tidak sepantasnya mereka memperlakukannya dengan sebelah mata karena bagaimanapun juga ia adalah anak biologis dari kakaknya.
Meski ia tahu..jauh dari dalam hatinya, keluarganya lah yang bersalah di sini.
"Apapun yang kamu katakan, sampah tetaplah sampah jadi itu tidak bisa merubah apapun."
"Meskipun darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah mas Rama?" Tanya bibi Sifa cepat.
Menatap tajam mata bibi Sifa yang terlihat tulus, "Aku tidak mengakuinya." Lalu ia pergi meninggalkan bibi Sifa.
Menghela nafas, tatapan sendu bibi Sifa jatuh pada pintu kamar yang tertutup rapat di dekat dapur. Pintu itu begitu sunyi dan sepi, bahkan tidak ada sinar yang mengintip keluar dari dalam kamar itu.
Gelap.
"Andai waktu dapat terulang, mungkin semuanya tidak akan serumit ini." Gumamnya berharap.
Tersenyum tipis ia kemudian membawa langkahnya menyusul bibi Safa yang sudah terduduk manis di meja makan. Bersikap seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka.
...🍃🍃🍃...
"Azira ayo, nak, bangun..." Suara seseorang berbisik lembut berusaha mengusik tidur lelap Azira dengan halus.
"Ibu?" Panggilnya penuh kerinduan.
__ADS_1
"Ayo, nak, bangun... Allah sedang memanggil mu.." Bisiknya lagi merayu, menarik Azira agar terbangun dari tidurnya.
"Ibu..Ibu dimana?" Berlari kesana kemari, hanya kegelapan yang tidak berujung menyapanya.