
Tadinya dia sempat khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya. Tapi setelah melihat keadaan suaminya yang baik-baik saja, Azira langsung berubah pikiran. Untuk saat ini dia merasa agak bingung dan tidak berdaya pada saat yang sama. Habisnya Kenzie tidak mau mengatakan apapun, bahkan sepatah kata pun!
Ini sangat menjengkelkan.
Beberapa menit kemudian Kenzie kembali dengan nafas suara terengah-engah. Sepertinya dia ke sini dengan berlari. Dia masuk ke dalam kamar dengan sebuah wadah plastik berwarna biru muda. Kalau tidak salah, wadah ini yang sering digunakan Umi untuk menyajikan sup sayur bening.
Eh, mau apa mas Kenzie bawa begituan ke sini? Batin Azira bingung.
"Tunggu." Kata Kenzie sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Azira dengan patuh menunggu, matanya menatap ke arah pintu kamar mandi dengan ekspresi antisipasi. Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh suaminya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Kenzie akhirnya keluar dengan wadah itu lagi. Kali ini di dalam wadah itu ada air hangat yang Kenzie ambil dari dalam kamar mandi.
Di bawah mata penasaran Azira, dia meletakkan wadah air panas itu di atas karpet. Tepatnya di depan Azira.
"Kemari lah. Duduk di sini." Kenzie menepuk pinggir kasur.
Azira membuat tebakan samar di dalam hatinya. Tapi dia meragukannya.
"Mau ngapain, mas?" Tanya Azira bingung.
Kenzie tersenyum,"Sudah, duduk aja di sini." Kenzie tidak mau mengatakannya.
Azira menggeser tubuhnya ke pinggir kasur dan dengan patuh duduk di tempat yang Kenzie tepuk.
"Nah, sekarang turunkan kedua kaki kamu."
Azira langsung menebaknya. Wajahnya merah.
"Mas, kaki aku baik-baik aja. Aku enggak membutuhkan acara pijat-pijat ini." Azira langsung menolak ide ini.
Apa-apaan, suaminya sudah capek, masa dia masih memanfaatkan suaminya dan membiarkan suaminya memijat kedua kakinya?
Azira tidak tega melakukannya.
"Turunkan saja kedua kaki kamu. Ayo." Kenzie tidak mau mendengar.
Dia bersikeras meminta Azira untuk menurunkan kakinya. Azira pun sama kerasnya dengan dia. Duduk di atas kasur dia melindungi kedua kakinya dengan erat tidak mau menurunkannya.
"Eh... jangan, mas...mas, jangan!" Bosan melihat Azira menolak terus, akhirnya Kenzie bergerak sendiri mengambil kedua kaki Azira. Dia menari kaki Azira dengan kekuatan besar sehingga Azira tidak dapat bersembunyi lagi. Terpaksa, kakinya turun dari kasur dan langsung Kenzie arahkan masuk ke dalam wadah air.
Begitu kulit kakinya bersentuhan dengan air hangat di dalam wadah, Azira spontan memejamkan matanya menahan nafas, soalnya ini terlalu nyaman. Kalau dia tahu air hangat dapat meredakan kakinya yang pegal-pegal, maka dia pasti sudah mandi air hangat dari kemarin. Coba saja dia tahu.
"Bagaimana, rasanya sangat nyaman, kan?" Tanya suaminya serak sembari mulai memijat kaki ramping istrinya di dalam air hangat.
__ADS_1
pijatan yang Kenzie berikan rasanya nyaman. Kaki Azira agaknya tidak terlalu pegal lagi di dalam air hangat.
Azira tidak memperhatikan situasi suaminya karena fokusnya berada di kaki.
"Um, sangat nyaman, mas. Tapi ngomong-ngomong wadah yang mas gunakan sekarang adalah wadah yang biasanya Umi gunakan untuk menyajikan sup bening. Sekarang wadahnya aku pakai untuk kaki, kalau Umi tahu, habislah mas Kenzie." Azira mengingatkan suaminya tentang wadah ini.
Antara kesel dan merasa lucu, Azira mencubit pipi suaminya gemas.
Kenzie malu. Dia tidak terlalu memperhatikannya. Karena di dapur cuma wadah ini yang menurutnya cocok, maka dia memutuskan untuk mengambil ini saja.
"Maka jangan katakan apapun kepada Umi. Dia tidak akan tahu tahu kalau kita tidak mengatakan apa-apa." Ujar Kenzie kekanak-kanakan.
Sekilas Azira dapat menangkap kalau suaminya takut sama Umi.
"Mas, jangan yang aneh-aneh dong. Nanti belikan saja Umi yang baru, soalnya ini sudah tidak bisa digunakan lagi." Dia tidak berani mengembalikan wadah ini.
Misalnya mereka tidak mengatakan apa-apa tentang wadah, lalu suatu hari nanti mereka berdua menemukan wadah ini ada di atas meja depan sup bening di dalamnya, mungkinkah mereka masih bisa memakannya?
"Tidak jijik kok, aku bisa kok memakannya." Seolah bisa membaca pikiran Azira, dia langsung mengatakannya penerimaannya dengan wajah lempeng.
Mulut Azira berkedut tertahan. Memang kalau suaminya tidak merasa jijik itu berita bagus. Tapi lain cerita kalau yang makan keluarga mertuanya, Azira tidak akan gila membiarkan itu terjadi. Dia tidak tega. Membiarkan mereka memakan bekas kakinya meskipun sudah dicuci bersih, tidakkah itu disebut sebuah penghinaan?
"Pokoknya ganti, mas, ganti! Kita harus membeli barang-barang yang sama besok- eh, tapi kamu pergi bekerja ke rumah sakit. Kalau gitu kita tunggu mas Kenzie agak bebas aja." Kata Azira menyesalkan.
Suaminya bekerja sebagai dokter. Dia sangat sibuk. Terkadang dia masih harus datang malam-malam ke rumah sakit, padahal shift nya siang hari. Azira merasa tertekan. Namun ini adalah pekerjaan suaminya. Dia harus cukup tahan banting. Umi saja yang telah bertahun-tahun melihat Kenzie bekerja keras sebagai dokter agak tahan banting, terus bagaimana bisa dia sebagai istrinya kalah?
"Istriku, apakah kamu tidak suka aku bekerja sebagai dokter?"
Ditanya tidak suka, Azira berpikir kalau dia suka. Dokter merupakan dermawan banyak orang. Mereka bertugas menyelamatkan banyak nyawa, ini merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tentu saja Azira mendukung suaminya. Tapi sesungguhnya Azira tidak tahan dengan gaya bekerja suaminya yang padat. Siang hari bekerja keras begitu pula di malam hari. Terkadang suaminya tidak akan tidur semalaman untuk menyelesaikan kewajiban. Pola hidup ini tidak baik, lambat laun akan berimbas buruk untuk tubuh suaminya. Di sisi lain dia agak tidak nyaman dengan pekerjaan ini karena berhubungan dengan Amara. Wanita gila itulah yang memaksa suaminya bekerja sebagai dokter, padahal suaminya memiliki mimpi lain!
Ah, ya... Lagi-lagi alasan terbesar dia menolak pekerjaan ini karena Amara.
"Bila aku meminta mas Kenzie untuk berhenti dari pekerjaan ini, maukah mas Kenzie mendengarkan perkataanku?" Tanya Azira bercanda.
Dia sungguh hanya bercanda saja. Tidak bermaksud serius.
Kenzie tersenyum senang. Kedua tangannya masih memijat telapak kaki Azira sementara wajahnya yang tampan tersenyum konyol sambil menatap Azira, sungguh konyol.
"Kalau kamu meminta aku berhenti, maka aku akan berhenti. Besok aku akan meminta asistenku untuk mengurus surat resign-ku di rumah sakit. Aku tidak mau bekerja lagi di sana." Jawaban Kenzie membuat Azira kewalahan.
Dia memegang bahu suaminya ragu,"Lalu mas Kenzie akan bekerja di rumah sakit yang mana?"
Menggelengkan kepalanya tegas, Kenzie kemudian berkata.
"Aku tidak akan bekerja di rumah sakit manapun lagi. Aku ingin berhenti bekerja sebagai dokter. Sekarang aku memiliki kamu, jadi aku punya alasan untuk melepaskan diri dari pekerjaan ini."
__ADS_1
Lagi-lagi alasannya karena Azira. Alasannya sangat muluk-muluk tapi Azira suka mendengarnya. Kuping Azira terasa panas dan jangan tanya betapa gugup dirinya saat ini.
Bug
Bug
Bug
Ini adalah suara detak jantungnya. Ini asli, tidak palsu. Bahkan kedua tangannya gemetaran saking bahagianya dia sekarang.
Siapa yang meminta suaminya berbicara manis-manis lagi.
"Kalau Umi tahu mas Kenzie akhirnya melepaskan diri dari pekerjaan ini, dia pasti sangat senang mendengarnya."
Kenzie tersenyum.
"Dulu aku tidak memiliki alasan, tapi sekarang aku punya kamu, dia pasti bersyukur memiliki menantu seperti kamu. Ah, tahukah kamu, Umi jangan marah melihatku tadi siang. Mungkin seseorang telah memberitahunya tentang kepulangan Amara. Dia pikir aku akan meninggalkan kamu demi Amara, hah... Saat memikirkannya aku menyesal tidak menjelaskan apa-apa dulu."
Tapi dia sangat tersentuh dengan Umi. Ternyata Umi sangat menyayangi Azira, demi istrinya, Umi tidak mau berbicara dengan Kenzie. Sejujurnya ini sangat memalukan.
"Ini memang salah mas Kenzie. Syukurin deh diabain sama Umi. Aku sih mendukung Umi, karena langkahnya benar. Misalnya aku yang ada di posisi Umi, mana tahan aku melihat putraku menyakiti hati menantuku? Mas, jangan ulangi kecerobohan yang sama." Menatap kaki kecilnya yang sedang dipijat, Azira tiba-tiba teringat betapa lelahnya kaki kecil ini berjalan mencari kendaraan untuk pulang.
Ditambah lagi itu di malam hari dekat pantai, berjalan sendirian di tempat seperti itu membutuhkan adrenalin besar. Azira jadi melankolis sendiri.
"Jujur aku marah banget melihat mas Kenzie membawa Amara pergi dan meninggalkan aku sendirian di villa. Rasanya kecewa banget. Apalagi saat mas Kenzie membentak aku di sana, aku shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Begitu mudahnya mas Kenzie berpaling kepada mendengarkan orang lain daripada diriku. Belum lagi ketika melihat ekspresi panik mas Kenzie saat melihat Amara yang pingsan, mas Kenzie tau nggak kira-kira apa yang aku pikirkan saat itu? Um, aku berpikir mungkin benar apa yang orang-orang katakan itu tentang aku dan kalian berdua. Mungkin aku adalah pengganti dan cepat atau lambat bisa dibuang kapan saja sama mas Kenzie. Sementara Amara, karena dia adalah cinta pertama mas Kenzie yang tidak terlupakan, aku pikir mas Kenzie akan membawa Amara pulang untuk ditunjukkan kepada semua orang bahwa dialah pendamping mas Kenzie yang sebenarnya. Aku punya banyak bayangan tentang hal-hal negatif di malam itu. Aku bukannya merendahkan diri sendiri. Menurutku begitulah kenyataannya. Faktanya kita berdua menikah dengan cara yang sangat menyedihkan. Aku adalah seorang pengganti yang mendorong adikku pergi dan menggantikan posisinya sebagai pengantin mas Kenzie. Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan. Dan tiba-tiba aku teringat...ah, mungkin saja ini adalah hukuman dari Allah atas apa yang aku lakukan kepada adikku sendiri dan kamu, mas. Ini adalah balasan untukku yang berani menggantikan posisi adikku. Kini Allah jadikan pula aku sebagai pengganti dari wanita yang mas Kenzie cintai.... Aku sampai berpikir sejauh itu. Memang... Apa yang telah aku lakukan kepada adikku menunjukkan bahwa aku adalah wanita yang jahat. Aku merupakan wanita yang sangat jahat. Aku tahu itu. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang telah bertindak jahat kepada Ibuku, mas? Mengapa sampai dengan akhir hayat Ibuku, mereka tidak mendapatkan balasan apapun? Bukankah mereka juga jahat? Mereka membuat Ibuku menderita dan memaksanya jatuh ke jurang penyiksaan, mereka dorong Ibuku untuk menjual harga dirinya sampai-sampai Ibuku sendiri malu berkaca di depan cermin. Dia tidak sanggup melihat makhluk kotor itu. Mas, bila aku tidak nekat menghancurkan pernikahan Humairah dan kamu, mungkinkah keluarga bahagia itu merasakan pembalasan? Rasa sakit karena harta satu-satunya mereka disakiti tepat di depan mereka semua? Jika aku tidak bertindak, apakah mereka akan merasakan titik sakit itu? Aku meragukannya. Maaf mas, tapi seringkali aku merasa bahwa Allah terlalu suka memuji kami, para manusia miskin dengan ujian yang sangat berat... Sungguh berat rasanya sampai-sampai kami berpikir bahwa Allah itu tidak adil." Sepanjang Azira berbicara, Kenzie diam menyimak dan tidak berniat menyela apa yang dikatakan oleh istrinya.
Dia mendengarkan dengan patuh karena dirinya tahu bahwa istrinya telah menderita gara-gara kebodohannya. Misalnya jika Allah memberikannya kesempatan untuk kembali ke waktu itu, mungkin dia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Ah, lebih tepatnya dia tidak akan mau datang ke acara itu. Dia tidak akan mau mengajak istrinya melihat wajah orang-orang yang telah berkomplot mengasingkan istrinya. Dia tidak akan pernah datang.
"Jauh di dalam hatiku, aku sangat menyesal. Mungkin kamu tidak percaya dan aku juga tidak tahu bagaimana menunjukkan bukti bahwa aku sangat menyesal. Aku marah kepada diriku sendiri jangan terlalu ceroboh. Saat itu... Aku pikir kamu yang terluka di dapur. Aku sangat panik dan cemas pada saat yang sama. Tapi ketika mengetahui itu adalah Amara dengan penampilan yang sangat mengerikan, aku tidak punya pikiran lain. Karena ini menyangkut nyawa manusia, maka aku langsung membawa pergi Amara. Aku membentak kamu, ini adalah kesalahan fatal ku. Dan aku juga membiarkan kamu pulang sendirian di villa, apapun alasan pembelaan ku, ini memang salahku. Sungguh ini salahku. Aku hanya bisa memohon maaf dan memintamu melakukan apapun untuk membalas ku, selama kamu tidak mengabaikan aku lagi, aku akan menerimanya. Dan istriku tersayang, aku sangat bersyukur kamu menjadi wanita jahat hari itu. Jika kamu tidak menjadi wanita jahat, maka aku mungkin tidak akan pernah bisa merasakan ada hari-hari di mana aku bisa tertawa lepas, ada hari di mana aku sangat merindukan seseorang di dalam hatiku, dan ada hari dimana aku sangat menantikan jam pulang kerja. Berpikir apakah orang di rumah itu akan menyambut kepulanganku, apakah orang itu akan tersenyum kepadaku ketika membuka pintu rumah, dan bertanya-tanya mungkinkah orang yang aku pikirkan itu juga diam-diam memikirkan selama tinggal di rumah. Misalnya berpikir untuk memasak masakan kesukaanku. Aku memiliki pikiran-pikiran konyol ini di dalam hatiku. Mungkin, kamu menganggap bahwa apa yang telah kamu lakukan ini jahat tapi menurutku ini adalah bagian dari takdir yang Allah gariskan untuk kita berdua. Sudahkah kamu mengetahui kalau kita sebenarnya telah bertunangan sejak kecil?"
Azira tertegun. Tunangan masa kecil?
Jangan bercanda. Tunangan masa kecil apa?
Azira tidak mengenal Kenzie sewaktu kecil. Belum lagi Azira tinggal di kampung dan Kenzie tinggal di kota. Mereka berdua berasal dari dunia yang berbeda, garis yang berbeda, dan tempat yang berbeda pula. Bagaimana ceritanya mereka bisa menjadi tunangan saat masih kecil?
Azira pikir suaminya sedang bercanda untuk menghiburnya.
"Jangan bercanda dulu, mas. Ini enggak lucu tahu, enggak!" Kata Azira merajuk.
Hatinya sudah agak lega mendengar reaksi suaminya tidak mempermasalahkan apa yang telah dia lakukan dulu. Um, seperti yang suaminya katakan. Mungkin ini adalah cara Allah mempertemukan mereka berdua karena sebelum menikah dengannya, Kenzie tidak menyukai Humairah atau wanita manapun. Dia belum merasakan manisnya jatuh cinta hingga Allah pertemukan mereka berdua. Di hari pertama kali mereka bertemu, yaitu saat Azira hampir saja diculik, mereka berdua sebenarnya telah memiliki ketertarikan masing-masing.
Khususnya untuk Azira. Dia telah tertarik pada Kenzie sejak saat itu tapi karena dia tahu mereka bukan berasal dari dunia yang sama, Azira cukup tahu diri. Ditambah saat itu situasinya di rumah Ayah tidak menguntungkan. Tujuannya di sana hanya untuk balas dendam, jadi mana sempat dia memikirkan tentang cinta-cintaan. Ah... atau mungkin lebih tepatnya Azira memiliki ketakutan di dalam hatinya. Takut jatuh cinta, lalu mengulangi kesalahan yang sama. Mengulangi rasa sakit yang diderita Ibunya karena memilih laki-laki yang salah.
Oh, bukan pilihan yang salah. melainkan diri sendiri yang terlahir miskin dari suatu kampung. istilahnya, bukan berada di level yang sama.
__ADS_1
Azira memiliki ketakutan ini.
Tapi yang membuatnya sangat terkejut bahwa laki-laki yang sempat menarik perhatiannya tiada lain dan tiada bukan adalah calon suami adiknya sendiri. Ugh, dia merasa bersalah saat ijab kabul tapi tidak menyesali pilihannya. Karena apa yang dia inginkan adalah kehancuran hidup Humairah, harta keluarga Ayahnya.