Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 8.4


__ADS_3

"Oh," Frida menutup mulutnya kaget, melihat Azira ragu-ragu,"Tapi bukankah istri kak Kenzie harusnya Humairah?"


Suasana hangat di ruangan itu langsung turun. Pertanyaan Frida tidak salah tapi sebenarnya tidak tepat. Masalah ini sangat sensitif untuk keluarga.


Paman Roni dan bibi Indring saling memandang, tapi tak satupun dari mereka berdua yang mengambil inisiatif untuk menegur pertanyaan sensitif putri mereka. Mereka malahan menunggu dengan 'sopan' jawaban dari Umi ataupun Sasa.


Umi agak terganggu dengan pertanyaan Frida.


"Ceritanya panjang, Frida. Tapi kalau memang sudah jodohnya, rencana manusia tidak akan bisa menandingi rencana Allah. Pernikahan di antara Kenzie dan Azira adalah salah satu bukti nyata. Meskipun diawali dengan kontroversi, tapi semua orang sudah menerimanya." Umi menjawab dengan nada tenang tanpa kehilangan senyum di wajahnya. Sementara tangannya tak sering menyentuh pundak Azira. Berkali-kali dia menyentuh pundak Azira saat berbicara tadi. Sehingga orang-orang di ruangan ini bisa melihat betapa hangat sikap Umi kepadanya.


"Benar. Paman dan bibi harus tahu kalau kak Kenzie yang dulu selalu menggunakan ekspresi lempeng sekarang jadi narsis banget setelah nikah sama kak Azira. Aku sampai ngeri sendiri ngeliat perubahan kakakku." Timpal Sasa dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.

__ADS_1


"Serius?" Bibi Indring kurang mempercayainya.


Bagaimana tidak, dia telah menyaksikan Kenzie tumbuh hingga sebesar ini dan dia tahu bagaimana karakter Kenzie. Keponakannya itu selalu memiliki ekspresi datar dan terkesan menjaga jarak dari orang asing ataupun kerabat. Sampai pernah bibi Indring berpikir jika Kenzie mungkin mengalami kelumpuhan wajah karena bersikap acuh kepada para pengejarnya juga. Maka sangat sulit dipercayai bila keponakannya itu mengalami perubahan setelah bertemu dengan wanita 'liar' yang tak diketahui darimana asalnya.


"Jika bibi tak percaya tanyakan saja kepada Umi. Kami tak mungkin berbohong. Ah, atau kenapa tidak tanya langsung saja kepada kak Azira? Di antara kami semua, dia lah orang yang paling tahu betapa narsisnya kak Kenzie ketika bersamanya." Disengaja atau tidak, saat membawa nama Azira, mata tersenyum Sasa menyapu Frida.


Frida tersenyum kecil. Matanya yang lembut berkedip sendu menyembunyikan suasana hatinya.


Hanya Allah yang tahu betapa gugup dirinya sekarang. Narsis?


Astaga suaminya itu jarang memiliki senyum di wajahnya jadi bagaimana mungkin disebut narsis?

__ADS_1


Apakah Sasa dan Umi salah paham?


"Kak Azira sungguh pemalu...jangan malu, kak. Mereka adalah keluarga kita. Mereka mengerti perasaan kakak sebagai pengantin baru..." Bukannya berhenti, Sasa semakin mengudara, meniup gelembung pelangi untuk Azira tanpa memperhatikan ekspresi terguncang di wajah ramah bibi Indring.


"Syukurlah Kenzie mulai berubah. Bibi dulu sempat khawatir melihat Kenzie selalu memasang wajah datar di wajahnya, takutnya para wanita kabur tidak tahan dan kabur saat bertemu dengannya..." Kata bibi Indring bercanda dan mengundang gelak tawa semua orang.


Sasa melambaikan tangannya.


"Bagaimana mungkin bibi? Wanita yang mengejar kakakku tak terhitung jumlahnya, bahkan ada pula yang menggunakan cara ekstrim. Untungnya kakakku orang yang sangat pintar. Dia tidak mungkin tertipu dengan intrik murahan seperti itu..." Ucap Sasa bercanda namun kata-katanya membuat seseorang menjadi sangat tidak nyaman.


Umi mendengar lelucon putrinya. Dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Putrimu sangat jahil.

__ADS_1


"Jangan berbicara lagi. Roni, Indring, coba kue yang Azira sajikan untuk kalian. Ini adalah kue yang baru-baru ini viral di internet.." Umi mendesak adiknya mencoba kue di atas meja untuk mengalihkan suasana jenuh di dalam ruangan.


__ADS_2