Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 3.3


__ADS_3

Mendengar penjelasan singkat Humairah, bibir tipis Azira kemudian terangkat menjadi sebuah senyuman yang samar.


"Ah, jadi itu seperti ini." Gumamnya menyimpulkan.


"Lalu bagaimana dengan mu?" Tanya Humairah mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Dengan ku apa?" Bingung Azira tidak mengerti.


"Apakah kau punya laki-laki yang menarik perhatian mu?" Ia juga penasaran apakah saudaranya ini punya laki-laki yang menarik perhatiannya.


Pasalnya, beberapa hari tinggal di sini Humairah tidak pernah melihatnya keluar rumah ataupun menghubungi laki-laki lain. Ah, lebih tepatnya Azira tidak punya handphone sehingga tidak pernah melakukan komunikasi apapun.


Jika ia tahu seperti ini maka Humairah mungkin sudah membelikannya handphone baru karena ia tahu Azira pasti malu meminta kepada Ayah dan Mama, ia masih canggung.


Berbeda dengan pikiran Humairah, Azira justru teringat dengan sosok tampan yang menyelamatkannya beberapa hari yang lalu. Sosok pemberani yang sempurna, bahkan bentuk fisiknya yang luar biasa tampan tidak bisa ia lupakan begitu saja hanya dalam beberapa hari. Ia akui jika jauh dari dalam hatinya ia cukup tertarik dengan sosok laki-laki tampan itu. Apalagi laki-laki itu adalah penyelamatnya maka untuk jatuh cinta padanya adalah sesuatu yang bukan tidak mungkin.


Tapi,


Azira sadar diri untuk harga dirinya yang tidak seberapa. Laki-laki ini dari tampilannya saja sudah terlihat jika dia adalah orang yang berada dan pasti dari kalangan yang terhormat. Berbanding terbalik dengan dirinya yang terlahir dari rahim seorang Ibu pekerja malam yang hina.


Azira tidak gila mengejarnya.


"Aku tidak punya siapapun untuk dipikirkan saat ini, aku masih ingin sendiri." Jawab Azira santai, memperlihatkan ekspresi wajah yang meyakinkan.


Tidak ada waktu untuk memikirkan orang lain karena yang terpenting saat ini adalah membalaskan dendam Ibunya!


"Humairah, sudah saatnya kamu menurunkan tudung mu." Ucap bibi Sifa tergesa-gesa masuk ke dalam kamar pengantin.


Terkejut juga gugup, "Tapi bibi bukankah ini belum waktunya?" Tanya Humairah gugup. Seingatnya ini masih subuh jadi mengapa tiba-tiba harus menurunkan tudung secepat itu?


Bibi Sifa tersenyum kecil seraya merapikan tudung Humairah, merapikan agar tidak ada orang lain yang memperhatikan wajah cantik keponakannya.

__ADS_1


"Masih belum waktu apanya, lihat matahari sudah bersinar terang dan calon suami mu sudah mengabarkan bahwa 10 menit lagi mereka akan sampai ke sini." Ucapnya mengingatkan Humairah.


Untungnya saat ini Humairah sudah menggunakan tudungnya atau kalau tidak ia pasti sudah sangat malu karena pipinya kini benar-benar terasa panas.


"Rasanya begitu cepat." Gumam Humairah tidak menyangka jika waktu berlalu begitu cepat.


Bibi Sifa tersenyum sambil mengalihkan tatapannya menatap Azira yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan.


"Azira, apa kau bisa menemani Humairah di sini? Aku dan bibi Safa harus mengurus yang lain terlebih dahulu. Nanti jika waktunya sudah tiba kau jangan khawatir karena aku dan bibi Safa yang akan menjaga Humairah di sini." Bibi Sifa sedang sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk menemani Azira sementara waktu.


Nanti setelah semua persiapannya sempurna maka mereka berdua akan naik menemani satu-satunya keponakan tersayang mereka menghadapi garis hidupnya yang cerah.


Mendengar itu senyuman Azira semakin manis, ia dengan patuh dan antusias mengangguk cepat. Sepertinya fase inilah yang paling ia tunggu-tunggu selama ini.


"Jangan khawatir bibi karena aku akan menjaga Humairah di sini sebelum kalian datang." Janjinya meyakinkan.


Bibi Sifa menghela nafas lega, untung saja ada Azira di sini pikirnya. Karena kalau tidak, maka ia tidak tahu bagaimana harus mengurus masalah yang ada di bawah dengan cepat.


"Baiklah, kalau begitu bibi ke bawah dulu dan jika Humairah kehausan kau bisa memberikannya air di sana," Menunjuk makanan dan air yang sudah tersedia di atas meja rias Humairah.


Setelah diyakinkan seperti itu maka bibi Sifa bisa dengan tenang meninggalkan keponakan tersayangnya di kamar ini. Menutup pintu kamar, akhirnya hanya ada Azira dan Humairah di kamar ini.


"Azira, kau mau pergi kemana?" Tanya Humairah gugup begitu melihat sosok samar Azira bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


"Aku akan mengunci pintu kamar karena bibi bilang tidak ada siapapun yang diizinkan masuk kecuali mereka." Ucap Azira mengada-ada.


Menguncinya dengan senyuman kepuasan, ia lalu membawa langkahnya kembali ke tempat duduknya.


Humairah yang begitu gugup tentu saja tidak memperhatikan kejanggalan yang sikap Azira. Ia hanya sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan kedua tangannya saat ini sudah berkeringat banyak menahan kegugupannya yang kian meningkat.


"Apa kau haus?" Tanya Azira memancing setelah memperhatikan betapa gugupnya Humairah.

__ADS_1


"Tidak, tapi minum sedikit rasanya lebih baik." Jawab Humairah.


Ia tidak merasakan haus tapi karena saat ini ia sedang gugup maka tidak apa-apa untuk minum sedikit air putih. Lagipula itu justru bagus karena dengan begini energi tubuhnya tidak bermasalah.


Tanpa gerakan yang mencurigakan Azira mengambil segelas air putih yang memang sengaja disiapkan untuk Humairah, lalu punggung kurusnya dengan hati-hati menghalangi pandangan Humairah dari apa yang sedang dilakukannya.


Mengeluarkan satu botol bening dari lengan kirinya, tangan kanannya lalu dengan apik meneteskan cairan yang ada di dalam.


Satu tetes.


Dua tetes.


Tiga tetes.


Semuanya sudah sesuai rencananya, tidak perlu mengaduknya karena pada dasarnya cairan ini sama persis seperti air sehingga tidak meninggalkan kecurigaan apapun.


"Minumlah dengan pelan-pelan." Bisiknya seraya tersenyum sinis, merasakan sebuah perasaan senang yang terus menggelitiki dadanya.


"Terimakasih." Ucap Humairah berterima kasih sambil meminum air pemberian Azira tanpa rasa kecurigaan apapun.


Awalnya dia tidak merasakan apapun sampai akhirnya setengah menit kemudian penglihatannya menjadi tidak fokus dan badannya terasa lemas.


"Azi..ra?" Panggil Humairah merasa bingung.


Ia bertanya-tanya mengapa tubuhnya tiba-tiba terasa seperti ini, mungkinkah Azira mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya?


Tapi bukankah itu tidak mungkin?


Mereka adalah saudara bukan?


"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya Azira mencemooh sambil menyingkap kasar tudung kepala Humairah. Mengungkapkan wajah pucat Humairah yang sudah tidak berdaya di bawah pengaruh obat.

__ADS_1


"Apa yang..kau.. campurkan..ke dalam minuman ku?" Dengan susah payah Humairah menyelesaikan ucapannya, sungguh badannya benar-benar lemas saat ini sehingga membuka mulut saja rasanya sangat sulit.


Tersenyum dingin, Azira berdiri angkuh menatap Humairah yang perlahan kehilangan kekuatannya. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja dia mengalami kesulitan besar. Sungguh sangat menyenangkan! dia bahagia melihat kekecewaan yang terukir indah di wajah cantik Humairah.


__ADS_2