
Azira merasa malu.
"Alhamdulillah, aku merasa jauh lebih lega. Wanita itu... Adalah orang yang menjebak Ibuku dan menyeretnya untuk terus hidup menderita. Aku sangat... Marah dan membencinya, tapi sayangnya tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menerus melarikan diri agar tidak masuk ke dalam jebakannya." Kata Azira sedih.
Azira memiliki rahasia di dalam hati yang telah lama dia kubur. Ya itu sebuah ketakutan. Dia sangat takut. Hanya Allah yang tahu betapa takut dirinya bila sampai jatuh ke tangan nyonya Bara. Seringkali malam-malam dilalui tanpa tidur, tenggelam dalam sebuah kekhawatiran akan hari esok. Beruntung Ibu tidak pernah menyerah kepadanya. Sebaik apapun godaan nyonya Bara, Ibu menolak membiarkan Azira masuk ke dunia malam. Karena Ibu mengerti bahwa dunia malam adalah penderitaan dan siksaan yang akan terus menghantui seumur hidup.
Dunia malam adalah noda. Dan ibu tidak mau Azira memiliki noda di dalam dirinya. Cukup Ibu yang menjadi aib, tapi jangan Azira.
"Jangan khawatir. Yakinlah setelah hari ini dia tidak akan berani lagi mengganggu kamu. Percaya sama aku, okay?" Tangan Kenzie mengusap puncak kepala istrinya sayang.
Di mata itu, dia melihat sebuah ketakutan sebelumnya saat berhadapan dengan nyonya Bara. Sekilas dia tahu bahwa istrinya tidak sekuat yang terlihat. Jadi dia merasa sedih untuknya dan marah pada saat yang sama.
"Benar, kak Azira. Nenek tua bangka itu tidak akan mengganggu kakak lagi karena dia pasti takut sama kak Kenzie. Hei, aku saja yang adiknya takut sama dia apalagi nenek tua bangka itu yang orang luar, aku yakin kak Kenzie sekarang bagian dari mimpi buruknya."
Kenzie menatap adiknya datar.
"Kamu bilang apa barusan?"
Sasa bergidik dan buru-buru memuji kakaknya dengan kentut pelangi.
"Aku bilang kalau kak Kenzie itu tampan, baik, gagah, pintar, pokoknya kak Kenzie luar biasa! Ah...aku lupa punya janji sama Mona dan kak Ayana, kalian belanja berdua saja ya soalnya aku harus pergi menyusul mereka berdua. Dah, kak Azira!" Setelah menyebarkan kentut pelangi, Sasa langsung tancap gas dan melarikan diri dari pandangan Kenzie.
"Dasar..." Kenzie menatap adiknya tidak berdaya, lalu dia beralih menatap istrinya.
"Lanjut belanja?"
Azira menggelengkan kepalanya lemah. Dia tiba-tiba kehilangan mood.
"Tidak usah, mas. Kita lebih baik balik saja."
Kenzie mengerti. Dia mengelus punggung ramping istrinya sebagai penghiburan dan membawanya melangkah masuk kembali ke tenda mereka.
...*****...
Nyonya Bara berjalan cepat mencari mobilnya yang diparkir beberapa meter jauhnya dari pintu masuk. Sambil berjalan bibirnya tidak berhenti menggerutu marah memikirkan ejekan dan kata-kata penghinaan yang orang-orang itu katakan kepadanya tadi. Terutama dari Azira. Dia memang tahu bahwa gadis ini sangat keras kepala. Tapi dia tidak menyangka kalau selain keras kepala dia memiliki sikap yang sangat buruk dan kurangnya sopan santun. Jika bukan karena waktunya yang cantik dan permintaan para klien, dia tidak akan gila mengejar Azira sampai ke sini.
"Sial, kenapa nyoba Safa tidak bilang kalau suami Azira adalah laki-laki itu. Aku kira dia cuma dokter biasa dengan penampilan kutu buku, tapi tahu-tahunya dia sangat dingin dan pemarah. Aku nyesel datang ke sini! Tapi.." nyonya Bara melihat ke belakang mencari sosok Azira.
Tapi Azira sudah tidak ada di tempat. Mungkin dia sudah pergi bersama suaminya. Nyonya Bara sama sekali tidak ingin tahu.
"Dari mana Azira tahu tentang nyonya Safa? Apakah aku pernah keceplosan saat berbicara dulu?" Nyonya Bara sama sekali tidak ingat.
Seingatnya ini adalah rahasia yang sangat penting jadi dia tidak mau memberitahu Azira dan Ibunya tentang bibi Safa. Bahwa semua penderitaan yang mereka alami telah direncanakan oleh bibi Safa. Balas dendam karena Ibunya berani datang ke kota untuk mencari Ayah.
"Terserahlah, semuanya juga sudah terjadi. Sekarang yang paling penting adalah aku harus segera pulang dan berbicara dengan nyonya Safa untuk rencana selanjutnya." Dia menggelengkan kepalanya tidak mau ambil pusing.
Langkahnya terburu-buru berjalan ke arah mobilnya. Tetapi dari arah jalan, sebuah mobil van hitam tiba-tiba menghalangi jalannya. Nyonya Bara sangat ketakutan. Mobil itu terlalu dekat dengannya dan hampir saja mengenainya. Untungnya dia segera mundur ke belakang sehingga dia terbebas dari malapetaka.
"Brengsek, hei! Apakah kamu nggak punya mata, hah! Betapa lebarnya jalan ini tapi kamu masih ingin merebut jalan milik pejalan kaki! Apakah kamu sudah bosan hidup!" Teriak nyonya Bara ke arah mobil van hitam di depan.
Teriakan nyaringnya sontak menarik perhatian dari banyak orang. Mereka menatap nyonya Bara dengan rasa ingin tahu tanpa niat datang membantu.
"Hei, keluar dari mobil! Kamu harus mengatakan sesuatu kepadaku!" Desak nyonya Bara marah.
Kebetulan dia telah dipermalukan oleh Kenzie dan Azira tanpa sempat membuat pembelaan, itu sangat memalukan dan membuatnya marah tapi sayang sekali dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya balik kepada mereka. Nah, sekarang karena mobil ini mencari masalah dengannya, jadi sekalian saja dilampiaskan semua kemarahannya kepada pemilik mobil!
"Keluar, brengsek! Ayo berbicara di luar!" Teriaknya sambil berkaca pinggang dengan tampilan yang sangat arogan.
Cklak
Sesuai dengan permintaannya, orang di dalam mobil akhirnya keluar. Seorang laki-laki dewasa yang tinggi dengan kedua kaki jenjang turun dari dalam mobil.
Bruk
Tangan kanan mendorong pintu mobil sementara tangan kiri memperbaiki letak kacamata kerja di pangkal hidungnya. Dia terlihat sangat memukau, memiliki penampilan khas pekerja kantoran yang maskulin.
"Permisi, apakah Anda nyonya Bara, pemilik klub malam ManRose di jalan xx no xx?" Sapa pemuda itu sopan.
Bersikap seolah-olah bukan dialah yang menghalangi jalan nyonya Bara tadi hingga membuatnya hampir terluka.
Nyonya Bara tercengang. Sapaan sopan pemuda ini sangat bertolak belakang dengan harapannya. Dia kira pemuda ini akan balik memarahinya seperti rutinitas normalnya ketika orang bersitegang.
"I-iya, benar." Nyonya Bara segera memperbaiki sikapnya.
__ADS_1
Menduga kalau laki-laki ini mungkin salah satu kliennya. Jadi dia mengubah wajah masam nya dengan ekspresi ramah yang memuakkan. Memasang senyuman lebar yang biasanya dia gunakan ketika berhadapan dengan seorang klien besar. Hei, dilihat dari mobil dan pakaian yang digunakan oleh pemuda ini, nyonya Bara dapat menebak kalau pemuda ini pasti kaya raya. Mungkin seorang pengusaha!
"Apakah kamu ingin berkunjung ke tempatku?" Senyumnya lebar.
Pemuda itu tersenyum sopan. Dia menggelengkan kepalanya membantah.
"Nyonya, perkenalkan nama saya Arian Anggara, kuasa hukum dari Perusahaan X Group. Beberapa saat yang lalu CEO perusahaan X Group menghubungi saya untuk segera mengirim surat peringatan kepada Anda. Beliau berpesan akan menindaklanjuti Anda ke meja hijau bila Anda kembali datang mengganggu istrinya. Nyonya, tolong diterima." Arian mengambil surat dari dalam saku jasnya dan memberikan surat itu dengan sopan kepada nyonya Bara.
Senyum nyonya Bara langsung menjadi dingin. Dengan kaku dia menatap surat itu. Kepalanya berdengung karena bingung. Merasa pukulan ini terlalu luar biasa untuk dirinya.
"Ini.." tiba-tiba surat itu sudah berada di tangannya.
Arian tersenyum cemerlang.
"Nyonya, saya dan tim hukum akan menunggu tindak lanjut dari Anda. Jika Anda masih bersikeras membuat masalah untuk beliau, maka kami siap bekerja. Nyonya Bara, terima kasih untuk waktunya, kalau begitu saya kan undur diri, selamat siang."
Tanpa menunggu nyonya Bara bereaksi, dia masuk ke dalam mobil dan langsung berjalan pergi melanjutkan perjalanan yang tertunda.
Di sisi lain nyonya Bara masih tidak mempercayai surat yang ada di tangannya tangannya.
Kuasa hukum apa?
Tim hukum apa?
Dan membawa masalah kemeja hijau apa!
Kenapa masalah ini tiba-tiba menghampirinya- tidak! Mungkinkah ini suami Azira?
Jangan-jangan orang itu adalah suruhan suami Azira?
"Mustahil, suami Azira adalah seorang dokter. Sementara laki-laki itu bilang ini adalah peringatan dari CEO nya. Jadi...tidak mungkin kalau ini ada sangkut pautnya dengan suami Azira!" Bantahnya menolak percaya.
Dia berkata tidak tapi kedua tangannya telah gemetaran karena gelisah. Mulutnya bilang tidak namun hatinya berkata lain. Soalnya ini terlalu kebetulan. Dia baru saja bermasalah dengan Azira dan suaminya, lalu sekarang tiba-tiba datang surat peringatan?
"Ini bukan, ini- ah?" Matanya mengejang membaca nama yang tercetak kuat dan tebal di dalam surat.
"Tapi... Bukankah dia bekerja sebagai dokter?"
...*****...
"Malam ini sangat hidup. Alhamdulillah, malam ini langitnya cerah, mas."
Azira dan Kenzie saat ini sedang duduk di depan tenda untuk menikmati hidangan barbeque yang menggugah selera. Ditemani oleh pemandangan danau di malam hari yang sangat indah, mereka berdua sudah merasa cukup dengan semua ini.
"Hem, apakah kamu senang tinggal di sini?" Kenzie menarik Azira masuk ke dalam pelukannya untuk berbagi kehangatan.
"Mas, ini diluar." Kata Azira malu-malu.
Malam ini sangat ramai. Hampir semua tamu mengadakan barbeque di tenda masing-masing. Otomatis apapun yang mereka lakukan akan terlihat di mata telanjang banyak orang.
Azira orangnya berkulit tipis. Dia mudah malu di tempat umum.
"Di sini dingin. Mereka semua mengerti. Lagian kita udah mahram jadi apa yang memalukan." Jawab Kenzie acuh tak acuh.
Azira menggelengkan kepalanya tak berdaya. Suaminya merupakan orang yang sulit diatur kalau udah menyangkut soal intim. Misalnya seperti sekarang. Menurutnya tidak ada yang salah dari apa yang mereka lakukan. Toh, interaksi mereka tidak berlebihan dan selain itu mereka juga sudah halal, jadi halal halal saja saling menyentuh.
"Mas Kenzie ada-ada aja. Apakah mas Kenzie tidak mau makan lagi?"
Kenzie menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah kenyang, kamu makan saja."
Azira juga sudah kenyang karena tadi sore sempat makan banyak gorengan yang dibelikan oleh Sasa di luar.
"Aku juga sudah kenyang, mas. Gimana sisanya kita kasih ke orang aja?" Tapi tidak ada pengemis atau orang jalanan di sini.
Hais, lupakan tentang orang jalanan, hewan seperti kucing dan anjing saja tidak pernah terlihat bayangnya. Azira tidak tahu apakah karena dia memang belum melihatnya atau hewan dilarang di sini sehingga dia tidak pernah melihat satupun dari mereka.
Kecuali burung. Mereka terbang bebas di atas langit. Membuat suasana sore lebih hidup.
"Jangan. Biarkan saja petugas kebersihan mengambilnya nanti untuk diberikan ke ayam dan bebek di belakang kantin. Terkadang mereka juga akan mengumpankan sisa makanan tamu ke dalam danau untuk memberi makanan ikan. Jadi makanan di sini tidak ada yang terbuang sia-sia kalau sudah ditangan petugas kebersihan."
Azira mengangguk paham. Petugas kebersihan memang setiap pagi patroli di sekitar tenda para tamu untuk mencari sampah ataupun sisa makanan yang tertinggal. Kebersihan selalu terjaga di sini. Setiap pagi mereka tidak akan menemukan sampah ataupun kotoran karena semuanya sudah diangkut pergi oleh para petugas kebersihan.
__ADS_1
"Kak Kenzie." Teriak Ayana memanggil dari samping.
Kenzie mengangkat kepalanya enggan.
"Ada apa?"
Ayana menunjuk ke belakang.
"Nabil dan yang lainnya ada di sini. Mereka ingin bertemu dengan kak Kenzie." Kata Ayana.
"Nabil? Itu teman mas Kenzie yang baru buka restoran itu, kan?" Azira masih ingat.
Kenzie menganggukkan kepalanya acuh tak acuh.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" Tanyanya heran.
Ayana juga tidak tahu. Tapi Nabil bilang dia kebetulan sedang berlibur di sini bersama tunangannya dan mendengar dari seseorang bila Kenzie juga ada di sini, jadi datang untuk mampir.
"Katanya dia lagi liburan sama tunangannya." Jawab Ayana datar.
Setelah menyampaikan pesan kepada kakaknya, dia pergi ke tempat suaminya untuk melanjutkan waktu damai mereka.
"Ayo pergi. Karena dia datang, kita tidak boleh bersikap acuh." Meskipun dia sebenarnya sangat ingin.
Azira hampir saja tertawa melihat wajah cemberut suaminya. Tak biasanya Kenzie memasang wajah cemberut.
"Iya, mas."
"Tunggu." Sebelum pergi Kenzie berlari masuk ke dalam tenda untuk mengambil mantel.
Selajutnya dia membantu Azira memakai mantel itu agar Azira tidak kedinginan dan tetap dalam kondisi yang hangat.
"Hum, terima kasih, mas." Azira hangat luar dalam dibuatnya.
Kenzie berdecak tak senang. Azira langsung mengerti dan buru-buru menjelaskan.
"Aku... keceplosan. Maaf, aku sudah terbiasa mengucapkan terima kasih."
Kebiasaan sulit dihilangkan sekalipun mereka berdua sudah menikah.
"Terserah, kamu hanya perlu tahu hubungan kita tidak membutuhkan ucapan terima kasih, itu saja." Kenzie memperbaiki posisi mantel di tubuh Azira.
Setelah dirasa oke, barulah dia melepaskannya dan beralih menggenggam tangan Azira.
"Ayo pergi."
*****
"Kenzie, apa kabar?" Nabil memasang ekspresi ramah sambil tersenyum.
Padahal sejak terakhir kali pertemuan mereka, Kenzie tidak pernah menggubris panggilan atau pesan dari Nabil. Dia sengaja melakukan itu karena Kenzie sangat tidak puas dengan ucapan terakhir Nabil di restoran waktu itu.
Tapi melihatnya sekarang Nabil tidak merasa malu sedikitpun. Seakan-akan hubungan mereka masih sama seperti sebelumnya..
"Baik-baik saja. Ada apa?" Kenzie tidak sabar.
Senyum Nabil kaku. Lalu dia buru-buru menarik kekasihnya ke samping.
"Ini calon istriku, aku ingin memperkenalkannya kepadamu dan Azira."
Wanita itu bertubuh tinggi dengan bentuk wajah oval. Cukup cantik. Tapi dia agak eksentrik karena menggunakan baju terlalu terbuka di suhu sedingin ini, mungkinkah dia tidak merasa kedinginan?
"Hallo, namaku Meri." Meri merentangkan tangannya ke depan Kenzie dengan nada dan sikap akrab.
Bulu mata Meri berkibar centil saat menatap Kenzie.
Menangkup kedua tangannya di depan dada, Kenzie mengabaikan senyum kaku di wajah Meri.
"Kenzie, dan ini istriku. Namanya Azira." Seraya menarik Azira lebih dekat dengannya.
Sikapnya yang intim kepada Azira membuat Meri malu. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak memakan umpannya.
Cek, sayang sekali. Batin Meri menyayangkan.
__ADS_1
Matanya melirik Azira. Wanita cantik berwajah merah yang bisa bergerak intim dengan Kenzie.
Dia memang cantik, tapi sayang sekali cuma pengganti. Hah...pada akhirnya yang akan memiliki wanita ini adalah sepupu mas Nabil, yaitu Amara yang sebentar lagi akan kembali ke Indonesia. Aku harap kekacauan yang Amara buat dapat menghibur kami para penonton. Batin Meri diam-diam menantikan hari kehancuran Azira.