
"Oh, begitu. Kak, mau naik perahu enggak?" Sasa menunjuk perahu di pinggir danau.
Mata Azira langsung berbinar. Berhubung mereka berempat sedang kumpul, dia ingin mencoba naik perahu. Tapi sayang sekali antriannya sangat panjang. Mungkin butuh setengah jam lagi agar mereka berempat mendapatkan giliran.
"Kalau begitu kita tidak usah naik perahu saja. Kenapa tidak pergi keluar, soalnya di luar ada banyak orang jualan. Mulai dari cilok, gorengan, es buah, dan banyak lagi. Kak Ayana dan kak Azira pasti puas belanja di luar. Lagian kan jarang-jarang kita makan makanan bebas seperti ini. Jadi, nggak ada salahnya kalau kita mencoba sekali." Sasa mencoba membujuk Ayana untuk pergi.
Ayahnya adalah seorang dokter. Dia cukup ketat untuk soal makanan. Sama seperti Kenzie, dia jarang makan di luar dan lebih banyak makan di rumah. Sebenarnya sih dulu tidak apa-apa. Dia sama seperti yang lain. Suka belanja dan makan sembarangan. Namun semenjak sekolah kesehatan, dia mulai merubah gaya hidupnya dan membiasakan diri makan makanan sehat, terutama lebih banyak makan di rumah daripada makan di luar.
Azira juga tergoda. Kalau dia sih tidak mementingkan soal kesehatan. Selama itu makanan dia pasti akan memakannya.
"Ayana, tidak apa-apa kita berbelanja sekali saja. Apa kamu nggak penasaran dengan makanan di luar? Makan yang pedas-pedas dan berkuah paling enak di cuaca seperti ini." Azira mulai membujuk.
Ayana merenung, dia juga sebenarnya agak tergoda. Dan seperti yang mereka bilang, tidak apa-apa makan sekali atau dua kali, yang penting jangan banyak-banyak.
"Okay, ayo pergi. Aku kebetulan juga laper nih pengen makan."
Jadi dengan suara bulat mereka berempat pergi ke pintu masuk puncak. Di sana ada banyak pedagang kaki lima dengan berbagai macam makanan yang mereka jual. Ada buah-buahan khusus daerah sini, ada es krim, es buah ataupun es campur, gorengan ada di mana-mana dan berbagai macam makanan lainnya. Melihat apa yang mereka jual membuat mereka berempat serasa berada di surga makanan.
Ini adalah pesta!
"Ayo beli gorengan dulu!" Azira adalah orang pertama yang mengambil langkah ke depan.
Dia sangat tergila-gila dengan gorengan. Karena gorengan itu simple dan mengenyangkan. Dulu Ibunya sering membeli gorengan bukan untuk dimakan biasa-biasa saja, tapi untuk dijadikan lauk. Um, beli 10 ribu, mereka bisa memakannya hingga besok. Murah dan mengenyangkan!
"Kak Azira, ikut." Sasa buru-buru mengejar kakak iparnya pergi.
Langkah kaki Azira melambat menunggu Sasa menyusul.
"Ayo, buruan Sa- Buk!" Azira tidak sengaja menabrak seseorang.
"Oh, maaf Bu, aku tidak sengaja- nyonya Bara!" Azira sangat terkejut melihat orang yang dia tabrak adalah nyonya Bara!
Nyonya Bara!
Orang yang paling tidak ingin ditemui di muka bumi ini. Dia sangat muak dengan wanita ini. Wanita gila yang terus-menerus memaksanya untuk bekerja untuk kepadanya. Menjadi sapi perah yang menyedihkan. Memangnya wanita mana yang gila menjual harga dirinya untuk sesuap nasi kecuali mereka benar-benar berada di ujung kehancuran?
Azira tidak segila itu. Cukup melihat Ibunya sebagai pelajaran, maka dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di tempat kotor milik nyonya Bara. Apalagi sekarang, gimana kehidupannya sudah damai dan penuh akan kebahagiaan, mana rela dia menyerahkan nikmat ini untuk sebuah penderitaan jangka panjang?
"Oh, Azira. Kita bertemu lagi, sayang. Bagaimana kabarmu sekarang?" Matanya nyonya Bara mengembara menatap penampilan Azira yang sekarang.
Beberapa bulan tidak bertemu, nyonya Bara dibuat terkejut oleh perubahan besar Azira. Dia semakin cantik, pipinya kemerah-merahan dan lebih berdaging daripada sebelumnya, tapi yang lebih penting dari semua itu adalah Azira tidak semiskin dulu lagi. Baju yang dipakai pasti mahal, terlihat dari kualitas kainnya.
Tentu saja berubah, dia menikah dengan orang kaya raya. Tapi setelah berbulan-bulan menikah, kenapa keluarga suaminya belum juga mencampakkan Azira? Padahal nyonya Safa bilang kehidupan Azira tidak akan bertahan lama di rumah itu dan cepat atau lambat dia akan diusir. Tapi melihatnya saat ini, kenapa aku merasa dia terlihat lebih bahagia? Batin nyonya Bara kebingungan.
Dia sudah lama menunggu. Menunggu dan menunggu. Dia kira Azira akan diusir dan berubah menjadi gembel, tapi sampai dengan hari ini dia tidak mendapatkan kabar. Malah bertemu sekarang, perubahan Azira sangat besar.
"Kabarku baik-baik saja." Jawab Azira sinis.
"Kak Azira," Sasa akhirnya datang menyusul.
Nyonya Bara melihat Sasa,"Apakah dia keluarga suami kamu?" Tanya nyonya Bara menyeringai.
Azira mengepalkan tangannya marah.
"Dia adikku. Maaf, kami sedang sibuk. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi." Azira mengambil tangan Sasa dan berniat membawanya pergi, tapi tangan nyonya Bara sangat cepat.
Sebelum dia bisa mengambil beberapa langkah ke depan, nyonya Bara lebih dulu mencengkram kuat tangan Azira. Tidak mungkin, tidak mungkin dia membiarkan sumber penghasilannya pergi begitu saja. Apalagi dia sudah lama menunggu moment ini.
"Lepas!" Azira menepis kasar tangan nyonya Bara hingga terlepas.
"Nak, berbulan-bulan tidak bertemu, tempramen mu semakin kasar saja. Aku hanya ingin mengajakmu berbicara baik-baik. Apa perlu menggunakan cara kasar?" Ucap nyonya Bara dengan amarah terendam.
__ADS_1
Setiap kali berbicara dengan gadis ini, dia pasti berakhir dalam kemarahan!
Tapi demi uang, dia bisa menahannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita berdua!" Tolak Azira mentah-mentah.
Sasa melihat ada konfrontasi di antara kakak iparnya dengan wanita tua bangka ini. Dia sangat kesal. Melihat dari cara wanita tua bangka ini menatap kakak iparnya saja, dia mengetahui ada sesuatu yang salah dengan wanita tua bangka ini. Dia memiliki niat buruk terhadap kakak iparnya!
"Kak Azira, ayo pergi. Kak Kenzie pasti sudah menunggu kita di dalam." Sasa menarik lengan kakaknya untuk pergi.
Azira menurut tapi nyonya Bara tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dia menghalangi jalan mereka berdua dengan tubuh gempal nya yang berlemak.
"Jangan menghalangi jalan kami!" Azira membentak.
"Aku akan pergi kalau kamu bersedia berbicara secara pribadi denganku." Nyonya Bara memancing.
Azira tahu bahwa nyonya Bara ingin menipunya. Lagi pula dia tidak lupa dengan kejadian di mana nyonya Bara menipunya keluar dari rumah diculik.
"Kamu ingin menculik ku, bermimpi lah! Aku tidak akan tertipu di lubang yang sama."
Wajah nyonya Bara berubah merah. Dia naik pitam,"Nak, kamu sangat keras kepala-"
"Yo, kamu lagi." Suara dingin Kenzie memotong ucapan nyonya Bara.
Nyonya Bara terkejut, menatap ngeri ke arah Kenzie. Bertanya-tanya kenapa mereka bertemu lagi di sini?
Apakah ini kebetulan lagi?
"Istriku, kemari lah." Kenzie merentangkan tangan kirinya.
Istriku?
Melihat penyelamat datang, Azira langsung bergegas ke pelukan suaminya. Dia sangat bersyukur Kenzie datang ke sini.
"Kenapa kamu lagi yang mengganggu istriku. Apakah kamu benar-benar ingin aku laporkan ke polisi?"
Tangan kuatnya melingkari pinggang ramping Azira. Memeluknya posesif di bawah mata penasaran nyonya Bara.
Suaranya yang dingin jelas sedang mengancam. Nyonya Bara menelan ludahnya kasar. Bila dia tahu orang yang akan dihadapi adalah laki-laki ini, maka dia tidak akan pernah mau ikut campur dalam masalah ini.
Laki-laki ini jelas sedang melindungi Azira. Kalau dia berani macam-macam, laki-laki ini tidak akan segan melaporkannya ke polisi. Masih baik kalau tidak ada buktinya dulu, tapi masalahnya laki-laki ini pernah mengambil fotonya saat akan berniat menculik Azira.
Cek,
Bukannya dulu laki-laki ini hanya mengaku bertetangga dengan Azira?
Tapi kenapa dia sekarang beralih menjadi suaminya?
Luar biasa Azira. Tidak heran kamu merebut calon suami adik kamu sendiri, ternyata selain kaya, laki-laki ini juga sangat tampan. Cek, wanita penggoda memanglah wanita penggoda. Mau Ibu atau anak, kalian berdua sama saja. Huh... Sayang sekali kamu tidak bisa menjadi pekerja ku. Jika saja, tempatku pasti akan kembali ramai, sama seperti yang terjadi kepada Ibumu dulu. Batin nyonya Bara merasa rumit di dalam hatinya.
Dilihat dari perlawanan laki-laki ini, Azira mungkin tidak akan pernah diusir dari sana. Nyonya Bara merasa pesimis. Dia berencana untuk berdiskusi kembali dengan bibi Safa untuk lebih jelasnya.
"Ah... Nak, kamu salah paham. Aku tidak berniat apa-apa kepada Azira. Aku terlalu bersemangat karena baru bertemu lagi setelah sekian lama tidak melihatnya. Aku ingin tahu bagaimana kabar Azira setelah Ibunya meninggal. Aku kira dia masih membutuhkan pekerjaan makanya aku ingin berbicara. Tapi melihat kamu, Nak, sekarang aku tahu kalau dia baik-baik saja. Dan ngomong-ngomong, kapan kalian berdua menikah?" Nyonya Bara tertawa kering.
"Azira, kamu tega sama aku. Kenapa kamu tidak menghubungiku untuk acara sepenting ini? Kalau aku tahu kamu menikah, aku pasti akan meluangkan waktuku untuk datang ke acara pernikahan kamu. Ibu kamu sudah meninggal, jadi menurut senioritas dan hubungan kita selama ini, seharusnya aku bisa mewakili Ibumu. Bukankah seharusnya begitu?" Sambungnya berbicara berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka.
Akan tetapi dia merasa malu sendiri melihat orang-orang memasang wajah datar sementara dia mencoba untuk tertawa. Bagaimana mengatakannya? Nyonya Bara merasa kalau orang-orang ini memandang dirinya seperti badut.
Ini sangat menjengkelkan.
Azira mendengus,"Pekerjaan mu? Huh, nyonya Bara yang terhormat, tolong sampaikan rasa terima kasihku kepada bibi Safa atas uluran tangannya kepada Ibu ku dulu. Aku sangat berterima kasih. Dan tolong juga sampaikan pesanku kepadanya bahwa aku tidak akan terjatuh di lubang yang sama, di lubang yang pernah ibuku tinggali. Lalu tentang pernikahan kami, memberitahumu adalah sebuah kesalahan, jadi mengapa aku harus memberi tahu kamu?" Meliriknya penuh kebencian,"Aku tidak lupa bagaimana caramu memperlakukan Ibuku dulu, logika saja, aku tidak mungkin menggantikan posisi ibuku dengan kamu. Kamu sungguh sangat tidak layak." Ucap Azira mencibir.
__ADS_1
Apa-apaan ini, bisa-bisanya wanita gila ini ingin datang ke acara pernikahan dan menggantikan posisi Ibunya!
Sungguh menjijikkan!
Dan satu lagi, dia yakin nyonya Bara mengerti apa yang dia katakan, sebab dia memiliki kecurigaan kalau bibi Safa lah yang meminta nyonya Bara untuk menculiknya agar bisa dipekerjakan sebagai pekerja **** komersial yang pernah ibunya geluti.
Bukan tanpa alasan Azira mencurigainya. Heh, wanita sok alim itu pasalnya sangat senang bermain api di saat jilbab panjang selalu menutupi sebagian tubuhnya. Ironis sekali.
"Bibi Safa?" Otak Sasa langsung mengingat cerita Azira.
Dan dia merasa sangat geram.
"Kamu... Bagaimana kamu.." nyonya Bara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Dia bertanya-tanya sejak kapan Azira mengetahui kalau bibi Safa adalah dalang dibalik semua penderitaan ibunya dulu?
Pasalnya nyonya Bara tidak pernah mengungkapkan rahasia ini.
"Sebaiknya tante pergi saja! Tante tidak diterima di sini!" Usir Sasa sakit hati.
Kenzie melirik istrinya dengan ekspresi bermartabat. Kemudian dia berpaling menatap wajah berlemak nyonya Bara yang kesulitan tersenyum.
"Nyonya, istriku tidak membutuhkan apapun darimu dan tolong sampaikan apa yang istriku katakan tadi. Sisanya, tolong jangan bermain-main lagi. Kuharap kamu mengerti."
Ujar Kenzie dengan tatapan bermakna.
Nyonya Bara merasa bergidik melihat tatapan Kenzie. Sejujurnya dia ingin segera pergi dari sini, tapi entah kenapa kakinya seolah terpaku di tempat hingga tak bisa bergerak. Di dalam hati dia berteriak putus asa, memaki-maki kakinya yang berlemak karena tidak bisa berkompromi dengan keadaan.
"Aku... Sekarang aku tahu kalau Azira hidup baik-baik saja jadi aku tidak akan mencarinya lagi. Aku sungguh hanya bermaksud baik karena ibunya dulu sempat bekerja untukku. Bagiku dia dan ibunya adalah kerabatku. Maka wajar-wajar saja aku mengkhawatirkan kehidupannya sekarang." Meskipun dilanda ketakutan tapi nyonya Bara masih mempertahankan sandiwaranya dengan keras kepala.
Melihat sandiwara kakunya, Sasa tergoda untuk bertepuk tangan, memberikan apresiasi terhadap kekonyolan nyonya Bara.
"Kerabat, cih..." Sasa mencibir.
Nyonya Bara sebelumnya sempat mengagumi wajah cantik Sasa. Tapi sekarang, setelah melihat betapa buruk kelakuan Sasa yang tidak jauh berbeda dengan Azira, dia sangat marah. Diam-diam merutuki Sasa dengan berbagai macam umpatan kasar di dalam hati.
"Denganku, dia baik-baik saja. Ngomong-ngomong sebelum pergi aku ingin memberitahu tante, bahwa apa yang telah tante lakukan kepada istriku tadi telah direkam. Pak Maman," Panggil Kenzie.
Azira dan Sasa sontak saling memandang. Mereka tidak tahu kalau Pak Maman ada di sini tadi dan bahkan membuat rekaman.
"Tuan, semuanya sudah saya rekam di sini." Pak Maman datang dari samping kanan, ternyata selama ini dia berdiri tepat di belakang pohon.
Pak Maman bergegas menghampiri Kenzie dan menyerahkan ponselnya.
Kenzie melihat rekaman singkat di ponsel dan menunjukkannya di depan nyonya Bara.
"Hati-hati lain kali." Pengingatnya dengan senyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Nyonya Bara menatap ngeri Kenzie. Cara mainnya selalu seperti ini, dua kali mereka bertemu maka dua kali pula Kenzie membuatnya ketakutan.
"Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi. Selamat siang." Entah dari mana kekuatan itu berasal, nyonya Bara langsung melarikan diri tanpa menunggu mereka menjawab salamnya.
Azira akhirnya merasa lebih rileks melihat kepergian nyonya Bara. Dia yakin nyonya Bara tidak akan lagi mencarinya, kecuali yah... Dia mengalami gangguan mental.
"Lega?" Kenzie merasa lucu sekaligus marah.
Untung saja nyonya Bara tidak membawa premannya ke sini. Kalau tidak, dia tidak tahu harus bagaimana bereaksi jika Azira sampai...
Azira merasa malu.
"Alhamdulillah, aku merasa jauh lebih lega. Wanita itu... Adalah orang yang menjebak Ibuku dan menyeretnya untuk terus hidup menderita. Aku sangat... Marah dan membencinya, tapi sayangnya tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menerus melarikan diri agar tidak masuk ke dalam jebakannya." Kata Azira sedih.
__ADS_1