
Selepas sarapan, Azira tetap tinggal di ruang makan untuk membantu Umi membersihkan meja makan. Ia tidak sendirian di sini karena Kenzie juga ikut membantu. Abah dan Umi melihat kedekatan mereka berdua tapi tidak memberikan komentar apa-apa. Abah hanya mengamati dalam diam saja dari ruang sebelah sedangkan Umi diam membisu ikut membersihkan meja makan. Sejujurnya Azira dan Kenzie lah yang ikut-ikutan membantu. Padahal Umi tidak pernah meminta bantuan mereka berdua untuk datang membantu.
"Umi, biar aku saja yang membawanya ke dapur." Azira berjalan mendekati Umi.
Umi baru saja akan mengangkat kumpulan piring kotor di atas meja dan akan membawanya ke dalam dapur.
Azira mengulurkan tangannya menggeser tumpukan piring itu tapi segera dihentikan oleh Kenzie. Azira terkejut. Ia menatap Kenzie ragu-ragu tidak berani menebak pikirannya.
"Bantu Umi mengelap meja. Piring-piring ini biar aku saja yang membawanya ke dapur." Ucap Kenzie lembut kepada Azira.
Jika Azira belum pernah menghadapi langsung sikap dingin dan acuh Kenzie kepadanya, maka mungkin ia akan tertipu dengan kelembutan yang Kenzie tunjukkan kepadanya barusan. Cara Kenzie berbicara dan nada suaranya yang lembut seakan memberikan Azira sebuah ilusi bahwa mereka adalah pasangan pengantin yang saling mencintai.
"Ah...iya, mas." Azira mundur beberapa langkah ke samping.
Kenzie tersenyum lembut. Tangannya yang besar terangkat ke atas kepala Azira. Melihat tangan Kenzie terangkat tinggi, Azira sontak memejamkan matanya takut. Sedetik kemudian, matanya membola kaget melihat Kenzie aneh sekaligus heran. Ia pikir Kenzie akan menyakitinya namun justru sebaliknya, Kenzie malah mengusap puncak kepalanya.
Mengusapnya lembut.
"Jangan biarkan Umi terlalu lelah." Ucap Kenzie masih dengan nada yang lembut kepada istrinya.
Azira tiba-tiba merasa pipinya agak panas dan anehnya, ada rasa malu yang muncul dari dalam hatinya.
Reaksi tubuhnya semakin tidak benar tatkala ia merasakan debaran jantung di dadanya berdetak terlalu cepat dan tidak normal.
Ayo Azira, tenangkan dirimu. Jangan tertipu oleh kebaikan Kenzie. Karena dia sengaja melakukannya untuk mempermalukan kamu. Batin Azira mengingatkan diri sendiri agar jangan terlena.
"Iya, mas." Azira sengaja berjalan ke sisi Umi agar Kenzie tidak menyentuh kepalanya lagi.
Melihat sikap penolakan istrinya, Kenzie tidak bisa menahan senyuman kepuasan di bibirnya.
Kenzie tidak terus menganggu istrinya lagi. Ia mengambil tumpukan piring kotor di atas meja dan membawanya ke dalam dapur.
__ADS_1
Azira menundukkan kepalanya berpura-pura tidak melihat kepergian Kenzie. Faktanya, selama ini ia diam-diam mengintip punggung Kenzie dari sudut matanya.
Sementara itu Umi menatap punggung putranya dengan tatapan aneh. Umi merasa bila Kenzie hari ini terlihat jauh lebih aktif dari hari-hari biasanya. Perubahan yang Umi lihat dalam waktu yang sangat singkat ini, Umi bisa merasakan jika emosi Kenzie tidak sedatar dulu. Ini adalah kabar baik, Umi senang melihatnya. Hanya saja saat Umi mengalihkan pandangannya melihat Azira, ada perasaan tidak rela mengetahui jika perubahan putranya dipengaruhi oleh Azira.
Umi merasa bahwa semuanya tidak benar.
"Kamu...sudah kenal lama dengan Kenzie?" Umi tiba-tiba bertanya.
Azira terkejut. Ia spontan mengangkat kepalanya menatap Umi. Mungkin karena Umi adalah orang asing yang ikut terlibat menjadi korban dalam ajang balas dendam ini, Azira merasa sangat malu dan agak rendah di depannya.
"Kami sebelumnya tidak saling mengenal, Umi." Jawab Azira tenang.
Umi mengernyit,"Jika kamu tidak saling mengenal sebelumnya, lalu kenapa Kenzie bisa menyebut namamu saat ijab kabul?" Tanya Umi tidak mengerti sekaligus merasa lega.
Ia lega karena perubahan Kenzie mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan Azira. Wanita asing yang tidak diketahui secara pasti darimana asal usulnya. Logika saja, bila keluarga Humairah menolak mengenal Azira, maka tidak masuk akal bagi mereka selaku keluarga Kenzie untuk menerima kehadirannya.
Akan tetapi bukankah semuanya sudah terlambat sekarang?
"Itu..." Azira bimbang harus mengatakan apa.
"Umi."
Tepat saat Azira merasa terpojok, Abah tiba-tiba memanggil dari ruangan sebelah.
"Iya, Bah?" Sahut Umi dari ruang makan.
"Tolong ambilkan Abah minyak kayu di kamar. Kaki Abah sakitnya kambuh lagi, Umi."
Umi jadi bingung,"Kok tiba-tiba kambuh? Padahal semalam kan udah di pijitin sama Umi?" Gumam Umi berbicara dengan dirinya sendiri.
"Iya, Bah. Umi ambilin ke kamar dulu, yah." Umi lalu pergi ke kamar untuk mengambil minyak kayu Abah.
__ADS_1
Melihat perhatian Umi teralihkan, Azira menghela nafas lega. Ia bersyukur sakit kaki Abah tiba-tiba kambuh dan menyelamatkannya dari pertanyaan membunuh Umi. Jika tidak, entah jawaban apa yang akan ia katakan kepada Umi tadi.
Takut Umi kembali lagi, Azira langsung mempercepat tangannya membersihkan meja. Setelah bersih, ia langsung melarikan diri ke dapur dan bertemu lagi dengan Kenzie.
Azira berdiri ragu di depan pintu masuk dapur. Pasalnya ia melihat Kenzie sedang sibuk mencuci piring di wastafel. Pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh seorang wanita pada saat ini Kenzie kerjakan dengan cepat dan bersih tanpa canggung, seolah-olah Kenzie sudah biasa melakukanya.
"Tolong bawa semua piring yang sudah bersih ke rak piring." Suara datar Kenzie langsung membuyarkan lamunan Azira.
Tanpa bersuara, Azira segera mendatangi Kenzie. Berdiri di sampingnya, ia lalu mengulurkan tangannya mengambil piring yang sudah bersih dan membawanya ke rak untuk dikeringkan. Mereka bekerja dalam diam tanpa ada interaksi yang mencolok. Yang satu membersihkan alat makan yang kotor sedangkan yang satunya lagi menaruh alat makan yang sudah bersih ke rak untuk dikeringkan.
Pekerjaan ini mereka lakukan hingga 15 menit kemudian, pekerjaan akhirnya selesai.
"Naiklah ke kamar dulu. Aku akan menyusul mu nanti." Kata Kenzie sebelum pergi keluar dari dapur.
Sikapnya yang acuh tak acuh berbanding terbalik saat sedang di depan Umi.
Wajah Azira langsung cemberut. Sambil menundukkan kepalanya mengelap tangan yang basah, Azira diam-diam berpikir bila Humairah yang ada di posisinya sekarang, akankah Kenzie masih bisa bersikap lembut?
Tersenyum kecut, ia lalu menggelengkan kepalanya mengusir pertanyaan yang tidak seharusnya ia tanyakan. Toh, jawabannya pun sudah bisa ditebak olehnya.
...***...
Azira P. O. V
Aku langsung naik ke atas setelah selesai bekerja di dapur. Saat melewati ruang tengah tadi, aku sempat mendengarkan Sasa dan Umi berbicara tentang Humairah. Sayang sekali aku tidak bisa menguping pembicaraan mereka karena baik Sasa dan Umi pasti menyadari kehadiranku saat itu.
Hah, Humairah. Bagaimana kabarnya sekarang?
Aku sungguh ingin mendengarnya. Lalu bibi Safa dan keluarga Ayah yang lainnya, kuharap mereka akan tersiksa oleh kebencian yang mereka rasakan kepadaku.
Nikmati saja. Menderita lah sebanyak yang ku alami dan Ibu saat itu. Karena dengan begitu setidaknya aku bisa merasakan betapa adilnya dunia ini setelah sekian lama menderita ketidakadilan.
__ADS_1