Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 21.8


__ADS_3

"Umi sudah mendengar semuanya dari adik-adik kamu kemarin. Kenzie, anak itu sangat menyebalkan. Dia sangat suka membuat orang salah paham. Tolong maafkan dia, ya, Nak. Karakter putra Umi memang seperti itu. Dia selalu menyepelekan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Tapi sekarang apa yang terjadi, hal-hal yang disepelekan hampir saja mengancam rumah tangga kalian berdua. Umi pikir setelah kejadian ini dia harus belajar memahami bahwa segala sesuatu perlu dibicarakan. Entah itu sepele atau tidak, semuanya membutuhkan komunikasi. Umi yakin dia kapok dan insya Allah tidak akan mengulangi kecerobohannya itu. Percaya sama Umi, dia pasti berubah. Dan kamu tenang saja Azira, Umi selalu berada di pihak kamu apapun yang terjadi. Kalau sampai Kenzie macam-macam sama kamu, Umi yang akan seret dia ke KUA!" Disela-sela mengaduk nasi goreng di wajan, Umi berbicara dengan Azira.


Apa yang Umi katakan serius tapi dibumbui dengan nada bercanda sehingga orang-orang jadi salah paham, mengira kalau Umi sedang bercanda. Bahkan Azira pun berpikir begitu. Meskipun Umi bercanda, tapi Azira merasa bersyukur memiliki mertua yang begitu baik kepadanya. Tidak hanya mertua, tapi ipar ataupun sepupu suaminya baik-baik, Azira diperlakukan dengan baik dan ramah oleh mereka semua.


Azira mana rela melepaskan orang-orang sebaik ini.


"Umi ngapain ke KUA, mau nikahin kak Kenzie sama Amara?!" Sasa dan Mona menatap Umi ngeri.


Kok bisa-bisanya Umi berniat menyatukan Kenzie dan Amara!


Umi agak lain, emang.


Enggak cuma Umi yang ngeri dengerin perkataan Sasa, tapi Azira juga. Tangannya bahkan gatal ingin menutup mulut gagak Sasa biar enggak asal ngomong lagi. Enak aja suaminya dinikahin wanita lain, kalau sampai itu terjadi, Azira ogah bertahan!

__ADS_1


Dia memiliki prinsip tidak mau dimadu ataupun diduakan!


"Eh, main asal ngomong aja, kamu! Siapa yang mau nikahin kakak kamu sama buaya betina itu!" Umi marah, benar-benar marah.


Nyali Sasa langsung menciut.


"Lagian Umi ngapain bawa kak Kenzie ke KUA? Padahal di rumah kak udah ada kak Azira?" Tanyanya dengan nada polos yang dibuat-buat.


Umi mendengus. Tangannya yang mengaduk wajan meninggalkan suara nyaring di dalam dapur. Tampak sangat marah.


Umi sama seperti wanita lain, membenci perselingkuhan ataupun pengkhianatan. Bila suatu hari putranya berselingkuh, Umi nggak akan pernah membela dia. Mungkin Umi akan mengusir anaknya pergi dan membiarkan menantunya tetap tinggal di rumah. Bagaimanapun yang berbuat salah adalah putranya, jadi tidak adil membiarkan Kenzie tinggal di rumah apalagi sampai membawa selingkuhannya sementara Azira harus mengalah di luar.


"Umi... Umi, kita enggak punya adik bawah.." Mona mengingatkan Umi dengan murah hati.

__ADS_1


Umi tahu tapi tidak mau tahu.


"Kita enggak punya tapi belum tentu dia enggak punya!"


Mulut mereka bertiga berkedut tertahan.


Azira tersenyum malu,"Umi, mas Kenzie bukan orang seperti itu. Dia orangnya serius, Umi, dan dia juga cukup...anti sama wanita lain, jadi insya Allah rumah tangga kami berdua aman."


Azira sangat percaya diri dengan karakter suaminya sekarang. Dia tahu dan yakin bila suaminya tidak memiliki pemikiran lain terhadap wanita lain. Bukan hanya karena pengakuan dari suaminya, tapi Azira juga menyaksikannya sendiri bagaimana Kenzie memperlakukan wanita lain selain dirinya selalu istri.


Sasa tertawa kering.


"Kak, kak Kenzie enggak cuma 'cukup' anti tapi benar-benar anti wanita. Aku aja yang adiknya jarang banget diperhatiin sama dia, apalagi wanita lain yang orang luar? Ya Allah, kak Kenzie memang pantas dijuluki batu berjalan!" Sasa mengolok-olok.

__ADS_1


"Oh, berjalan yah?" Suara dingin seseorang langsung membuat Sasa tersedak!


"Uhuk!"


__ADS_2