
Kemudian beberapa wanita dan laki-laki paruh baya berpakaian sederhana menerobos kerumunan. Penampilan mereka sangat berbeda dibandingkan dengan penampilan para tamu yang ada di tempat ini. Mereka terlihat sederhana, sekilas penampilan mereka menunjukkan bahwa mereka berasal dari tempat yang biasa-biasa saja.
"Siapa orang-orang ini?" Ada suara-suara kebingungan diantara kerumunan.
Tidak ada yang tahu siapa orang-orang ini. Mereka memiliki wajah-wajah baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dan penampilan mereka juga biasa-biasa, malah terkesan udik. Sepertinya rombongan orang-orang ini berasal dari kampung.
"Katakan kepada kami, siapa yang ingin mencelakai Azira!" Kali ini wanita paruh baya yang memiliki penampilan garang berteriak lantang di depan banyak orang.
Suaranya tegas, di hadapan banyak orang asing dia sama sekali tidak takut dan pantang menyerah.
"Ibu?" Jantung Azira berdebar kencang.
Dia mengangkat kepalanya karena tiba-tiba mendengar suara ibu. Suara wanita yang sudah lama dia rindukan. Bingung, dia melihat bila perhatian semua orang sedang tertuju pada satu titik. Mengikuti ke arah mana orang-orang melihat, kedua matanya langsung membola kaget. Bagaimana dirinya tindak kaget?
Saat ini tak jauh darinya berdiri, seorang wanita paruh baya yang sangat mirip dengan ibunya kini tengah berdiri berbicara di depan banyak orang dengan tatapan garang. Dia persis terlihat seperti ibu, ibu yang selama ini Azira rindukan dan seringkali masuk ke dalam mimpi-mimpi malamnya.
"Ibu, hiks.." tangisnya pecah. Bahunya bergetar hebat tak dapat menahan luapan emosi di dalam hati.
Mendengar panggilan kecilnya, wanita paruh baya itu menoleh, bertatapan langsung dengan Azira. Sejenak, wanita paruh baya itu tidak bisa berkata-kata. Matanya menatap kosong melihat wajah basah Azira. Dia sama sekali tidak salah melihat. Wanita muda yang kini tengah menangis di dalam pelukan seorang laki-laki begitu mirip dengan adiknya saat masih gadis.
"Ibu.." Panggil Azira lagi merindu.
Wanita paruh baya itu langsung tersadar. Tanpa bertanya pun dia langsung mengenali siapa Azira. Keponakan yang selama ini dia cari-cari, keponakan yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Pernah berpikir mungkinkah keponakannya sudah pergi, dia putus asa mencarinya. Tapi tidak pernah menyerah untuk terus mencari hingga akhirnya dia mendapatkan kabar dari putrinya yang pernah bekerja di kota bahwa keponakannya masih hidup, hidup dan kini telah menikah dengan laki-laki berkemampuan.
"Azira... Apakah ini kamu, Nak?" Tanya Bibi kepada Azira.
Saat Bibi berjalan semakin dekat, barulah Azira menyadari bahwa dia bukan ibunya. Dia bukan ibu yang dia rindukan, dia hanyalah seorang wanita paruh yang mirip dengan ibunya.
Mereka sangat mirip, mungkinkah mereka?
Azira menebak-nebak di dalam hatinya.
"Benar, dia adalah bibimu. Saudara Ibu yang ada di kampung. Selain bibi, kita juga kedatangan keluarga yang lain. Mereka khusus datang ke sini untuk bertemu kamu." Seolah bisa membaca pikiran istrinya, Kenzie mengambil inisiatif untuk menjelaskan kepada Azira siapa orang-orang ini.
Ternyata mereka adalah kerabat ibunya yang berasal dari kampung. Hati Azira langsung berdebar kencang. Bohong jika dia mengatakan kalau dia tidak senang. Dia sangat senang bertemu kembali dengan kerabat ibunya. Setidaknya dia berpikir bahwa dia bukan satu-satunya orang yang menyayangi ibu.
"Bukankah ini laki-laki bejat yang telah menghancurkan kehidupan adik kita!" Raungan wanita paruh baya berpakaian putih langsung menarik fokus semua orang.
Mendengar kata laki-laki bejat langsung menarik fokus bibi dari Azira. Bibi mengalihkan perhatiannya menatap ke arah mana saudaranya tadi berbicara. Saat matanya menangkap laki-laki paruh baya yang tengah duduk memangku seorang wanita di atas karpet, seketika semua keluhan di dalam hatinya menyeruak keluar.
Ingatan mulai dari hari di mana laki-laki ini datang di desa, menjalin pertemanan dengan saudaranya hingga mengikuti kemanapun saudaranya pergi, membisikan kata-kata omong kosong kepada saudaranya dan berakhir menikah!
Dadanya semakin sesak tatkala mengetahui laki-laki bejat ini pergi ke kota setelah berhasil mempengaruhi kehidupan saudaranya. Pergi ke kota dan menghilang tanpa kabar sedangkan saudaranya di kampung bertahan dalam kehidupan yang sulit sambil mengandung Azira. Bertahun-tahun penantian laki-laki bejat ini tak kunjung datang ke kampung hingga Azra lahir dan tumbuh, laki-laki bejat ini sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Menghilang dan menghilang, semua orang bingung bagaimana caranya menghubungi laki-laki bejat ini. Awalnya keluarga masih berpikiran positif, mungkin saja laki-laki bejat ini memiliki pekerjaan yang sibuk di kota. Tapi bertahun-tahun berlalu dan tidak kunjung ada kabar, hati semua orang sudah mati rasa. Mereka akhirnya menyadari bahwa laki-laki bejat ini tidak memiliki niat yang baik dari awal. Hanya sayang sekali saudaranya tidak mau mendengarkan perkataan mereka dan bersikeras bahwa suatu hari nanti laki-laki bejat ini akan kembali ke kampung.
Sampai akhirnya Azira berusia 12 tahun, saat itu dia baru saja lulus sekolah dasar di kampung. Dengan modal nekat, saudaranya mengajak Azira pergi ke kota untuk mencari laki-laki bejat itu, kemudian menghilang tanpa kabar juga.
Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu dengan Azira tapi tidak dengan saudaranya. Sebab saudaranya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.
"Siapa.... Siapa kamu?" Ayah menatap kaget bibi dan yang lainnya.
__ADS_1
Meskipun sudah tidak bertemu lebih dari 20 tahun lamanya, tapi ayah tidak akan lupa bagaimana wajah-wajah iparnya yang ada di kampung. Namun di sini dia tidak mau mengakui bahwa dia mengenal orang-orang ini. Selain takut dengan pembalasan mereka, dia juga tidak mau mengakui orang-orang ini pernah menjadi kerabatnya dulu sewaktu menikah dengan Ibu Azira.
Bibi tidak bisa tersenyum lagi.
"Apakah kamu masih bertanya siapa aku?" Tanya Bibi dengan nafas memburu.
Mama dan bibi Safa saling memandang. Mereka berdua tidak tahu siapa wanita dan kelompoknya ini, tapi diam-diam di dalam hati mereka telah memiliki tebakan samar.
"Apakah mereka... keluarga wanita penggoda itu?" Bisik Mama di samping bibi Safa.
Saat ini mereka berdua tengah membantu Humairah. Beberapa saat yang lalu mereka panik memijat kepala Humairah, tapi tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan orang-orang ini.
"Mungkin.... Wanita ini agak mirip dengan wanita pelakor itu.." bedanya wanita ini jauh lebih tua daripada wanita penggoda itu. Lanjut bibi Safa berpikir.
Mama dan bibi Safa memiliki kejutan di mata masing-masing. Bila bibi Safa agak takut dengan momentum keluarga pihak Ibu Azira, maka Mama berbeda. Mama merasa tertantang dan ingin segera melampiaskan semua penderitaan yang dialami ketika mengetahui calon suaminya setelah menikah dengan seorang wanita desa.
Dia masih tidak melupakan kebencian ini. Membenci Ibu Azira sama halnya dengan membenci keluarga Ibu Azira, jika tidak ada bantuan dari keluarga, Ayah tidak akan pernah menikahi wanita desa itu!
"Kak, jangan impulsif dulu." Bibi Safa mengingatkan. Dia dapat melihat tekad di dalam mata iparnya itu.
Mama hanya diam membisu. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun tapi kedua matanya bersinar nyalang melihat ke arah bibi dan yang lainnya.
"Oh, mungkin kamu lupa siapa kami. Karena kamu lupa, aku tidak masalah memperkenalkan diri lagi kepadamu. Siapa tahu kamu akan mengingat kembali semua yang kamu lupakan dulu." Kata bibi mengikuti alur yang ayah inginkan.
Ayah mengepalkan tangannya berkeringat dingin.
Tapi bibi sama sekali tidak mendengar apa yang dia katakan dan tetap memperkenalkan dirinya.
"Aku...aku adalah saudara dari wanita desa yang pernah kamu nikahi lebih dari 20 tahun yang lalu. Dan wanita-wanita di belakangku, mereka adalah sepupu-sepupu kami, sepupu dari wanita desa yang kamu hancurkan kehidupannya. Dan lihatlah para laki-laki itu. Mereka adalah kakak kami, orang yang menjadi wali setelah kedua orang tua kami meninggal. Lebih dari 20 tahun yang lalu kamu menghalalkan saudaraku lewat kakakku. Kamu berjabat tangan dengan kakak laki-laki untuk menikahi saudaraku! Sekarang...apakah kamu mulai mengingat nya?" Kata bibi pelan namun sarat akan perasaan emosi di dalam hatinya.
Setelah diingatkan begini, bagaimana mungkin Ayah bisa berpura-pura tidak mengenal mereka. Apalagi sekarang dia sedang ditonton oleh banyak orang, bukan dari kalangan orang biasa melainkan dari kalangan para pebisnis. Dia tidak mau dirinya menjadi bahan lelucon dari rekan-rekan bisnisnya.
Maka dengan amat sangat terpaksa dia mengakui,"Kakak?"
Bibi meraung marah,"Siapa yang kamu panggil kakak, hah?" Bibi langsung berjalan cepat ke arah ayah, dengan sekuat tenaga dia meraih kerah ayah dan menariknya kuat.
Melihat itu, bibi Safa dan mama datang menarik bibi tapi langsung ditepis dengan mudahnya oleh bibi. Bibi sudah terbiasa bekerja di sawah, maka meskipun perempuan, tenaganya sangat besar dan kuat.
"Minggir!" Tepis Bibi tidak senang.
Gara-gara menepis mereka, bibi tidak sengaja melepaskan kerah ayah. Dia sangat marah!
Mama dan bibi Safa terjatuh. Setelah jatuh mereka buru-buru bangkit lagi ingin menarik Bibi pergi.
Tindakan Bibi membuat Ayah sangat ketakutan. Dia ingin mundur ke belakang untuk melarikan diri, tapi bahunya tiba-tiba ditekan oleh orang lain sehingga dia tidak bisa bergerak. Ketika dia mengangkat kepalanya, dia sangat terkejut karena orang yang telah menekan bahunya tiada lain dan tiada bukan adalah bibi Sifa serta suaminya.
Berbulan-bulan menghilang tanpa kabar dan memilih hidup mandiri bersama suaminya di luar, mereka akhirnya bertemu sekarang tapi di waktu yang sangat salah.
Wajah bibi Sifa terlihat sangat buruk. Ada kesedihan, kemarahan, dan ketidakberdayaan yang bercampur menjadi satu. Terbungkus dalam perasaan kecewa.
__ADS_1
"Sifa?" Ayah tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh adiknya ini.
Bibi Sifa menggelengkan kepalanya. Wajahnya basah karena menangis.
"Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi di masa lalu. Bila Allah mengizinkan aku memutar kembali lagi waktu, aku sendiri yang akan membawa Azira dan Ibunya kembali ke kampung agar kalian tidak bisa menyakitinya lagi." Kata bibi Sifa tenggelam dalam penyesalannya.
Suatu hari dia tiba-tiba mendapatkan pesan dari seseorang. Pesan itu mengungkapkan sebuah rahasia besar, skandal keluarganya yang selama ini dia tidak tahu. Awalnya dia tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh pesan itu. Tapi saat dia pergi menyelidikinya bersama sang suami, dia menemukan jika pesan itu tidak berbohong. Faktanya selama ini orang-orang yang selalu dia anggap sebagai keluarga telah kehilangan jati dirinya sebagai manusia.
Bibi Sifa sangat terkejut dan marah pada saat yang sama. Bagaimana bisa saudara-saudaranya memiliki hati yang begitu kejam?
"Tidak... Tidak tidak tidak tidak tidak tidak...." Ayah menggelengkan kepalanya ingin segera bangkit tapi sekali lagi ditekan oleh suami bibi Sifa.
Wajahnya yang dingin dan datar menatap ayah garang tanpa menunjukkan rasa simpati sedikitpun.
"Mas!" Mama memanggil. Dia melihat bibi Sifa suaminya
"Sifa, biarkan kakak kamu pergi dari sini!" Teriak Mama marah.
Tapi bibi Sifa berpura-pura tuli. Dia seolah tidak mendengarkan teriakan nyaring dari pihak kakak iparnya.
"Sifa... Ingat, dia adalah kakak kamu!" Mama mengingatkan tapi dia masih tetap tidak peduli.
"Kakak." Bibi Safa berteriak sambil mengulurkan tangannya ingin menjangkau.
Akan tetapi mereka langsung dihalangi oleh wanita paruh baya lainnya. Dengan sekali tarikan bibi Safa dan mama terpisah tak bisa menjangkau Ayah lagi.
Dengan putus asa Bibi Safa dan Mama hanya bisa berurusan dengan orang-orang ini. Sementara itu, bibi melihat kedatangan orang asing yang membantunya menahan ayah agar tidak segera melarikan diri. Mendengar percakapan mereka tadi bibi tahu bila wanita ini merupakan salah satu saudara laki-laki bejat ini. Dia tidak tahu apa maksud bibi Sifa melakukan ini, walaupun dia merasa terbantu tapi bibi tidak mengucapkan terima kasih kepadanya. Jangan kan salahkan bibi bersikap bias seperti ini. Di mata bibi semua anggota keluarga Ayah semuanya bersalah. Tidak terkecuali wanita ini. Namun berhubung dia membantunya menekan ayah, maka bibi tidak akan mengganggunya di sini.
"Akhirnya setelah bertahun-tahun kami menemukan kamu." Kata bibi sembari menarik kerah ayah, berjalan menjauh dari bibi Sifa.
Bibi Sifa menatap getir melihat kakaknya ditarik seperti orang yang tidak berguna.
"Sifa... Sifa! Selamatkan aku!" Teriak ayah tak rela berpisah.
Namun bibi Sifa tidak mengambil tindakan apapun. Dia berdiri di diam menonton bibi menarik ayah pergi.
"Tak perlu merasa sedih, istriku. Orang yang kamu kasihani adalah orang yang tidak memiliki hati nurani di dalam jiwanya." Kata sang suami sembari memegang erat tangan bibi Sifa.
Bibi Sifa tersenyum kecut. Dia menganggukkan kepalanya mengerti. Dirinya tahu betapa bejat ayah dan yang lainnya, tapi tetap saja dia masih merasa tidak nyaman melihat keluarganya diperlakukan seperti ini.
"Aku tahu, mas."
Sang suami tersenyum tipis,"Hum."
Mereka berdua menonton ayah dibentak-bentak oleh bibi tanpa bisa melakukan perlawanan.
"Kak, tolong lepaskan aku." Mohon ayah merasa tidak nyaman di punggungnya.
"Kami bukanlah kakak kamu lagi! Betapa teganya kamu menghancurkan kehidupan saudara kami! Kamu menghancurkan hidupnya sehancur-hancur nya setelah berhasil mendapatkan hatinya! Padahal saudaraku sangat mempercayai kamu! Dia kira kamu benar-benar tulus mencintainya tapi apa yang dia dapatkan! Kamu....kamu meninggalkannya pergi demi menikah dengan wanita di kota! Dan kamu juga menelantarkannya di luar setelah dia memberanikan diri datang ke kota untuk mencari kamu! Sebenarnya apa kesalahan saudara kami kepada kamu sehingga kamu menghancurkan kehidupan saudara kami? Kamu meminta cintanya, dia memberikan cintanya kepada kamu dengan tulus! Kamu meminta kepercayaannya, bahkan sampai Azira berusia 12 tahun, dia masih percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali ke kampung untuk mencarinya!" Katanya dengan mata melotot.
__ADS_1