
"Ya Allah, aku senang sekali hari ini. Suamiku berkali-kali lipat lebih manis dari biasanya, aku sangat bahagia!" Perubahan suaminya terjadi dalam semalam.
Bagaikan disiram madu, jantung Azira begitu mudah berdebar kencang dan hatinya terasa begitu manis. Rasa manisnya tertanam dalam di jiwanya, membuat bibir ranumnya sering sekali tersenyum lebar.
Dia sendirian di dalam kantor dan cekikikan tidak jelas. Bila dilihat orang lain, mungkin mereka akan menganggap Azira aneh karena tertawa sendirian. Namun untungnya hanya Azira seorang di dalam ruangan ini.
"Ah, aku mau ke kamar mandi." Dia buru-buru bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi setelah merasa lega. Langkahnya agak lambat sebab bagian tertentu tubuhnya masih kurang nyaman.
Duduk di sofa lagi, Azira memandangi ruangan suaminya yang berdebu di beberapa tempat. Pinggangnya masih pegal dan tidak nyaman terlalu banyak bergerak, tapi tangannya gatal ingin membersihkan ruangan ini.
"Ini sangat menjengkelkan." Gumamnya tak bisa menahan diri.
Dia mengambil tissue basah di atas meja dan mulai mengelap, lalu menyapu lantai dan menaruh sampah kecil-kecil ke bak sampah.
Kurang dari 10 menit, dia telah membersihkan semuanya.
__ADS_1
"Um, mas bilang makanannya dikirim 15 menit lagi, tapi kok masih belum datang juga?" Azira melihat ponselnya untuk memastikan sudah hampir 20 menit berjalan tapi orang yang mengantarkan belum juga datang ke sini.
"Apa orang yang disuruh mas Kenzie memiliki hambatan di luar, yah, makanya agak telat?" Azira menerka-nerka.
Habisnya dia udah ngiler pengen makan gorengan. Um, apalagi saat membayangkan pastel dan risoles buatan kantin, lidahnya langsung berdecak lapar. Dia agak tidak sabar.
"Apakah aku harus keluar ke kantin langsung? Kantin nya juga dekat dari sini, jadi harusnya enggak apa-apa 'kan?" Azira mengangguk ringan setelah menimba singkat.
Tapi tepat saat dia akan bergerak, sebuah ketukan pintu yang ringan terdengar di dalam ruangan. Telinga Azira langsung berdiri tegak menebak bahwa orang yang datang pasti Ayana atau makanan yang dia nantikan.
"Tunggu sebentar," Kakinya berjalan cepat menuju pintu.
Deg
Senyumnya seketika membeku ketika melihat orang yang berdiri dibalik pintu bukanlah Ayana juga pembawa makanan, melainkan seseorang yang sudah lama tidak dia pikirkan.
"Azira?"
__ADS_1
...*****...
"Mbak Nana mau makan siang apa hari ini?" Sambutan hangat staf kantin segera menyapa Nana begitu masuk ke dalam kantin.
Nana melambaikan tangannya patah hati. Hari ini dia sedang diet jadi tidak bisa makan makanan yang berat-berat.
"Aku diet, mbak. Kalau dokter Kenzie tidak menyuruhku membelikannya makanan, mana mau aku datang ke sini. Godaannya terlalu besar!" Ujar Nana menjelaskan dengan nada bercanda.
Dia mengambil nampan plastik dan mulai mengambil makanan yang dipesan oleh Kenzie.
"Wah, sayang sekali. Tunda aja dietnya, mbak. Sayang lho makanan hari ini menunya enak-enak semua. Tapi ngomong-ngomong dokter Kenzie membeli makanan?" Lalu matanya melirik gorengan lezat dan kue-kue manis di atas nampan yang diambil Nana.
Staf itu lebih percaya kalau yang ngambil makanan ini Nana dan bukan Kenzie. Lagian Kenzie enggak pernah belanja di sini apalagi sampai makan gorengan dan kue yang manis-manis. Rasanya agak mustahil.
Nana tidak berniat menjelaskan.
"Benar. Aku hanya mengikuti perintah." Di dalam hatinya dia tahu kalau makanan ini enggak mungkin dimakan sama Kenzie. Soalnya dia tahu orang seperti apa atasnya itu.
__ADS_1
Dia percaya makanan ini sebenarnya untuk Azira, istri Kenzie. Karena selain Kenzie tidak doyan, dia masih ingat jelas saat Azira belanja ke sini makanan apa yang dia beli bersis seperti yang Kenzie pesan.
Sungguh suami yang manis dan pengertian! Nana jadi iri.