
"Azira, aku mohon berhenti. Aku tahu kamu telah mencari tahu tentang Amara baru-baru ini. Kamu mungkin cemburu kepada Amara, tapi bukan begini caranya Azira. Aku dan dia adalah masa lalu. Tidak ada hubungannya dengan saat ini." Suara lemah permohonan lemah Kenzie membuat Azira shock.
Bagaikan diiris-iris pisau, hati Azira sakit dan sesak. Suaminya tidak mempercayai apa yang dia katakan. Daripada mempercayainya, Kenzie malah berpikir kalau dia sengaja melakukan ini karena cemburu.
Cemburu, Azira memang cemburu pada Amara. Dia adalah wanita yang luar biasa sehingga bisa mempengaruhi masa depan Kenzie, membuat Kenzie berubah menjadi orang lain setelah ditinggalkan.
Azira cemburu. Tapi dia tidak berani bermain sampai sejauh ini apalagi sampai membahayakan nyawanya.
"Jadi..." Azira berusaha menenangkan nafasnya yang memburu.
"...kamu tidak mempercayai aku? Kamu juga menganggap kalau aku sengaja menyakiti Amara. Mas Kenzie..." Azira tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Azira, jangan keras kepala. Besok kita akan pergi ke rumah sakit untuk meminta maaf kepada Amara. Dia adalah wanita pemaaf, bila kamu meminta maaf dengan bersungguh-sungguh dan tulus, dia pasti akan memaafkan kamu." Kenzie kehilangan nada lembutnya.
Azira adalah orang yang sangat keras kepala, mungkin wanita pertama paling keras kepala yang pernah Kenzie temui dan lihat.
"Meminta maaf?" Sungguh, bahkan dia pun diminta meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.
Azira sangat marah. Oh, mungkin dia kecewa kepada suaminya. Kecewa karena suaminya belum cukup mempercayainya dan kecewa karena suaminya belum benar-benar mengenalnya.
Ini sangat menyesakkan.
"Aku tidak salah, mas, kenapa aku harus meminta maaf kepadanya? Daripada aku mau minta maaf kepadanya, lebih baik dia menjelaskan sendiri kepadaku kenapa dia memakan makanan itu padahal dia alergi udang?" Balas Azira sinis.
Sampai kapanpun dia tidak akan pernah meminta maaf. Dan mulai dari kejadian itu, dia akhirnya tahu bahwa semanis apapun senyum seseorang bukan berarti hatinya baik. Azira mempelajarinya langsung dari Amara.
Dia tidak menyukai Amara.
"Kenapa kamu sangat keras kepala? Alerginya sudah akut, udang berarti racun untuknya, dan makan racun sama saja dengan bunuh diri. Menurutmu kenapa dia harus bunuh diri?" Kenzie bersikukuh bahwa Azira lah yang salah.
Logika saja, manusia normal mana yang akan makan racun dan membahayakan kehidupannya sendiri?
Azira tertawa pahit.
"Menurut, mas, kenapa dia berani melakukan itu? Tentu saja karena dia ingin menjebak aku. Dia ingin menjelekkan namaku di depan kamu, mas!" Ucap fazira menekankan sekali lagi.
Bukankah tujuannya sangat mudah ditebak?
"Astagfirullah...Ya Allah, Azira... Harus berapa kali lagi aku bilang kalau aku dan dia cuma masa lalu. Sekarang aku sudah menikah dengan kamu dan dia pun telah memiliki kehidupannya sendiri. Mustahil Amara melakukan itu. Ini menyangkut nyawa manusia, Azira." Nada suara Kenzie tidak sabar.
Azira tidak mempercayai penjelasan suaminya. Malahan dia berbalik curiga, melihat suaminya terus-menerus membela Amara apapun yang dia katakan, Azira bertanya-tanya mungkinkah Kenzie masih belum terlepas dari masa lalu?
"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, mas? Apakah kamu masih merindukan masa lalu?"
Dug
Dug
Dug
Suara jantung Azira berdebar kencang di dalam dadanya. Dia gelisah bercampur gugup menanti jawaban dari suaminya.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan. Amara adalah temanku. Kami hanya sebatas teman. Dan aku tahu betul bagaimana karakter teman ku itu. Azira, bukannya aku tidak mau mempercayai kamu. Masalahnya aku sudah mengenal bagaimana tabiat temanku. Dia tidak mungkin berbohong atau bahkan sampai ingin menjebak kamu. Tidak, Azira. Dia bukan orang yang seperti itu." Jawab Kenzie tidak sabar.
Justru karena ketidak sabarannya ini membuat Azira tidak terlalu yakin dengan jawabannya.
Azira tidak tahu apalagi yang harus dia katakan. Dia merasa sia-sia membuat pembelaan. Sebab Kenzie tidak mau mendengar ataupun mempercayai penjelasannya. Padahal dia sama sekali tidak berbohong. Dia tidak berbohong.
Azira mengambil nafas dalam-dalam. Mendorong tangan suaminya yang ada di pinggang. Dia sudah tidak mau berbicara lagi.
"Jawabanku masih sama, mas. Aku menolak pergi untuk meminta maaf kepadanya. Mas Kenzie, tolong lepaskan aku. Badanku gerah."
__ADS_1
Kenzie sangat pusing dengan jawaban keras kepala Azira.
"Azira jangan-"
"Mas, lepas. Umi dan Abah sudah kembali." Kata Azira mengingatkan.
Menghela nafas berat, dengan enggan Kenzie melepaskan Azira dari pelukannya.
Begitu Azira terbebas, dia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah katapun kepada suaminya. Wajahnya yang pucat dan muram karena masih marah seketika menguap digantikan wajah tersenyum saat menyambut kedatangan kedua mertuanya pulang.
"Assalamualaikum Umi dan Abah, bagaimana perjalanan kalian? Apakah semuanya lancar yang menyenangkan?" Azira buru-buru mencium tangan Umi dan Abah, lalu mengambil alih barang-barang mereka ke ruang tengah.
Di ruang tengah Kenzie sudah duduk di salah satu sofa. Duduk dengan kaki bersilang sementara atensi gelapnya mengikuti kemanapun Azira bergerak.
"Perjalanan sangat menyenangkan. Azira, kapan-kapan kita pergi ke sana. Di sana alamnya masih bersih dan udaranya pun segar. Sangat cocok untuk liburan. Umi berharap kamu akan ikut ke sana bersama kamu di kesempatan lain." Umi sangat antusias membicarakan kampung halaman kerabatnya itu.
Dia dan Abah sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang salah dengan Azira maupun Kenzie.
Azira tersenyum geli.
"Insya Allah, Umi. Aku juga pengen pergi ke sana gara-gara cerita Umi. Semoga saja kita memiliki kesempatan."
Azira sangat sibuk. Dia menyiapkan teh hangat untuk mertuanya. Lalu sibuk sendirian di dapur untuk memasak. Umi tidak bisa membantu karena kelelahan sementara Sasa masih belum pulang dari kampus.
Di dapur Kenzie datang untuk membantu. Namun Azira mengabaikannya. Bersikap seolah-olah tidak ada Kenzie di sini.
Setelah makan malam, Umi buru-buru menarik Azira pergi. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan Umi sama Azira.
"Apakah Umi membutuhkan sesuatu?" Azira bertanya sopan.
Padahal dia sangat kelelahan. Kakinya lemas dan perutnya tidak nyaman. Jika bisa dia ingin segera merebahkan diri di atas kasur sekarang.
"Nak, apakah kamu sedang bertengkar dengan Kenzie?" Tanya Umi.
"Umi, tidak ada yang terjadi dengan kami. Ini hanya pertengkaran kecil masalah sepele. Nanti kami pasti akan berbicara lagi." Azira dengan murah hati mengakui tapi tidak mengatakan secara jujur bahwa pertengkarannya dengan Kenzie cukup fatal di dalam hati Azira.
Umi menghela nafas lega.
"Baguslah, jika ini masalah sepele. Pertengkaran di dalam rumah tangga itu wajar. Tidak ada rumah tangga yang terbebas dari ujian ini. Adanya pertengkaran justru dapat memupuk kalian untuk lebih saling memahami satu sama lain. Ini adalah ujian, kalian harus bersabar. Jalani lah dengan sabar, insya Allah, cepat atau lambat masalah ini pasti berlalu. Paham?" Umi memberikan nasehat singkat kepada Azira.
Azira tersenyum malu. Berulang kali menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ya sudah, kembalilah ke kamar kalian. Kalau kamu membutuhkan pertanyaan maka jangan sungkan datang kepada Umi. Umi dan Abah sudah makan banyak garam sampai berada di titik ini. Jadi tidak berlebihan kalau Umi bilang Umi punya banyak solusi untuk setiap masalah. Oke?"
Hati Azira menghangat.
"Oke, Umi."
Setelah mengobrol sebentar dengan Umi, dia langsung naik ke kamarnya. Awalnya dia ragu-ragu kembali ke kamar. Rasanya agak canggung tinggal di tempat yang sama dengan orang yang coba Azira hindari.
"Aku tidak punya jalan keluar." Dengan ragu dia masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar suaminya telah menunggu. Duduk di pinggir kasur menunggu kedatangan Azira. Melihat Azira masuk ke dalam kamar, mata gelap itu langsung bergerak aktif mengikuti kemanapun Azira melangkah. Jika dulu, Azira mungkin akan tersipu malu. Tapi malam ini hatinya sedang berduka.
"Azira..." Panggil Kenzie.
Azira cemberut,"Apapun yang mas Kenzie katakan, aku tidak akan pernah meminta maaf kepadanya." sebelum suaminya mengatakan apapun Azira lebih dulu menegaskan keputusannya.
Apapun yang akan Kenzie katakan, Azira tidak akan pernah menurutinya. Di sini dia adalah korban, dan seharusnya Amara serta wanita itu yang datang mengambil inisiatif untuk meminta maaf. karena gara-gara mereka, Kenzie jadi salah paham kepadanya. Menganggap kalau Azira memiliki sumbu pendek dan nekat mencelakai kehidupan orang.
Kenzie sangat tertekan.
__ADS_1
"Tidak...bukan itu maksudku."
Azira mendengus,"Terus apa?"
"Aku pikir... Kamu akan menghindari ku lagi." Kata Kenzie sambil berdiri.
Azira tercengang, lalu menundukkan kepalanya menyembunyikan kerinduan di dalam mata. Salahkan dirinya yang terlalu mencintai laki-laki ini.
"Ini sudah malam, mas. Ayo tidur. Besok mas Kenzie harus pergi ke bekerja." Kata Azira acuh tak acuh.
Mengambil handuk di lemari dan baju tidur, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian, dia keluar dengan penampilan yang sangat menyegarkan.
"Kenapa belum tidur?" Azira melihat suaminya masih duduk di tempat.
"Menunggu kamu." Kata Kenzie.
Bohong bila Azira tidak merasakan hatinya melembut. Laki-laki ini adalah sumber kelemahan sekaligus kekuatannya. Untuk laki-laki ini dirinya mudah berpikir positif atau negatif, mudah menangis dan tertawa, mudah sedih dan bahkan bahagia, dia adalah sumber untuk segala perasaan. Jadi bagaimana mungkin dia betah bersikap dingin kepadanya?
Azira sangat merindukannya dan ingin dipeluk olehnya lagi.
"Kalau begitu ayo tidur."
"Hum."
Baru saja mereka berdua naik ke atas kasur. Telepon Kenzie tiba-tiba berbunyi. Kenzie langsung menjawab setelah melihat id penelepon. Gerakannya jauh lebih cepat dari yang Azira harapkan.
Padahal semalam ketika dia menelpon Kenzie berkali-kali, tak satupun yang direspon. SMS yang dia kirim pun bagaikan batu yang dilempar ke laut. Hilang dalam gelombang dan tak pernah muncul lagi. Ah, mengingat perjuangannya semalam menghubungi Kenzie, hati Azira langsung terasa sesak.
"Siapa yang menelpon?" Tanya Azira acuh.
Kenzie menjawab.
"Ini asisten ku. Ada pasien genting di rumah sakit yang sangat membutuhkan penanganan cepat dariku. Jadi aku harus segera pergi sekarang." Katanya sambil turun dari kasur dan buru-buru mengambil mantel di gantungan.
Ternyata ada pasien, Azira merasa lega.
"Apakah mas Kenzie harus pergi?" Pasalnya ini sudah larut malam.
"Harus, ini perintah darurat. Aku pergi sekarang dan mungkin kembali besok pagi. Jika Umi dan Abah mencari, katakan saja aku pergi karena panggilan darurat dari rumah sakit." Ucap Kenzie terburu-buru.
Namun Azira masih skeptis. Amara juga ada di rumah sakit dan tiba-tiba saja ada telepon darurat dari rumah sakit, mungkinkah ini benar-benar panggilan darurat atau memang ada kaitannya dengan Amara?
"Kalau mas Kenzie pergi menemui Amara, maka aku harap mas jangan pergi." Kata Azira berani.
Jika sampai suaminya pergi ke tempat Amara, maka Azira akan sangat kecewa kepada suaminya.
"Apa sih yang kamu omongin? Kenapa aku harus ke tempat Amara malam-malam begini? Kita bukan mahram, ingat?" Kenzie tertekan.
Di satu sisi dia senang melihat kecemburuan istrinya tapi di sisi lain dia terganggu. Sebab Azira kalau cemburu pasti nekat melakukan hal-hal berbahaya. Hum, nekat?
Azira menundukkan kepalanya lega.
"Baguslah kalau mas Kenzie masih berpikir jernih." Gumam Azira acuh tak acuh namun masih bisa didengar oleh suaminya.
Kenzie tidak berdaya. Setelah kejadian kemarin dia berjanji tidak akan dekat dengan Amara lagi agar istrinya tidak salah paham.
"Baiklah, aku pergi. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Assalamualaikum, sayang." Kenzie mengecup puncak kepala Azira sayang sebelum berlari cepat keluar dari kamar.
"Hum, awas aja kalau kamu berbohong." Bisik Azira merajuk.
Tapi sejujurnya dia sangat senang menerima perhatian dari suaminya. Meskipun itu hanya berupa kecupan singkat, namun Azira sangat menikmati dan mensyukurinya.
__ADS_1
Ya Allah, semoga saja ujian ini segera berakhir. Aku tidak ingin rumah tangga ku hancur seperti milik Ibu. Ya Allah, aku mohon hati suamiku selalu dalam lindungan-Mu. Tetapkan lah hati suamiku hanya untukku seorang dan tetap tak tergoyahkan sekali pun cobaan pihak ketiga datang menerpa. Ya Allah yang Maha Pembolak Balik Hati, ku serahkan segala urusan rumah tangga ku kepada-Mu agar senantiasa dalam lindungan Mu, ya Allah. Aamiin aamiin Allahumma aamiin ya Allah. Batin Azira melantunkan sebuah doa.