Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 21.10


__ADS_3

Setelah semua orang sarapan, mereka berpisah untuk mengerjakan urusan masing-masing. Azira, Sasa dan Mona membereskan dapur sementara sisanya langsung pergi ke halaman depan untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Satu rumah sudah mengetahui kalau Abah mulai malas bekerja dan tergila-gila dengan kolam ikan. Abah mau membuat kolam ikan untuk bersantai-santai di hari tua bersama Umi. Sekilas semua orang menangkap maksud Abah.


Abah mungkin ingin pensiun, memang untuk usianya sudah sewajarnya Abah beristirahat dan bersenang-senang di rumah bersama keluarga. Semua orang mengharapkan ini setelah banyak membujuk. Mereka setuju. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah jika Abah pensiun, maka siapa yang akan meneruskan pekerjaan di kantor?


Tidak mungkin berharap dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah, tapi juga tidak bisa mengharapkan siapapun dari keluarga karena semua orang punya karir masing-masing. Keluarga mereka rata-rata berkarir dalam dunia medis, bahkan Kenzie yang diharapkan menjadi pewaris juga masuk ke dalam dunia medis.


Umi sangat menyayangkan hal ini. Dia tentu tidak ingin kerja keras suaminya berpindah ke tangan orang lain. Terdengar egois memang, tapi Ibu mana yang tidak mengharapkan anak-anak dan cucunya hidup dalam kehidupan yang makmur?


Tapi Umi tidak bisa berkata-kata karena ini adalah keputusan suaminya. Di samping itu juga dia tidak berdaya membujuk putranya yang keras kepala. Ini sangat menjengkelkan!


"Kak Azira baik-baik aja?" Saat mencuci piring, Mona melihat Azira terlihat tidak benar.


Wajahnya pucat dan sesekali langkah kakinya goyah seperti orang yang akan pingsan. Padahal tadi pagi Azira sehat-sehat saja tanpa menunjukkan gejala apapun. Tapi anehnya kenapa dia tiba-tiba seperti ini setelah sarapan?

__ADS_1


"Kepala kakak pusing, dek." Azira memegang kepalanya yang pusing.


Tadi pagi dia mencoba beradaptasi dengan wangi 'keras' di dalam dapur, untungnya dia bertahan. Tapi saat sarapan di meja makan, atau tepatnya saat menelan nasi, perutnya langsung bergejolak disusul oleh gelombang pusing di kepala.


Ini tidak nyaman, Azira merasa badannya lemas sehingga jalannya pun mulai goyah.


"Kalau pusing kakak istirahat aja di kamar, gih. Soalnya muka kakak pucat banget. Apa kakak mau aku panggilkan kak Kenzie? Sasa perihatin melihat kondisi kakak iparnya.


Duh, akhir-akhir ini kakak iparnya sering jatuh sakit. Dia dan Umi awalnya mau bawa ke dokter, takut kenapa-napa. Tapi mereka berdua menahan diri karena Kenzie sendiri seorang dokter. Jadi mana mungkin Kenzie tidak menyadari keanehan istrinya?


Dia menggoyangkan kepalanya yang pusing agar kepalanya bisa lebih jernih.


Sebenarnya dia lebih suka pergi dari dapur karena semakin lama tinggal di dapur, kondisinya tidak akan membaik dan malah bertambah buruk.

__ADS_1


"Okay, kakak pergi aja ke ruang tengah. Nanti aku bawain air minum hangat buat kakak. Kalau pusingnya masih enggak hilang, aku akan panggilin kak Kenzie buat kakak. Enggak apa-apa, kan?" Sasa berkompromi.


Azira juga maunya begini. Dia puas dengan pengaturan adik iparnya.


"Hem, tidak apa-apa."


Mona memegang lengannya,"Kak, aku bantu yah ke ruang tengah."


Azira juga tidak menolak. Soalnya dia benar-benar pusing sekarang. Takutnya salah jalan dan jatuh. Penyakitnya bisa tambah parah.


"Terima kasih, Mona. Aku membuat ku repot."


Mona tersanjung,"Aku sama sekali tidak merasa repot, aku malah senang bantuin kakak." Katanya jujur.

__ADS_1


Azira tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


__ADS_2