Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 3.4


__ADS_3

Tersenyum dingin, Azira berdiri angkuh menatap Humairah yang perlahan kehilangan kekuatannya. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja dia mengalami kesulitan besar. Sungguh sangat menyenangkan! dia bahagia melihat kekecewaan yang terukir indah di wajah cantik Humairah.


"Jangan khawatir, itu bukan sesuatu yang berbahaya. Paling-paling itu hanya bertahan selama satu jam paling lama dan kau juga tidak akan merasakan perasaan sakit selain kehilangan banyak tenaga setelah bangun nanti." Ucap Azira datar menjelaskan dengan malas fungsi obat yang ia masukkan tadi.


Tenang saja, itu bukan sesuatu yang berbahaya dan hanya obat bius dosis kecil. Bius ini hanya bertahan paling lama satu jam dan ini adalah waktu yang cukup untuk menghancurkan kehidupan Humairah.


"Kenapa kau.. melakukan ini?" Tanya Humairah sedih.


Ia sungguh tidak berdaya melihat Azira di depannya kini sedang sibuk melepaskan semua yang ia gunakan.


"Kenapa?" Tanya Azira dingin seraya melepaskan kain terakhir yang menutupi kepala Humairah.


"Itu karena Ibu mu juga melakukan ini kepada Ibuku." Jawab Azira sakit hati.


Sakit sampai rasanya ia ingin berteriak di depan Humairah betapa tidak berdayanya Ibunya saat itu. Hanya karena Ibunya miskin lalu orang kaya ini dengan sewenang-wenang menuduhnya sebagai wanita murahan yang sengaja mendekati putra mereka untuk sebuah harta?


Hah, betapa sombongnya kaum kaya ini!


"Tapi Azira.. bukankah kita saudara?" Tanyanya dengan kesadaran yang perlahan semakin menipis.


Ia tahu tentang masa lalu itu tapi Humairah tidak mau ambil pusing karena itu hanya masa lalu, urusan para orang tua. Mereka sebagai anak tidak seharusnya ikut campur dan Humairah pun menerima kehadiran Azira dengan lapang dada.


"Huh, saudara kau bilang?" Ejeknya mencemooh.


"Jangan pernah bermimpi!" Lalu dengan itu Humairah benar-benar hilang kesadarannya, tertarik ke dalam mimpi buruk yang tidak ada habis-habisnya. Sebuah mimpi yang tidak pernah Humairah ingin bayangkan.

__ADS_1


"Humairah, tidurlah dengan nyaman karena pengantin yang sesungguhnya adalah aku dan bukan kamu, ironisnya." Ucapnya bahagia sembari mengelus pipi Humairah untuk yang terakhir kalinya. Azira lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi dengan susah payah setelah melepaskan semua yang dia gunakan secepat yang dia bisa.


Tidak sampai kehilangan semual karena Humairah masih mengenakan busana namun kali ini busana yang ia gunakan adalah busana yang Azira gunakan tadi. Sedangkan Azira?


Tentu saja ia menggunakan gaun pengantin Humairah dengan susah payah tanpa menggunakan banyak make up seperti Humairah. Meskipun hasilnya tidak maksimal, tapi semuanya segera tertutupi oleh tudung kehormatan keluarga ini. Ah, senangnya.


Membuka kunci pintu kamar, ia kemudian memperbaiki sikapnya sekalem mungkin seperti halnya Humairah. Lalu kedua tangannya yang kini tertutupi kain putih yang indah dan anggun perlahan naik ke atas kepalanya, meraih tudung kepala sakral keluarga ini dan menurunkan menutupi wajah cantik yang penuh akan kebencian. Senyumnya mengembang indah sampai akhirnya benar-benar tidak terlihat karena tertutupi tudung pengantin.


"Humairah, setelah ini aku harap kau baik-baik saja."


...*****...


Sekarang sudah seperti ini dan Azira tahu bahwa ia tidak bisa mengembalikan semuanya lagi. Ia juga sadar apa yang ia lakukan ini punya konsekuensi yang besar jika ditemukan. Mungkin ia harus ditendang keluar dari rumah ini, yah ini adalah yang terbaik dan Azira sudah bersiap untuk hasil akhir ini. Mungkin yang paling fatal jika mereka semua terlalu marah kemungkinan besar Azira akan berurusan dengan aparat hukum dan dimasukkan ke dalam jeruji besi. Tidak apa-apa, Azira sudah bersiap.


Yah, perbuatan jahat seperti ini tentu saja tidak bisa diterima oleh semua orang.


Padahal Ibunya juga punya hati dan pasti merasakan kecewa jika pasangannya bersama dengan wanita yang lain.


Melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, di sana ada rahasia besar yang baru saja Azira sembunyikan. Sayangnya itu tidak bisa dikunci dari luar atau kalau bisa, mungkin Azira tidak akan merasa segugup ini.


"Humairah-lho, Azira kok gak ada di sini?" Bingung bibi Sifa ketika masuk ke dalam kamar ia tidak menemukan Azira lagi. Padahal sebelum keluar tadi ia sudah berpesan kepada Azira agar menemani Humairah di sini selama ia dan bibi Safa mengurus sesuatu di bawah.


Berdeham pelan, kepala Azira sedikit turun untuk menyembunyikan kegugupannya. Saat ini apapun bisa terjadi jika bibi Sifa berniat menyingkap tudungnya, tapi untung saja keluarga ini punya kebiasaan aneh. Tidak mengizinkan siapapun membukanya setelah tudung diturunkan selain sang suami setelah ijab kabul nanti.


Nah, hal kedua yang menakutkan adalah kamar mandi yang ada di sini. Itu adalah tempat yang paling menakutkan Azira saat ini, hampir saja ia tidak bernafas setiap kali melihat ke tempat itu.

__ADS_1


"Dia..dia izin keluar tadi bibi." Jawab Azira memberikan alasan, berusaha mengontrol suaranya sekecil mungkin.


Bibi Sifa mengernyit heran mendengar suara Humairah yang tidak biasanya, namun karena gugup mungkin membuat nyali keponakannya ini menjadi kecil. Yah, setidaknya itu adalah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Kamu jangan terlalu gugup karena nanti di depan banyak orang kamu bisa-bisa jatuh pingsan bila tidak bisa mengontrolnya." Ucap bibi Sifa bercanda, menggoda keponakannya yang saat ini sangat tegang.


Tapi yah, wajar saja setiap pengantin mengalami kegugupan di hari pernikahannya. Pasalnya ini adalah momen sekali seumur hidup dan tidak bisa terulang dua kali lagi, kecuali yah..jika mencari pasangan yang baru lagi.


Tapi anehnya, keluarga mereka tidak ada yang pernah bercerai maupun mencari pasangan yang lain lagi setelah menikah. Mereka pasti akan setia dengan satu pernikahan yang mereka yakini sekali seumur hidup.


"Aku..aku akan berusaha." Ucap Azira mencicit, bahkan kedua tangannya kini sudah basah di dalam. Perasaan ini terlalu menegangkan, ah!


Tersenyum maklum, bibi Sifa tidak lagi ingin menggoda keponakannya karena setelah diperhatikan tadi Humairah bukannya merasa tenang malah semakin tegang. Jadi setelah dipikir-pikir lebih baik tutup mulut saja daripada mengucapkan hal-hal yang aneh.


"Oh, ya bibi lupa ngasih tahu kamu kalau Mama kamu gak bisa ke sini untuk temani kamu. Nanti saat kamu turun ke bawah, Mama kamulah yang akan mengambil alih kamu dari bibi jadi kamu gak perlu khawatir, okay?" Nanti saat akad ia dan bibi Safa menuntun Humairah turun ke bawah dan di sambut oleh Mama Humairah. Di bawah Mamanya akan mengambil alih Humairah dan menuntun Humairah ke tempat akad, jadi sebenarnya ini cukup mudah.


Azira yang lagi-lagi harus mengeluarkan suara, namun karena tidak sanggup lagi membuat kecurigaan semakin banyak maka ia hanya bisa mengangguk patuh, diam adalah pilihan terbaik jika tidak ingin rencananya gagal.


"Ya udah, sementara menunggu bibi Safa datang bibi mau ke toilet dulu. Kamu juga kalau butuh apa-apa langsung ngomong ke bibi biar semuanya berjalan dengan baik."


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Jantung Azira langsung panik. Tangannya yang sudah berkeringat dingin terkepal erat menahan panik.


__ADS_2