
"Hemh..." Azira melenguh tidak nyaman dalam tidurnya.
Kelopak matanya berkibar, menatap kosong pada wajah tampan suaminya yang kini tengah memandangnya dengan tatapan yang sangat lembut. Untuk sejenak Azira lupa bagaimana caranya berkedip. Ah, atau lebih tepat dia enggan mengedipkan mata karena takut wajah tampan ini tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
"Kamu akhirnya bangun. Kenapa tidur di sini, hem?" Kenzie merasa tertekan melihatnya seperti ini.
Tiba-tiba dia merasa berdosa melihat istrinya seperti ini.
"Mas Kenzie sudah pulang." Azira tidak menjawab.
Melihat wajah Kenzie sekarang, dia tiba-tiba teringat dengan foto yang nomor asing itu kirimkan ke nomornya tadi pagi. Dadanya terasa sesak.
"Apakah mas Kenzie sudah makan siang?" Betapa bodohnya dia menanyakan sesuatu yang sudah jelas-jelas ada jawabannya.
Tapi Azira keras kepala.
"Tentu saja aku belum makan. Sebenarnya aku tidak bisa makan karena terus memikirkan kamu di rumah." Jawab Kenzie mengakui.
Azira tersenyum kecut. Jelas-jelas berbohong.
"Mas Kenzie berbohong. Aku tahu kalau mas Kenzie sudah makan siang." Kata Azira tidak memberikan wajah suaminya.
Dia mengungkapkan kebohongan suaminya. Karena setelah dipikir-pikir dia tidak bisa begini terus. Masalah ini harus menemui titik terang. Apakah suaminya akan mempertahankan hubungan ini atau tidak, Azira siap mendengarkan jawabannya. Lagi pula dia tidak ingin seperti Ibunya. Tersiksa merindukan cinta yang tidak dapat dicapai. Azira ingin pergi, pergi sejauh mungkin meninggalkan luka ini.
"Aku tidak berbohong, istriku. Aku memang belum makan. Operasi baru selesai dilaksanakan jam 9 pagi. Dan kemudian aku beristirahat sebentar di ruanganku sebelum mulai berkeliling kondisi pasienku. Hampir jam 11 siang aku kembali ke ruangan untuk memproses beberapa dokumen dan setelah itu pulang ke rumah setelah melaksanakan shalat zuhur di rumah sakit." Kenzie menjelaskan dengan jujur.
Sejujurnya yang tidak Kenzie katakan adalah dia juga belum sarapan di rumah sakit. Setelah selesai melakukan operasi dan ingin beristirahat sebentar di dalam ruangannya. Pada saat itu pikirannya masih kacau memikirkan kata-kata putus asa Azira yang menyedihkan dan belum lagi masalah ponselnya menghilang. Pokoknya dia harus mendapatkan ponsel itu apapun yang terjadi. Karena ada banyak sekali foto-foto rahasia istrinya di dalam.
Jadi dengan semua masalah ini, apakah mungkin dia masih memiliki waktu untuk memikirkan makanan?
"Kerja di rumah sakit sangat melelahkan. Tapi kamu tetap berbohong, mas. Kamu sudah makan siang di rumah sakit. Sebenarnya aku tidak masalah apakah mas Kenzie makan siang di rumah sakit. Tapi yang aku permasalahkan adalah mas Kenzie makan siang bersama Amara, berdua saja. Aku tahu mungkin menurut mas Kenzie aku adalah wanita yang cemburuan, mungkin itu mengganggu mas Kenzie, aku minta maaf soal itu. Tetapi mas, kurasa wanita manapun akan merasa cemburu melihat suaminya makan berduaan dengan wanita lain. Terlebih lagi wanita itu adalah masa lalu mas Kenzie. Pastinya akan ada banyak pikiran negatif ketika melihat kalian berduaan sekalipun mas Kenzie berkata jika kalian berdua hanya berteman saja. Tapi hati siapa yang tahu. Mas Kenzie," iris mata coklatnya memandangi lekat-lekat wajah tampan suaminya.
__ADS_1
Untuk sejenak dia berharap bahwa mata ini dapat mengabadikan setiap sisi wajah suaminya agar kelak jika mereka berdua berpisah nanti Azira setidaknya tidak terlalu disiksa oleh kerinduan.
"Jika memang mas Kenzie tidak bisa melepaskan diri dari masa lalu dan jika memang mas Kenzie masih merindukan Amara, maka aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua. Sejujurnya aku baru-baru ini berpikir mungkin ujian yang sedang aku lalui sekarang adalah bentuk hukuman dari Allah untukku karena telah menyakiti hati Humairah dan menghancurkan pernikahan mas Kenzie. Mungkin ini adalah hukuman untukku yang tidak tahu malu. Mas, aku adalah wanita yang keras kepala. Sama seperti Ibuku yang akan langsung pergi setelah mendapatkan penolakan dari Ayah, aku juga bisa melakukan itu. Aku tidak akan menjerat mas Kenzie dalam pernikahan paksa ini dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktu mas Kenzie bersamaku dalam pernikahan ini. Aku tidak akan mas. Jika mas Kenzie masih mencintai Amara, maka katakan saja secara langsung, mas. Jangan membiarkan ku menjadi pengganti, bertindak seperti badut yang menggangu mata mas Kenzie, aku tidak mau menjadi pengganti mas. Aku tidak mau. Rasanya sungguh menyakitkan. Ini ku sesak dan perih, aku tidak suka merasakan perasaan sakit ini. Maka dari itu, mas, aku mohon... Bila ini hukuman untukku atas semua yang aku lakukan kepadamu maka aku mohon tolong berhenti. Aku sungguh... sungguh tidak kuasa lagi menahan rasa sakit ini. Hukuman ini terlalu berat untukku, mas. Tolong biarkan saja aku pergi. Aku sungguh tak kuasa menahannya lagi." Mohon Azira terisak dalam kesakitan.
Dia telah memikirkannya baik-baik dan diam-diam telah membuat keputusan di dalam hatinya. Meskipun ingin bertahan dengan harapan suatu hari nanti suaminya akan berbalik membalas perasaan cintanya, tapi Azira rasa dia tidak sekuat itu bertahan hingga ke titik hari itu. Karena baru beberapa hari saja Amara kembali, hatinya telah dibuat porak-poranda. Ini sangat tidak tertahankan.
Rasanya sungguh menyakitkan ya Allah, Azira tidak kuasa menahan semuanya.
"Azira, sayang..hei, jangan menangis." Mata Kenzie memerah menahan sakit dan amarah di dalam dada.
Berawal dari heran mendengar istrinya terus berkata kalau dia berbohong sampai akhirnya merasa marah karena istrinya memohon pergi dari kehidupannya! Kenzie tidak akan membiarkan untuk sahabat itu semua terjadi!
"Mas Kenzie... berhenti." Azira mencoba menyingkirkan tangan suaminya dari wajah.
Semakin perhatian Kenzie maka semakin tersiksa Azira. Dia tidak mau terus menerus terombang-ambing dalam kesakitan ini.
Dia merasa lelah. Sungguh sangat lelah.
Dia bukan wanita yang diinginkan oleh suaminya. Bukan wanita yang diharapkan oleh suaminya. Dan dia bukan wanita yang bisa membuat suaminya berjuang keras menaklukkan sebuah mimpi. Dia bukan Amara, wanita yang senantiasa hidup di dalam hati suaminya.
"Azira dengar!" Kenzie menekan pundak Azira kuat agar menatap langsung tepat ke arahnya.
"Sudah ku peringatkan kamu sebelumnya Azira bahwa setelah kamu masuk ke dalam bagian dari hidupku, maka sejak itu pula kamu tidak akan pernah bisa pergi walaupun kamu ingin. Kamu tidak bisa, entah kamu memohon ataupun menangis tersedu-sedu di depan ku, maaf Azira, aku tidak akan melepaskan kamu." Ucap marah sekaligus sedih.
Dia menolak permintaan Azira. Tidak akan pernah, Azira tidak akan pernah pergi dari dalam hidupnya karena Kenzie tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan, Azira adalah miliknya. Tidak ada yang boleh mengambil Azira dari dirinya.
"Tapi mas Kenzie-"
"Aku belum selesai berbicara. Jangan potong perkataan ku dulu." Potong Kenzie dingin.
Azira terkejut. Kenzie marah saat ini. Seharusnya Azira tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari suaminya, tapi dia tidak bisa, suaminya terlalu menakutkan. Bahkan sekarang, Azira tidak berani menatap langsung ke mata suaminya.
__ADS_1
"Tegakkan kepala mu, jangan menunduk. Bukankah kamu ingin mendengarkan kebenaran dariku?" Suara Kenzie dingin.
Azira terpaksa mengangkat kepalanya dan menatap wajah dingin suaminya yang menakutkan. Azira selalu takut melihat suaminya, karena setiap kali suaminya marah dia akan terlihat menyeramkan. Sama seperti kali ini. Saking takutnya, Azira tidak berani melanjutkan tangisannya lagi.
Untuk sesaat Kenzie pengen tertawa melihat ekspresi tertekan di wajah istrinya. Tapi kemarahan di dada memberikan Kenzie alasan untuk tetap bersikap dingin kepada Azira.
"Aku tidak tahu darimana kamu mengetahui tentang pertemuan ku dengan Amara di rumah sakit. Memang aku bertemu dengannya saat jam makan siang. Dia mengajakku duduk di depan meja yang telah dipenuhi banyak makanan. Amara ingin mengucapkan terima kasih kepadaku atas apa yang terjadi hari itu dan meminta aku makan siang bersama. Tapi aku menolaknya. Aku mengatakan yang sejujurnya, entah dari mana kamu mengetahui kabar itu, faktanya aku duduk sebentar di sana tapi ketika dia memintaku untuk makan siang bersama, aku segera menolak dan bergegas kembali ke ruanganku. Aku tidak berbohong, aku belum makan apapun siang ini. Kepalaku tidak sempat memikirkan soal makanan karena ada kamu yang ada di pikiranku. Belum lagi masalah ponselku yang hilang dan belum ditemukan hingga hari ini, menurut kamu dengan kedua masalah ini apa kamu mungkin aku masih bisa makan?" Nada suaranya perlahan lembut seiring perubahan ekspresi di wajah cantik Azira.
Mungkin Azira sama sekali tidak menyangka akan mendengar penjelasan ini dari suaminya. Suaminya berbicara dengan sangat tulus sekarang. Bohong bila Azira tidak merasa tersentuh. Dia sangat, sangat menyukai suaminya menggunakan nada dan suara yang lembut saat berbicara dengannya.
Rasanya salah dipeluk.
Tapi apa yang tadi dikatakan oleh suaminya?
"Ponsel mas Kenzie hilang?"
Kenzie mengangguk muram.
"Ponselku hilang sejak kejadian itu. Aku tidak ingat meletakkannya di mana. Dan aku tidak tahu kalau hari itu kamu sering menelpon ku. Kalau aku tahu kamu menghubungi aku, maka aku pasti akan langsung merespon panggilan kamu. Tapi aku tidak tahu apa-apa. Menyesal meninggalkan kamu sendirian di villa, aku berencana langsung balik ke villa setelah mengantarkan Amara ke rumah sakit. Namun kebetulan pihak rumah sakit menghubungi aku. Ada pasien penting yang harus segera ku tangani. Ini adalah keadaan darurat yang sama seperti tadi malam. Tanpa ragu aku langsung memilih kamu. Aku melepaskan kewajibanku sebagai seorang dokter demi menjemput kamu di villa. Tapi Nabil mencegah aku pergi. Dia mengatakan kalau kamu sudah diantar pulang oleh supir pribadinya. Sangat sulit mempercayai apa yang dia katakan, tapi posisiku di malam itu juga tidak menguntungkan karena aku tidak bisa mundur dari tugasku. Maka malam itu aku tidak kembali. Tapi sebelum memasuki ruang operasi, aku menyempatkan diri untuk menghubungi telpon rumah. Tapi tidak ada yang mengangkat. Aku pikir kamu marah atau sedang tidur jadi telpon dariku malam itu berlalu begitu saja. Azira, hubunganku dengan Amara tidak seperti yang kamu pikirkan. Dulu, aku masih menganggapnya sebagai teman tapi sekarang tidak lagi setelah aku tahu apa yang dia lakukan untuk menjebak kamu. Maafkan aku Azira telah mengecewakan kamu. Aku kira dia sudah berubah karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi ternyata dia masih orang yang sama. Sebenarnya Amara adalah teman yang baik, kecuali perasaan yang dia miliki kepadaku. Aku baik-baik saja dengan karakternya. Tapi jika dia berani menyakiti kamu maka bagiku kami tidak memiliki hubungan pertemanan lagi. Dan menurutku hutang budi ku telah terlunasi saat aku mengirimnya ke rumah sakit."
Pantas saja suaminya tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesan darinya. Semarah apapun Kenzie, dia kira suaminya tidak akan bertindak sejauh itu. Tapi...
Hutang budi?
Seolah melihat rasa penasaran di dalam hati Azira, Kenzie dengan pengertian menjelaskan hutang budi yang terjadi di masa lalu.
"Dulu aku tidak mengenal Amara. Meskipun dia seringkali datang mengambil inisiatif untuk berbicara denganku di sekolah, sikapku selalu datar karena aku memiliki prinsip bahwa wanita dan laki-laki tidak bisa memiliki hubungan jangka panjang tanpa komitmen. Mungkin aku mempelajarinya dari lingkungan keluargaku yang notabene tidak menyukai hubungan dekat di antara lawan jenis sekalipun kita masih anak kecil. Tapi aku mulai berkompromi dengan Amara saat dia menyelamatkan nyawaku ketika aku tenggelam di kolam-"
Mata Azira sontak membola karena terkejut. Dia memegang lengan suaminya gugup. Suaminya hampir saja kehilangan nyawa.
Hati Kenzie melembut, perhatian kecil ini saja membuat hatinya sangat senang. Dia bahagia Azira perduli kepadanya.
__ADS_1
Terus lanjut berbicara,"Kebetulan aku belum bisa berenang pada saat itu dan kesulitan menyelamatkan diri. Tapi untungnya ada Amara di situ. Dia menyelamatkan ku. Dan seperti yang kamu tebak setelah itu kami mulai berteman. Tapi Amara tidak mau hanya berteman saja karena dia menyukaiku. Berkali-kali dia mendesak ku agar mau berpacaran dengannya, hitung-hitung balas budi. Aku berjanji akan balas budi kepadanya tapi tidak dengan pacaran. Jawaban pastinya aku tidak mau berpacaran sekalipun dia telah menyelamatkan nyawaku. Setelah penolakan ku itu entah apa yang terjadi tiba-tiba rumor menyebar di mana-mana kalau aku berpacaran dengan Amara. Karena menurutku itu bukan masalah serius, aku diam saja dan tidak mengklarifikasi kebenaran rumor tersebut. Sampai akhirnya di tahun terakhir kami sekolah, dia kembali mengajakku untuk berpacaran. Sekali lagi aku menolak. Tidak hanya aku tidak menyukai konsep pacaran tapi aku juga tidak menyukai Amara. Bagiku Amara tidak lebih dari seorang teman. Dia sangat kecewa kepadaku dan membuat permintaan lain. Karena aku tidak bisa menjadi pacarnya maka dia ingin aku menjadi seorang dokter, yaitu karir yang tidak bisa dia gapai karena beberapa alasan. Aku sungguh tidak menyukai pekerjaan ini pada awalnya. Sebenarnya aku ingin meneruskan pekerjaan Abah. Kuliah jurusan bisnis lalu melanjutkan sekolah di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia untuk mengambil alih pekerjaan Abah. Tapi demi menghapus hutang budi ini, aku terpaksa melanjutkan sekolah di sekolah kedokteran. Dan kelanjutannya seperti yang kamu tahu sekarang aku menjadi dokter bedah di salah satu rumah sakit swasta." Lelah dengan posisi mereka, Kenzie melepaskan pundak istrinya dan beralih duduk di kursi santai. Sambil mengobrol dengan Azira, dia merentangkan selimut tipis yang dia bawa ke tubuh Azira agar lebih hangat.