Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.3


__ADS_3

Setelah shalat subuh, Kenzie langsung berangkat ke rumah sakit tanpa sempat sarapan. Hari ini dia memiliki jadwal operasi yang cukup padat jadi harus stay di rumah sakit pagi-pagi.


Setelah Kenzie pergi ke rumah sakit Azira tinggal di rumah bersama Umi, Abah dan keluarga Frida yang sedang bersiap pergi.


"Azira," Sapa Frida dengan senyuman lembut di wajahnya.


Hanya dalam waktu semalam Frida berubah menjadi wanita yang sopan dan lembut. Berbanding terbalik dengan kesan Azira kemarin. Kalau Azira tidak mendengar percakapan di antara Frida dan bibi Indring semalam, maka mungkin dia akan percaya kalau Frida telah berubah menjadi orang yang lebih baik.


"Ya, Frida?" Azira balas tersenyum sopan.


"Hari ini aku dan orang tuaku akan pulang ke rumah. Kebetulan sebentar lagi aku akan masuk kuliah jadi aku harus segera kembali kota c. Mungkin kita akan bertemu lagi setelah aku libur semester, kira-kira 6 bulan kemudian. Pada hari kita bertemu aku harap kamu membawa kabar bahagia untuk semua orang di rumah ini." Katanya penuh harap.


Kata-katanya yang manis membuat hati Umi sangat nyaman. Beginilah keponakan yang dia sukai pikirnya.


Azira menegang. Kabar gembira, maksud Frida hamil?


Tersenyum pahit,"Insya Allah. Kapan kamu berangkat?" Azira mengalihkan topik pembicaraan.


"Sekarang juga makanya aku datang berpamitan." Katanya masih dengan senyum yang sama.


Azira mengangguk.


"Oke, aku berharap semoga perjalanan mu menyenangkan dan sampai rumah dalam keadaan selamat."


Frida tersenyum penuh syukur.


"Terima kasih atas doa kamu." Lalu dengan hati-hati dia mengalihkan pandangannya menatap Umi.


Dari kemarin Umi selalu melihatnya dengan wajah dingin dan tak bersahabat. Dan sejak Umi marah kepadanya, dia tidak berani mendekatinya lagi.


"Umi, aku minta maaf untuk masalah yang aku timbulkan di rumah ini. Aku janji akan berubah menjadi wanita yang baik dan tidak akan mudah mengucapkan kata-kata kasar apalagi menghina orang lain lagi." Katanya menyedihkan.


Umi memang tersentuh dengan kata-kata manisnya kepada Azira barusan, tapi bukan berarti dia bisa melupakan semua kemarahannya pada Frida. Dia bukan anak kecil dia memiliki emosi labil dan tidak memiliki prinsip. Memaafkan boleh, tapi bersikap tegas itu perlu. Apalagi kesalahan yang Frida buat bukanlah masalah kecil. Hampir menghancurkan hubungan rumah tangga putranya.


"Bagus kalau kamu ingin berubah." Kata Umi masih bias.


Frida tidak bisa berbuat apa-apa dengan sikap acuh tak acuh Umi kepadanya. Karena memang dia sadari bahwa kebodohannya lah yang membuat Umi mempertanyakan karakternya. Jadi sekalipun Umi tidak terlalu memberikan wajah, Frida dengan sopan tidak menuntut.


"Umi, aku dan orang tuaku pamit pulang ke rumah. Dan mungkin kita tidak bertemu sampai libur semester. Jadi selama waktu perpisahan ini, jangan terlalu merindukan aku Umi." Dia sengaja bercanda untuk menarik senyuman Umi.


Tapi Umi tidak bereaksi apa-apa ketika mendengar suara bercandaannya. Ini sangat memalukan, karena Umi tidak memberikan respon apa-apa, suasana segera menjadi canggung.


Setelah berpamitan dengan semua orang, Frida dan orang tuanya akhirnya angkat kaki dari rumah. Rumah yang tadinya hidup dan ramai, seketika menjadi sangat damai.


Ini jauh lebih baik daripada Frida ada di sini, ada di antara mereka semua.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka angkat kaki dari rumah ini. Kalau tidak, aku takut tidak bisa tidur dengan nyenyak selama beberapa malam lagi." Umi lega melepaskan semua masalah dirumahnya.


Kalau Frida masih tinggal di rumah ini, dia tidak berani meninggalkan rumah dan membiarkan Frida bebaskan pergi kemanapun. Faktanya setelah mendengar apa yang Frida katakan kepada Azira dan cerita karangan Frida itu, Umi tahu bahwa Frida memang memiliki karakter seperti ini. Kalau tidak segera ditegur ataupun dimarahi, masalah yang akan dia buat pasti semakin menjadi-jadi. Dan Umi tidak mau mengambil resiko.


"Apakah Umi tidak kesepian karena bibi Indring sudah tidak bisa menemani Umi mengobrol lagi?" Tanya Azira santai.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja Azira menemani Umi mengobrol. Tapi obrolan orang tua sangat berbeda dengan obrolan para pemuda pemudi, jadi Azira tahu kalau Umi lebih nyambung ngomong sama bibi Indring daripada dia.


"Tidak masalah. Bibi kamu bukan dia aja. Kamu punya banyak bibi kompleks ini. Jadi kenapa Umi harus ngerasa kesepian? Selain itu ini juga punya banyak teman di sini yang biasa diajak ngomong santai. Nggak perlu terlalu pusingin bibi Indring." Kata Umi sembari melambaikan tangannya tidak menganggap penting kepergian bibi Indring.


Toh pada awal sebelum bibi Indring menginap di rumah ini, Umi punya banyak teman bicara. Entah itu dari saudari saudari suaminya, ataupun teman-teman sebayanya di komplek ini. Jadi mengapa harus pusing?


Azira tersenyum lega. Umi kalau lagi marah emang bawaannya judes dan dingin, Azira dulu takut terlalu dekat dengan sampai akhirnya Umi mengubah sikap kepadanya. Azira merasa Umi memperlakukannya dengan sangat baik, mungkin sama seperti Sasa. Sehingga tanpa sadar Azira menganggap bahwa Umi adalah ibunya. Bukan masalah, kan?


"Aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong Umi, di mana Sasa? Dari semalam aku nggak pernah melihat batang hidungnya?"


Azira baru ngeh kalau Sasa tidak pernah kelihatan dari kemarin. Dia kira Sasa akan pulang terlambat tadi malam, eh taunya sampai pagi kok masih nggak kelihatan.


"Sasa nginep semalam di asrama kampus, katanya mau ngerjain tugas. Dan dia bilang pagi ini pasti pulang. Azira, bahan-bahan di dapur sudah mulai menyusut. Hari ini kenapa kita tidak pergi ke pasar saja? Sekalian beliin Kenzie daging buat makan siangnya nanti."


Azira niatnya mau mengingatkan Umi soal bahan di dapur. Karena saat membuat sarapan tadi pagi, dia melihat kalau bahan-bahan di dalam kulkas tinggal beberapa ikat sayur lagi dan telur tinggal beberapa biji.


Kalau Azira sih tidak apa-apa, tapi keluarga ini pasti tidak cukup dengan sisa bahan sebanyak itu.


"Umi nggak apa-apa kita ke pasar?" Azira kaget.


"Nggak masalah. Sayuran yang dijual di pasar jauh lebih murah yang ada di supermarket, dan menurut Umi rasanya sama aja. Jadi kenapa tidak beli di pasar aja yang lebih dekat dan lebih murah. Selain itu Kenzie juga pernah ngomong sama Umi kalau sayuran yang dijual di pasar agaknya tidak terlalu menggunakan bahan kimia dan lebih sehat. Makanya Umi sesekali berbelanja ke pasar bersama bibi kamu yang lain jika sedang tidak sibuk."


Azira agak terkejut. Soalnya dia kira keluarga ini suka berbelanja di supermarket. Seperti yang dia lihat di TV, bukankah orang kaya lebih suka berbelanja ke supermarket daripada pasar yang dekil dan kotor?


"Aku juga mikirnya gitu, Umi. Lalu kapan kita berangkat?"


"Berangkat sekarang aja. Mumpung masih pagi." Kata Umi setelah melihat waktu.


"Oke, aku naik ke atas dulu ya Umi ambil dompet."


Umi mengangguk.


Lalu Azira langsung naik ke lantai atas untuk mengambil dompetnya di dalam kamar. Uang belanja yang diberikan Kenzie kepadanya masih utuh karena belum digunakan untuk belanja. Tapi saat menemukan dompetnya di atas lagi dan jauh lebih tebal daripada sebelumnya, Azira buru-buru membukanya.


Benar saja tebakannya. Kenzie menaruh uang lagi di dalam dompet Azira karena ini sudah lebih dari 3 hari. Seperti yang suaminya bilang, dia akan memberikan Azira jatah setiap 3 hari entah Azira gunakan uang itu atau tidak.


"Mas Kenzie..." Panggil Azira tidak berdaya.


Tapi hatinya merasa manis.


Ragu-ragu, dia kemudian mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu selama beberapa detik, setelah mengirim pesan Azira dengan gugup menyembunyikan ponselnya ke dalam laci. Tapi ketika akan berjalan pergi, dia menghentikan langkahnya, menatap laci itu ragu-ragu.


"Um, biarkan saja di sana." Putusnya lalu pergi menemui Umi di bawah.


...*****...


Azira dan Umi bertemu dengan beberapa tetangga yang akan pergi ke pasar juga. Melihat Azira dan Umi akrab, orang-orang itu memiliki sikap yang baik kepada Azira. Mereka juga tahu gosip yang beredar, tapi itu adalah urusan keluarga orang dan tak semestinya mereka ikut campur.


Ternyata pasar yang mereka tuju sangat dekat dengan kompleks perumahan. Mereka hanya berjalan beberapa menit, dan tepat di gerbang masuk kompleks, mereka bisa melihat pasar di seberang jalan.


Pasarnya tidak besar. Tapi sangat bersih dan bebas dari sampah. Setelah dipikir-pikir Azira mengerti alasan para ibu-ibu ini pergi ke pasar.

__ADS_1


"Menantu Umi sangat cekatan, ya? Apapun yang ingin Umi beli pasti langsung dibayar oleh menantunya. Jarang-jarang lho ketemu menantu yang seperti ini, biasanya menantu itu pelit sama mertuanya. Ngasih uang ke mertuanya seolah-olah dagingnya sendiri yang diiris, cek...cek... Umi beruntung." Salah satu tetangga memuji Azira di depan Umi.


Dasarnya selama berbelanja, Azira tidak pernah membiarkan Umi mengeluarkan uang sepeser pun. Apapun yang ingin Umi beli, langsung Azira bayar tanpa menunggu Umi menyuruhnya. Umi tidak berdaya tapi sangat puas dengan perilaku menantunya. Dan dia semakin puas ketika mendengar sanjungan dari tetangganya.


"Jangan katakan itu. Azira selalu seperti ini. Di rumah saja dia tidak bisa diam. Padahal semuanya sudah bersih, tapi dia masih saja kerja." Keluh Umi tak berdaya.


Tapi kata-katanya berhasil membuat iri tetangga. Para tetangga melihat sendiri betapa rajinnya Azira bekerja. Biasanya setiap sore Azira akan keluar ke halaman depan untuk membantu tukang kebun membersihkan ataupun menggunting rumput panjang.


"Wah aku iri mendengarnya." Salah satu tetangga menimpali.


"Jangan katakan itu. Untunglah Azira rajin bekerja di rumah Umi. Mungkin dia mengerti posisinya di rumah itu sangat canggung jadi mengambil inisiatif untuk bekerja." Kata-kata salah satu tetangga seketika membuat semua orang menjadi canggung.


Terutama Umi yang selalu tersenyum sepanjang jalan langsung kehilangan senyumnya saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh tetangga sekaligus teman berkumpulnya di komplek.


Azira mengepalkan kedua tangannya gugup. Dia tidak berani menatap langsung ke wajah Umi.


"Terlepas dari apa yang pernah terjadi, aku sudah menerima Azira sebagai menantu sekaligus putriku. Di hadapanku dia sama dengan Sasa. Dan karena itu aku selalu memperlakukan Azira selayaknya Sasa. Jadi apa yang dia lakukan di rumah tidak ada kaitannya dengan masa lalu, karena aku dan semua orang di rumah telah menerima Azira sepenuhnya menjadi anggota keluarga. Bu Ranti, aku harap ini terakhir kalinya aku mendengar kata-kata ini keluar dari mulut ibu. Aku tidak ingin masalah ini membuat Azira tidak nyaman di rumah, tolong." Kata Umi tanpa senyum di wajah.


Apa yang Umi katakan membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Azira sangat penting bagi Umi, bahkan dipandang sama dengan Sasa, satu-satunya putri ini. Kalau begini maka kehidupan Azira di rumah Umi tidak seburuk yang mereka kira. Mulai dari uang yang cukup banyak di dalam dompet Azira hingga pengakuan langsung dari Umi, telah menunjukkan bahwa Azira memang memiliki kehidupan yang baik di rumah itu. Hanya saja sangat disayangkan kalau Umi memperlakukan orang yang telah menghancurkan pernikahan Kenzie dan Humairah dengan perlakuan yang sangat baik.


Bu Ranti tersenyum canggung,"Maafkan mulutku yang berbicara lancang. Aku tidak tahu dan hanya asal bicara saja." Kata ibu Ranti meminta maaf.


"Tidak apa-apa." Kata Umi.


Umi kembali tersenyum dan melanjutkan lagi kegiatan berbelanja mereka.


Malu, berjalan di samping Umi,"Terima kasih, Umi." Bisik Azira bersyukur.


Umi tersenyum.


"Maka jangan kecewakan aku." Minta Umi kepadanya.


Dia berharap bila pernikahan Kenzie dan Azira dapat bertahan selamanya tanpa ada perselisihan fatal hingga memutuskan perceraian. Bagi keluarga Umi ataupun Abah, cukup menikah sekali seumur hidup. Pernikahan bagi mereka semua adalah hal yang sangat sakral dan serius. Oleh karena itu bila belum siap maka jangan menikah karena menikah adalah perkara yang serius, ibadah terpanjang di dunia ini.


"Um." Bisik Azira tidak yakin.


Saat berjalan menuju pedagang daging. Azira membawa pandangannya ke arah pinggir jalan dan tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ingin dia hindari selama sisa hidupnya.


"Nyonya Bara?" Azira menatap ragu wanita glamour yang berdiri di samping mobil hitam bersama beberapa pria.


Awalnya dia ragu, tapi saat dia memperhatikannya dengan serius, hatinya langsung dipenuhi oleh amarah besar. Apa yang dilakukan wanita tua bangka itu di sini?


Mungkinkah dia masih bersikeras mencarinya?


"Berkali-kali aku mengatakan tidak, tapi wanita tua bangka ini tetap keras kepala. Apa yang harus aku lakukan? Ya Allah, aku tidak ingin keluarga suamiku tahu tentang wanita tua bangka ini!" Gumam Azira bertekad.


Salah satu orang yang paling dia benci di dunia ini adalah nyonya Bara. Puas mempekerjakan ibunya sebagai wanita malam, kini dia mulai menargetkan Azira!


"Ya Allah, semoga saja kedatangannya ke sini tidak ada sangkut pautnya dengan diriku." Harapnya cemas.


Jika nyonya Bara memiliki tujuan datang ke sini untuk mencarinya, maka Azira tidak tahu bagaimana harus menghadapi wanita tua bangga keras kepala ini. Pasalnya dia tidak bisa melupakan ketika dirinya hampir saja diculik oleh nyonya Bara dan kedua preman itu, bila suaminya kebetulan tidak lewat, maka Dia mungkin tidak akan pernah menemukan hari ini, hari-hari damai dan nyaman yang selalu dia impikan.

__ADS_1


"Aku... Aku harus bagaimana?" Tangan Azira gemetaran menahan amarah bercampur takut di dalam hatinya.


__ADS_2