
Azira speechless seketika. Kiranya Kenzie akan langsung mengungkit tentang Al langsung atau seenggaknya mengajak berdebat. Tapi ternyata dia salah karena Kenzie menggunakan cara dewasa untuk membicarakan masalah ini. Azira terkesan, pada saat yang sama dia merasa malu. Besar kepala sendiri berpikir Kenzie akan marah-marah karena Al. Karena dugaannya ini dia bersiap membalas dengan beberapa argumen yang mendukung, niatnya mau membuat Kenzie cemburu. Tapi sekarang dia langsung mengurungkan niatnya ketika mendengar pertanyaan halus suaminya.
"Tidak ada yang mengesankan dari masa lalu ku, mas. Mulai dari kecil hingga beranjak sebesar ini, hidupku sangat membosankan. Dulu aku sempat berpikir untuk merahasiakan tentang Ibuku darimu, mas. Walaupun aku tahu tanpa aku mengatakannya sendiri pihak keluarga Ayah ku akan menyebarkan masalah ini sendiri. Tetapi saat aku menyadari bahwa mas Kenzie telah diam-diam menjadi orang yang penting dalam hidupku, aku memberanikan diri untuk mengungkap aib sebagian dari hidupku kepadamu." Azira berbicara perlahan.
Tidak ada yang menarik dari hidup yang dia jalani dulu, sebab semuanya didominasi oleh penderitaan. Terkesan monoton, tidak layak untuk dibicarakan. Orang pasti muak lama-lama mendengarnya.
"Pasti ada. Bagiku semuanya menarik selama itu kamu. Aku berharap mendengarnya dari kamu. Sewaktu kamu masih kecil, sekolah ataupun yang lainnya, aku berharap mengetahui poin-poin ini. Karena itu kamu, makanya aku berharap. Tapi kalau itu orang lain, semuanya memiliki warna membosankan bagiku." Kenzie berbicara gamblang di depan istrinya.
__ADS_1
Dia tidak asal berbicara. Apa yang dia katakan tadi memang benar adanya. Mungkin dulu, saat pertama kali bertemu dengan Azira, dia sedikit tertarik tapi bukan berarti ingin mengetahui kehidupannya yang dalam. Ya dan itu dulu, sekarang berbeda. Dia berharap mengetahui semuanya, kalau perlu dia hadir untuk melihat sendiri bagaimana istrinya menjalani kehidupan. Terdengar klise, tapi inilah yang hatinya rasakan.
Lagi, Azira dibuat terkejut oleh perkataan suaminya. Dia malu. Wajahnya yang memerah kian panas rasanya. Tak tertahankan melihat mata tajam suaminya yang kini tengah menatap lekat-lekat. Tetapi dia sangat enggan berpaling sebab dia menyukai bagaimana mata itu menatap dirinya. Seolah-olah hanya dirinya seorang di sana.
"Baiklah..." Karena suaminya meminta, Azira tidak akan menahan diri.
"Aku pernah bercerita tentang masa kecil di kampung kepada mas Kenzie, samar, karena sudah lama jadi aku tidak terlalu ingat. Pindah ke kota aku masuk SMP biasa di tempat Ibuku ngekost. 3 tahun kemudian kami pindah ke daerah kumuh, tempat ku tinggal bersama Ibu terakhir kali karena daerah pertama tidak terlalu bersahabat dengan pekerjaan Ibu ternyata." Azira mengenang masa sulit itu dengan senyum tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Bersamaan dengan pindah rumah, aku juga masuk SMA. Kebetulan tempat tinggal ku yang pertama dan yang terakhir cukup berdekatan, mungkin hanya beda beberapa gang sehingga SMA yang ku masuki mempertemukan ku dengan teman-teman SMP." Sejujurnya pindah rumah tidak terlalu berguna untuk Azira tapi sangat berguna untuk Ibu.
Setidaknya Ibu tidak perlu mendengarkan gosip para tetangga yang merasa sok suci itu, meskipun Azira masih tetap dibully di SMA.
"Di SMA aku tidak pandai berteman jadi kehidupan yang kujalani semasa SMA sama monotonnya dengan SMP-"
"Karena pekerjaan Ibu, kamu pasti mendapatkan beberapa pelecehan di sekolah, kan?" Potong Kenzie langsung menusuk titik lemah Azira.
__ADS_1
Bersambung..
Enam hari ke depan up banyak, yuhuuu