Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 7.12


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Humairah bangun tidur. Pergi membersihkan diri di dalam kamar mandi dan berganti baju magang dokter di sebuah rumah sakit swasta di kota ini. Suasana hatinya terlihat sangat baik. Terbukti dari nyanyian lembut yang dia senandungkan. Selesai berganti baju dan menyiapkan tas kerjanya, dia menyempatkan waktu untuk merapikan kamar. Menyapu dan melipat pakaian yang berserakan di atas ranjang, dalam waktu setengah jam dia berhasil menyelesaikan kamarnya.


"Oh Humairah, apa yang sedang kamu lakukan pagi-pagi sekali?" Mama datang masuk ke dalam kamar putrinya ketika mendengar keributan samar di dalam kamar.


Tapi saat melihat putrinya menggunakan pakaian magang dokter yang telah lama tidak digunakan, wajah Mama langsung menjadi jelek.


"Kamu mau ke mana?" Humairah mengabaikan Mamanya.


Kesal, Mama berteriak,"Humairah, jawab Mama, kamu ke mana?"


Akhirnya Humairah menyadari keberadaan Mamanya- oh, lebih tepatnya dia berhenti berpura-pura tidak melihat keberadaan Mamanya.

__ADS_1


"Mama nggak lihat? Aku mau pergi ke rumah sakit. Humairah mau kerja."


Mama tak senang.


"Humairah ya Allah sadar, Nak! Kamu udah berhenti magang di rumah sakit itu jadi kamu nggak mungkin bisa kerja di sana. Selain itu kamu juga baru sembuh, kamu harus diam di rumah untuk beristirahat dan memulihkan kesehatan kamu. Kamu lupa ya apa yang dokter bilang sama kamu? Dokter bilang kamu nggak boleh kerja terlalu keras dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Jadi ganti pakaian kamu dan ikut Mama ke bawah untuk sarapan. Mama sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan kamu. Khusus untuk kamu, Mama sengaja bangun pagi-pagi memasak di dapur." Setelah mendapatkan perhatian Humairah, Mama berusaha berbicara dengan nada yang lembut kepada putri satu-satunya.


Dan demi menyenangkan hati putrinya, dia sengaja bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan di dapur. Padahal pekerjaan dapur selama ini dikerjakan oleh para pelayan di rumah. Dan sebagai nyonya rumah, dapur sedikit tabu buatnya.


Mama tidak percaya apa yang dibilang oleh putrinya. Rumah Sakit mana mau memperpanjang masa magang putrinya karena itu melanggar aturan, kecuali putrinya melakukan cara-cara ilegal untuk meloloskan pekerjaan ini. Dan dia tahu untuk siapa putrinya melakukan ini.


"Nak, dengerin Mama. Berhenti memikirkan Kenzie lagi. Mana tahu hati kamu sakit setelah kegagalan pernikahan ini. Mama mengerti apa yang kamu rasakan karena Mama dan semua orang di rumah ini juga ikut merasakan sakit, rasakan apa yang kamu rasakan. Kami semua mengerti, tapi bukan begini caranya, Nak. Jangan terlalu memaksakan diri hingga menghancurkan diri kamu sendiri. Kamu masih sakit, kamu butuh waktu untuk beristirahat jadi lupakan hari ini. Gunakan hari ini untuk beristirahat, okay?"

__ADS_1


Pahit rasanya. Mama tidak bisa mengatakan kepada putrinya bahwa Azira adalah tunangan Kenzie yang sebenarnya. Dan memang sedari awal, pernikahan ini selalu ditujukan kepada Azira, bukan Humairah.


Humairah memutar bola matanya.


"Ma, aku udah capek di rumah terus. Biarin aku kerja yah..yah, aku janji kok enggak akan terlalu capek. Aku juga janji enggak akan siksa badan aku sendiri. Okay, Ma?" Humairah merayu dengan wajah memelas.


Dia sudah merindukan Kenzie dan ingin segera bertemu. Dia tidak tahan begini terus.


Melihat mata memohon putrinya, Mama tidak tega dan akhirnya mengangguk ragu.


"Okay...tapi jangan menyiksa diri..." Kata Mama tidak optimis.

__ADS_1


__ADS_2