Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 7.8


__ADS_3

Azira ingin protes. Tapi ketika dia mendengar kalimat terakhir suaminya, kata-kata yang hampir mencuat dari dalam mulut akhirnya dengan paksa ditelan kembali. Memang susah berbicara dengan orang kaya. Karena pikiran mereka tidak sinkron.


Dengan wajah kusut dia memberikan dompet yang baru dibeli kepada suaminya. Di bawah pasang mata ingin tahu Azira, Kenzie membuka mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah dari sebuah amplop kuning dan menaruhnya ke dalam dompet Azira.


Kedua matanya membola kaget melihat sejumlah uang masuk ke dalam dompet. Dia tidak tahu berapa jumlahnya, namun yang pasti itu lebih dari yang Azira pikirkan. Seumur-umur Azira belum pernah melihat uang sebanyak ini di dalam hidupnya. Upah Ibu melayani laki-laki hidung belang setiap malam kurang lebih satu juta. Itu pun dia harus melayani dua atau tiga laki-laki dalam waktu sehari. Terdengar sangat mengerikan.


Akan tetapi gaji segitu hanya bisa didapatkan ketika Ibu sedang masa dalam jaya. 5 tahun yang lalu kondisi Ibu memburuk dan dia sering tidak fit. Harga yang ditawarkan kepada Ibu pun turun karena pelanggan tidak banyak pelanggan yang tertarik lagi kepadanya.


Miris, ya? Hidup sudah sulit sehingga terpaksa melakukan pekerjaan haram, tapi ada pekerjaan haram pun masih juga dipersulit. Terkadang Azira tidak mengerti apa dosa besar yang telah dia dan Ibunya lakukan sehingga membuat Allah mempermainkan hidup mereka?


"Apa yang membuatmu menangis?"


"Oh," Azira gelagapan,"Apa?" Dia tidak mendengar pertanyaan suaminya dengan jelas.


Tangan Kenzie terulur menyentuh air mata di pipi kanan Azira. Suhunya masih hangat.


"Kamu menangis." Jelas Kenzie.

__ADS_1


"Aku menangis? Tidak, mungkin mataku kelilipan." Alasan yang bodoh pikir Kenzie.


Tapi dia tidak memberikan komentar apa-apa untuk alasan bodoh dan asal-asalan yang Azira buat. Dirinya bertanya apakah uang yang dia berikan kepada Azira tidak cukup banyak?


"Kenapa mas Kenzie memberikanku uang sebanyak ini?" Azira mengambil dompet dari tangan suaminya, dan mengeluarkan uang yang belum lama masuk dimasukkan oleh suaminya.


Tangannya gemetaran memegang uang sebanyak ini. Secara kasar dia menghitung bila uang ini lebih dari 2 juta. Sungguh, dia membutuhkan waktu hampir satu tahunan untuk mengumpulkan uang sebanyak ini. Tapi dengan keadaan serba kekurangan di rumah, rasanya mustahil menabung semua hasil jerih payahnya bekerja sebagai tukang setrika.


"Apa ini tidak cukup?" Kenzie serius bertanya.


Apakah kebutuhan sehari-hari wanita membutuhkan pengeluaran banyak uang?


"Kamu membutuhkan berapa banyak?" Tanya Kenzie sambil merenung.


Azira menggelengkan kepalanya sambil mengambil beberapa lembar uang merah yang menurutnya cukup banyak dan menyerahkan sisanya kepada suami. Kira-kira dia mengambil 500.000 sebagai isi dompetnya.


"Ini terlalu banyak untukku, mas. Aku sudah cukup segini."

__ADS_1


Kenzie langsung terdiam melihat uang yang dikembalikan kepadanya.


"Apakah ini sungguh cukup?" Tanya Kenzie tidak yakin.


Azira mengangguk malu. Ini sudah lebih dari cukup. Dia mengacau di rumah ini dan diperlakukan dengan baik oleh semua orang. Patutnya dia bersyukur, jangan meminta hal-hal yang berlebihan.


"Cukup, mas."


Bingung,"Apa ini cukup untuk membeli sayuran minyak, daging dan untuk keperluan dapur lainnya?"


Untuk uang segini Kenzie rasa ini tidak cukup. Azira adalah menantu di rumah ini dengan kata lain dia akan bertanggung jawab untuk semua keperluan di dalam rumah. Membeli berbagai macam sayuran dan memasak di dapur, ini adalah tanggung jawab Azira. Belum lagi untuk membeli keperluan diri sendiri, jumlahnya sama sekali tidak cukup.


Azira tercengang. Apakah uang ini bukan untuk dirinya sendiri?


Dia merasa malu karena terlalu percaya diri. Mengira suami memberikan uang ini untuknya, nyatanya uang ini untuk membeli keperluan rumah.


### "Kamu sekarang adalah menantu di rumah ini. Tanggung jawab rumah akan diserahkan kepadamu. Bukan karena kamu diperlakukan sebagai pembantu, tapi karena kamu adalah nyonya sekaligus orang yang berperan sebagai tuan rumah. Aku memberimu uang selain untuk membeli keperluan rumah juga untuk diri sendiri. Jumlahnya 2.5 juta. Rencananya uang itu kamu gunakan untuk jatah 3 hari. Jika kurang katakan kepadaku, dan jika lebih setelah 3 hari kamu bisa menabungnya. Di rumah ini kita berperan sebagai suami istri. Dan kamu tahu sendiri bila aku satu-satunya anak laki-laki. Sebagai seorang anak laki-laki, memang kewajibanku mencari nafkah untuk semua orang di rumah. Aku tidak boleh berpisah dengan mereka, sebab aku adalah tulang punggung dan pemimpin. Adapun kamu, suka dan tidak suka ataupun mau dan tidak mau, semenjak kamu masuk ke dalam rumah ini, maka sejak itu pula tugas rumah diserahkan di pundak mu. Aku tidak mengharapkan atau menuntut sesuatu yang tinggi kepadamu, tapi satu hal yang pasti, aku sangat berharap kamu meringankan beban Umi di rumah. Meskipun pernikahan ini ada karena kekacauan, tapi aku mohon perlakukan orang tuaku dengan tulus. Jadilah wanita yang lembut saat berhadapan dengan mereka, pelankan suaramu ketika berbicara dengan mereka, dan tolong dengarkan setiap apa yang mereka katakan karena surgaku ada atas ridho mereka. Bila mereka tidak meridhoi ku, maka Allah pun tak kan ridho kepadaku. Dan bila Allah tak ridho kepadaku, maka kamu pun tak akan mendapatkan ridho-Nya. Ingatlah Azira, aku tidak tahu sampai kapan pernikahan ini. Mungkin bertahan, mungkin juga tidak. Yang pasti di dalam hatiku Allah tahu apa yang aku inginkan. Sebagai seorang suami aku memberikan mu sebuah nasihat bahwa jadilah jembatan untukku dan kedua orang tuaku, jangan menjadi bencana yang dapat merobohkan jembatan penghubung antara aku dan kedua orang tua ku. Sesungguhnya kamu, seorang wanita dikatakan sebagai fitnah besar. Seorang menantu wanita mudah menghancurkan hubungan suami dengan mertuanya, hubungan suami dengan saudara-saudaranya, dan hubungan suami dengan kerabatnya yang lain. Ku harap kamu bukan wanita itu, dan ku berharap kamu adalah istri yang akan membawa kehangatan di dalam rumah ini, rumah kita." Rumah yang akan membuat para penghuni surga terutama bidadari di atas sana menatap karena cemburu.

__ADS_1


Azira tertegun. Suaminya memang orang yang serius dan pelit senyum, awalnya dia berpikir itu karena suami mengabaikan keberadaannya. Pasalnya mereka bersatu bukan faktor cinta, tapi pemaksaan. Akan tetapi setelah mendengar kalimat terpanjang sang suami setelah mereka menikah, Azira tiba-tiba bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa orang yang dianggap mengabaikannya bisa berbicara sedalam ini?


__ADS_2